Permaisuri Kaisar

Permaisuri Kaisar
Episode 57 - Alam Langit?


Mao sedang mempersiapkan dirinya, malam ini ia akan tidur dan menghabiskan malam dengan Kaisar seperti yang didambakan nya selama ini.


Berjalan dengan anggun dan dagu yang terangkat, dia melewati semua selir yang ada.


Sangat angkuh.


Begitu sampai didepan kamar Kaisar, Mao heran. Kemana semua dayang rombongan Kaisar? Hanya ada Kasim Han yang berdiri didepan pintu.


" Yang Mulia Selir Agung" hormat Kasim Han.


" Kenapa kau sendiri disini kasim? Dimana yang lainnya?" Tanya Mao sambil celingak-celinguk melihat sekitarnya.


" Mereka semua ada diruang kerja, Selir Agung"


" Ruang kerja? Mengapa disana?"


" Karna Kaisar ada disana"


" Mengapa Yang Mulia ada disana?" Tanya Mao kebingungan. Ini sudah jam malam, dan sudah waktunya istirahat. Bukankah seharusnya Yang Mulia sudah ada di peraduannya?


Kasim Han hanya tersenyum. " Mari Selir Agung. Yang Mulia sudah menunggu anda disana"


Walaupun dengan kebingungan yang mendera, Mao tetap berjalan mengikuti Kasim Han. Dia berpikir mungkin saja Yang Mulia ingin memberikannya sesuatu terlebih dahulu disana.


Mao masuk kedalam Ruang Kerja Kaisar. Dilihatnya disana tidak ada sesuatu yang spesial. Hanya ada tumpukan berkas dimana-mana. Dan jangan lupakan bahwa ayahnya, Mentri Yun juga ada disana.


" Oh Mao, kau sudah datang? Kemari dan duduk lah" ucap Zao.


" Terimakasih Yang Mulia" Mao membungkukkan badannya memberi hormat.


" Ayah. Kenapa kau disini?" Tanya Mao menghampiri Mentri Yun.


" Yang Mulia Selir " Mentri Yun bangun dari duduknya dan memberikan hormat pada Mao.


" Kaisar memanggil ku kemari karena ada beberapa hal yang sedang kami urus" ucap Menteri Yun.


" Ah ternyata begitu"


" Kenapa anda datang kemari selarut ini Selir Agung?" Ini bukan waktu biasa anaknya pergi keluar kamarnya. Kenapa sekarang dia ada disini.


" Aku yang memintanya" timpal Zao.


Mentri Yun terlihat sangat kebingungan.


" Aku memintanya untuk menemaniku karna kita banyak sekali pekerjaan malam ini" jelas Zao.


" Ah seperti itu, sepertinya saya mengganggu Yang Mulia. Kalau begitu saya permisi" sepertinya Yun ini salah paham.


" Berhenti Mentri. Aku meminta Mao kemari untuk menemani kita. Sebagai anak yang baik, bukankah sudah kewajiban nya untuk membantu ayahnya? Banyak sekali berkas yang mungkin menunjukan kekurangan mu disini. Jadi daripada aku meminta orang lain, aku meminta putrimu untuk membantu menyelesaikan berkas ini " jelas Zao.


Mao dan Mentri Yun terdiam.


" Kenapa? Kalian keberatan?"


" Tidak sama sekali Yang Mulia"


" Tidak Yang Mulia"


Ucap Menteri Yun dan Mao bersamaan.


" Baguslah, kalau begitu ayo mulai rapihkan beberapa berkasnya" Zao tersenyum geli ketika membayangkan bagaimana semangat Mao yang berharap mendapatkan dirinya saat akan kesini.


' Tidak semudah itu mendapat diriku Mao. Kau terlalu percaya diri' ucapnya dalam hati.


Zao kembali membaca berkas-berkasnya dengan bahagia. Melihat bagaimana cara berpakaian Mao sepertinya dia berpikir bahwa mereka akan menghabiskan malam dengan hubungan intim. Pakaian yang dikenakannya malam ini sangatlah berbahan tipis dan cukup menerawang jika saja tidak tertutup oleh jubahnya.


Zao tidak tertarik pada Mao sejak awal. Tak ada satupun perempuan di istana nya yang membuatnya tertarik. Jadi bagaimana bisa mereka melakukannya? Bagi Zao berhubungan intim haruslah karna sebuah perasaan.


Mao yang awalnya sangat bersemangat, kini justru sangat tidak bergairah. Wajahnya ditekuk, dia merasa sangat kesal. Mentri Yun tahu apa yang terjadi pada putrinya. Jika yang membuat putrinya seperti ini bukanlah Kaisar, maka habislah ia.


~•~


Fu Tong, Xiao Shi dan Teng She berada ditempat penyiksaan itu lagi. Tapi kali ini tidak ada siapapun disana. Hanya mereka bertiga.


" Dimana ini?" Beo Xiao Shi.


" Ini adalah tempat dimana aku melihat kau dirantai Yang Mulia" jawab Fu Tong.


" Kau yakin ini adalah tempatnya?" Tanya Teng She.


" Ya, tentu saja. Apakah kau tau ini dimana? Atau tahun berapa tempat ini ada?" Fu Tong penasaran. Dimana ada tempat seperti ini, tempat yang dikelilingi awan.


" Ini alam langit" gumam nya.


" APAA?!!" Fu Tong dan Xiao Shi terkejut.


" Ini adalah ruang penyiksaan langit. Para Dewa dan Dewi yang bersalah dan berdosa akan dihukum disini" jelas Teng She.


" Jika yang kau lihat adalah Permaisuri. Itu artinya Permaisuri adalah seorang Dewi" lanjutnya.


" Tidak mungkin. Hentikan candaanmu Teng She" Xiao Shi tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Teng She. Seorang Dewi? Lelucon macam apa ini?


" Naga Legendaris adalah hewan peliharaan para Dewa. Selama turun-temurun kami hanya dimiliki oleh para Dewa dan Dewi. Hanya aku saja yang dimiliki oleh manusia" gumam nya diakhir kalimat.


Plookk!


Xiao Shi memukul belakang kepala Teng She. Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu disaat dia sendiri yang ingin mengikutinya.


" Jika permaisuri adalah Dewi. Lalu kenapa ada aku? Aku tidak berharap aku seorang dewa, tapi itu mustahil "


Apa yang dikatakan Fu Tong memang benar. Sedikit mustahil seseorang seperti dia adalah seorang Dewa.


Xiao Shi menghiraukan ucapan Fu Tong dan juga obrolannya dengan Teng She. Ada perasaan aneh dalam dirinya. Dia melangkah tepat ke tengah lantai.


Perasaan aneh itu semakin meraja lela. Hatinya gelisah, dadanya terasa sesak. Sesuatu berusaha masuk kedalam ingatannya.


" Aarrgghhhhhhh!!" Teriak Xiao Shi kesakitan.


" Permaisuri"


" Yang Mulia"


Fu Tong dan Teng She segera menghampiri Xiao Shi.


" Yang Mulia ada apa?" Panik Fu Tong.


" Aku merasa seperti mengingat sesuatu, tapi aku tidak bisa mengingat nya dengan jelas" Xiao Shi memegang kepalanya yang terasa sangat berdenyut.


Bukan hanya kepalanya saja yang berdenyut. Tapi ternyata tanda lahir di lengan nya juga berdenyut.


" ARRGGHHHHHH!" Lagi-lagi Xiao Shi berteriak. Denyutan dalam tanda lahirnya ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada sebelumnya.


Xiao Shi menyingkap lengan baju nya. Dia merasa lengan nya panas jika tanda itu tertutup pakaian.


Teng She dan Fu Tong yang baru melihat tanda itu terkejut. Fu Tong merasa tanda milik Xiao Shi ini mirip dengan seseorang, tapi siapa?. Sedangkan Teng She, dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan tanda itu. Tanda itu seperti memberitahu dirinya sesuatu.


" Arghhhhhhh!! Apa ini?!!" Kali ini Teng She yang berteriak. Sesuatu mencoba mengusik ingatannya. Ingatan mengenai tanda dilengan Xiao Shi.


Tanda sayap. Tanda itu sangat mengacaukan dirinya saat ini.


" Teng She apa yang terjadi padamu?!" Fu Tong kebingungan. Dua orang didepannya sama sama merasa kesakitan. Apa yang harus ia lakukan?


Fu Tong berusaha mendekati Teng She untuk membantunya. Tiba-tiba muncullah seseorang dibelakang nya.


" Tolong bantu merek--"


BUGH!


Seseorang itu memukul kepala belakang Fu Tong hingga ia tak sadarkan diri.


" Kalian terlalu lama disini, belum saatnya kalian tau" ucap seseorang itu.


|


|


|


|


|


bersambung.......