
Fu Tong yang tadi tidak sadarkan diri, tiba-tiba dia terbangun dengan berada disuatu tempat. Ruangan putih? Bukan. Ini tidak terlihat seperti ruangan, ini adalah sebuah lantai terbuka dengan awan-awan diatasnya, awan nya nampak begitu dekat, ini seperti bukan dibumi.
Ada seorang wanita yang dirantai disana, kedua tangan nya terbentang dan terikat dengan rantai pada pilar dikedua sisi, wanita itu tampak sangat berantakan. Luka dimana-mana, wajah yang sangat kacau. Anehnya, dia tahu penampilannya terlihat kacau, tapi kenapa wajahnya tidak terlihat jelas.
Disisi kanan wanita yang dirantai itu juga terdapat seorang wanita yang sedang dipegangi oleh dua orang wanita, dua wanita itu seperti pengawal dengan segala pakaian dan atribut yang dikenakan nya. Wanita itu sangat cantik dan terlihat muda, dia berteriak, dan menangis.
'Apakah dia saudaranya?' batin Fu Tong.
Didepan wanita yang dirantai itu juga terdapat seorang laki-laki yang sudah terkapar, ternyata luka yang didapatnya lebih banyak dari sang wanita, perkiraan nya mungkin lelaki itu adalah kekasih sang wanita dan dia melindungi wanita nya dari hukuman. Tapi kenapa wajah pria itu juga tidak jelas?
Fu Tong mencoba berjalan lebih dekat ke arah mereka. Satu hal yang baru ia sadari adalah ternyata orang-orang didepan sana tidak bisa melihatnya, ini aneh, pikirnya. Tapi ini juga suatu keuntungan, dia ingin mencoba melihat lebih jelas siapa sebenarnya sepasang kekasih itu.
Tapi kenapa semakin dia maju, semakin tidak terlihat kedua wajah itu? Ini aneh.
Seseorang yang memegang cambuk mencoba mengangkatnya tangannya tinggi-tinggi, dia siap mencambuk orang didepan nya. Saat cambuk itu hendak mengenai wanita yang dirantai itu, laki-laki yang tadi terkapar lemah dengan sigap memeluk tubuh wanitanya sehingga mereka berdua terkena cambukan nya, tapi laki-laki itu mendapat bagian cambuk nya lebih banyak.
Lolongan teriakan menggema disana, bahkan perempuan yang dipegang oleh dua pengawal tadi juga ikut menjerit.
" Lepaskan putrikuuuuu, kumohon, aku yakin dia tidak melakukan nya" suara teriakan kesakitan, suara jeritan, dan tangis seorang ibu ini bercampur menjadi satu.
' Wanita itu ibunya? Tapi dia sama mudanya. Bagaimana bisa?'
" Kumohon hentikan, berhenti melindungiku, kau terluka cukup parah" ucap wanita itu dengan suara yang hampir hilang.
" Aku baik-baik saja" jawab pria itu dengan isyarat dari mulutnya, dia sepertinya sudah tidak memiliki tenaga untuk bersuara.
Wanita itu sedikit menyunggingkan sudut bibirnya. Bukankah mereka berdua tampak menyedihkan?
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar menggema, seorang laki-laki datang dengan sangat tergesa-gesa, pria itu nampak tidak asing bagi Fu Tong.
Tunggu!
Pria itu....pria yang berlari itu tampak seperti dirinya.
Fu Tong semakin memajukan langkahnya untuk memastikan, kini jaraknya dengan orang-orang tadi hanya beberapa langkah saja, namun tetap tidak ada satupun yang melihatnya. Semakin mendekat, semakin jelas juga bahwa pria itu mirip sekali dengan nya.
" Pangeran! Putri! Kenapa kalian seperti ini?"
'kenapa dia memanggilnya pangeran dan putri?'
" Dewi, kenapa kau membiarkan putrimu disiksa dengan kesalahan yang tidak dia perbuat?" pria yang mirip Fu Tong itu kini menghampiri sang ibu dari putri yang dirantai.
' Dewi? Apakah ini alam langit?'
" Lancang sekali kau mengganggu penghukuman dari langit!" ucap seseorang disamping yang memegang cambuk tadi, sepertinya dia adalah yang berwenang.
" Aku berani, karna aku memiliki bukti!" ucapnya. Semua orang terkejut dengan pernyataan yang dibuatnya.
" Apapun yang kau bawa itu tidak akan membuahkan apa-apa Fu Tong" gumam wanita dirantai itu.
'Fu Tong? Kenapa namanya juga sama dengan namaku?'
" Tidak putri, percayalah, aku sudah menyerahkan nya secara langsung pada Kaisar, dia bahkan memberikan pedangmu lagi padaku" pria itu memberikann pedang yang tiba-tiba muncul ditangan nya pada wanita yang dirantai. Dengan sekejap mata pedang itu kini berada dalam genggaman nya.
' Pedang itu, sepertinya aku pernah melihat pedang itu, kenapa rasanya sangat tidak asing.... permaisuri? Itu adalah pedang yang dipegang oleh permaisuri. Tapi tidak mungkin, bagaimana bisa?'
Setelah dua kepala itu mengelinding begitu saja, tiba-tiba cahaya yang sangat menyilaukan muncul dari langit. Tidak ada apapun yang keluar atau muncul dari sana, hanya gemaan suara yang terdengar.
Belum dapat Fu Tong mendengar suara itu, seseorang sudah menepuk pundaknya dari belakang.
" Pulanglah, kau sudah tahu terlalu banyak" rasanya seperti dia ditarik secara paksa, semuanya kembali gelap dan rasanya sangat menyesakkan dada. Nafasnya sedikit tersengal dan begitu dia membuka mata seorang wanita tiba-tiba sudah berada didepan wajahnya.
" Apa kau bermimpi buruk?"
" Apa yang terjadi padamu Yuan? Kau mengejutkanku!" Fu Tong mengelus-ngelus dadanya sambil memncoba menetralkan kembali nafasnya.
" Harusnya aku yang mengatakan itu!"
" Ck, lupakan. Ada apa kau disini? Dan dimana aku? Jangan bilang kau menculikku" Fu Tong merekatkan bajunya dan menyilangkan kedua tangan nya didada.
Yuan hanya melihatnya dengan jijik " Aku tidak tertarik untuk menyentuh pria lembek sepertimu" ejeknya.
Fu Tong yang merasa terhina mencoba mengeluarkan aura nya untuk mencoba menunjukan pada Yuan bahwa dia bukan pria lembek, tapi sepertinya Fu Tong lupa jika Yuan berada diatasnya, begitu Fu Tong menguarkan aura sihir nya, Yuan juga melakukan hal yang sama, dan sama seperti sebelumnya, Fu Tong merasa pusing dan Aura nya berhenti begitu saja.
" ASSHHHH aku lupa. Baiklah hentikan, katakan dimana aku"
" Ck, dasar lembek. Kau berada di kediaman pelayan di Paviliun permaisuri, pulihkan keadaanmu dan pikirkan baik-baik mengenai tawaran Permaisuri sebelumnya, besok kau harus memberikan jawaban nya" Yuan memberikan beberapa pakaian ganti pada Fu Tong lalu pergi meninggalkan nya.
Fu Tong mencoba mengingat tawaran apa yang dimaksud oleh Yuan, tiba-tiba sekelebat memory sebelum dia pingsan muncul dalam pikiran nya. Tidak hanya itu, memory yang ada dalam mimpinya juga datang secara bersamaan. apakah mimpi itu adalah sebuah pertanda? dia yakin pedang yang dia lihat dalam mimpinya adalah pedang yang sama yang dipegang oleh permaisuri sebelum dia pingsan.
Dia yakin, kedua hal itu berhubungan, dirinya yang ada dalam mimpinya sepertinya adalah dirinya dikehidupan yang lalu, dilihat dari pakaiannya seperti nya dia adalah seorang jendral. Apakah mungkin putri dan pangeran dalam mimpinya adalah Permaisuri dan Kaisar? Sial, dia tidak bisa melihat wajah keduanya dengan jelas. Hanya pedang itu yang sangat jelas dan dirinya.
Tapi hatinya berkata, bahwa ini adalah pertanda bahwa dia harus menerima tawaran Permaisuri. Selain untuk memperpanjang hidupnya, juga untuk mengetahui siapa pemilik pedang itu sebenarnya, dan kenapa pedang itu ada ditangan permaisuri sekarang.
" Yuan, tunggu!" Teriaknya, Yuan yang sudah berada diambang pintu pun menoleh kearah Fu Tong.
" Tidak perlu menunggu besok, aku sudah memiliki jawabanku"
" Cepat sekali, jadi apa keputusanmu"
" Aku setuju"
|
|
|
|
|
bersambung.....