Permaisuri Kaisar

Permaisuri Kaisar
Episode 82


Xiao shi yang sudah berada di kediaman selir Yi merasa sangat kasihan ketika melihatnya berbaring dengan penuh luka dan terlihat seperti menahan rasa sakit.


" Yang Mulia" ucap selir Yi berusaha untuk bangkit ketika dia menyadari kedatangan Xiao Shi.


" Kau tidak perlu bangun selir, berbaringlah"


" Terimakasih, yang mulia"


" Bagaimana keadaan mu?"


" Cukup baik yang mulia, terimakasih atas perawatan dan perhatian yang anda berikan "


" Baguslah, senang mendengarnya"


Jika dilihat, keadaan selir Yi memang sudah membaik. Hanya saja mungkin masih terasa nyeri jiga dipakai bergerak.


mereka banyak mengobrol dan memberi wejangan agar luka itu cepat sembuh. Jika seperti ini, daripada seorang permaisuri Xiao Shi lebih terlihat seperti seorang ibu yang mengurus anaknya, pikir selir Yi.


Setelah dirasa cukup mengobrol dan melihat keadaannya, Xiao Shi memutuskan untuk kembali ke istananya. Selama perjalanan pulang dia merasa hatinya tidak karuan. Dan benar saja, saat sampai disana dia melihat kaisar dan ibu suri yang sedang menunggunya.


" Sudah kembali?" Tanya Zhao begitu melihat Xiao shi. Nada bicaranya sangat dingin, tidak seperti biasanya.


Xiao Shi memberikan penghormatan nya. " Maaf membuat kalian menunggu"


" Tidak apa apa" jawab ibu suri.


Mereka semua langsung masuk ke ruangan Xiao shi, pintu juga ditutup rapat-rapat. Bahkan para pelayan diminta untuk benar-benar menjauh dari ruangan. Hanya ada mereka bertiga didalam.


Suasana yang sangat tegang ini membuat Xiao Shi tidak nyaman. Pasalnya, ketegangan ini seperti mengarah pada dirinya. Bahkan kaisar sejak awal bertemu tadi tidak menampakan wajah ramahnya sama sekali.


" Apa, apa ada sesuatu yang ingin dibicarakan?" Tanya Xiao shi mencoba memecah ketegangan yang ada.


" Ada yang ingin ibu bicarakan denganmu. Tapi saat ibu sampai disini tidak lama kaisar juga datang, jadi ibu pikir mungkin kita lebih baik membicarakannya bersama" jelas ibu suri.


" Apa ini perihal istana dalam?" Tanya xiao shi ragu.


" Iya" jawab ibu suri dan kaisar bersamaan.


" Kenapa kau tidak memberitahu kami sejak awal? Ini bukan masalah yang spele permaisuri " tanya ibu suri. Ia mendengar masalah ini dari pelayan yang bergosip. Dia tau menantunya itu akan mampu mengatasi semuanya. Tapi kenapa menantunya itu tidak bercerita secara langsung.


" Aku tau aku salah bu, tapi mengurus istana dalam adalah tanggung jawab ku. Aku merasa mampu mengurusnya sendiri jadi aku tidak ingin merepotkan ibu. Maaf"


" Ibu mengerti. Bagaimana sekarang? Apa semuanya baik-baik saja? Memberi penghinaan seperti itu pada seorang selir agung, ibu takut itu akan membahayakan mu. Ayahnya juga seorang mentri yang berpengaruh di istana, apakah hukumanmu tidak berlebihan?" Sebagai seorang ibu, tentu saja ia khawatir. Ia tidak ingin terjadi sesuatu menantunya.


" Aku sudah mempertimbangkan semuanya bu. Aku jamin semuanya akan baik-baik saja, terutama jika gosip ini sampai menyebar keluar istana dalam."


" Apa kau sengaja menyebarkan gosipnya?"


Xiao Shi mengangguk. Sedangkan ibu suri menghela nafasnya. Entah apakah ini rencana dewa atau bukan. Tapi sifat menantunya ini sangat sama sekali dengan putranya. Mereka sama sama sulit ditebak ketika melakukan sesuatu.


" Apakah ibu sudah selesai?" Tanya zhao tidak sabaran.


" Iya, ada apa?"


" Aku ingin berbicara berdua dengan permaisuri"


" Baiklah kalau begitu, ibu pergi. Dengar putriku, jika ada sesuatu kau bisa meminta bantuan ibu" ucap ibu suri sambil menggenggam tangan Xiao Shi erat.


" Terimakasih, ibu"


Setelahnya ibu suri pergi dan meninggalkan mereka berdua. Zhao terus menerus menatap Xiao Shi dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.


Zhao melempar sebuah gulungan ke atas meja, dia seolah melampiaskan amarahnya dengan melempar gulungan itu.


Itu adalah gulungan yang Xiao Shi berikan tadi pagi. Apakah ada yang salah dengan isinya? Kenapa sepertinya Zhao terlihat sangat marah?


" Apa ini?! Kau mengatur jadwal tidur ku dengan para selir?!"


" Apakah ada yang salah, Yang Mulia? Apa ada selir yang terlewat atau—"


BRAAAKKKKK!!!!


" Apa maksudmu mengatur ini semua? Katakan!" Zhao benar-benar emosi kali ini. Bagaimana bisa Permaisuri nya berpikir seperti itu.


" Maksudku? Ini sudah tugasku yang mulia, mengatur istana dalam termasuk kunjungan anda pada para selir" jawab Xiao Shi mencoba tenang dan mencerna keadaan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kaisar?


" Tugasmu? Kau yakin?"


" Tentu saja"


" Hah,,, kau bilang ini tugasmu? atau kau sedang mencoba menjauhkan ku darimu?"


" Apa maksudnya, yang mulia? Aku sedang tidak —"


" Ibuku juga seorang permaisuri sebelumnya. Dia tidak pernah mengatur hal seperti ini! Apa karena akhir-akhir ini aku sering mengunjungimu dan kau merasa tidak nyaman sehingga kau mengusirku secara halus dengan ini?" Sinis zhao.


" Apa kau masih belum mencintaiku? Tidak tidak, itu terlalu jauh. Apa kau belum bisa membuka hatimu untukku?"


", Yang mulia, aku..."


" Apa ungkapan cintamu saat itu juga berbohong?"


Xiao Shi diam. Dia mencintainya. Perasaan nya tidak bisa dibohongi, tapi lidahnya terasa kelu. Sulit sekali untuk mengatakannya disituasi seperti ini.


" Aku mengerti, kau tidak perlu menjelaskannya permaisuri." Ucap Zhao.


' Apa? Apa yang dia mengerti?' batin Xiao shi.


" Semua yang kita lakukan belakangan ini adalah sebuah paksaan bukan? Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu lagi untuk kedepannya" tanpa mendengarkan jawaban Xiao Shi, Zhao langsung bangkit dan pergi begitu saja.


Xiao shi yang tidak mengerti dengan keadaan pun hanya diam saja tanpa berniat mengejar Zhao.


Kepergian zhao yang diiringi emosi ini tidak mengantarkan nya ke ruangannya, tapi mengantarnya ke tempat latihan para prajurit. Kasim Han dan huang li yang menyadari perubahan sikap kaisar juga tak ingin banyak bicara dan membuat mereka berujung jadi pelampiasan amarahnya.


Disana terlihat jendral chi sedang berlatih bersama dengan prajurit lainnya. Sungguh sasaran yang empuk, pikir zhao.


" Mereka bukan tandinganmu, jendral" ucap zhao menghentikan kegiatan mereka.


" Yang Mulia" para prajurit beserta sang jendral memberi penghormatan nya serempak.


"Lawan aku, jendral" ucapnya tanpa basa-basi.


Zhao melangkahkan kakinya mendekati jendral chi, dan para prajurit yang lain sontak mundur dan meninggalkan lapangan.


" Yang mulia, akan tetapi —"


" Lakukan seperti biasa" tiba-tiba saja zhao sudah menggenggam pedang ditanganya. Dan tanpa aba-aba zhao langsung menyerang jendral chi.


Dengan sigap jendral chi menahan serangan nya. " Yang Mulia, ini tidak—"


" Kau mulai lemah, jendral. Aku yakin ayahmu akan kecewa jika dia mengetahuinya" ucap zhao berusaha memprovokasi. Dan boom, usahanya berhasil. Chi langsung menyerang Zhao tanpa melihat bahwa lawan nya sekarang adalah seorang kaisar.


Kejadian seperti ini memang sering terjadi diistana. Ini bukan pertama kalinya kaisar dan jendral bertarung di lapangan pelatihan, dari sekian banyak pertarungan sang jendral selalu berakhir kalah.


Sudah beberapa menit pertarungan ini berlangsung dan sudah semakin sengit, namun zhao masih melawan dengan tenang tanpa terlihat lelah sedikitpun. Sedangkan jendral chi sudah sangat terlihat kelelahan dan kacau.


Hingga akhirnya....


TAAKKKKKK!


pedang yang digunakan oleh jendral chi patah.


" Kedepannya, lakukan dengan lebih baik. Ada sedikit peningkatan daripada sebelumnya. Obati lukamu, dan berlatih lah lebih keras" ucap Zhao. Pedang ditangan nya hilang begitu saja dan dia juga pergi meninggalkan jendral chi yang terbaring ditanah.


Huang Li langsung menghampiri jendral chi dan membantunya kembali ke kamarnya untuk diobati.


" Apa yang terjadi?" Tanya Jendral Chi.


" Dia bertengkar dengan permaisuri"


Akhirnya Chi tau alasan nya. Ini memang benar, kaisar selalu melampiaskan amarahnya melalui pertarungan dan itu sudah bukan hal yang aneh bagi orang-orang terdekatnya.


Setelah membantu Jendral Chi dan memanggilkan tabib, huang Li meninggalkan nya dan pergi menuju istana kaisar.


Sepeninggalan Huang Li, jendral chi jadi teringat seseorang.


" Aku merindukan Ling" gumam Chi.


Jendral Chi menyentuh lukanya, " Jika dia bukan putri wang. Jika dia adalah Ling, apakah dia akan ada disini dan mengobatiku?"


Jendral chi langsung menggelengkan kepalanya, apa yang dia pikirkan. Dia harus menghentikan perasaan nya. Ling adalah permaisuri, ibunya. Bagaimana bisa dia jatuh cinta pada ibunya sendiri.


" Tapi, perasaan tidak ada yang tau bukan?" Tanya chi pada dirinya sendiri.


Chi mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Semakin dia pikirkan perasaannya semakin kacau dan tak terkendali. Ini gila, pikirnya.


|


|


|


|


|


bersambung.....