
Icha sudah di pindahkan di ruang rawat, dia juga sudah sadar dari pingsannya. Sejak tadi dia memaksa untuk menemani sang suami, tetapi kedua orang tuanya tidak mengijinkan karena kondisinya yang masih lemah.
Icha cemberut, dia sedih dengan kondisinya. Haruanya dia bisa menguatkan sang suami disaat seperti ini, tapi kenyataannya dia justru terbaring di ruang perawatan dan tidak bisa berbuat apa pun.
Pintu kamar terbuka, Icha tak berniat melihat siapa yang datang, dia mengira yang datang adalah dokter atau perawat. Tapi dia salah, justru Al yang datang, karena khawatir dengan kondisi istrinya dia pun datang menemui sang istri. Mendekat kearah brangkar dan duduk di kursi yang ada disana.
Al merai jemari istrinya, seketika Icha langsung menoleh. Saat tahu itu Al dia berusaha duduk dan memeluk sang suami.
"Maafkan aku, harusnya aku nemenin kamu disana," ucap Icha.
"Enggak apa-apa sayang, yang penting berdoa, buat kesembuhan Mama. Kamu harus jaga kesehatan dan jangan memikirkan yang tidak-tidak ya, kita optimis Mama pasti sembuh," Al khawatir istrinya berfikir yang tidak-tidak karena itu bisa mempengaruhi janin yang sedang ada dalam kandungannya.
"Iya sayang, aku selalu berdoa buat Mama," timpal Icha.
Keduanya saling menguatkan. Al sebenarnya tak sekuat itu, hanya saja dia tida mau sang istri khawatir dan memikirkan dia. Karena menurutnya kesehatan istrinya lebih penting, mengingat Icha sedang mengandung.
"Gimana keadaan Mama?" tanya Icha.
"Mama sudah keluar dari ruang operasi, tapi masih belum sadar. Semoga saja tranpalantasi susum tulang belakang yang di lakukan membuahkan hasil yang baik," tutur Al.
"Sebenarnya aku ingin mendonorkan sumsum tulang belakang buat Mama, tapi ternyata tidak cocok, untung saja Tanteku mau mendonorkannya," Al mengingat saat tadi di periksa, dia bersedia mendonorkan sumsum tulang belakang buat sang Mama, tetapi ternyata tidak cocok. Untung saja tantenya yang beberapa hari menjenguk sang Mama mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya.
"Aamiinn, semoga setelah ini Mama sembuh total," timpal Icha.
"Iya sayang, semoga saja,"
▪︎▪︎▪︎▪︎
Hingga tengah malam, ternyata sang Mama belum juga sadar. Al terus berdoa untuk kesembuhan sang Mama. Saat ini dirinya sedang berada di mushola rumah sakit tersebut, memohon kepada Sang Pemilik Alam supaya penyakit yang di derita sang Mama segera di angkat.
Sudah hampir satu jam Al berada di dalam mushola, seakan dia lupa untuk memejamkan matanya, mengistirahatkan sebentar badannya. Tepukan di pundaknya membuat Al menoleh kearah belakang, dia tersenyum mendapati Papa mertuanya berada disana.
"Kamu enggak tidur Al?" tanya sang Papa mertua. Lalu dia duduk di sisi Al.
"Iya Pa, sebentar lagi," jawabnya.
"Tidurlah, kamu juga butuh istirahat, supaya badanmu tetap sehat. Lihatlah ini sudah hampir jam dua dini hari Al," tutur sang Papa.
Al melihat kearah jam dinding, benar juga apa yang di katakan mertuanya, dia juga butuh istirahat, "Baiklah Pa, Al akan istirahat," ucapnya lalu bangun dari duduknya.
"Istirahatlah di ruang rawat istrimu," titah sang Papa.
"Iya Pa, Al duluan ya," pamitnya pada sang mertua.
Papa Bayu pun mengangguk sebagai jawaban, dia melihat kearah depan. Disana ada besannya yang juga masih setia duduk dan membaca ayat-ayat suci. Tidak ingin mengganggunya, Papa Bayu memilih untuk melaksanakan sholat sunnah.
Al berjalan keluar dari mushola menuju ruang rawat sang Mama lebih dahulu sebelum ke ruang rawat Icha. Karena Mamanya berada di ruang ICU jadi, tidak mungkin dia menemani sang Mama. Melihat dari pintu kaca yang transaparan, Mamanya masih terbaring disana, belum mau membuka matanya. Entah kapan sang Mama mau membuka matanya, dia berharap itu segera terjadi.
"Ma, bangunlah, banyak yang menunggu Mama bangun," lirihnya, sorot matanya memancarkan kesedihan teramat dalam melihat kondisi sang Mama seperti itu. Karena selama ini kedua orang tuanya tidak pernah mengatakan kondisi Mama yang sesungguhnya, Mama dan Papanya selalu saja menutupi keadaan yang sesungguhnya.
Tak ingin berlama-lama, dia pun berbalik menuju ruang rawat sang istri, dia ingin segera beristirahat. Masuk ke dalam ruangan rawat Icha, dia melihat pemandangan yang mengharukan. Mama mertuanya tidur sambil memeluk sang istri. Betapa sayangnya sang Mama kepada putrinya itu. Dia jadi teringat sang Mama, terahir tidur dengan Mamanya waktu dia masih duduk di sekolah dasar dulu, setelah itu dia selalu menolak jika sang Mama ingin tidur dengannya. Tanpa terasa air mata menetes, menginat kenangan manis bersama sang Mama.
Al berjalan kearah sofa, dia berniat istirahat disana. Dia berharap bisa istirahat dengan baik malam ini, meski waktu yang tersisa sebelum subuh hanya sebentar.
Benar saja, tak butuh waktu lama Al pun tertidur.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Adzan subuh berkumandang, Mama Sinta terbangun lebih dahulu dia melihat ke arah putrinya yang masih tertidur nyenyak, lalu melihat ke arah sofa, ternyata sang menantu yang disana, bukan suaminya.
Turun dari ranjang pasien, mendekati sang menantu, "Al, bangun sudah subuh, sholat dulu." Ucapnya sambil mengguncang tubuh Al.
Seketika Al terbangun, dia membuka matanya dengan perlahan, hampir saja dia mengira Mama mertuanya itu adalah istrinya karena wajah mereka yang hampir mirip. Untung saja dia sadar lebih dahulu sebelum memanggil 'sayang' pada Mama mertuanya. Jika itu terjadi mau di taruh mana mukanya.
"Iya Ma, aku bangun," ucapnya lalu dia duduk, "Icha gimana sholatnya Ma?" tanyanya masih dengan suara parau khas bangun tidur.
"Biar Mama yang bangunin, nanti Mama juga yang akan antar dia ke kamar mandi. Kamu sholat di mushola aja," tutur sang Mama mertua.
"Iya Ma, makasih ya Ma," ucapnya sungkan.
"Tidak perlu berterimakasih, ini sudah kewajiban Mama," ucap Mama mertuanya dengan tersenyum, "Yaudah sana sholat dulu, doakan Mamamu lekas sembuh karena doa sang anak untuk orang tuanya pasti di dengar," tambahnya.
"Iya Ma, aku kemushola dulu ya," pamitnya lalu dia beranjak dari duduknya.
Mama mertuanya tersenyum lalu mengangguk. Al pun membalas senyuman itu. Al keluar kamar rawat itu, menuju mushola.
Sang Mama lebih dulu masuk ke kamar mandi, dia akan melaksanakan sholat lebih dahulu sebelum membangunkan putrinya.
Setelah sholat, dia membangunkan Icha yang ternyata masih tidur dengan nyenyak. "Sayang, bangun, ayo sholat dulu." Ucapnya sambil menepuk tangan sang anak.
Icha membuka matanya, "Iya Ma," ucapnya lalu duduk, "Al mana Ma?" dia menghawatirkan sang suami.
"Dia ke mushola, Mama yang menyuruh. Ayo sekarang kamu ke kamar mandi, terus sholat," sang Mama membantu Icha turun dari ranjang lalu menuntunnya ke kamar mandi.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Selesai sholat subuh, Al kembali ke ruangan Icha. Dia terkejut saat tak mendapati siapa pun disana. Tapi perlengkapan Icha masih ada, dia mengecek ke kamar mandi Icha juga tidak ada. Lalu dia berfikir mungkin sang istri sedang jalan-jalan keluar kamar. Dia pun memutuskan untuk keruangan sang Mama.
Dia mengernyitkan dahinya saat melihat semua orang yang dia kenal berada di depan ruang rawat sang Mama. Merasa heran dan was-was takut jika terjadi sesuatu pada sang Mama, dia pun berlari dan menghampiri orang yang ada disana.
Semakin di landa kebingungan, saat melihat yang ada disana seperti memendam kepedihan. "Apa yang terjadi Pa?" tanyanya pada sang Papa.
Bersambung....
**Jangan lupa like dan komennya yah.
Maaf gantung lagi, di gantung emang enak?🤭
Gak enak ya pastinya, karena ini sudah seribu kata lebih jadi aku bersambungin aja, tunggu kelanjutannya besok ya...
Ig @abil_rahma**