
Hari ini ujian telah berahir, semua berjalan lancar. Hanya hari pertama saja Icha mengalami seperti itu, di hari berikutnya dia lebih baik dan tak terjadi apapun. Semua siswa bersorak bahagia, lega rasanya ujian telah berahir, mereka hanya tingga menunggi satu bulan kedepan bagaimana hasil kerja keras mereka selama ini. Semua berharap yang terbaik.
"Main ke rumahku ya Cha, ujian udah selesai juga. Mama tadi bilang suruh undang teman-teman buat makan siang dirumahku bareng-bareng," pinta Nayla, mereka masih berda di depan kelas, belum mau beranjak dari sana.
"Gue ikutan dong," orang yang tak diajak bicara ternyata lebih dulu berucap sebelum Icha berbicara.
"Boleh, tapi jangan bikin rusuh," timpal Nayla. "Ajak yang lain juga boleh, biar tambah rame," tambahnya.
"Siap Beb," jawab Doni, ya, orang yang tadi ikut berbicara adalah Doni. Kebetulan kelas Doni berada di sebelah kelas mereka.
Nayla hanya mendengus mendengar Doni memanggilnya seperti itu, dia tak suka. "Kamu gimana Cha?" tanyanya pada Icha.
"Iya boleh deh, sekalian ajak Al sama Alvian boleh ya," jawab Icha.
"Boleh dong, mau ajak temen Al yang lain juga boleh banget, asalkan jangan Martha," Nayla tak mau gadis itu tahu rumahnya, gadis yang sok polos tapi sebenarnya itu hanya kedok untuk menutupi sifat aslinya.
"Aku juga gak ijinin lah ngajak dia," timpal Icha cemberut, lalu dia mengirim pesan pada sang suami. Memberitahu tentang undangan yang diberikan oleh Mamanya Nayla.
"Dea juga ikut ya, biar tambah rame," ajak Nayla pada Dea yang baru saja datang
Dea bingung, dia belum tahu apa yang dimaksud Nayla, "Ikuy apa Nay?" tanyanya.
"Ikut kerumahku, syukuran kecil-kecilan, kita makan siang bareng dirumahku, mau ya," pintanya.
"Boleh deh, aku ajak Rara juga ya," Dea menyetujuinya, dia juga ingin mengajak sahabtanya.
"Iya, kalian berdua boleh ikutan, biar rame," Nayla menyetujuinya.
Al mengahampiri Icha, setelah mendapat pesan dari istrinya, dia meluncur turun untuk menemui sang istri. "Beneran mau kerumah Nayla," tanya Al, pasalnya dia khawatir Icha tidak bisa makan nasi, jika disana makan siang bareng teman-temannya semua pasti curiga, kecuali yang sudah mengetahui status mereka.
"Santai aja Al, aku udah siapin makanan spesial buat Icha, kamu tenang aja," Nayla tahu sahabatnya itu tak bisa makan nasi.
"Okelah kalau seperti itu, kita ikutan. Tadi Alvian juga mau ikut katanya sama Irfan," ucap Al.
"Irfan?" Nayla memang tidak mengenal Irfan.
"Temen sekelas Al, dia adiknya Kak Fahri temen Kak Farhan, kamu ingetkan? Yang dulu sering kerumahku," jawab Icha. Nayla memang sesekali pernah bertemu teman Farhan itu, karena dulu sering main kerumah Icha dan disana ada Fahri dan teman-temannya.
Nayla mengangguk, "Iya aku tahu," jawabnya.
"Yaudah ayo kita langsung kerumahku aja kalau gitu, lebih cepat lebih baik kan," ajak Nayla.
Mereka menuju parkiran, menaiki mobil masing-masing menuju rumah Nayla.
Tuan rumah serta Al dan Icha yang datang lebih dahulu, yang lainnya entah kemana. Mereka bertiga masuk, lalu di persilahkan duduk di ruang keluarga dengan lesehan, sebenarnya ada sofa diruang itu, tapi Al dan Icha memilih lesehan diatas karpet berbulu, karena pasti lebih rileks.
"Kalin duduk dulu ya, aku mau ganti baju," ucap Nayla pada Al dan Icha.
Mereka mengangguk, mempersilahkan Nayla berganti pakain terlebih dahulu. Dua sejoli itu tampak mengobrol ringan, sesekali mereka tertawa dan bercanda.
"Oh iya aku lupa beri tahu kamu sayang, kalau seteleh ujian ini Doni ngajakin kita buat ke puncak rame-rame, katanya nginep di vila keluarganya," Icha mengingat beberapa hari lalu kalau Doni mengajak mereka ke puncak.
"Tapi aku pengen ikut sayang," Icha memohon, dia juga ingin bersenang-senang dengan teman-temannya.
"Apa kamu yakin?" tanya Al.
Icha mengangguk, "Iya aku yakin, ayo ikut ya," ucapnya.
"Baiklah, ijin Mama sama Papa dulu ya, kalau mereka enggak ngijinin berarti enggak usah ikut ya," sebenarnya Al berharap mertuanya tak mengijinkan mereka pergi, mengingat Icha yang kadang masih sering mual dan tidak mau makan nasi.
"Iya sayang, pasti Mama dan Papa ngijijin asal perginya sama kamu," ucap Icha penuh keyakinan.
"Kalian asyik banget pada ngomongin apaan?" pertanyaan itu terucap dari bibir Doni.
Keduanya menoleh, ternyata sudah ada lima orang yang berdiri disana, "Kalian kemana saja kok lama?" tanya Icha.
"Enggak kemana-mana, nungguin dua cewek rempong ini," jawab Doni, bola matanya melirik kedua cewek disampingnya.
"Kalian sudah datang semua?" ucap Nayla dari arah dapur, dia membawa nampan berisi minuman, disusul oleh pembantunya yang membawa beberapa makanan ringan.
"Ayo duduk dulu, kenapa masih pada berdiri disitu?" Mama Nayla datang, dia menyalami semua teman-teman Nayla.
"Terimakasih, kalian mau datang kerumah Nayla," tersenyum memandang satu persatu teman Nayla yang sudah duduk.
"Tante sengaja menyuruh Nayla mengundang teman-temannya, karena setelah ini pasti kalian akan jarang kemari, pasti sibuk dengan kuliah kalian dan mungkin ada yang akan kuliah di luar negeri juga," ucap Mama Nayla panjang lebar.
"Sama-sama Tan," jawab mereka hampir bersamaan.
"Silahkan diminum dulu, Tante selesakan masaknya dulu ya, setelah ini kita makan bersama," pamitnya.
"Aku bantu ya Tan," seakan lupa dengan keadaannya, Icha menawarkan diri untuk membantu.
"Enggak usah Cha, kalian lanjut mengobrol saja, sebentar lagi juga selesai," tolak Mamanya Nayla, dia juga tahu kalau Icha sedang hamil tentunya Nayla yang menceritakan semuanya. Dan dia memaklumi itu.
Mereka menhobrol ngalor ngidul, yang tadinya tidak begitu akrab jadi bertambah akrab. Mereka juga membahas yang mau ikut liburan ke puncak, Doni mempersilahkan jika semuanya ingin ikut, dia takkeberatan karena semakin ramai makan akan semakin seru, dan semuanya memutuskan ikut. Irfan tadinya tak mau ikut, tapi dia dipaksa oleh Alvian, karena sudah dipastikan Alvian tak akan ada teman disana, Al pasti akan selalu bersama istri tercintanya.
Sedangkan Doni katanya juga akan mengajak temannya juga, makanya Alvian memaksa Irfan untuk jadi temannya disana.
Tak lama makan siang pun sudah siap, mereka semua di tuntun Nayla menuju ruang makan. Kebetulan meja di ruang makan rumah Nayla panjang, cukup untuk sepuluh orang, mengingat orang tua Nayla memiliki tiga anak dan beberapa cucu, meski tak tinggal serumah tapi mereka sering berkumpul disana.
Meja makan penuh dengan berbagai makanan, membuat mereka yang lapar tak sabar ingin segera mengisi perutnya. Mereka menikmati makan siang dengan tenang. Sedangkan Icha dia memilih makan desert yang sudah dibuatkan oleh Mama Nayla.
"Kok enggak makan nasi Cha?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Dea.
Bersambung....
Janangan lupa like dan komen yah.
Maaf semalam gak bisa up🙏