Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
Extra Part 4


Tengah malam Al terbangun, menepuk-nepuk tempat di sebelahnya, kosong. Dimanakah sang istri? Ia beranjak dari tidurnya, mengkhawatirkan sang istri yang entah di mana. Kamar mandi sepertinya tidak, karena tidak terdengar gemericik air. Ia memutuskan untuk turun dari ranjang, mencari keberadaan sang istri.


Dugaannya benar, sang istri sedang berada di dapur dengan semangkok makanan yang ia tidak tahu isinya apa. Al mendekat, belum sampai di dekat sang istri tiba-tiba perutnya kembali mual ia langsung menuju kamar mandi, meski tidak ada sedikit pun benda yang keluar tapi rasanya tidak enak sekali.


"Siapa suruh mendekat," ucap Icha sewot, ia bahkan tidak khawatir dengan keadaan Al.


Belum juga Al menimpali, Icha sudah kembali bersuara, "Balik ke kamar lagi sana, aku mau sendiri," Icha mengusir Al, ia masih kesal dengan sang suami karena kejadian beberapa jam yang lalu.


Al ingat, istrinya itu ngambek karena ia tinggal tidur, padahal ia tidak sengaja, karena saking mengantuk nya ia pun tertidur, "Maaf sayang, tadi aku enggak sengaja tertidur. Udah ya ngambeknya, aku tungguin kamu di sini," Al duduk sedikit jauh dari Icha, karena ia tidak tahan dengan bau makanan yang Icha makan. Bau amis yang menyeruak ke dalam indra penciumannya.


Icha dia, ia melanjutkan makannya tanpa mempedulikan Al. Ia juga tidak mengusir Al lagi, membiarkan suaminya menemaninya.


Setelah menyelesaikan makannya, ia kembali melangkah ke kamar tanpa mengajak Al. Tak urung Al pun mengikuti sang istri.


Sampai di dalam kamar, Icha merebahkan diri, menyelimuti tubuhnya dan tidur membelakangi Al.


Al menyusul naik ke atas ranjang, ia menggeser tubuhnya hingga merapat dengan Icha. Memeluk pinggang sang istri, tapi dengan cepat Icha melepaskan pelukannya.


"Sayang, please maafin aku ya, aku akan lakukan apa saja asal kamu memaafkan aku, aku enggak tahan jika kamu giniin," Al memohon, ia tidak mau istrinya itu terus mendiaminya.


"Tidak untuk sekarang, entah kalau besok," timpal Icha tanpa menoleh ke arah Al.


Al tidak menimpali lagi, ia memilih melakukan cara lain karena jika berdebat tidak akan selesai, mengingat istrinya itu emosinya sedang sangat labil efek dari kehamilannya.


Al mengecupi tengkuk dan telinga Icha, tangannya pun sudah masuk ke dalam piama Icha, meremat sesuatu yang sangat ia sukai.


Icha sebenarnya merasakan kenikmatan itu, tapi karena rasa kesalnya pada sang suami lebih dominan dan ia juga belum mau memaafkan Al, memberi pelajaran pada suaminya supaya tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


"Hentikan Al, aku masih marah dan jangan harap satu bulan kedepan kamu dapat jatah dari aku," ucap Icha, ia sebenarnya berat mengatakan itu.


Al menghentikan aktifitasnya, ia terkejut dengan ucapan Icha, "Satu bulan sayang? Lama banget, aku enggak akan tahan selama itu tanpa menyentuhmu," Al frustasi, kesalahannya tadi berimbas besar.


"Sayang, jangan hukum aku kaya gitu ya, aku enggak sanggup, aku akan turuti semua kemauanmu asal hukuman itu di cabut," Al kembali memohon.


Icha diam saja, ia malas berdebat malam-malam, lebih baik ia tidur, siapa tahu besok pagi kesalnya pada sang suami sudah hilang.


Al mengernyitkan dahinya saat mendengar dengkuran halus dari sang istri, "Udah tidur ya, dahlah pikirkan besok, jika bernasib baik pasti bisa di bujuk," Al pun ikut memejamkan matanya, karena ia memang sudah mengantuk.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Pagi sekali Al sudah terbangun, ia tersenyum mana kala melihat sang istri yang memeluknya erat, wanita hamil itu bahkan menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.


"Dia sendiri pasti tidak akan tahan jika harus menahan selama satu bulan," gumam Al, ia tersenyum, akan mengikuti permainan sang istri, yang sudah bisa Al tebak, jika istrinya itu akan termakan oleh omongannya sendiri.


Benar saja, Icha terlihat membuka matanya perlahan, ia sadar jika memluk tubuh sang suami, tempat paling nyaman yang pernah ia temui. Tersenyum menatap Al yang sedang pura-pura terlelap.


"Aku enggak akan bisa tidur kalo enggak gini," gumamnya, tentu saja Al mendengar meski Icha hanya bergumam, karena wajah mereka yang amat dekat.


"Sudah maafin aku dong berarti," Al tersenyum, tapi netranya masih tertutup rapat.


Icha melepaskan pelukannya dengan kasar, ia merutuki dirinya sendiri karena kepergok oleh sang suami. Membalik badan dan memunggungi Al.


"Masih marah," ucapnya dengan ketus.


Al tersenyum, ia memeluk Icha dari belakang, "Aku tahu sayang, kamu tidak akan bisa marah lama-lama sama suamimu yang tampan ini," ucapnya, lalu mengecuk tengkuk Icha berkali-kali dan tidak ada perlawanan dari Icha, sepertinya wanita hamil itu menikmatinya.


"Oke, aku tidak akan marah lagi, jika kamu menepati janjimu semalam, mau menuruti semua apa yang aku inginkan," timpal Icha tanpa menoleh ke arah Al.


"Mau minta apa, hm?" Al menghentikan aktifitasnya sebentar.


Icha berfikir, ia mau meminta apa pada suaminya itu, tentunya yang membuat Al kesal dengan permintaannya. Setelah cukup lama berfikir akhirnya Icha bersuara.


"Aku mau ketemu sama Alvian, mau meluk dia," ucapnya. Tentu saja permintaan Icha hanya main-main, ia tahu batasan seorang wanita dengan laki-laki yang bukan muhrimnya.


Al terkejut, tentu saja, permintaan konyol yang selalu Al hindari, ia tidak mau jika sahabatnya itu bertemu dengan Icha, takut jika Alvian tidak bisa melupakan istrinya.


"Emang enggak ada permintaan lain selain itu? Sayang, kamu kan tahu Alvian jauh di London, enggak mungkin kan kita kesana. Apalagi kamu mau memeluknya, itu tidak akan pernah terjadi, meskipun kamu sampai menangis satu minggu pun aku tidak akan menurutinya," tutur Al dengan halus, ia tahu istrinya hanya main-main.


Icha mendengus, "Kita ke London, aku mau ke sana," ucapnya.


Al menggelengkan kepala, ia tidak setuju dengan permintaan istrinya, ia tidak mau kehilangan anak untuk kedua kalinya. London itu jauh butuh waktu berjam-jam untuk sampai di sana, tentu saja itu berbahaya untuk Icha yang sedang mengandung.


"Aku enggak setuju, kalau kamu enggak lagi hamil aku akan setuju-setuju aja," tolak Al, "Sayang, aku enggak mau kejadian beberapa bulan lalu terulang, aku enggak mau kehilangan anak kita lagi, please mengertilah," tambahnya, ia memohon supaya Icha mengurungkan niatnya pergi ke negara Eropa itu.


Icha memutar memori, ia kembali teringat dengan anak pertamanya yang belum sempat melihat dunia, ia juga teringat dengan cerita sang Mama jika Mama mertuanya pernah dua kali keguguran. Tanpa terasa air matanya menetes, menyesali keegoisannya waktu itu, kini ia tidak akan mementingkan egonya.


Al menyadari jika Icha terisak, sepertinya istri tercintanya itu menangis, ia tahu apa penyebabnya.


"Sudah, enggak usah di pikirkan yang telah berlalu. Maafkan aku mengungkit masalah itu," ucapnya, ia semakin mengeratkan pelulannya.


Icha menggeleng, "Aku yang harusnya minta maaf sayang, kali ini aku enggak akan mementingkan egoku, aku sayang sama anak kita," Icha membalikkan tubuhnya menghadap Al, "Maafkan aku ya, aku sebenarnya tadi cuma iseng," ucapnya lalu mengecup pipi sang suami sekilas.


"Ayo kita sholat dulu, waktu subuh sudah hampir habis," Icha lebih dulu beranjak dan di susul oleh Al.