Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 72


Sepasang suami istri yang masih remaja itu sudah kembali kerumah mereka, keduanya tak menunggu kepulangan Kakaknya karena sudah sore dan Kakaknya belum juga kembali.


Setelah membersihkan diri, mereka bercengkrama di ruang keluarga, hanya ada mereka berdua, duduk di sofa, kepala sang istri menyender di pundak suaminya, sambil mengobrol santai menghabiskan hari libur.


"Sayang katanya mau telfon Mama," ucap Icha mengingatkan suaminya, karena dia tadi sempat bilang ingin telfon dengan Mamanya.


"Ah iya, aku sampai lupa," meraih ponsel yang ada disebelah ia duduk dan mencari kontak Mamanya.


Telfon tersambung, orang di seberang sana telah menerimanya.


"Assalamu'alaikum, Mama kangen sama kalian," sapa orang di seberang sana dengan tersenyum, karena Al menelfon pakai video. Wanita paruh baya yang terbalut dengan hijab itu tak terlihat dia sedang menderita penyakit, karena dia bisa menyembunyikan rasa sakitnya pada orang lain.


"Wa'alaikumussalam Ma, kita juga kangen sama Mama," jawab salam Al dan Icha.


"Gimana kabar kalian Nak?"


"Alhamdulillah baik Ma, Mama sama Papa gimana kabarnya?"


"Seperti yang kalian lihat, Mama sehat Papa juga sehat, sekarang Papa lagi keluar belanja, gak ada dirumah," seakan tahu anaknya akan bertanya apa.


"Ma, kami punya kabar gembira buat Mama sama Papa," ucap Al, dia ingin memberitahu Mamanya tentang kehamilan Icha.


"Kabar bahagia apa? Jangan buat Mama penasaran, ayolah,"


"Tapi Mama jangan marahin aku ya?" pinta Al karena jujur dia masih takut karena ultimatum Mamanya dulu.


"Kalau kabar bahagia kenapa Mama harus marah, coba? Kalau kalian bahagia Mama pasti akan bahagia juga,"


"Mama sebentar lagi punya cucu," ucap Al sedikit ragu.


Mama Al di sebrang sana tampak terkejut mendengar ucapan anaknya.


"Kamu tu yah gak sabaran, Mama bahagia kalau mau punya cucu, tapi apa Icha tidak masalah jika hamil masih sekolah?"


Icha menggeleng sambil tersenyum, "Aku gak masalah Ma, aku juga bahagia,"


"Alhamdulillah, Mama ikut seneng. Nanti Papa biar Mama kasih tahu, Papa pasti bahagia juga. Selamat buat kalian berdua ya, jaga cucu Mama dengan baik,"


"Iya Ma, insyaallah kami akan menjaganya,"


Mereka kembali berbicara panjang lebar dengan Mamanya di telfon, rasa rindu telah lama tak bertemu terobati walau tak sepenuhnya.


Tetapi lama bertelfon, Papanya tak kunjung pulang, jadi mereka putuskan untuk mengahiri telfonnnya.


Al dan Icha kembali ke kamar, karena waktu sudah menjelang maghrib, mereka akan melaksanakan sholat maghrib bersama.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Mereka sudah berada didalam selimut, tetapi hati Icha gelisah, ia menginginkan sesuatu, enggan untuk meminta pada sang suami, karena waktu sudah malam, tetapi keinginannya tak bisa di tunda lagi. Apalagi mitos yang beredar mengatakan kalau sedang hamil permintaanya tak dituruti makan anaknya akan ileran.


Dengan terpaksa Icha membuka matanya kembali, menatap wajah sang suami yang sudah terpejam begitu damai, ketampanannya bertambah berkali-kali lipat ketika tertidur.


"Kenapa belum tidur sayang?" suara itu mengejutkan Icha, ternyata suaminya belum tertidur.


"Emm, itu, aku," suaranya terbata, bingung harus mengatakan apa.


Al membuka matanya, menatap wajah cantik istrinya, tahu jika istrinya menginginkan sesuatu, "Kamu mau apa? Katakan saja, aku akan berusahan untuk memenuhi permintaan anak kita," tangannya terulur mengelus perut rata Istrinya.


Icha tersenyum bahagia, suaminya ternyata mengetahui jika dia sedang menginginkan sesuatu, "Aku mau sate kambing," tersenyum sumringah mengingat makanan yang dibencinya ketika keadaan biasa.


Mengangguk dengan tegas tak ada keraguan dalam benaknya, "Aku serius sayang," jawabnya mantap.


"Baiklah, akan aku carikan sebentar ya, semoga masih ada jam segini," ia turun dari ranjang, tetapi langkahnya terhenti kala istrinya ikut turun.


"Aku mau ikut, gak mau di rumah sendiri," manja sekali istrinya ini, apakah karena kehamilannya? Tetapi itu membuat Al makin gemas dan sayang.


"Baiklah, tapi kamu harus pake jaket, angin malam tak baik untuk ibu hamil," mendengar itu sang istri bahagia sekali terlihat dari senyumnya yang merekah.


"Naik motor ya," pinta sang istri masih dengan mode manjanya.


"No!" Al tak mungkin menuruti keinginan konyol istrinya, malam-malam seperti ini naik motor? Gak akan dia turuti yang satu ini.


Icha mendengus, kecewa batinnya. Wanita hamil memang seperti itu, jika permintaanya tak di turuti jadi kecil hati.


"Mau sate apa naik motor? Kalau mau sate gak naik motor, tapi kalau naik motor gak beli sate," Al memberi pilihan, dia yakin istrinya lebih memilih membeli sate.


"Iya, beli sate aja. Tapi besok ke sekolah naik motor ya, please," memohon dengan halus supaya suaminya memenuhi permintaannya.


"Iya kalau itu tidak masalah," Al tak keberatan jika kesekolah naik motor.


"Ayo sayang," Icha melangkah mendekati suaminya yang duduk di sisi ranjang, memeluk lengan suaminya seakan tak ingin melepaskannya.


"Kamu manja sekali sih sayang, aku jadi gemes," Al tak tahan jika tak mencubit hidung istrinya yang sedang mode manja.


"Sakit sayang," mengusap bekas cubitan suaminya.


Al hanya tertawa renyah mendengar keluhan sang istri.


Sampai di garasi, mereka masuk kedalam mobil, berhenti di depan gerbang, menunggu di bukakan gerbang oleh satpam penjaga malam ini. Mengucapkan terimakasih dan berlalu meninggalkan kediaman mewah mereka.


Berkeliling mencari sesuatu yang di inginkan istrinya yang sedang hamil, hingga di tengah kota mereka menemukan masih ada kedai yang ramai dengan tulisan sate kambing. Membelokkan mobilnya, mencari tempat yang aman untuk parkir. Setelah terparkir keduanya turun dari mobil dan memasuki kedai tersebut.


"Pak sate kambingnya dua porsi ya, bungkus saja," memesan sate yang di inginkan istrinya.


Icha menelan salivanya saat melihat sate yang sedang di panggang, rasanya tak tahan ingin segera menyantap makanan tersebut. Tetapi dia harus bersabar.


"Sayang makan disini aja ya, aku gak sabar ingin makan itu," tuturnya masih dengan mode manja.


"Tapi ini sudah malam, nggak baik buat kamu sayang," tutur Al halus, dia tak mau menyinggung istrinya.


"Sebentar aja sayang, ini kemauan anak kamu lho," nah kan anaknya jadi senjata yang ampuh pastinya.


Al menghela nafas, "Baiklah, cari tempat duduk dulu, biar aku bilang sama penjualnya,"


Icha mengangguk, dia mencari tempat duduk yang masih kosong, menunggu suaminya datang. Tak lama yang di tunggu pun datang, duduk bersebelahan dengan sang istri.


"Kalian malam-malam begini masih aja berduaan," ucap seseorang dari arah depan mereka.


"Iya, gak masalah kan?" Al menjawab dengan sedikit ketus, dia tak suka orang lain ikut campur urusannya.


"Ya ya ya, gak masalah," jawabnya, tanpa permisi duduk di depan keduanya. "Numpang bentar, nunggu pesanan," ucapnya seakan tahu pemikiran Al.


Mereka tak lagi mengobrol setelah itu, karena memang tak ada yang perlu dibicarakan lagi.


Bersambung......


Jangan lupa like dan komennya yah, makasih semua😘😘