Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 55


Karena dirundung rindu, atau masih terfikirkan akan kejadian yang baru dia alami, Al sampai lupa jika istrinya berada di rumah mertuanya. Dia buru-buru masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya. Saat membuka kamar hanya sepi yang menyapa, tak ada siapapu di kamar.


Al terlihat sedikit panik, dia meletakkan tas kerjanya juga tas sekolahnya diatas ranjang, lalu bergegas menuju dapur. Karena biasanya Icha akan berada di dapur jika tidak dikamar.


Setelah sampai dapur ternyata pikirannya salah, istrinya tidak ada disana, dia panik bukan main. Keluar dari dapur menuju taman samping rumah, dia melihat pembantunya disana.


"Bik Icha kemana? Kok gak ada dirumah?" tanyanya pada pembantu itu.


Sang pembantu mendekat, dia tersenyum pada majikannya. "Mas Al lupa kalau Non Icha ada dirumah Mamanya?" bukannya menjawab pembantunya malah balik bertanya.


Al menepuk jidat, kenapa juga dia sampai lupa, memalukan sekali, "Astaghfirullahaladzim, kenapa bisa sampai lupa begini sih." Al geleng-geleng kepala lalu meninggalkan pembantunya. Sang pembantu hanya tersenyum menanggapi anak majikannya itu.


Al kembali ke kamar, dia memutuskan untuk mandi sekalian saja, sebelum menuju rumah mertuanya, supaya badan lebih segar.


Waktu berlalu, Al telah menyelesaikan ritual mandinya, dia pun sudah rapi dengan pakaian santainya. Terlihat lebih segar dibanding waktu pertama datang.


Al mengambil tas yang dia letakkan di ranjang tadi, lalu turun kebawah. Dia akan kembali kerumah mertuanya, diaman disana istrinya berada.


Al melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia meraih ponsel yang ia letakkan di dasbor mobil. Ternyata ada pesan dari istrinya yang menanyakan kenapa samapi jam segini belum pulang? Tapi Al tak berniat membalasnya, dia akan jelaskan nanti kalau sampai sana.


Tak berapa lama pun dia sampai dirumah mertuanya. Disambut oleh Icha yang kala itu membukakan pintu. Icha langsung meraih tangan suaminya. Dia mengernyitkan dahi saat melihat penampilan suaminya yang sudah berbeda.


"Kamu pulang kerumah dulu?" tanyanya setelah melihat penampilan Al.


"Iya, aku tadi lupa kalo kamu disini," Al tersenyum mengingat kejadian tadi saat dirumah.


Icha mengernyit, "Kok bisa?" tanyanya kemudian.


"Gak tahu, saking rindunya sama kamu sampe lupa kalo kamu disini," Al nyengir.


Mereka masuk kedalam kamar, karena waktu sudah menunjukkan saatnya sholat maghrib.


"Aku sampai panik tadi, cari kamu sekeliling rumah gak ketemu," sambungnya setelah duduk disisi ranjang, disusul oleh Icha setelah dia meletakkan tas Al ditempat yang seharusnya.


"Kenapa kamu gak tanya Bibik?"


"Aku tanya, makanya aku baru inget kalo kamu disini, waktu aku keliling cari kamu Bibik gak keliatan, ternyta di taman," jelas Al.


"Ada-ada aja kamu tuh," ucap Icha lalu beranjak dari duduknya menuju kamar mandi.


"Sayang, Raffa gimana keadaannya?" tanya Al yang berhasil menghentikan langkah Icha.


Icha menoleh kearah Al, "Alhamdulillah sudah baikan, dia cuman demam biasa," jawab Icha, lalu dia melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


"Alhamdulillah kalo gitu,"


Seperti biasa mereka selalu sholat berjamaah dirumah. Setelah selesai sholat tak lupa membaca beberapa lembar mushaf, kebiasaan yang mereka lakukan seperti itu. Lalu mereka menuju ruang makan untuk makan malam bersama.


Terlihat Raffa sudah lebih baik, karena dia mau turun ke ruang makan untuk makan malam.


"Sudah baikan Fa?" tanya Al ketika mendapati Raffa duduk didepannnya.


"Alhamdulillah sudah Kak. Mungkin aku kecapean, beberapa hari ini les terus sampai pulang sore bahkan kadang malam," Raffa berasumsi jika dia kelelahan.


"Bisa jadi juga. Saran gue jangan terlalu dipaksakan, lo kan pinter seperti Icha, gak harus les-lesan juga pasti bisa," Al mencoba memberi saran.


"Maunya gitu Kak, tapi kata Mama biar aku gak sibuk main game lebih baik les, aku sih nurut aja," timpal Raffa


Icha sedari tadi masih menyiapkan makanan untuk mereka bertiga.


Raffa hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Dia itu kalo gak disuruh les gak mau belajar, sayang," tiba-tiba Icha ikut menyambung pembicaraan kedua pemuda itu, "kerjaannya main PS kalo gak game online ya Mama pasti prihatin lah liat anak bungsunya malas belajar," tambahnya. Lalu dia duduk disamping Al, menyentong nasi ditaruh di piring Al.


"Kaya Kakak enggak aja," Raffa tidak terima dikatakan seperti itu oleh Icha.


"Enggak ya, Kaka selalu belajar. Baca novel-novel itu setelah selesai belajar, gak kaya kamu," seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Raffa, kalau Icha jarang belajar dan malah sering baca novel.


"Pantes aja, dikamar kamu isinya novel semua," Al menggelengkan kepala, dia tak habis pikir Icha yang pandai dan selalu dapat juara umum itu kerjaannya baca novel.


"Berarti kalo nunggu aku kerja kamu gak belajar tapi baca novel?" Al memastikan, apakah pemikirannya benar atau salah?


Icha menyengir seperti tak berdosa, "Kadang-kadang iya, tapi selalu belajar dulu,"


"Udah bahan nanti lagi, sekarang kita makan. Kasian sejak tadi makanannya dianggurin," Icha mengalihkan pembicaraannya.


Mereka pun makan dengan hening, menghentikan sejenak obrolannya.


Setelah selesai makan, mereka naik ke kamar masing-masing untuk belajar. Setelah samapi di kamar Al dan Icha mengambil alat tulis mereka, lalu duduk lesehan beralaskan karpet bulu depan ranjang.


"Sayang, aku mau cerita sama kamu, tentang kejadian tadi siang," tutur Al saat keduanya sudah duduk.


Icha menoleh lalu menatap wajah Al, "Emang ada kejadian apa?" tanyanya penasaran.


Al menceritakan kejadian tadi siang, dimana Alvian membuktikan kalau dalang utama Icha dikurung di gudang adalah Nasita dan Martha. Icha seakan tidak percaya dengan kenyataan yang ada.


"Kamu serius?" tanyanya tak percaya.


"Apa aku terlihat berbohong?" Al menatap wajah Icha lekat.


Icha menggeleng, dia percaya apa yang Al katakan.


"Jika kamu masih tidak percaya, biar aku suruh Alvian kirim videonya tadi saat merekam pembicaraan merek,"


"Gak perlu, aku percaya sama kamu," ucap Icha.


"Untuk saat ini berhati-hatilah dengan Martha, tadinya aku kurang percaya kalau dia terlibat, melihat dari sifatnya yang tidak pendendam sepertinya, tapi aku salah, dia juga terlibat. Bahkan mereka mengancamku untuk melaporkan status kita ke pihak sekolah jika aku macam-macam dengan mereka, yang tahu kita suami istri kan si Martha," Al menjelaskan panjang lebar.


Tangan Icha terulur untuk mengelus lengan suaminya yang duduk disampingnya. "Biarkan saja mereka, kita tidak usah membalas perbuatan mereka, biat yang diatas yang membalas mereka," tuturnya kemudian.


"Perkataanmu sama seperti apa yang dikatakn Alvian, kalian seperti janjian saja," Al menatap lekat bola mata Icha, melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Icha setelah Al mengatakan hal tersebut.


"Suka ngarang kamu, mana mungkin aku janjian sama temanmu itu. Ini hanya kebetulan saja, tak usah diambil pusing lah," ucap Icha tak mau melanjutkan pembahasan tersebut.


"Jangan mudah percaya sama perkataan Martha, apapun itu, oke," titah Al.


"Sendiko dawuh suamiku," jawab Icha sambil menganggukan kepala dan tersenyum.


"Anak pintar." Al mengacak-acak rambut panjang Icha.


"Sekarang kita lanjut belajar lagi," titah Icha dan diangguki oleh Al. Keduanya pun belajar bersama.


.


Bersambung.........