
Dobrakan ketiga pintu pun terbuka, Al langsung menghampiri Icha dan memeluk erat gadisnya itu. Icha menangis dalam pelukan Al.
Terlihat penampilan Icha yang berantakan, matanya sembab, sepertinya dia telah menangis berjam-jam.
Al melihat sekeliling gudang yang gelap gulita tanpa ada penerangan, tidak ada jendela dalam ruangan itu, pantas saja Icha tak bisa keluar dari gudang tersebut. Al geram siapa yang berani melakukan itu pada istrinya. Dia berjanji akan membalas apa yang telah mereka lakukan pada Icha, siapapun orangnya.
"Pantas saja, saya tadi memeriksa sekeliling sini ada suara tangisan, ternyata Nengnya yang nangis, saya tadi merinding dan langsung pergi, karena disini biasa ada suara tangisan seperti itu," celetuk Pak Satpam.
Semua yang mendengar ucapan satpam itu jadi ikut merinding, tak terkecuali Icha. Sejak tadi Icha hanya bisa menangis dan berdzikir serta berdoa supaya ada yang menolongnya, karenaa dia benar-benar takut, di dalam gudang itu.
"Sayang, aku takut, hiks hiks hiks," ucap Icha terbata karena masih menangis.
"Sudah ya gak usah nangis lagi, kamu sudah aman, sekarang kita pulang," Al menenangkan Icha, sambil mengelus rambut Icha yang tertutup jilbab, sesekali dia juga mencium puncak kepala Icha. Dia tidak tega melihat istrinya seperti itu, hatinya ikut sakit kala gadisnya itu sakit. Dia bersyukur tidak terjadi apa-apa pada Icha. Yang terpenting sekarang keadaan Icha, untuk pelakunya dia akan mencari tahu besok, setelah Icha membaik.
Icha pun mengangguk masih dalam pelukan Al.
Al menuntun Icha sampai kedepan gerabang sekolah, karena mobil mereka terparkir disana. Setelah membukakan pintu untuk Icha dan Icha masuk, Al pun ikut masuk lewat pintu sebelah kemudi.
"Al aku ikut Alvian aja ya, jaga Icha baik-baik," ucap Nayla, dia tidak enak jika Al harus mengantarkannya pulang dulu.
"Iya, makasih buat kalian, gue pulang," pamit Al pada ketiga temannya itu.
Al melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia menoleh kearah Icha, gadis itu masih menangis. Tangan Al terulur menyantuh puncak kepala istrinya.
"Udah sayang, jangan nangis lagi, kamu sudah aman sama aku, udah ya." Ucap Al dengan nada sendu, tangannya masih setia mengelus puncak kepala Icha.
Icha menolah kearah Al, lalu dia menyandarkan kepalanya di pundak Al dan satu tangannya memeluk lengan Al. Dia tidak kuasa mengatakan apa-apa, tapi tangisnya sudah sedikit reda.
Al tidak terganggu dengan perbuatan Icha seperti itu, dia sedikit lega karena Icha sudah lebih tenang dari sebelumnya.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Sampai mobil mereka memasuki gerbang rumah Al. Al turun lebih dulu, dia mengitari mobilnya untuk membukakan pintu buat Icha.
Al menuntun Icha masuk kedalam rumah, dia memeluk pinggang gadis itu dengan erat dan membawanya ke kamar. Saat akan naik tangga mereka bertemu Bik Um, dia akan mengucapkan sesuatu tapi diurungkan karena lirikan mata Al. Bik Um paham, supaya dia diam.
Al kembali membawa Icha masuk kedalam kamar, gadis itu menurut saja, dia tidak bicara sepatah kata pun. Setelah sampai kamar, dia mendudukan Icha di sofa kamar mereka.
"Sayang, kamu mandi dulu ya, biar aku siapkan air hangat," ucap Al, Icha hanya mengangguk sebagai jawaban.
Al terluka melihat gadisnya seperti itu, dia tau Icha pasti trauma dengan kejadian tadi yang dia alami.
"Ayo mandi sayang, airnya udah aku siapin," titah Al setelah menyiapkan air hangat. Al membawakan handuk dan baju ganti buat Icha.
Al menuntun Icha masuk kedalam kamar mandi, saat akan keluar Icha menarik tangan Al.
"Aku takut, kamu tunggu disini aja," pinta Icha. Al pun menurutinya, dia menunggu Icha didepan pintu kamar mandi. Tentunya dengan membelakangi Icha.
Setelah beberapa menit Icha pun telah menyelesaikan acara mandinya, dia sudah memakai pakaian lengkap. Lalu keduanya pun keluar dari kamar mandi.
"Sekarang kita makan ya, kamu pasti lapar banget dari tadi siang belum makan," tutur Al dengan lembut.
"Aku mau makan disini aja Al," pinta Icha.
"Baiklah, biar aku suruh Bibik bawakan makanan kita ke kamar aja," ucap Al, lalu dia menghubungu pembantunya lewat telfon rumah, karena dia tahu Icha pasti tidak mau ditinggal. Terbukti Icha memeluk pinggang Ak dengan erat dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
Al mengelus dan menciumi puncak kepala Icha, "Sudah ya sayang, gak usah takut lagi, sekarang kita sudah dirumah," tutur Al.
"Aku masih takut Al, aku takut banyak tikus didalam sana, aku takut sayang," air mata Icha kembali menetes mengingat kejadian tadi.
"Udah gak usah nangis lagi ya," pinta Al.
"Sayang kenapa kamu ikut nangis?" tanya Icha heran.
"Kalau kamu sedih aku juga pasti ikut sedih,"
"Maafkan aku, sudah membuatmu ikut menangis, aku minta maaf karena mere ...." ucapan Icha terpotong karena Al mengecup sekilas bibir Icha.
"Seharusnya aku yang minta maaf sama kamu, karen aku gak bisa jagain kamu sayang, sudah ya, sebentar lagi Bibik kesini, kita makannya," tutur Al.
Icha mengangguk ada sedikit garis senyum di bibirnya.
Benar kata Al, Bibik pun datang membawa makan malam mereka dan menaruhnya diatas meja depan sofa yang ada di kamar itu.
"Ayo kita makan, biar aku suapin kamu, buat nebus kesalahan aku hari ini," ucap Al setelah pembantunya pergi.
Icha menggangguk, dia sudah bisa tersenyum karena perlakuan Al yang memanjakannya, dan mengerti keadaannya.
Setelah mereka selesai makan, Al meletakkan bekas makanannya diluar kamar, supaya Bibik mengambilnya.
Dia kembali masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamar mereka.
"Sayang susunya diminum dulu ya, biar kamu lebih tenang. Setelah ini kamu boleh tidur," tutur Al setelah duduk disamping Icha.
"Iya, tapi aku mau nungguin kamu dulu, aku mau tidur bareng kamu," tolak Icha dengan lembut.
Al menatap Icha, dia meneliti semua wajah Icha, terlihat wajah Icha lebih tenang dari pada tadi.
"Baiklah, aku akan temani kamu tidur aja. Kasian kamu pasti capek banget," ucap Al lalu mengecup singkat kening Icha. Lalu dia merebahkan diri disamping Icha.
"Ayo tidur, aku gak ada tugas hari ini, jadi bisa tidur lebih awal," tambahnya lagi.
Icha pun ikut merebahkan diri disamping Al, lalu Al memeluk tubuh Icha, meletakan kepala Icha di depan dadanya, tangannya tergerak mengelus rambut panjang Icha.
"Sayang, besok kamu gak usah sekolah dulu ya, kamu istirahat dirumah ya," pinta Al dengan lembut, dia masih setia mendekap Icha.
Icha mendongak, menatap wajah Al. Lalu dia menggeleng. "Aku mau ikut kamu sekolah, aku gak mau dirumah sendiri," traumanya belum sepenuhnya hilang.
"Baiklah kalau itu maumu, sekarang tidur ya," pinta Al.
Keduanya pun tertidur saling memeluk. Menyalurkan ketenangan satu sama lain.
.
.
.
Bersambung......
Jangan lupa like dan komennya yah,
Boleh tebak siapa yang mengunci Icha di dalam gudang?
Terus enaknya diapain mereka?