
Brak
Alisha membanting pintu kamarnya. Lalu mengunci pintu tersebut, melangkah ke arah tempat tidur lalu merebahkan diri di sana. Dia kesal sekali, kesal dengan kembarannya karena telah menggagalkan acara balapan yang ia tunggu-tunggu selama sebulan ini. Apalagi ini kesempatan yang sangat langka, karena sang Papa sedang tidak di rumah.
Drrrt Drrrt Drrrt
Ponselnya berdering, tanpa babibu ia pun meraih ponsel tersebut dari saku jaketnya.
"Apaan?" tanyanya dengan orang di seberang sana.
"Gue udah balik. Siapa yang menang? Nyesel banget gue, tu orang pasti bangga banget gue gak jadi ikutan, apalagi dia yang menang," dia mendengarkan orang yang berbicara di seberang sana.
"Ya, atur aja kapan dan di mana, kalo bisa jangan malam, Lo tahu sendiri kan? Yaudah gue tutup," Alisha melempar ponselnya ke sembarang arah, tentunya tidak sampai jatuh ke lantai, jika terjadi ia tidak bisa membeli ponsel baru karena kartu kreditnya sedang di sita sang Mama.
"Apes banget gue, liat aja gue bakalan kalahin dia nanti," Alisha bermonolog sendiri, setelah itu ia memejamkan mata, lelah.
****
Di ruangan lain, Aufa mendekati sang Mama yang ada di ruang keluarga. Setelah Alisha melesat ke kamarnya beberapa saat yang lalu.
"Kemana adikmu Bang?" tanya Icha sang Mama.
"Biasa Ma, balapan," jawab Aufa santai, ia duduk di sisi sang Mama, "Mama enggak usah terlalu menghawatirkan Shasa Ma, dia bisa jaga diri. Kalau Mama terus memikirkan anak itu nanti Mama sakit, biarkan saja yang penting tidak kelewat batas. Aku paham Shasa meskipun bergaul dengan teman yang urakan seperti itu, dia tidak pernah meninggalkan sholat Ma, dia bahkan sering mengajak teman-temannya untuk sholat. Aku tahu itu semua dari temanku yang juga sering bareng Shasa," tambahnya panjang lebar.
Alisha memang tak pernah meninggalkan ibadahnya, meskipun dia seperti itu. Dia juga tidak pernah melawan ucapan orang tuanya, walaupun sering membuat Mamanya khawatir karena sering kabur-kaburan.
"Tapi sebagai orang tua, Mama tetep khawatir Bang, apalagi adik kamu itu perempuan, ya meskipun Mama tahu dia bisa menjaga diri dengan ilmu bela diri yang dia miliki, tapi tetep saja Mama khawatir Bang, apalagi Papa kalian jarang di rumah," timpal Icha.
"Iya Ma, aku ngerti. Coba aja perusahaan yang di luar negeri itu di serahkan sama orang kepercayaan Papa aja, kan kita akan sering bersama seperti keluarga Om Farhan Ma," Aufa sebenarnya kurang setuju jika sang Papa sering berada di luar negeri, sedangkan anak dan istrinya di sini. Bukan karena takut Papanya selingkuh, tapi dia merasa tidak memiliki keluarga yang lengkap.
"Mama sudah bicarakan berkali-kali dengan Papamu, tapi dia belum menerima saran Mama," Icha menundukkan kepalanya saat mengingat sang suami.
"Coba Mama jujur sama Papa, tentang kelakuan Shasa Ma, kalau Papa mengetahui gimana kelakuan anak kesayangannya itu, pasti akan memikirkan ucapan Mama, Papa pasti lebih memilih kerja di sini," usul Aufa. Memang selama ini Icha tidak pernah menceritakan kebandelan anak gadisnya itu. Saat Alisha tidak naik kelas, Icha beralasan jika Alisha beberapa kali tidak masuk karena sakit, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Alisha yang sering bolos sekolah, hingga membuat kepala sekolah memutuskan untuk tidak menaikkan Alisha, meskipun dia sebenarnya pintar walaupun tak sepandai sang Abang.
"Nanti Mama pikirkan usulan mu itu, semoga Papa mau mengerti," timpal Icha, "Makasih ya Bang, kamu sudah membantu Mama selama ini, sekarang istirahatlah, ini sudah malam. Mama juga mau istirahat," tambahnya.
"Baik Ma, selamat istirahat,"
***
Beberapa hari berlalu, hari ini Al pulang. Dia tidak memberitahukan pada anak dan istrinya jika pulang hari ini, berencana akan membuat suprise kepada mereka. Saat ini dirinya sedang berada dalam mobil yang di kemudikan oleh supir kantor. Karena lampu merah, mobil pun berhenti. Al melihat sekeliling jalan, karena sudah sebulan lebih dirinya tidak menginjakkan kaki di ibu kota. Matanya menangkap bayangan seseorang yang amat ia kenali, seakan tidak percaya ia pun menajamkan penglihatannya. Ternyata benar, dia adalah putrinya.
Alisha berboncengan dengan seorang pemuda, di belakang mereka ada lima motor dengan model dan merek yang sama, pakaian mereka sama bahkan seperti sekelompok geng motor yang sedang viral. Mengenakan jaket denim berwarna hitam.
"Shaha kenapa bisa bersama geng motor seperti itu?" gumamnya.
"Kenapa Pak?" tanya sang sopir yang samar-samar mendengar ucapan Al.
"Pak tolong ikuti anak-anak motor itu ya, jangan sampai kehilangan jejak," sopir pun mengangguk, lalu ia melajukan mobilnya mengikuti sekelompok geng motor tersebut.
Al mengernyitkan dahinya, heran, kenapa bisa anak gadisnya itu masuk ke arena balapan motor? Mau apa dia?
"Terus ikuti saja mereka," titah Al. Sopir itu pun hanya mengangguk.
Setelah sampai di depan gerbang arena balapan tersebut, sang sopir harus turun dari mobil karena gerbang di kunci, sepertinya akan ada pertandingan.
Al hanya melihat dari dalam mobil, ia tidak berniat untuk turun, menyerahkan semua pada sang sopir.
"Pak kita tidak di ijinkan masuk, katanya akan ada pertandingan. Dan arena ini sudah di booking sama mereka," ucap sang sopir saat kembali masuk ke dalam mobil.
Al menghembuskan nafas kasar, akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Bertanya pada sang istri, apakah benar Alisha bergabung dengan geng motor.
***
"Assalamu'alaikum," ucap salam seseorang yang sudah di tinggu-tunggu sejak tadi.
"Wa'alaikumussalam,"
Alisha membeku di depan pintu, ketika melihat sang Papa yang menjawab salamnya. Apalagi dengan tatapan yang tak pernah lihat sebelumnya, tatapan penuh intimidasi, dan kekecewaan yang Alisha lihat.
"Papa," lirihnya, dia tidak berani memeluk sang Papa.
"Dari mana kamu Sha?" tanya sang Papa dengan nada lembut, tapi sorot matanya tajam setajam silet.
"Aku, dari rumah temen Pa," jawab Alisha gugup. Dengan hati berdebar-debar, Alisha pun mendekati sang Papa, lalu mencium punggung Papanya. "Papa pulang kapan?" tanyanya seakan tidak terjadi apa-apa.
"Kamu mau bohongi Papa?" tidak menjawab pertanyaan sang putri, Al justru balik bertanya.
Alisha menggeleng.
"Jawab jujur, kamu dari mana?" tanya Al lagi, ucapannya masih lembut, tapi justru menakutkan menurut Alisha.
"Jujur aja Sha, Papa udah tahu kalau kamu habis balapan motor," Aufa datang menyela pembicaraan mereka.
Seketika Alisha menatap tajam kembarannya dan hanya di balas senyum meremehkan oleh Aufa.
"Maaf Pa," hanya itu yang bisa Alisha ucapkan.
"Maaf untuk apa? Papa enggak butuh ucapan maaf, yang Papa butuhkan kejujuran kamu,"
"Iya, seperti yang Abang katakan. Aku habis balapan motor," lirih Alisha yang hanya di dengar oleh dirinya dan Al yang berada di hadapannya.
Al menghela nafas, "Mulai sekarang, Papa yang akan antar jemput kamu sekolah, sampai lulus SMA," ucap Al, dan itu membuat Alisha frustasi, jika sang Papa sudah seperti itu dia tidak akan bisa berkutik sedikit pun. Al hasil akan jadi anak rumahan seperti gadis-gadis lain.
*****
Extra Part-nya sampai sini aja ya, cerita Alisha akan aku teruskan di novel baru. Dengan Ayesha saudara sepupunya. Tunggu nanti aku infoin.