
Mereka berjalan menuju parkiran dengan bergandengan tangan tanpa mau melepaskan satu sama lain, banyak pasang mata yang menyaksikan, tetapi keduanya terlihat cuek, tidak mempedulikan orang lain.
Sesampainya di parkiran Nayla ternyata masih menunggu, ada juga Doni, Rifky dan Dea.
"Nay aku bareng Al aja yah," ucap Icha setelah berada di dekat mereka.
"Iya, jangan pacaran dulu. Awas kalo acaran dulu, gue black list," bukan Nayla yang mengatakan itu, tetapi si ketua kelas, Doni.
"Gak lah, mana sempet pacaran? Al mau kerja," ucap Icha lalu berbalik badan meninggalkan mereka. Icha berjalan menuju mobil Al karena Al sudah menunggu disana. Setelah Icha masuk kedalam mobil, Al pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Nayla.
"Kamu nggak makan dulu sayang?" tanya Al masih fokus mengemudi.
"Aku masih kenyang makan tadi pas istirahat itu, apa kamu lapar?" jawab Icha sambil menatap wajah Al dari samping, karena dia fokus melihat jalanan.
"Enggak juga sih, nanti kalo lapar aku akan pesan, jangan khawatir,"
"Baiklah, terserah kamu," setelah percakapan itu keduanya memilih diam. Hanya suara musik dari radio yang memecah keheningan keduanya.
Setengah jam berlalu, mereka sudah sampai di rumah Nayla. Al melihat kearah Icha ternyata dia tertidur pantes aja dari tadi diam saja. Al pun membangunkan Icha dengan menggoyang-goyangkan lengannya.
"Sayang udah sampai nich, ayo bangun." Ucap Al sambil menggoyang-goyangkan lengan Icha.
Icha membuka matanya perlahan. Dia mau membuka pintu mobil tapi ucapan Al mengurungkan niatnya.
"Lap dulu iler nya," ucap Al
Icha kalangkabut, memalukan sekali sampai ketahuan oleh Al kalau dia ileran, pikir Icha. Dia pun reflek menuruti ucapan Al seperti mobil remot saja.
Hahahahaha
Al tertawa saat Icha menuruti apa kata-katanya, padahal dia tadi cuma bercanda, Icha tidak ileran.
BUGH
Icha memukul dada Al karena dia kesal telah ditipu oleh pemuda itu.
"Kamu jahat banget sih, ngeselin," ucap Icha sambil mengrucutkan bibirnya.
"Kenapa bibirnya di monyong-monyongin gitu? Minta dicium hm?" tanya Al sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan aneh-aneh, ini dirumah orang, sudah aku turun yang lain udah nungguin," ucap Icha dia melepas seltbelt nya, dan akan membuka pintu mobil, tetapi tangannya lebih dulu di tarik oleh Al.
"Seperti biasa, biar aku tambah semangat kerja karena disana kan sendirian gak ada kamu sayang," ucap Al dan Icha tau apa yang dimaksud oleh Al.
Icha mengecup singkat bibir, pipi kanan dan kiri Al. Mereka sudah terbiasa seperti itu jadi Icha sudah tak canggung lagi.
Sedangkan Al membalas mengecup kening dan kedua pipi Icha secara singkat. Dia mentodorkan tangan kananya pada Icha. Icha menerimanya dan mencium punggung tangan Al, lalu dia membuka pintu mobil dan keluar.
"Semangat kerjanya ya sayang, assalamu'alaikum," ucap salam Icha.
"Wa'alaikumsalam sayang, bye," setelah mengucapkan itu Al melajukan mobilnya menuju perusahaannya.
Sedangkan Icha dia memilih masuk kedalam rumah Nayla, setelah memasuki gerbang dia terlihat bingung, pasalnya kendaraan Nayla belum terparkir disana, kendaraan yang lainnya juga, mereka mampir kemana pikir Icha. Kenapa juga tadi tidak bertanya pada satpam apakah Nayla sudah sampai apa belum.
Icha memutuskan untuk memencet bel rumah Nayla. Tak lama pintu dibuka oleh pembantu Nayla, dan Icha dipersilahkan masuk. Dia pun masuk menunggu Icha dan yang lainnya di ruang tamu.
Beberapa menit kemudian, mereka berempat baru menampakkan batang hidungnya.
"Kemana aja sih kalian, aku udah lama nunggu," keluh Icha ketika melihat keempat orang temannya.
"Maaf Cha kita mampi ke supermarket dulu beli cemilan," sahut Nayla, dia membawa beberapa kantong kresek di kedua tangannya.
"Ayo masuk, kita belajar di ruang keluarga aja yang luas," tambahnya.
Mereka pun mengikuti langkah kaki Nayla menuju ruang keluarga.
Mereka mulai membahas tugas yang diberikan oleh guru biologi dengan ditemani minuman dingin juga cemilan yang dibeli oleh Nayla tadi.
Dua jam berlalu, tapi tugas mereka belum juga kelar, karena mereka belajar sambil bercanda.
"Udah masuk waktu asar, kita sholat aja dulu yuk, ntar kita lanjut lagi," ajak Icha pada keempat temannya.
"Boleh deh, supaya lebih fres juga pikiran kita," sahut Dea, dia menyetujui saran Icha.
"Kalian bisa wudhu di sana, ntar sholatnya di mushola sebelah sini." Jelas Nayla tangannya menunjuk kearah toilet juga mushola.
Mereka pun melaksanakan sholat berjamaah dengan Rifky sebagai imamnya. Setelah sholat mereka melanjutkan membuat tugas lagi sampai selesai.
"Akhirnya selesai juga." Celetuk Doni sambil mrentangkan kedua tangannya keatas.
"Don cerpennya udah jadi?" tanyanya ketika teringat dengan lomba cerpen.
"Baru setengah, gue belum sempet nulis lagi Cha, lo bantuin dong," keluh Doni karena dia sebenarnya malas meneruskan cerpen itu.
"Kalo aku yang buat ntar gak sepemikiran lagi, jadi ancur malah, lanjut kamu sendiri aja lah," tolak Icha, karena dia juga sebenarnya malas karena sudah banyak tugas.
Doni menghela nafas panjang, mendengar penolakan Icha.
"Makan malam di luar yok," ajak Doni pada mereka.
"Ntar gue yang traktir deh, mau makan dimana," tambahnya lagi.
"Boleh juga tuh, gue juga udah laper," Rifky lebih dulu menyetujui.
"Gue ngikut yang lain deh, gimana Nay, Cha?" tanya Dea butuh perseyujuan keduanya.
"Maaf aku gak bisa, paling sebentar lagi Al jemput, kalian aja lah," tolak Icha dengan halus.
"Ajak aja Al sekalian, gimana setuju nggak?" Nayla memberikan ide.
"Ntar coba aku tanya dia dulu mau apa nggek ya," jawab Icha, lalu dia menekan tombol telpon di layar ponselnya, dia akan menelfon Al.
".... "
"Temen-temen mau ajak makan malem bareng, gimana kamu mau ikutan apa enggak?"
".... "
"Oh yaudah deh, aku tunggu kamu,"
Setelah itu Icha mematikan sambungan telfonnya.
"Gimana Cha?" tanya Nayla penasaran.
Icha menggeleng, "Maaf ya, Al gak mau, masih ada kerjaan katanya, mau nerusin kerjaannya setelah menjemputku," jelas Icha
"Kalian aja gak apa-apa, aku akan tunggu Al disini," tambahnya lagi.
"Beneran gak apa-apa kita tinggal Cha?" tanya Nayla khawatir.
"Iya, disini ada Bibik juga kan, biar aku ngobrol sama Bibik udah biasa bukan?" Icha meyakinkan mereka.
"Baiklah kalo gitu, aku panggil Bibik supaya nemenin kamu disini," putus Nayla, lalu dia berjalan kearah dapur menemui pembantu rumah tangganya.
Setelah pembantu Nayla datang, mereka berempat pun pergi meninggalkan Icha di rumah Nayla, sebenarnya Nayla tak enak meninggalkan Icha, tapi Icha memaksa supaya Nayla ikut, kasian Dea sendirian.
"Kita double date dong," celetuk Doni saat akan keluar dari rumah Nayla.
"Emang kamu mau sama Doni? Kalau aku mending sama Rifky dari pada sama dia," celetuk Nayla.
"Aku juga gak mau Nay," jawab Dea.
Mereka tertawa kecuali Doni yang pura-pura ngambek.
"Udah sana kalian pergi, malah becanda mulu sih," protes Icha karena mereka malah bercanda saja.
Saat mereka sudah berada di teras, tiba-tiba ada suara klakson mobil dari luar gerbang.
*Tiin
Tiin
Tiin*
"Itu sepertinya klakson mobil Al deh, kalo gitu aku pulang ya, Al udah datang," tutur Icha, laku dia berjalan menuju gerbang.
Benar saja diluar sana ada mobil Al, dan juga Al yang baru turun dari mobil.
"Kenapa turun? Ayo pulang," ucap Icha saat melihat Al malah turun, lalu dia masuk kedalam mobil diikuti oleh Al.
Keduanya pun pulang kerumah.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komennya yah. Makasih