Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
Extra Part 5


Ngidamnya Al berlanjut hingga kehamilan Icha berusia tiga bulan, selama itu pun Al jarang sekali makan nasi, ia sering makan buah-buahan, puding dan satu lagi mie instan. Ia benar-benar menepati janjinya tidak membuat Icha kesal seperti beberapa waktu lalu, jika minta mie, ya dia makan mie tidak minta yang lain lagi.


Wanita hamil yang satu itu emosinya masih labil, ia sering marah-marah tidak jelas sama sang suami, tentu saja Al memakluminya. Ia sudah di beri pencerahan oleh dokter Hanny, tentang wanita hamil, Al juga selalu curhat pada dokter cantik itu tentang keluh kesahnya menghadapi sang istri yang sedang hamil.


Pagi ini, Al dan Icha di temani oleh Mama Sinta memeriksakan kandungan Icha yang sudah terlihat membuncit itu, tubuh yang dulunya ramping kini membengkak di setiap bagian tubuhnya, itu biasa terjadi pada wanita hamil yang tidak mengalami masa-masa sulit mengidam.


"Beneran kalian enggak mau tahu jenis kelamin anak kalian?" tanya Doter Hanny setelah ia memeriksa kandungan Icha.


"Iya bener Dok, biar jadi kejutan," jawab Icha sambil tersenyum.


"Baiklah, itu benar-benar akan menjadi kejutan buat kalian berdua," Dokter Hanny menatap Icha dan Al bergantian, ia tersenyum saat menatap Mama Icha, "Vitaminnya biasa, aku resepkan nanti bisa di tebus di apotek, semoga sehat-sehat selalu buat ibu dan bayinya," tambahnya. Ia menyerahkan resep yang baru saja ia tulis.


"Sebaiknya cuti dulu kuliahnya, kasian bayi kalian jika Mamanya melakukan aktifitas berlebih, cutilah sampai mereka lahir, itu saran aja sih, kuliah kan bisa di tunda dulu," tambahnya lagi.


"Iya Kak, minggu depan dia sudah enggak kuliah," Al memang sudah memintakan Icha cuti pada pihak kampus sampai wanita itu melahirkan.


"Baguslah, semangat jaga kesehatan," timpal sang dokter.


Setelah berpamitan mereka pun keluar dari ruangan pemeriksaan. Menebus vitamin yang di resepkan sang dokter lalu kembali ke rumah menaiki mobil.


Sampainya di rumah, Icha beristirahat di ruang keluarga, karena perutnya semakin membesar membuat ia sulit untuk beraktifitas lebih, bahkan ia cepat lelah jika melakukan aktifitas sehari-hari.


"Mulai hari ini kalian tinggallah di sini, nanti Mama akan ngomong sama Papa Davit, supaya memperbolehkan kalian tinggal di sini, kasihan Icha, kalau di sini ada Mama yang akan jagain saat Al kerja atau kuliah," tutur Sinta panjang lebar.


Keduanya beradu pandang, "Iya Ma, aku juga kasian lihat Icha sendirian, aku sebenarnya sudah berencana mengajak Icha tinggal di sini sampai dia melahirkan, kalau soal Papa dia juga sudah setuju," timpal Al, ia memang sudah membicarakan hal ini pada sang Papa.


"Baguslah, kalau kalian sepemikiran sama Mama," ucap sang Mama.


Saat mereka asyik berbincang-bincang, ada dua orang yang datang, keduanya mengucapkan salam dan di jawab oleh mereka bertiga.


Dua orang itu duduk di sofa dan bergabung dengan mereka.


"Dari mana Kak?" tanya Icha saat melihat Kakak dan kekasihnya.


"Fitting baju sama milih-milih undangan," bukan sang Kaka yang menjawab melainkan kekasihnya.


"Sebentar lagi ya, kalian akan menikah, ikut seneng aku, kasian lihat Kak Farhan, temen-temennya udah pada nikah," celetuk Icha. Karena memang teman-teman Farhan sudah banyak yang menikah.


"Doakan ya Cha, semoga lancar semuanya, kata orang dahulu doa seorang wanita hamil itu manjur," timpal Sherena, ia memang pernah mendengar kata-kata itu.


Icha tersenyum lalu ia mengangguk, "Pasti akan selalu aku doakan yang terbaik untuk kalian Kak," ucapnya.


Mereka kembali mengobrol tentang pernikahan Farhan dan Sherena, karena kurang lebih dua bulan lagi pernikahan mereka akan di langsungkan.


¤¤¤


Malam harinya Al dan Icha benar-benar tidur di rumah keluarga Icha, Al sudah membawa beberapa pakaiannya dan juga Icha. Tadi ia yang mengambilnya, tentunya tanpa Icha.


"Kamu mau anak laki-laki apa perempuan sayang?" tanya Icha, keduanya berada di atas ranjang.


Al yang sedang sibuk dengan laptopnya pun menoleh ke arah sang istri, "Laki-laki atau pun perempuan aku akan mensyukurinya, nanti jika aku minta laki-laki tetapi yang lahir perempuan maka aku akan kecewa dan sebaliknya, laki-laki atau pun perempuan sama saja, dia amanah dari Allah yang harus kita jaga," jawab Al panjang lebar.


Al meletakkan laptopnya di atas nakas, ia faham jika sang istri sudah mengajaknya berbicara maka ia harus meninggalkan pekerjaannya, jika tidak Icha akan merajuk.


Al mengelus perut buncit Icha, ia tersenyum bahagia manakala bayi dalam perut Icha menendang-nendang, "Dia tahu kalau ini Papanya, makanya nendang-nendang gini, kira-kira lagi ngapain ya, kok kaya main bola aja," Al terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Sakit enggak sayang, saat dia nendang-nendang gini?" tanya Al, pasalnya bayi itu menendang sangat kuat.


"Enggak sih, cuma geli-geli gimana gitu," jawab Icha, ia pun ikut mengelus perutnya yang membuncit.


"Malam ini dia udah di dengerin bacaan ayat suci apa belum?" tanya Al, pasalnya sejak tadi Icha asyik bermain ponsel.


Setiap malam sebelum tidur dan pagi saat bangun tidur, Icha selalu memutar musik atau pun ayat-ayat suci di perutnya, ia diberi saran oleh dokter Hany, katanya bayi bisa mendengar itu meskipun berada di dalam kandungan.


"Udah sayang, tadi setelah maghrib. Habis aku baca surah Yusuf dan Maryam," sejak hamil Icha memang mengamalkan membaca ayat-ayat suci tertentu setelah sholat lima waktu.


Al tidak mengetahuinya, karena ia baru tiba di rumah itu setelah sholat isya'.


"Yaudah sekarang tidur ya," ucap Al, ia mengecup beberapa kali perut buncit sang istri lalu merebahkan diri di sisi Icha dan memeluk wanita itu.


¤¤¤


Beberapa bulan berlalu, setelah beberapa minggu lalu sang Kakak yang harusnya menikah dengan kekasihnya Sherena, justru malah menikah dengan sahabatnya sendiri karena sesuatu kejadian yang tak terduga. Kini kandungan Icha semakin membesar bahkan sesuai HPL ia akan melahirkan beberapa hari ke depan.


Malam hari Icha terbangun karena merasakan sakit pada perutnya. Ia merintih sambil memegangi perutnya, melihat jam dinding ternyata baru jam dua belas malam. Ia menggoyang-goyang tubuh sang suami yang sedang terlelap. Dengan malas Al membuka matanya, ia terkejut saat melihat sang istri sedang merintih kesakitan.


"Kamu mau melahirkan sepertinya sayang," ucap Al panik. Ia mengusap-usap perut Icha, mencoba mengurangi rasa sakit yang timbul.


"Sayang, sakit banget." Icha mencengkram tangan Al.


Al panik, ia tidak tahu harus berbuat apa melihat istrinya merintih seperti itu ia menjadi tidak tega, "Bentar aku bangunin Mama ya, kamu tunggu di sini enggak apa-apa, kan?" Ia tidak tahu harus berbuat apa, yang penting sekarang membangunkan Mama mertuanya yang pastinya lebih tahu harus berbuat apa.


Icha mengangguk sambil terus merintih.


Al segera beranjak, ia dengan tergesa-gesa keluar kamar menuju kamar sebelah yang di huni oleh mertuanya.


Tok


Tok


Tok


"Ma, Pa!" serunya.


Tak lama pintu terbuka, munculah sang Mama dengan wajah yang masih terlihat mengantuk.


"Kenapa Al?" tanyanya.


"Icha Ma," hanya itu yang bisa Al ucapkan.


Mamanya langsung mengerti, ia pun keluar kamar dan menuju kamar Icha diikuti oleh Al.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang, biar Mama persiapkan semuanya, dan bangunin Papa. Al kamu tuntun Icha ke bawah ya," ucap sang Mama, lalu ia keluar kamar.


***


Disini aku lompat bulan ya teman-teman, yang part atas pas pemeriksaan itu Farhan belum menikah, dan pas Icha mau lahiran Farhan udah nikah, jadi jangan salah faham ya, karena masih aku munculin Sherena.