
Setelah keduanya keluar dari ruang Bu Sherly, mereka berjalan menuju kantin.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa Bu Sherly mengetahui cincin itu?" tanya Icha, dia penasaran dengan yang terjadi.
Al menceritakan kejadian tadi di kelas, jika dia ketahuan memakai cincin, biasanya dia selalu melepas cincinya ketika masuk kedalam kelas.
Dia juga menceritakan gimana perjuangannya meminta kembali cincin itu sampai akhirnya dia terpaksa mengatakan kalau di sudah bertunangan.
"Aku lupa melepasnya tadi sayang," Al mengahiri ceritanya.
Icha mengangguk tanda mengerti.
Al berjalan dengan menggandeng tangan Icha, seakan tidak mau melepaskan gadisnya itu.
Sesampainya di kantin seperti biasa, mereka memesan makanan dan makan dengan menu kesukaan mereka. Biasanya Alvian sering ikut nimbrung tapi kali ini tidak, dia duduk bersama teman kelasnya di meja yang berbeda bahkan berjauhan dengan mereka berdua.
"Al nanti pulang sekolah mau ke rumah Nayla ngerjain tugas kelompok, tadinya mereka mau kerumahku gak mungkin dong kalo aku ajak ke rumah," ucap Icha ketika keduanya telah menyelesaikan makannya.
Al menyedot jus alpukat di hadapannya lalu dia menatap Icha.
"Sama siapa aja?" tanyanya kemudian.
"Tentunya ada Nayla dan tiga teman kelasku," jawab Icha santai.
"Cewek Cowok?"
"Ada dua cowoknya, yang tiga cewek termasuk aku,"
"Kenapa harus ada cowoknya sih?" protes Al.
"Itu pilihan guru biologi, jadi kami terima bersih, gak bisa protes juga. Kamu keberatan?" tanya Icha karena dia melihat raut wajah Al yang tak suka.
"Keberatan kalo ada cowoknya, ntar dia naksir kamu gimana?"
"Mana ada? Jangan berlebihan gitu lah Al, kita cuman belajar gak lebih," Icha tak terima dengan ucapan Al.
"Bukannya aku berlebihan sayang, cuma khawatir aja,"
"Tenang saja, kamu gak usah khawatir meskipun ada banyak yang menyukai ku tapi cintaku hanya untukmu," ucap Icha akhirnya, supaya Al mengijinkannya belajar kelompok.
Al mencubit hidung Icha dengan gemas, yang di cubit mengaduh kesakitan.
"Kamu nggemesin banget sih sayang." Al masih saja memegangi hidung Icha.
"Udah Al, sakit tau. Baru nyadar kalo aku nggemsin?" ucap Icha cemberut.
"Iya apalagi kalo lagi ngambek gini," Al berniat mencubit hidung Icha lagi tapi buru-buru Icha menutup gidungnya.
"Kemana aja selama ini Bang," ucap Icha setelah menurunkan tangannya dari hidung.
"Kok Bang sih? Kaya abang tukang bakso aja," protes Al.
"Bukan abang tukang bakso, tapi abang tukang gombal,"
"Tapi kamu suka kan aku gombalin, ngaku aja," Al menaik turunkan alisnya sambil tersenyum menggoda.
"Udah ah ayo kembali ke kelas, bel sebentar lagi bunyi." Ucap Icha sambil berdiri dari duduknya.
Al pun mengikuti Icha lalu dia meraih tangan kanan Icha untuk di gandeng.
Al mengantar Icha sampai kedepan kelasnya, alasannya selalu sama.
"Gimana aku boleh belajar kelompok kan?" tanya Icha memastikan karena tadi tidak mendapat jawaban.
"Iya, tapi nanti kamu pulanggnya nunggu aku ya, biar ku jemput setelah pulang kerja,"
"Baiklah kalo gitu, makasih ya sayang," ucap Icha sedikit berbisik, karena dia malu dengan teman-temannya jika ketahuan memanggil Al dengan sebutan sayang.
"Iya iya, udah sana kamu masuk kelas, guru sebentar lagi datang pasti," ucap Icha karena mendengar suara bel masuk.
"Baik lah sayang, see you, assalamu'alaikum," ucap Al lalu dia melangkah meninggalkan kelas Icha.
"Wa'alaikumsalam," jawab salam Icha lalu dia masuk kedalam kelas.
"Ciee yang selalu dianter sama pangerannya," celetuk Doni saat melihat Icha masuk kedalam kelas.
"Apaan sih Don?" ucap Icha, wajahnya memerah karena malu.
"Gak malu-malu gitu kali, seantero sekolah ini udah pada tau semua Cha," ucap Doni, lalu dia berdiri dari duduknya, karena sejak tadi dia duduk di bangku Icha.
Setelah Doni berdiri Icha pun duduk di tempat yang diduduki Dion tadi.
"Kenapa gak belajar di rumah lo aja sih Cha? Gue juga penasaran sama rumah lo. Setiap belajar kelompok selalu aja di rumah Nayla kan bosen," ucap Doni, memang Doni beberapa kali satu kelompok dengan Nayla dan Icha, mereka selalu belajarnya di rumah Nayla.
"Aku gak punya rumah Don, kalo mau belajar di rumahku kapan-kapan kalo aku udah beli ya," jawab Icha dengan santai.
"Ck, maksud gue rumah bokap nyokap lo, ribet amat sih," Doni merasa sebal dengan ucapan Icha yang seolah-olah seperti orang bodoh.
"Udah sana kembali ke meja lo deh Don, berisik banget," Nayla mengusir Doni yang masih setia berdiri disamping meja mereka.
"Bebeb Nay sayang, jangan usir Babang Doni napa? Masih kangen ini," ucap Doni dengan wajah memelas.
"Uweekk, jijik banget gue Don, hus hus hus." Nayla mengibas-ngibaskan tangannya, mengusir Dion.
Icha tertawa melihat interaksi keduanya. Doni memang selalu dekatin Nayla, tapi respon Nayla selalu sama, biasa-biasa saja. Entah apa yang dipikirkan Nayla, padahal Doni orangnya baik, menurut Icha.
"Ntar jadi di rumah lo belajarnya Nay?" tanya Rifky teman sekelompok mereka, dia baru saja masuk kedalam kelas.
"Iya Ky, ntar gue shareloc alamat rumah gue lewat wa, lo ada di grup wa kelas kita kan?" tanya Nayla pada Rifky.
"Ada dong, oke gue tunggu,"
"Kalo nggak ntar kita pulang bareng aja, kan lehih mudah. Biar gue naik mobil sama Icha dan Dea," Nayla memberi saran.
"Gitu juga boleh lah," ucap Rifky lalu dia pergi dari sana dan duduk di kursinya.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Bel menandakan waktunya para siswa untuk meninggalkan sekolah pun telah berbunyi. Icha sedang mengemasi barang-barang miliknya, hari ini dia akan langsung ke rumah Nayla tanpa pulang terlebih dahulu, karena jika pulang dulu akan butuh waktu lama.
Icha terkejut ketika ada seseorang yang berdiri disebelah mejanya, dia hafal dengan aroma orang tersebut, siapa lagi kalau bukan Al suaminya. Yang buat dia terkejut kenapa Al harus menyusulnya, padahal tadi sudah minta ijin buat belajar dirumah Nayla, apa dia lupa? Atau dia malah tidak mengijinkannya?
"Bukanya aku udah bilang kalau mau belajar kelompok di rumah Nayla ya?" ucap Icha sambil menatap Al yang berdiri disebelahnya.
"Aku tunggu di parkiran Cha," ucap Nayla ketika sadar dia menjadi obat nyamuk, karena di kelas hanya ada mereka bertiga.
Icha menggangguk saja, karena Nayla sudah melesat jauh.
"Aku antar kamu kesana," jawab Al, lalu dia meraih tangan Icha dan membawa Icha keluar kelas.
"Bukannya tambah jauh dari ke kantornya kalau lewat rumah Nayla?" tanya Icha heran.
"Gak apa-apa, aku akan pastikan kamu baik-baik saja sampai rumah Nayla, jadis jangan protes," ucap Al tak mau di bantah.
"Baiklah, aku nurut apa kata suami," Icha pasrah.
"Good Baby," Icha tersenyum mendengar Al mengucapkan kata itu.
Bersambung......
Jangan lupa like dan komennya yah. Makasih🥰😘😘