
"Undangan apa Cha?" pertanyaan yang sejak pertama Icha membagikan undangan buat teman-teman kampusnya.
"Baca aja," selalu itu yang Icha lontarkan dari bibirnya.
Semua yang telah menerima undangan dan membacanya di buat terkejut, pasalnya di undangan itu tertulis acara resepsi pernikahan. Sebab selama ini mereka tidak pernah mendengar gosip jika Al dan Icha akan menikah secepat itu. Mereka pasti akan di buat terkejut lagi ketika mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Setelah semua undangan tersebar, Icha merasa lega sekali, menunggu seminggu lagi acara yang sesungguhnya. Meskipun tidak merasakan bagaimana beratnya mempersiapkan acara resepsi, ia yakin acara resepsi nanti juga akan melelahkan.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Acara yang di tunggu-tunggu pun tiba, Icha dan Al sudah lebih dulu berada di gedung yang mereka sewa untuk acara resepsi pernikahan sekaligus anniversary mereka yang pertama. Saat ini keduanya berada di sebuah kamar rias, Icha belum selesai di rias oleh MUA tersohor yang telaj di sewa oleh sang Mama. Sedangkan Al, ia duduk di sofa memainkan ponselnya, sesekali ia melirik istrinya yang sedang di rias. Al sudah berpakain lengkap, dengan tuxedo berwarna beby blue.
Icha mengenakan ball gown berwarna beby blue dengan banyak tail di sekelilingnya, di bagian dada juga terdapat aksen tambahan menambah kemewahan gaun tersebut. Tiara yang terpasang di atas hijabnya, ia terlihat bak Cinderella dari negri dongeng.
Al menatap Icha yang berdiri di hadapannya, istrinya itu benar-benar terlihat seratus kali lebih cantik dari biasanya.
Al berdiri lalu melangkah mendekati Icha, "Kamu cantik sekali sayang," bisiknya di telinga sang istri.
Icha tersenyum malu-malu, jika saja wajahnya tidak menggunakan make up tebal, pipinya pasti terlihat merona merah.
"Kalian sudah siap, kan?" tiba-tiba suara dari arah pintu mengusik kemesraan mereka.
"Iya, udah Kak," jawab Icha.
Ada Sherena dan Nayla yang datang menghampiri mereka, pasalnya Mama Icha masih menyalami tamu yang datang silih berganti.
"Ayo kita keluar, acaranya akan segera di mulai," Sherena mengajak kedua pengantin yang sudah tidak baru lagi itu keluar kamar, ia juga yang membantu mensukseskan acara resepsi ini.
Al dan Icha berjalan di depan kedua gadis itu, Icha memeluk lengan suaminya dengan mesra. Saat melintas banyak kamera yang merekam perjalanan dua sejoli tersebut. Saat mendekati aula terdengar suara dari microfone yang menyambut kedatangan keduanya, tepuk tangan meriah mulai bersautan, padahal pengantin belum menampakkan diri di tengah-tengah mereka.
Setelah mendapat aba-aba dari WO yang bertugas, mereka pun masuk ke dalam aula dimana semua acara akan di laksanakan di sana.
Plok Plok Plok
Tepuk tangan bertambah meriah, saat kedua sejoli itu memasuki ballroom. Kekaguman nampak dari raut wajah tamu undangan yang hadir, tak terkecuali teman dan sahabat-sahabat mereka.
Icha dan Al duduk di sofa yang sudah di siapkan diatas mimbar, sebelum duduk keduanya terlebih dahulu memberi hormat pada semua tamu undangan, senyum bahagia mereka tampilkan.
Presenter kembali bersuara setelah keduanya duduk, "Acara selanjutnya adalah potong kue untuk merayakan anniversary pertama kedua mempelai,"
Ucapan presenter itu membuat para sahabat Icha dan Al melongo tidak percaya, sedangkan tamu undangan dari rekan bisnis Papa-Papa mereka sudah tidak terkejut, karena mereka telah mengetahui kenyataan itu.
Sebuah kue bertingkat berwarna putih, dengan hiasan bunga-bunga di sisinya dan tulisan anniversary di ujung paling atas. Lagi-lagi kue tersebut terlihat mewah, entah berapa banyak uang yang di keluarkan untuk acara resepsi tersebut.
Al dan Icha melangkan mendekat ke arah kue tersebut. Mereka menerima pisau panjang yang sudah di persiapkan oleh WO.
"Hitungan ke tiga kalian bisa potong kuenya ya," ucap presenter tersebut.
"Satu ... dua ... tiga .... ayo beri tepuk tangan yang meriah buat mereka bedua," suara presenter menggema di ballrom tersebut, di susul tepuk tangan meriah dari seluruh tamu undangan.
Setelah memotong kue, mereka berdua saling menyuapi kue yang telah terpotong. Tepuk tangan kembali terdengar saat keduanya berhasil menyuapi satu sama lain.
Waktu berlalu, acara selanjutnya yaitu resepsi pernikahan. Mereka berdua sudah berdiri sejak tadi, menyalami satu persatu para undangan yang hadir. Entah berapa ribu orang yang mereka salami di hari ini. Icha menyalami tamu undangan wanita sedangkan jika tamu undangan laki-laki ia hanya menangkupkan kedua tangan di depan dada, begitu pun sebaliknya dengan Al.
"Gue enggak nyangka, ternyata lo berdua udah nikah setahun lalu, benar-benar kabar mengejutkan," banyak yang mengucapkan kata seperti itu saat menyalami kedua pengantin, terutama dari teman-teman kampus mereka.
Al dan Icha hanya tersenyum menanggapinya, dan mengucapkan terimakasih pada semua yang hadir.
"Selamat ya buat kalian berdua, akhirnya seisi dunia tahu jika kalian sudah menikah." Alvian menjabat tangan sahabatnya, ia sengaja pulang ke Indonesia untuk menghadiri acara paling penting buat sahabatnya itu.
"Makasih Yan, lo udah nyempetin hadir di tengah padatnya jadwal kuliah," ucap Al, ia bahagia sahabatnya itu hadir di acara bahagianya.
"Karena lo udah gue anggep sodara gue sendiri Al. Ohya, Martha minta maaf enggak bisa ikut hadir, dia sedang ada ujian," Martha memang tidak bisa hadir, padahal ia sudah merencanakan akan hadir di acara ini, tapi ternyata ada ujian pas di hari ini. Jadi ia memutuskan tidak menghadiri acara resepsi Al dan Icha.
"Iya, enggak apa-apa," Alvian berlalu berganti dengan teman lainnya.
Setelah acara salam-salaman, kini giliran sesi foto. Pertama mereka foto hanya berdua dengan berbagai pose dan juga tiga model gaun yang berbeda pula, tentunya semua gaun yang di kenakan Icha adalah gaun berkelas. Lalu foto bersama keluarga besar berlanjut dengan teman-teman mereka.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Tok
Tok
Tok
Al membuka matanya, ketika mendengar ketukan pintu dari luar. Lalu ia bangkit berjalan dengan sempoyongan ke arah pintu. Membuka pintu tersebut, terlihat sang Mama mertua beserta dua perias yang tadi merias Icha.
"Al mereka mau membantu Icha melepaskan gaunnya," ucap sang Mama.
"Silahkan masuk Ma," Al mempersilahkan Mama mertua dan dua orang itu untuk masuk.
"Sayang bangun, gaunnya mau di lepas sama periasnya." Sang Mama mengguncang tubuh putrinya yang tertidur pulas.
Icha pun membuka matanya, lalu ia duduk mengumpulkan serpihan nyawanya yang belum terkumpul.
"Eh, iya Ma," ia turun dari ranjang.
Sedangkan Al memilih untuk membersihkan tubuhnya, ia lebih dulu mengambil baju ganti dari dalam koper yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.
Al keluar dari kamar mandi dengan pakain santai yang melekat di tubuhnya, tangan kanannya memegang handuk yang sedang ia gosok-gosokkan di kepala. Tubuhnya sudah kembali segar, rasa lelah pun sedikit menghilang. Ia melihat sekeliling ternyata perias dan Mama mertuanya sudah pergi dari kamar itu.
"Sudah selesai?" tanyanya.
Icha menoleh kearah Al, "Iya sayang, cuma sebentar kok," ucapnya lalu berdiri, berjalan ke arah kamar mandi. Ia juga ingin membersihkan diri, karena badannya terasa lengket.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Malam hari setelah makan malam bersama keluarga, mereka kembali ke kamar untuk istirahat karena lelah di tubuhnya belum juga menghilang. Mereka menginap di hotel tersebut, sedangkan keluarganya kembali ke rumah masing-masing.
"Sayang, aku punya kado spesial buat kamu," ucal Icha, kini keduanya sudah duduk diatas ranjang sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Kado apa?" tanya Al penasaran.
Icha tidak menjawab, ia tersenyum lalu turun dari ranjang menuju ke arah meja rias, di mana tas selempangnya berada. Ia mwngambil sebuah kotak kecil berwarna biru muda, dengan pita diatasnya. Membawa kotak tersebut ke atas ranjang.
Al mengernyit melihat kotak kecil itu, ia berfikir kado apa yang ada di dalamnya. Mungkin jam tanagan, karena sepertinya hanya jam tangan yang muat di dalam sana.
"Ini, bukalah," ucap Icha, ia menyerahkan kotak itu pada sang suami yang terlihat bingung.
"Apa sih isinya, kok kecil gini?" Al membolak-balik kotak itu, meneliti semua sudut yang terlihat sama. Lalu ia membuka kotak tersebut, ia mengernyitkan dahinya karena di dalan sana masih ada kotak yang ukurannya lebih kecil.
"Kok kotak lagi? Apa sih isinya sayang? Enggak mungkin cincin, kan?" cerewet sekali suaminya itu, tinggal di buka saja kenapa masih komentar.
Icha tersenyum, "Ya enggak dong," ucapnya.
Al kembali membuka kotak itu, ia berdecak saat menemukan kotak lebih kecil lagi, ia fikir istrinya itu mengeprank dirinya. "Prank pasti ini, kan?" tanyanya, ia seperti enggan membuka kotak itu lagi.
Icha masih saja tersenyum, "Buka aja sampai selesai, nanti kamu tahu sendiri isinya," ucapnya.
Dengan malas Al pun kembali membuka kota ke tiga.
Deg
Dadanya berdebar ketika mendapati isi kotak tersebut, ia menatap wajah cantik istrinya yang tersenyum manis. Icha pun mengangguk seakan tahu apa yang ada dalam pikirang sang suami.
Lalu Al memeluk sang istri, mengecup puncak kepala istrinya lalu bergantian dengan seluruh wajah sang istri yang ia hujani dengan kecupan.
Al menatap lekat wajah sang istri yang masih setia tersenyum, "Alhamdulillah, ternyata Tuhan memberikan amanah kembali pada kita," air mata haru menetes dari kelopak matanya, "Sejak kapan kamu mengetahui ini sayang?" tanyanya pada sang istri.
"Sejak seminggu yang lalu, aku sengaja tidak memberitahukan kehamilanku ini, karena akan aku jadikan kado di hari anniversary kita," ucap Icha.
"Terimakasih sayangku, ini kado terindah yang pernah aku terima," Al tak henti-hentinya menghujani sang istri dengan kecupan, meluapkan rasa bahagianya.
**TAMAT
Terimakasih untuk yang setia membaca karyaku😘😘😘**