
Al berangkat kesekolah dengan hati yang tidak tenang, takut Icha terjadi apa-apa. Padahal Icha dan Dokter Hany tadi mengatakan kalau tidak ada yang perlu di khawatirkan, tapi tetap saja dalam hati kecilnya Al khawatir dengan keadaan Icha.
Tak lama dia pun sampai juga di sekolahan. Al memarkirkan mobilnya ditempat biasa, ada sedikit rasa canggung karena selama beberapa minggu ini dia selalu mengantar Icha ke kelasnya, tapi kali ini tidak.
Al bertemu dengan Nayla saat di koridor sekolah. Nayla heran kenapa Al berangkat sendiri.
"Al mana Icha?" tanya Nayla saat Al berada didekatnya, karena Nayla berhenti dan menunggu Al.
"Dia sakit," jawab Al singkat.
Nayla mengernyitkan dahi, dia berfikir sejenak. Dia baru teringat kalau ini tanggal menstruasi Icha dan biasanya dia selalu sakit di hari pertama.
"Dia lagi PMS ya?" tanya Nayla memastikan.
Al hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Pantesan, eh runggu .... Biasanya dia selalu berangkat ke sekolah meskipun sakit perutnya, tapi kenapa sekarang ijin?" Papar Nayla sambil mengejar Al yang sudah berjalan lebih dulu.
"Gue yang larang," Al selalu menjawab singkat.
"Oh gitu, pantesan aja, dia kan selalu nurut sama kamu,"
Al tidak menggubris ucapan Nayla, hatinya masih menghawatirkan gadianya yang sedang sakit dirumah.
Saat di persimpangan keduanya berpisah tanpa sepatah kata pun, dan Nayla hanya bisa berdecak, sebal. Karena tidak dianggap jika ada.
Al masuk kedalam kelasnya dengan muka suram, dia langsung duduk di tempat duduknya.
Melihat itu Alvian jadi kepo, ada apa dengan sahabatnya itu, tak biasanya Al murung seperti itu.
"Lo berantem sama Icha?" Alvian langsung menebak apa yang ada dipikirannya.
Al mengernyit mendengar pertanyaan Alvian, karena dia sedang tidak fokus jadinya pikirannya tambah kacau ketika Alvian bertanya seperti itu.
"Lo do'ain gue berantem sama dia?" tanya Al dengan sinis.
"Santai bro, gue cuman nebak aja, gak kepikiran seperti yang lo pikirkan. Habisnya lo pagi-pagi udah kaya baju gak disetrika aja, kusut!" Kilah Alvian
"Icha sakit," jawab Al singkat.
"Sakit apa emangnya Al?" Alvian penasaran.
Kali ini Al tidak menjawab pertanyaan Alvian, dia memilih menenggelamkan wajahnya diatas meja. Kenapa juga sahabatnya itu peehatian seperti itu pada istrinya, pikir Al.
Alvian hanya berdecak kesal, karena sampai saat ini Al selalu saja begitu jika membahas tentang Icha dengannya. Padahal Alvian tidak ada maksud lain selain, dia hanya ingin tahu kabar istri sahabatnya itu.
Tak lama kemudian bel masuk berbunyi, pagi ini akan ada ulangan Matematika yang telah dijanjikan oleh gurunya. Pagi-pagi begini sudah diberi ulangan Matematika lagi, pasti akan jadi pagi yang suram buat yang tidak suka dengan pelajaran itu.
Al yang biasanya paling malas dengan pelajaran itu, kini berbeda dia terlihat lebih semangat, ingat ketika Icha mengajarinya belajar tadi malam. Dan semua itu tidak sia-sia, karena berkat Icha dia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan mudah. Dia juga bisa menyelesaikan tugasnya lebih dulu di banding dengan yang lainnya.
Saat menyerahkan kertas ulangan kedepan, Bu Sherly yang notabene adalah gurunya mersa heran karena biasanya Al sering jadi peserta terahir saat ulangan seperti ini.
"Tumben Al, sudah yakin kamu dengan semua jawabanmu?" Bu Sherly melihat semua jawaban Al, benar semua jawabannya lalu dia mendongak menatap wajah Al.
"Nah gini, jangan hari ini saja besok-besok juga harus seperti ini ya? Apa kamu belajar dengan tunanganmu itu?" pertanyaan Bu Sherly membuat seisi kelas memperhatikan mereka berdua, karena setau mereka Al hanya berpacaran dengan Icha.
Al mengangguk, "Iya Bu," jawabnya singkat.
"Ada bagusnya juga dia yang jadi tunanganmu, ya sudah kamu boleh keluar dulu,"
"Assalamu'alaikum sayang, kenpa telfon bukannya kamu masih ada kelas ya?" ucap orang disebrang sana yang tak lain adalah Icha, istrinya yang dia rindukan walaupun hanya beberapa jam saja tidak bertemu.
"Wa'alaikumsalam sayang, ini baru selesai ulangan, gimana keadaanmu sekarang? Sudah baikan?" Al masih saja menghawatirkan Icha.
"Alhamdulillah sudah, setelah minum obat nyerinya sudah berkurang, gak usah khawatir ya,"
"Alhamdulillah, syukurlah kalo sudah mendingan. Aku rindu sama kamu,"
Icha yang berada di sebrang sana terkekeh mendengar ucapan Al yang mengatkan rindu.
"Kenapa malah tertawa? Ada yang lucu?" Al heran.
"Habisnya kamu lucu sih, baru tiga jam gak ketemu sudah bilang rindu aja, kan lucu,"
"Kok lucu sih, beneran aku rindu sama kamu, serasa separuh jiwaku hilang karena kamu gak masuk,"
"Ya karena aku belahan jiwamu," Icha terkekeh lagi setelah mengucapkan itu.
"Makin pinter aja gombalnya," Al pun ikut terkekeh mendengar ucapan Icha.
"Itu karena ajaran kamu kan?"
"Iya iya, yaudah ya sayang aku tutup dulu, nanti kita sambung lagi, ini sudah mau selesai waktu pelajaran Matematikanya, I miss you sayang, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam," jawab salam Icha lalu dia mematikan sambungan telfonnya, begitu pun dengan Al, setelah mendengar Icha menjawab salamnya dia langsung mematikan sambungan telfonnya.
Perasaannya sedikit lega karena mendengar suara istrinya yang sepertinya susah baikan. Dia pun melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas, karena sang guru sudah menyuruh yang diluar untuk masuk kedalam kelas kembali.
Bel tanda istirahat pun berbunyi, semuanya meninggalkan kelas mereka masing-masing dan menuju tempat favorit mereka saat disekolah yaitu kantin. Tak terkecuali Al, dia juga menuju kantin. Kali ini dia kekantin bersama sahabatnya Alvian.
Kebiasaan dari dulu Alvian yang selalu memesankan makanan.
Saat Alvian memesan makanan, tiba-tiba ada seseorang yang mengampiri Al.
"Al Icha mana? Kok kamu sendirian aja," tanya orang tersebut.
"Sakit Tha, dia gak masuk hari ini," jawab Al.
"Sakit apa Al?" tanya orang itu yang tak lain adalah Martha.
"Sakit perut," jawab Al singkat, dia malas rasanya meladeni Martha, meskipun dia tak pernah mengganggu hubungan Al. Tetapi Al tidak mau saja ada orang yang salah faham dan memanfaatkan keadaan ini.
Setelah percakapan itu keduanya hanya diam Martha yang tahu jika Al merasa tidak enak dengan kehadirannya pun memilih pamit. Dan saat Martha pergi Alvian datang dengan membawa nampan berisi dua mangkok makanan dan juga minuman. Meletakkan semuanya diatas meja.
"Martha kenpa kok pergi?" tanya Alvian, dia tahu Martha barusaja duduk didepan Al.
Al menggeleng, "Gak tau," jawab Al lalu dia menyendok makanan yang berada didepannnya.
Alvian hanya mengangguk saja, dia tidak mau terlalu kepo dengan urusan sahabatnya itu, karena Al pasti akan cerita jika waktunya sudah tepat.
Merekapun menikmati makanan mereka masing-masing dengan hening, hanya suara siswa dari meja lain saja yang mendominasi.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komennya ya,