Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 83


Al melepaskan dekapan sang istri dengan amat pelan, ketika istrinya sudah terlelap. Dia sudah tak tahan ingin segera mengguyur tubuhnya dengan air. Turun dari atas ranjang dengan amat pelan juga, dia mengganti tubuhnya dengan guling, suapaya Icha tak sadar dia telah pergi.


Al melangkah menuju kamar mandi, dia mandi tak membutuhkan waktu lama.


Setelah selesai mandi dan sebagainya, Al keluar kamar. Rasanya tak enak hati jika berada didalam kamar sepanjang hari, apalagi saat ini dirinya tinggal bersama mertua.


Terlihat semua berada di ruang keluarga, sedang santai sambil menikmati cemilan, sedangkan Raffa sepertinya dia sedang belajar, terlihat dari beberapa buku yang ada di hadapannya.


"Al, mana Icha? Kok enggak ikut turun?" Sang Mama menyadari tak ada Icha dibelakang Al.


"Tidur Ma, tadi sehabis sarapan dia muntah lagi, setelah itu tertidur," jelasnya. Dia melangkan dan duduk di sofa sebelah Kakak iparnya.


"Kasian sekali dia, Mama juga dulu gitu waktu hamil Icha, setelah diisi makanan langsung keluar lagi, sampai kurus karena enggak doyan makan, mau makan kalau yang di inginkan aja," Sang Mama mengingat delapan belas tahun lalu saat mengandung putrinya.


"Iya Ma, Icha juga gitu. Tadi aku tanya mau makan apa, katanya enggak pengen makan apa-apa, terus dia tertidur," jelas Al.


"Coba nanti belikan buah-buahan Ma, dulu kan Mama gitu," mendengar percakapan istri dan menantunya, Bayu yang kala itu membaca koran mengalihkan pandangannya dari koran.


"Iya ya, Mama lupa, ppersediaan buah-buahan juga udah hampir menipis, kemarin Icha enggak ada beli buah juga, malah belinya cemilan semua,"


Memang kemarin Al dan Icha belanja, mereka tidak membeli buah sama sekali, hanya cemilan dan susu ibu hamil.


"Han, antar Mama belanja ya," ucap sang Mama, lalu dia bediri, berjalan menuju kamar, mengambil dompet.


"Ayo Han," ajaknya.


"Mau kemana Ma? Aku ikut ya," Icha baru saja menuruni anak tangga, dia terbangun saat meraba di sampingnya tak ada sang suami.


"Belum mandi juga, gak usah ikut," larang Farhan.


"Ma," Icha bergelayut manja di lengam sang Mama.


"Iya boleh ikut, ganti baju sama cuci muka dulu sana, Mama tunggu," sang Mama memperhatikan penampilan putrinya yang masih mengenakan piama dengan lengan pendek, wajahnya pun terlihat baru bangun tidur, kusut.


Icha mengacungkan jempolnya, dia menaiki anak tangga dengan berlari.


"Jangan lari-lari gitu Cha!" Seru sang Mama, hanyabisa menggelengkan kepala melihat Icha seperti anak kecil.


Icha menyengir, dia menghentikan larinya dan berjalan seperti biasa. Seakan dia lupa jika sedang mengandung, saking senangnya dia pun berlari, mengekspresikan rasa bahagianya.


"Seperti itu tu, kelakuannya masih seperti anak kecil padahal sebentar lagi gendong anak," celetuk Farhan, nada bicaranya santai tetapi mendapatkan delikan dari sang Mama.


Farhan menanggapi dengan cengiran. Meskipun sudah dewasa dia takut dengan sang Mama.


Tak lama Icha turun dengan penampilan bereda , terlihat lebih segar, karena sudah membasuh mukanya.


"Biar aku yang antar aja Ma," Al menawarkan diri.


"Kamu dirumah aja temenin Papa, biar Kakak yang nganter," bukan Mama mertuanya yang menjawab melainkan sang istri.


"Iya, kamu di rumah aja, biar Farhan yang antar, keenakan dia kalau kamu yang antar," timpal Mamanya.


"Baiklah Ma," Al mengalah, sebenarnya dia sedikit canggung jika harus di rumah hanya dengan Papa mertuanya, tetapi dia tidak kehabisan akal, dia mendekati Raffa yang sedang belajar. Sedangkan Papa mertuanya masih asyik membaca koran.


Sang Mama dan kedua anaknya berangkat menuju supermarket. Icha membisikkan sesuatu ditelinga sang Kakak yang sedang menyetir.


"Itu kan jauh Dek, supermarket yang lebih dekat juga ada, kenapa jauh-jauh mau kesana," protes Farhan, entah apa yang dibisikkan adiknya.


"Ada apa, kok ribut?" tanya Mamanya yang duduk di jok belakang.


"Icha mau ke supermarket yang deket kantor Papa itu, kan jauh Ma," adu Farhan.


Icha menjulurkan lidahnya pada sang Kakak yang terlihat kesal, dia bahagia Mamanya menuruti kemauannya.


Farhan melajukan mobilnya menuju supermarket yang dituju dengan kecepatan sedang, hari ini hari minggu, meskipun minggu jalanan terlihat ramai, dan seperti biasa selalu berperang dengan kemacetan.


Butuh waktu cukup lama mereka sampai di supermarket tujuan, bahkan Icha pun sampai tertidur di dalam mobil.


Sesampainya di parkiran supermarket, Farhan membangunkan adiknya, Icha pun terbangun, mengedarkan pandangan, dia sadar ternyata sudah sampai di supermarket yang ia inginkan.


"Ma, kalau Mama belanja sendiri gak apa-apa, kan? Aku mau ajak Kakak kesuatu tempat, sebentar aja, ya Ma ya," Icha memohon pada sang Mama.


"Iya enggak apa-apa, nanti Mama akan telfon kalian jika sudah selesai belanja," Mama Sinta selalu saja menuruti putrinya, apalagi dia tahu sang putri sedang mengandung saat ini, dan dia tak bisa menolak permintaannya.


"Mau kemana sih Dek? Kasian Mama harus belanja sendiri," protes Farhan, dia tak tega melihat Mamanya harus belanja sendirian.


"Mama enggak apa-apa, kamu antar Adikmu saja, belanjaan Mama hanya kebutuhan dapur, jadi enggak akan kesulitan tanpa bantuan kalian," memang yang akan dibeli oleh Mamanya hanya beberapa lauk pauk dan kebutuhan dapur lainnya, serta buah-buahan.


Lagi-lagi Icha mengejek sang Kakak dengan menjulurkan lidahnya, karena Mamanya lebih membela dia.


"Baiklah, Mama hati-hati ya," Farhan pun menururti apa kata sang Mama.


Mama Sinta pun turun dari mobil, dia masuk kedalam supermarket sendirian tanpa kedua anaknya.


"Mau kemana sekarang?" tanya Farhan datar.


"Mukanya jangan datar gitu dong Kak, jelek tau," Icha mengrucutkan bibirnya melihat wajah sang Kakak yang tak bersahabat.


"Mau kemana? Atau Kakak turun nih," dia tak menggubris ucapan adiknya, lebih memilih mengulang pertanyaanya.


"Ke kafe itu." Icha menunjuk sebuha kafe yang berada tepat didepan supermarket.


Farhan melajukan mobilnya, menyebrang jalan menuju kafe yang di tunjuk Icha. Setelah sampai dia memarkirkan mobilnya, lalu turun bersama sang adik.


Farha sebenarnya enggan masuk kedalam, dia ingin mejunggu di mobil saja, tetapi Icha jusfru menariknya supaya ikut masuk. Mereka mencari tempat duduk.


Icha memesan makanan, setelah pekayan kafe memberikan daftar menu, dia sudah hafal dengan menu disana jadi tanpa membaca langsung memesan makanan yang dia inginkan. Sedangkaj Farhan hanya memesan minuman saja.


Tak butuh waktu lama, pesanan mereka pun datang.


"Mau makan seperti itu aja harus ke tempat ini Dek, dek. Di deket komple kan ada, kenapa harus kesini?" Farhan heran dengan makanan yang dibeli sang Adik. Hanya semangkok seblak mie dengan jus jeruk.


"Enakan disini Kak," sambil mengaduk-aduk seblak yang masih mengepul.


"Alasan aja,"


"Emang," dia memasukkan secendok seblak kedalam mulutnya, "Al enggak ngijinin aku makan ini, padahal aku pengen ini sejak beberapa hari lalu, dia selalu melarang," jelasnya, mengunyah makanan.


"Kalau sama Kakak kan gak bakalan dilarang," Icha menyengir, "apalagi Mama, pasti nurutin," tambahnya.


"Jadi ini alasan kamu, nolak Al yang mau nganterin," Farhan tahu sekarang, jika alasan sang adik melarang Al yang mengantar.


Icha mengangguk, "Seratus buat Kakak,"


Icha menghabiskan satu mangkok seblak dengan cepat, dia berfikir jika terlalu lama kasian Mamanya yang harus menunggu.


Benar saja, setelah mereka masuk kedalam mobil sang Mama menelfon kalau sudah selesai belanja. Mereka pun langsung meluncur menjemput Mamanya yang sudah menunggu.


Bersambung....


Jangan lupa like dan komen ya. Makasih semua😘