Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 75


"Perutku mual sekali," bisik Icha, kini keduanya berada di dekat kantin, saat akan masuk kedalam kantin entah mengapa Icha merasakan mual. "aku gak mau ke kantin, baunya bikin aku mual," tambahnya, dia berbalik tak jadi melanjutkan perjalanannya ke kantin.


Al mengikuti Icha, kemana pun istrinya itu melangkah, "Terus mau makan dimana kalau tidak di kantin sayang?" tanyanya, dia telah mensejajarkan langkah dengan istrinya.


"Gak tau, aku mencium bau kuah bakso rasanya isi dalam perutku mau keluar. Huhf padahal itu makanan kesukaanku, kenapa begitu ya," Icha heran sendiri dengan keadaannya.


"Makan di luar sekolah aja ya," Al mengajak Icha menuju gerbang sekolah, berencana ingin makan didepan sekolah yang juga banyak pedagang makanan disana.


"Aku mau salad buah," tiba-tiba pikirannya tertuju dengan makanan itu.


Al mengentikan langkahnya, dia berfikir jika didepan sekolah tidak ada penjual makanan itu, keduanya harus mencari disekitar sekolah dan tidak mungkin jika jalan kaki. Dia berbalik, "Tunggu disini, aku ambil motor dulu," titahnya, dan berlalu menuju parkiran.


Tak butuh waktu lama, dia sudah kembali, berhenti tepat di depan istrinya, memasangkan helm di kepala istrinya. Icha naik dan mereka melaju keluar dari gerbang sekolah.


Saat istirahat seperti ini gerbang memang terbuka, akan ditutup jika bel masuk kembali berbunyi.


Al melajukan motornya dengan pelan, melirik kanan kiri mencari penjual makanan yang di inginkan sang istri. Sekitar lima ratus meter dari sekolah, ada sebuah kafe yang menyajikan makanan tersebut. Dia membelokkan motornya memasuki area kafe.


Keduanya turun dari motor dan masuk kedalam kafe tersebut, mencari tempat duduk yang masih kosong. Mereka duduk didekat jendela kaca yang mengarah kearah jalanan.


Pelayan kafe mendatangi keduanya, memberikan buku menu. Dia mencatat menu yang dipesan oleh Al dan Icha.


Saat menunggu makanan tiba, mereka mendengar bisikan-bisikan emak-emak yang duduk disebelah meja mereka.


"Anak sekolah jaman sekarang, waktunya belajar malah keluyuran di kafe, sama pacarnya lagi," ucapan orang pertama.


"Iya, coba lihat jeng, ceweknya pake hijab, apa nggak malu sama hijabnya," ucapan orang kedua.


"Dari tadi pegangan tangan terus, anak jaman sekarang moralnya sudah rusak," sambung orang ketiga.


"Sudah jeng, gak usah berperasangka buruk, siapa tahu mereka kakak beradik kan, kita dosa lho, menggunjing mereka," orang keempat mencoba melerai.


Al yang mendengar itu, telinganya terasa panas, jika bukan orang tua dia pasti sudah melabrak mereka.


Icha menyentuh tangan Al, seakan dia tahu suaminya itu marah, "Biarkan saja mereka bicara apa, yang penting kita tidak seperti yang mereka katakan sayang, sudahlah kita disini mau makan, tak usah dengarkan mereka," tutur Icha lembut dia tidak mau suaminya terbawa emosi.


"Kita pindah saja, jika lama-lama disini aku gak tahan sayang," Al mengajak Icha pindah kemeja yang jauh dari para emak-emak tukang gosip itu.


Keduanya kini duduk hampir dekat dengan kasir, jaraknya lumayan jauh dari emak-emak rempong.


"Mbak yang tadi di meja nomer sepuluh pindah kemeja nomer tiga empat ya," ucap Al pada pelayan kafe yang mendatangi mereka, dia memberi tahu suapaya pelayan itu tidak salah orang.


Pelayan kafe mengiyakan, lalu dia meninggalkan Al dan Icha.


Beberapa saat kemudian, pesanan mereka pun datang, Icha hanya memesan salad buah saja, sedangkan Al dia memesan makanan karena perutnya terasa lapar.


"Kamu minum punya ku ya sayang, aku enggak mau itu, maunya jus alpukat saja," ucap Icha, entah kenapa seleranya cepat berubah.


"Tidak masalah, minumlah jus itu, jika kamu suka boleh pesan lagi," Al paham dengan keadaan istrinya sekarang.


"Sudah, aku udah kenyang banget, porsi salad ini benar-benar mengenyangkan," makanan dan minuman Icha sudah tandas lebih dulu, dia selalu saja lahap dengan makanan yang diinginkannya.


Tadi pagi saja, saat dibelikan roti oleh Al yang dititipkan ke teman sekelasnya, dia hanya makan seperempat dari roti tersebut, padahal roti itu tak begitu besar, ia menghentikan makan rotinya ketika perutnya menjadi mual tadi pagi, alhasil siang ini dia terasa lapar, dan hanya makan salad dan segelas jus alpukat saja membuat perutnya kenyang.


"Sayang, minggu depan selama ujian, kita tinggal dirumah orang tuaku ya, Mama mengirim pesan tadi pagi, Mama takut kalau kehamilanku ini mengganggumu nanti, ya seperti semalam ingin makan sesuatu saat sudah larut," Icha menjelaskan panjang lebar, dia juga khawatir akan hal itu. Jika berada dirumah orang tuanya, setidaknya banyak orang yang bisa dimintai tolong.


"Iya gak apa-apa kalu Mama mengatakan seperti itu. Sebenarnya aku juga khawatir akan hal itu," Al setuju dengan usulan mertuanya, dia akan merasa lebih tenang jika berada di kediaman mertuanya, karena disana banyak yang membantunya.


"Ayo kembali kesekolah, sebentar lagi bel masuk, aku bayar dulu makanan kita," Al beranjak diikuti oleh Icha. Dia membayar makanan tadi ke kasir, lalu menggandeng tangan istrinya, berjalan melewati emak-emak tukang gosip tadi tanpa memperdulikan mereka.


Mereka kembali kesekolah, hampir saja mereka telat, karena saat di depan gerbang bel masuk berbunyi.


"Alhamdulillah kita enggak telat, semenit saja kita telat pasti akan dikunci dari luar," celetuk Icha saat keduanya sudah berada di parkiran. "Aku enggak usah diantar kekelas sayang, takut kamu masuknya terlambat," tambahnya.


"Gak apa-apa terlambat, asalkan kamu sampai kedalam kelas dengan selamat, aku enggak mau ambil resiko jika ada yang mencelakaimu gimana?" Al tak mau dibantah, dia menghawatirkan istrinya, apalagi saat ini istrinya sedang mengandung.


"Baiklah, kalau kamu terlambat jangan salahkan aku," putus Icha, lebih baik dia mengalah saja.


Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah, tampak sepi karena semua siswa sudah masuk kedalam kelas masing-masing, bahkan ada guru yang sudah memasuki ruang kelas.


Beruntung saat sampai didepan kelas Icha, sang guru belum ada disana, Icha bisa bernafas lega, karena tak harus memberikan alasan pada sahg guru. Icha masuk, melambaikan tangan pada sang suami yang berjalan dengan sedikit lari, karena takut jika guru sudah masuk kedalam kelas.


"Kalian ini ya, memanfaatkan kesempatan dalan kesempitan. Kembali ke bangku mu Don, ini sudah bel masuk, masih aja ngapelin Nayla," Icha mengomel ketika mendapati Doni duduk di kursi yang biasa dia duduki, mereka sepeti biasa sedang mendebatkan sesuatu yang selalu mereka debatkan.


Doni menyengir, dia berdiri dari duduknya, "Sampai nanti Beb, pikirkan tawaranku tadi ya," ucapnya pada Nayla, lalu dia berlalu meninggalkan mereka.


"Tawaran apa Nay?" kekepoan Icha mode on.


"Ngajakin liburan ke puncak, setelah ujian," jawab Nayla malas.


"Bole juga tuh, kalau rame-rame pasti seru," Icha tersenyum riang, dia juga ingin liburan sesekali.


"Iya ya, kalau rame-rame kan seru, boleh deh entar aku bilang Doni," wajah Nayla lebih bersemangat.


Bersambung.....


Jangan lupa like dan komen yah. Makasih