Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
Extra Part 1


Matahari telah berada di atas kepala, sinarnya menembus kulit bahkan sampai membakar kulit meski tertutup oleh kain sekali pun. Al dan Icha saat ini sedang makan siang di sebuah restoran, sejak tadi Al hanya membolak-balikan buku menu yang ia pegang, bahkan pelayan sudah pergi meninggalkan meja mereka karena jengah menunggu Al belum mau menentukan menu yang akan ia pesan.


"Sayang, kamu sejak tadi bolak-balik buku menu, emang mau makan apa sich, kalau enggak mau makan di sini kita cari tempat lain aja," protes sang istri, ia pun jengah melihat Al hanya membolak-balikkan buku menu.


Al menghela nafas panjang, ia meletakkan buku menu tersebut lalu menatap sang istri, "Kita makan di rumah Mama aja yuk, entah kenapa rasanya ingin makan masakan Mama," ucapnya, ia sebenarnya sejak pertama membuka buku menu tidak berselera dengan semua menu yang tertulis.


Icha mendengus, "Kenapa enggak bilang dari tadi sich, yaudah ayo," sahutnya, lalu ia beranjak dari duduknya.


Al pun ikut baranjak dari duduknya, ia mensejajarkan langkah dengan istri tercintanya yang terlihat sedikit kesal itu. Memang sejak wanita itu hamil, emosinya menjadi labil, sedikit-sedikit kesal, tapi Al tetap sabar menghadapinya.


"Sayang, jangan marah gitu dong," rayu Al, setelah ia meraih tangan istri tercintanya.


"Siapa yang marah? Aku cuma kesel," timpalnya, masih terlihat jelas aura kekesalannya.


"Oke, sekarang aku turuti kamu maunya apa? Supaya enggak kesel-kesel lagi?" tanya Al, ia tidak akan betah jika istrinya seperti itu terus.


Icha menggeleng, "Aku enggak mau apa-apa. Yaudah ayo sekarang ke rumah Mama, aku juga mau makan masakan Mamaku,"


Icha lebih dulu masuk ke dalam mobil, di susul oleh Al. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah mertua tercinta. Setengah jam berlalu mereka pun sampai di kediaman keluarga Icha.


Icha terlihat masih kesal, turun dari mobil lebih dulu sebelum Al. Entah bagaimana membuat wanita hamil itu membaik lagi.


"Assalamu'alaikum, Ma," ucap salam Icha, di susul Al di belakang sang istri.


"Wa'alaikumussalam, tumben banget siang-siang gini kalian kemari," Sinta merasa heran, karena tidak biasanya anak dan menantunya itu bertamu di siang hari.


"Iya Ma, Al katanya mau makan masakan Mama," timpal Icha masih dengan raut wajah kesalnya.


Bagaimana Al? Tentu saja ia malu, karena istrinya itu terlalu jujur. Ia tersenyum canggung pada mertuanya.


"Yaudah ayo makan siang bareng, kebetulan Papa dan Kakak kamu enggak bisa makan siang di rumah, karena ada pertemuan sama relasi mereka," tentu saja Sinta bahagia, karena makan siangnya yang harusnya sendiri kini di temani oleh anak dan menantunya.


Mereka pun langsung menuju ruang makan, duduk di kursi masing-masing. Meskipun kesal Icha tetap melayani suaminya itu. Ia mengambilkan nasi beserta lauk untuk sang suami. Meletakkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk itu ke hadapan Al. Tetapi tiba-tiba Al berdiri dari duduknya sambil menutup mulut, ia lari masuk ke dalam kamar mandi.


Tak urung Icha pun mengikuti sang suami.


Hoek hoek hoek


Al mengeluarkan isi perutnya, tapi hanya cairan berwarna kuning saja yang keluar.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Icha khawatir.


Al membasuh mukanya, lalu ia menggeleng, "Enggak tahu, pas liat paha ayam tadi rasanya mual banget, di tambah bau amis," paparnya.


"Aneh banget, enggak biasanya kamu seperti itu," Icha heran dengan perubahan suaminya yang tak biasa, padahal suaminya itu suka sekali dengan ayam yang biasa di makan oleh upin ipin itu, apalagi di masak kecap pedas manis.


"Dia ngidam," celetuk sang Mama yang entah sejak kapan berdiri di belakang Icha.


Icha terbengong dengan ucapan sang Mama, yang hamil dirinya, kenapa juga suaminya yang mengidam.


Sebelum Icha bertanya Mamanya lebih dulu bersuara lagi, "Dulu Papa mertuamu juga gitu, waktu almarhumah Mama mertuamu hamil untuk pertama kalinya, tapi sayang kehamilan itu tidak bertahan lama," Sinta mengingat beberapa tahun yang lalu.


"Nanti Mama ceritakan, ayo sekarang makan siang dulu, biar Mama singkirkan ayamnya, kita makan sama sup aja. Untung tadi enggak jadi Mama kasih ceker supnya," papar Sinta, lalu ia lebih dulu berjalan ke arah meja makan. Menyingkirkan olahan ayam yang ia buat tadi beserta beberapa makanan amis lainnya, ia rela tidak makan dengan semua lauk yang ia buat demi sang menantu.


Al dan Icha sudah kembali ke tempat duduknya.


"Karena suamimu tidak suka bau amis, nanti saat di rumah kalian hindari makan amis-amis, meskipun hanya kamu yang makan tapi suamimu pasti merasakan baunya," tutur sang Mama, ia menyendok kan nasi untuk anak dan menantunya.


"Ia Ma, aku akan banyak makan sayur dan buah," timpal Icha.


"Kalau mau makan ikan nanti Mama kirim, buat kamu makan sendiri," ucap Mama sambil tersenyum.


Siang itu mereka hanya makan siang dengan sup saja, karena masakan yang di buat sang Mama kebanyakan berbau amis, ada beberapa ikan goreng dan ayam kecap.


Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga, Al dan Icha rasanya enggan kembali ke kantor karena tubuh Al masih terlihat lemas.


Mama membawa air jahe hangat, katanya itu bisa meredakan rasa mual, ia kasihan melihat menantunya yang seperti itu, meskipun sudah makan siang tapi Al hanya makan beberapa sendok saja.


"Minumlah Al, mumpung masih hangat," titah Sinta dan diangguki oleh Al.


"Ma, katanya mau cerita?" Icha penasaran dengan cerita yang tadi Mama utarakan di depan kamar mandi.


Mama menatap Al, ia takut menantunya keberatan menceritakan masa lalu Mamanya, karena mungkin akan membuat Al sedih saat ingat sang Mama.


Al seakan mengerti dengan tatapan Mama mertuanya, "Ceritalah Ma, aku juga ingin tahu," ucapnya.


"Mama akan ceritakan kenapa kalian bisa kami jodohkan sejak bayi, kalian pasti belum tahu alasannya kenapa, kan?" tanya Sinta sebelum ia memulai cerita.


Keduanya tampak antusias, lalu secara bersamaan mereka mengangguk.


"Begini, dulu ...."


Flashback On


Seorang perempuan cantik dengan pakaian ala-ala karyawan sebuah perusahaan itu datang ke sebuah rumah yang sering sekali ia datangi, karena di sana tinggallah sahabatnya yang mengurus seorang putra.


"Sinta, aku datang," ia nyelonong masuk ke dalam rumah itu tanpa permisi, bahkan ia lupa mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam Din, kebiasaan banget deh, masuk rumah orang tanpa salam," Sinta menjawab salam bahkan tidaka ada yang mengucapkan salam.


Dina menyengir, "Assalamu'alaikum Sinta," ucapnya lalu duduk di sofa ruang keluarga itu. "Si Farhan mana?" tanyanya.


"Ada, lagi main di belakang sama Bibik," jawab Sinta.


Dina mengangguk, "Sin, aku punya kabar gembira," ucapnya dengan wajah berbinar. "Aku hamil Sinta, nanti kamu punya anak dua aku punya satu," tambahnya, karena saat ini Sinta juga sedang mengandung anak keduanya.


***


Episode depan masih Flashback yah, cerita masa muda Mama-mama mereka. Dan alasan kenapa Icha dan Al bisa di jodohkan, karena di season awal lupa aku ceritakan... Happy reading..


jangan lupa like dan komennya juga. Biar aku tahu siapa yang masih setia baca novelku ini.