
Sore hari yang di tunggu-tunggu tiba juga. Setelah siang tadi Al dan Icha pulang kerumah, karena pakaian yang di rumah Icha hanya ada sedikit jadi mereka memutuskan untuk ambil pakaian di rumah Al.
Mereka saat ini berada di rumah Doni, menunggu yang lainnya datang. Sudah ada sebagian yang datang termasuk Icha dan Al.
"Ntar ada sekitar sepuluh orang, mau pake mobil siapa aja?" pertanyaan itu Doni yang melontarkan.
"Gue bawa mobil ya," Al langsung menjawab, dia memang harus membawa mobil jika terjadi sesuatu pada istrinya akan lebih mudah.
"Oke, paling enggak bawa tiga mobil," ucap Doni.
"Bentat tunggu yang lain datang semua," salah satu teman Doni memberi saran.
"Oke,"
Mereka pun menunggu yang lainnya, tak lama yang di tunggu pun datang.
"Oke karena udah pada datang semua, sekarang kita tentukan mau pakai mobil siapa lagi, selain mobil gue sama Al?" Doni kembali bertanya.
"Mobil gue juga oke," Irfan menawarkan diri.
"Oke, mobil Irfan,"
Al berada dalam satu mobil dengan Icha dan Nayla. Sedangkan Alvian, Irfan, Dea dan Rara teman Dea dalam satu mobil. Doni bersama kedua teman lelakinya. Tadinya Dea dan Rara memaksa ikut dengan Al, karena dia tak begitu mengenal Alvian dan Irfan, tetapi dengan bujukan Nayla mereka pun mengalah.
Nayla sebenarnya punya alasan tersendiri saat harus ikut mobil Al. Dia akan menjaga Icha bersama-sama dengan Al, karena khawatir dengan sahabtanya itu.
"Sayang, kamu tidur aja, perjalanan kita masih panjang," titah Al, dia khawatir dengan keadaan istrinya. Melirik kebelakang ternyata Nayla tertidur berbantalan dengan bantal love yang dia bawa.
"Enggak ah, aku enggak ngantuk. Aku mau nemenin kamu," ucap Icha, dia mengalihkan pandangannya dari ponsel kearah sang suami. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu Al.
"Nanti kalau capek bisa gantian sayang," celetuk Icha.
Al menoleh, dia terkejut dengan penuturan Icha, bola matanya menatap sang istri tajam, "Secapek apa pun, aku enggak akan biarkan lamu nyetir," ucapnya tak mau di bantah.
"Bukan aku," Icha menyengir, "tapi Nayla," dia tertawa karena berhasil mengerjai Al.
Al menghela nafas, "Aku juga enggak tega nyuruh dia nyetir, lihat aja." Al melirikkan iris matanya kebelakang sekilas.
Icha pun mengerti dengan kode yang diberikan Al, dia melihat jok belakang, ternyata Nayla tidur dengan nyenyak.
"Kebiasaan," dengus Icha, dia tak berniat menganggu atau membangunkan sahabatnya itu, lebih memilih tetap bersandar di bahu Al.
"Kita nanti berhenti di supermarket ya sayang, aku mau beli cemilan," ucap Icha, kepalanya masih bersandar di bahu sang suami, sedangkan tangannya tak berhenti menggeser-geser layar ponsel.
"Iya sayang, nanti kalau udah dekat ya," jawab Al tanpa menoleh, dia tetap fokus searah jalan. "Apa mau beli sesuatu lagi? Roti mungkin?" Al bertanya sekaligus menawari.
Icha menggeleng, "Enggak ah sayang, aku mau beli cemilan aja," ucapnya.
Al kembali fokus kearah jalan, melihat kedua temannya yang sudah lebih dulu berjalan, dia sedikit tertinggal karena memang tak ingin melajukan mobilnya dengan tergesa-gesa, dia ingin santai saja, menikmati padatnya jalanan.
Al menghentikan mobilnya di sebuah minimarket, lalu membangunkan sang istri yang sudah tertidur di pundaknya, entah sejak kapan. Karena dia merasakan berat di pundaknya sejak saat pertama Icha meletakkan kepalanya disana.
"Sayang, bangun, katanya mau beli cemilan." Al menepuk-nepuk pipi wanita berhijab biru muda itu dengan lembut.
Icha yang merasakan tepukan di pipinya pun membuka matanya dengan perlahan. "Kita sudah sampai ya sayang?" tanyanya, dia belum melihat keluar mobil.
"Katanya mau mampir beli cemilan dulu. Ini di depan minimarket sayang," jawab Al, dia memandang lekat wajah istrinya yang masih terlihat bingung.
Icha melihat luar mobil, dia baru sadar jika mereka di depan minimarket, "Yaudah ayo turun sayang, nanti kita tertinggal sama yang lain," ajak Icha.
"Iya sayang, tapi kita memang sudah tertinggal, mereka mungkin sudah sampai," jawab Al, lalu dia membuka pintu mobilnya bersamaan dengan Icha.
"Sayang, Nayla gimana?" tanya Icha karena tadi sebelum keluar dia sempat melirik Nayla yang masih tertidur.
Icha memilih berbagai macam cemilan, seperti akan menghabiskan semuanya sendiri saja.
"Gak salah kamu beli cemilan sebanyak ini sayang?" tanya Al, dia heran melihat dua keranjang yang dia bawa hampir penuh dengan cemilan.
"Enggak sayang, kita kan rame-rame. Nanti bisa dibagi sama yang ngurusin vila juga. Kata Doni yang ngurus vila keluarganya itu satu keluarga gitu, mereka pasti seneng kalau kita kasih," ucap Icha dengan tersenyum penuh semangat.
"Baiklah, kamu memang yang terbaik Cha," Al juga menampilkan senyum dan bangga dengan istrinya.
Icha kembali melanjutkan belanjaannya. Setelah selesai mereka membayar dikasir. Meminta pada kasir supaya memisah beberapa cemilan. Memisahkan yang untuk mereka dan untuk penjaga vila Doni.
Setelah membayar, mereka berdua keluar. Dahi mereka mengerut menjadi berlipat-lipat, karena melihat Nayla berdiri senderan di mobil, dengan ranselnya yang dia letakkan di depannya.
Mereka berdua mendekati Nayla, terlihat Nayla seperti orang linglung, mungkin karena dia baru saja bangun.
"Nay, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Icha khawatir.
Nayla menoleh sekilas kearah Al dan Icha, dia mengerucutkan bibirnya, sebal, "Kalian ini, mau keluar enggak bilang-bilang," ucapnya sewot, lalu dia melipat kedua tangannya di dada.
"Maaf Nay, kenapa tas kamu di luar?" tanya Icha lagi.
Nayla justru memalingkan wajahnya, dia mengambil ransel yang tergletak, "ayo lanjutkan perjalanan," ucapnya.
Hahahaha
Al dan Icha tertawa bersama, "Apa pemikiran kita sama?" tanya Al masih tergelak.
Icha mengangguk, "Iya sayang," jawabnya.
Mereka berfikir, Nayla mengira kalau mereka sudah sampai di vila dan dia tak di bangunkan dari tidurnya. Makanya tadi tas ranselnya sudah ada di luar.
"Ayo masuk sayang, Nayla udah nunggu," ajak Icha.
Mereka pun masuk kedalam mobil masih dengan tawanya.
"Kalian bisa diem gak?" Nayla tak mau jika di tertawakan oleh kedua sejoli itu.
"Enggak, habisnya kamu lucu Nay," masih menertawakan sahabatnya. Sedangkan Al sudah fokus kearah jalanan.
Nayla melipat tangannya di depan dada sambil mengerucutkan bibirnya. "Tau ah, terserah kalian, terserah," ucapnya sinis, membuat Icha semakin tertawa karena merasa lucu.
"Icha!" teriaknya.
"Bisa enggak kalau gak berisik di mobil?" pertanyaan yang sebenarnya sindiran dari Al.
"Iya maaf Al, habisnya istri kamu tu nyebelin," ucap Nayla, dan langsung mendapatkan plototan dari Icha.
"Gak apa-apa nyebelin, yang penting gue suka dan cinta sama dia ," ucap Al tanpa mengalihkan fokus matanya lalu tangan kirinya terulur untuk meraih tangan istrinya.
Nayla hanya mengerucutkan bibirnya, dia tak mau menanggapi ucapan Al.
"Mesraan aja terus. Untung tadi aku tiduer kalau enggak, sudah pasti nyesek sensiri," celetuk Nayla, karena Icah kembali merebahkan kepalanya di pundak sang suami.
"Biarin dia ngomel sendiri," ucap Icha pelan, "Biasa jomblo sayang," kali ini lebih keras dan Nayla mendengarnya, tetapi dia tak berniat menjawab, membiarkan mereka berargumen seperti apa tentang dirinya.
Bersambung....
Jangan lupa like dan komennya.
Aku tu sedih, melihat komen kalian yang sedikit🤧 padahal paling suka baca komen kalian semua, meski jarang aku balas😇