
Icha terkejut mendengar cerita suaminya, ia tidak habis pikir orang yang dulu mengurungnya di gudang sekolah, sekarang mencoba mencelakainya lagi bahkan dengan tangannya sendiri. Tapu ia bersyukur, Tuhan masih memberinya umur panjang, meskipun bayinya tak tertolong. Ia juga bersyukur karena orang tersebut telah mengakui kesalahannya dan bersedia mendapatkan huluman sesuai peraturan hukum di negara ini. Ia juga bersyukur ternyata Martha benar-benar tulus meminta maaf terbukti ia mau membantu menahan sepupunya, tentu saja kali ini Martha tidak terlibat.
"Apa boleh aku ketemu sama Nasita?" tanya Icha, ia berharap sang suami mengijinkannya bertemu dengan orang yang telah sengaja mencelakainya.
"Buat apa? Enggak usah lah," ternyata Al tidak mengijinkan istrinya bertemu dengan Nasita, dengan berbagai alasan tentunya.
"Ya, baiklah,"
Saat ini keduanya sedang berada di ruang keluarga rumah orang tua Icha. Setelah dari kantor polisi Al mengantar Papa mertuanya ke kantor lalu ia menemui istrinya di rumah mertuanya. Al belum kembali bekerja sampai saat ini, ia beralasan akan bekerja jika Icha sudah benar-benar sehat.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Beberapa bulan berlalu, setelah beberapa bulan lalu mereka menghadapi Ospek, kini mereka sudah belajar di kampus bukan di SMA lagi. Kesibukan mereka pun bertambah padat. Karena berbeda jurusan Al dan Icha jarang bersama saat di kampus, tetapi Al sering mengantar Icha ke kampus jika pekerjaannya bisa di tinggalkan sebentar, jika tidak maka Icha terpaksa mengendarai mobilnya sendiri. Meskipun begitu mereka tetap saling menjaga kepercayaan masing-masing.
Tak jarang yang mengira jika mereka masih pacaran, padahal setatus mereka lebih dari itu. Icha dan Al pun tidak mempermasalahkan itu semua, yang penting mereka menjalaninya dengan senang hati tanpa mengganggu orang lain. Karena mereka sering terlihat bersama jadi tak banyak yang berani mendekati Icha maupun Al. Dalam artian mendekat meraih cinta mereka.
Siang ini kebetulan mata kuliah mereka di jam yang sama, dan mereka bisa pulang bersamaan. Seperti biasa Icha akan membantu Al di kantor, ia sudah seperti asistennya saja. Siang ini pun mereka akan ke kantor terlebih dahulu.
"Papa, Mama?" tanya Icha, saat masuk ruangan Al ternyata ada Papa dan Mamanya serta Papa mertunya yang sudah duduk di sofa.
Al pun terkejut, sama halnya dengan Icha. Tumben sekali kedua mertuanya mendatangi kantor tanpa sepengetahuan mereka.
Mereka menyalami ketiga orang yang ada disana, lalu duduk di sofa yang masih kosong.
"Maaf Papa sama Mama tidak ngabari kalian dulu," ucap Papa Bayu.
"Tidak masalah Pa, Papa sama Mama mau datang ke sini kapan pun tidak masalah," timpal Al, ia tersenyum ke arah mertuanya.
"Kalian semakin hari semakin terlihat lebih dewasa saja," celetuk sang Mama dengan kekehan kecil, ia melihat penampilan anak dan menantunya yang memakai stylish orang dewasa bukan lagi remaja SMA.
Al dan Icha sama-sama meneliti pakaian mereka masing-masing. Al yang mengenakan kemeja berwarna maroon serta dasi garis-garis, dengan jas hitam yang baru saja ia pakai saat akan keluar mobil tadi. Sedangkan Icha mengenakan rok plisket berwarna mustard dengan blezer abu-abu, kerudung berwarna senada dengan roknya, terlihat elegant dan lebih dewasa dari usianya. Keduanya memang jarang sekali memakai pakaian cuople, seperti saat ini karena mereka punya selera masing-masing dalam urusan styl.
"Kita seperti ini karena mau kerja Ma," celetuk Icha, ia menatap sang Mama yang tersenyum kearahnya.
"Iya Mama tau, seperti ini lebih cantik kok, enggak kekanak-kanakan," masih dengan senyum yang mengembang.
"Tumben Mama sama Papa kesini? Pasti ada sesuatu yang ingin di bicarakan," tebak Icha, karena memang biasanya setiap kedua orang tuanya datang mendadak tanpa pemberitahuan mereka akan membicarakan hal penting.
Mama mengangguk, "Iya kamu tepat sekali," ia melirik ke arah suaminya, setelah mendapat persetujuan, ia pun berucap kembali, "kami ke sini mau membahas acara anniversary kalian sekaligus kita akan buat resepsi pernikahan kalian," tersenyum memandang kedua anaknya.
Melihat ekspresi wajah anak dan menantunya yang bingung, Mama Sinta kembali bersuara, "Kalian enggak usah khawatir, kami sudah mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari, undangan pun sudah kami sebar, hanya undangan untuk teman-teman kalian aja yang belum," jelas Mama, ia mengalihkan pandangannya ke sebuah kardus kecil, "itu undangannya, kalian bisa lihat sendiri," tambahnya.
Al dan Icha pun mengikuti arah pandang sang Mama, Icha lebih dulu berdiri mengambil kardus tersebut yang berada di sisi sofa yang di duduki sang Mama. Membawa undangan itu kembali ke sofa yang ia duduki tadi.
"Bagus banget Ma, bisa banget milih undangan seperti ini, cocok buat kita ya kan, sayang?" Icha menatap Al yang juga menatapnya.
"Iya bagus, kekinian banget," timpal Al, ia pun mengagumi desain undangan yang di pilih sang Mama.
"Bukan Mama yang milih sih," Mama menyengir, "Itu Farhan sama Sherena yang pilihin," tambahnya.
Ke kaguman Icha hilang begitu saja, karena ia mengira sang Mama sendirilah yang memilih. Jika Farhan dan Sherena yang milih sudah tidak di ragukan lagi, apalagi mereka sama-sama memiliki selera yang tinggi.
"Pantes bagus, aku kira Mama sendiri yanh pilih," ucap Icha sedikit cemberut.
Mama tertawa, begitu pun sang Papa.
"Untuk gaunnya juga sudah ada, kalian tinggal pakai, insyaallah ukurannya pas. Itu juga akan jadi suprise buat kalian nanti saat akan memakainya," Mama menjelaskan kembali semua yang telah mereka persiapkan.
"Kak Sherena juga yang pilih?" tanya Icha, ia menebak jika calon kakak iparnya itu yang memilihkan gaun pengantin.
"Kali ini bukan pilihan dia, tapi pilihan desainer langganan Mama, dia yang dulu membuatkan baju untuk kamu saat mau ijab qobul, jadi dia sudah tahu bagaimana tubuh kamu," jelas sang Mama.
"Sejak kapan Mama mepersiapkan semuanya? Di bantu sama Papa?" tanya Icha.
"Kami bertiga memang sengaja membuat ini sebagai kejutan, kami merencanakan sudah sejak awal kalian masuk kuliah," kini Papa Bayu yang menjelaskan.
"Pantes aja udah semateng ini, terimakasih ya Ma, Pa," ucap Icha menatap ketiga orang tuanya secara bergantian.
"Iya sama-sama,"
Mereka kembali membahas acara resepsi tersebut, semuanya sudah di persiapkan dengan matang tinggal menunggu waktunya saja.
Al dan Icha berencana akan membagikan undangan tersebut besok saat di kampus, mereka akan mengundang semua teman yang mereka kenal, terutama yang satu jurusan. Juga teman-teman mereka saat SMA dulu.
Bersambung....
Mungkin tinggal satu part lagi menuju tamat. Aku minta sarannya nich, menurut kalian mau di buat extra part apa season dua aja? Kalaupun season dua juga pasti akan di sini dan partnya enggak akan panjang, aku berencana menceritakan mereka saat mengasuh anak" mereka nanti, kalau pada setuju, kalau enggak buat extra part aja deh..