
Setelah sampai dirumah orang tua Icha, keduanya disambut hangat oleh kedua orang tua serta adik dan kakak Icha. Mereka sengaja menunggu Al dan Icha di ruang keluarga, karena setelah kedatangan keduanya mereka akan makan malam bersama.
"Alhamdulillah kalian sudah datang, sekarang kita langsung ke ruang makan saja, pasti kalian sudah lapar kan?" ucap Mama Sinta, lalu dia berdiri mendahului yang lainnya menuju ruang makan.
"Baik Ma,"
Mereka pun duduk diposisi masing-masing, mereka makan bersama dengan khidmat, tanpa ada yanh mengeluarkan suara, hanya dentingan sendok yang memecah keheningan diruang makan.
Bayu lebih dulu menyelesaikan makanannya, lelaki paruh baya itu mejinggalkan ruang makan lebih dulu, setelah menghabiskan nasi di piringnya dan juga air putih yang disiapkan oleh istrinya.
"Papa tunggu kalian di ruang keluarga," ucapnya dan berlalu meninggalkan ruang makan tanpa menunggu jawaban mereka.
Setelah menyelesaikan makannya, mereka menuju ruang keluarga kecuali Mama dan Icha. Keduanya lebih dulu membersihkan bekas makanan mereka dan memcucinya.
"Gimana hubungan kamu sama Al sayang?" tanya Mama Sinta, mereka masih sibuk mencuci piring.
"Alhamdulillah, seperti yang Mama lihat, aku sama Al baik-baik aja, Al baik banget Ma, aku berunrung punya suami kaya dia," Icha tersenyum saat mengatakan itu, dia membayangkan Al memperlakukannya dengan penuh kasih sayang dan cinta.
"Mama ikut seneng dengernya," Mama Sinta tersenyum bahagia melihat putrinya bahagia, "Apa kalian sudah pernah ...." ucapan Mama Sinta terjeda, dia ragu untuk menanyakan itu.
Seakan tau akan pertanyaan Mamanya, rona wajah Icha pun berubah memerah, "Ih Mama." Icha menundukkan pandangannya, "Aku masih sekolah Ma, jangan tanyakan yang seperti itu dulu,"
Sinta tersenyum, padahal dia belum menanyakannya tapi ternyata putrinya itu paham, "Emnag kamu tahu Mama mau nanya apa?" goda Sinta.
Wajah Icha kembali memerah, dia malu, pikirannya salah tentang pertanyaan Mamanya, "Mama ah," ucapnya dengan manaja, karena Icha akan manja jika dengan keluarganya berbeda jika saat bersama Al.
"Iya iya, Mama ngerti. Kalian masih sekolah, semoga Al masih tahan godaan sampai kalian selesai sekolah ya," Mama Sinta menggoda putrinya dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ih Mama, udah ah jangan bahas itu, Icha kan malu Ma," ucapnya masih dengan mode manja.
Sinta tak menanggapi, dia menyelesaikan pekerjaannya lalu mengajak Icha ke ruang keluarga. Disana ada tiga orang pria yang mereka sayangi, ada Bayu, Farhan dan Al, sedangkan Raffa sudah kembali ke kamar karena harus belajar.
"Sini Cha, ada yang ingin Papa tanyakan ke kamu." Papa Bayu menepuk-nepuk sofa kosong disebelahnya, supaya putrinya duduk disana.
Icha menghampiri Bayu dan duduk disebelahnya, disamping Icha ada Mama, jadi Icha diapit oleh kedua orang tuanya.
"Cha Papa mau tanya, kamu harus jawab jujur ya," tutur Papanya.
Deg
Tiba-tiba perasaan Icha tidak enak, ada apakah? Kenapa Papanya terlihat serius?
"Iya Pa,"
Papa Bayu menghela nafas, dia menatap Icha keseluruhan, "Rekan bisnis Papa tadi ada yang meminta maaf sama Papa, perihal kejadian disekolah yang menimpamu, katanya anak rekan bisnis Papa itu ikut terlibat, makanya dia minta maaf, emangnya ada kejadian apa sebenarnya? Kenapa Papa gak di kasih tahu? Papa tanya sama suamimu katanya suruh tanya sama kamu," tutur Bayu panjang lebar, bola matanya menatap lurus wajah putrinya itu.
"Maaf Pa, bukannya gak ingin menceritakan sama Papa, tapi Icha punya alasan lain untuk tidak cerita, karena Papa sudah tahu maka akan Icha ceritakan, tapi Papa janji gak akan mutusin hubungan kerja sama dengan rekan bisnis Papa itu ya," Icha menatap wajah Papanya, dia berharap Papanya menyetujui permintaannya.
"Tidak akan Nak, Papa harus profesional bukan? Jika karena urusan sang anak kenapa bisnis dibawa-bawa? Apa lahi Papa lihat kamu baik-baik saja, mana mungkin Papa tega merusak hubungan baik dengan rekan bisnis Papa," ucap Bayu dengan lembut.
"Udah peluknya, nanti Al cemburu," goda Papa Bayu.
Icha pun melepaskan pelukannya, "Masa iya cemburu sama Papa, kan gak lucu," Icha melirik Al sekilas, yang dilirik tersenyum menanggapinya.
Icha menceritakan semua kejadian yang terjadi pada dirinya kemarin, tidak ada yang terlewatkan sedikitpun, tapu dia tidak menceritakan alasan mereka mencelakai Icha, Icha hanya bilang kalau mereka tidak suka dengan Icha yang dekat dengan Al, tanpa mengatakan mereka mantan pacar Al.
Kedua orang tuany serta Farhan terlihat geram mendengar cerita Icha, tetapi mereka bersyukur Allah masih melindungi anak mereka.
"Kok tega banget temenmu itu Cha," celetuk Farhan setelah Icha menyelesaikan ceritanya.
"Iya, kasian kamu digudang berjam-jam, Mama aja gak pernah suruh anak Mama bersihin gudang, kok mereka tega," Sinta seakan tidak percaya dengan semua itu.
"Sudahlah Ma, aku sudah maafin mereka semua, mungkin mereka khilaf. Udah jangan bahas laginya Ma, Pa," pinta Icha, kedua orang tuanya pun memgangguk.
"Ohya sayang, kalian menginaplah disini beberapa hari ya, karena Mama, Papa sama Kakakmu akan ke Singapur, Mama kangen sama mertuamu, sudah lama kan Mama tidak kesana, sedangkan Papa dan Kakakmu ada kerjaan disana. Mama gak mau selama kita tinggal Raffa malah PS an aja gak belajar, jadi kalian yang awasi Raffa mau kan?" tutur Sinta panjang lebar.
Icha menoleh pada Al, dia minta persetujuan dari suaminya. Tetapi justru Al yang menjawab pertanyaan mertuanya. "Iya Ma, dengan senang hati kami akan menginap disini sampai Mama pulang, jadi Mama sama Papa gak usab khawatir," tutur Al.
"Alhamdulillah, Mama seneng dengernya," Sinta tersenyum, dia bahagia menantunya itu menyetujui permintaannya.
"Ini udah malam, kalian ke kamarlah, belajar dulu sebelum tidur, kalian besok juga harus sekolah bukan? Naiklah kekamar," pinta Mama Sinta.
Al dan Icha pun tersenyum, mereka lalu pamit dan naik ke kamar. Mereka harus belajar karena sebentar lagi ujian. Terutama Al karena sejak pulang sekolah dia belum membuka bukunya lagi, kalau Icha dia sudah belajar waktu dikantor menunggu Al bekerja.
"Sayang makasih ya udah menyetujui permintaan Mama," ucap Icha ketika keduanya sudah duduk di pinggir ranjang.
"Iya sayang, itu sudah menjadi kewajibanku kan? Jadi tidak masalah, disini atau dirumahku sama saja asalkan ada kamu bersamaku," Al tersenyum.
Icha membalas senyuman Al, lalu dia memeluk suaminya dengan erat. Al pun membalas pelukan Icha.
"Kenapa peluk-peluk hm?" tanya Al mengoda.
"Mau aja, emang gak boleh aku peluk suamiku sendiri?" tanya Icha, saat dia akan melepaskan pelukannya Al justru mempererat pelukannya.
"Boleh dong, begini dulu jangan dilepas," pinta Al
Mereka pun berpelukan sampai beberapa menit, lalu melepaskan pelukannya karena teringat Al masih punya tugas. Merekapun memulai belajar setelah pelukan yang menghangatkan itu.
.
.
Bersambung......
.
Jangan lupa like dan komen ya, Terimakasih semua😘😘