Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 90


Al melongo mendengar jawaban Farhan. Membayangkan kedepannya jika benar nanti istri Farhan meminta aneh-aneh dan dia yang harus memenuhinya. Menggelengkan kepala, menetralisir pikirannya yang entah kemana, lalu dia mendekat kearah istinya yang sedang menunjuk buah yang akan dipetik oleh Farhan.


"Bukan yang itu," ucap Icha saat Farhan memetik buah mangga itu.


"Apa bedanya sih Dek? Sama-sama buah mangga juga," protes Farhan.


"Beda, yang itu masih terlalu muda, aku mau yang diatasnya itu." Icha menunjuk buah yang dia inginkan.


Farhan berdecak malas, dia sudah memetik buah mangga untuk ke tiga kalinya, tapi selalu salah. Icha gak mau menerima mangga yang sudah dia petik dan kekeh menunjuk yang dia mau.


Sedangkan Nayla hanya geleng-geleng melihat tingkah bumil yang satu itu. Sama halnya dengam Al, dia ingin membujuk istrinya tapi takut jika justru dirinya yang jadi sasaran, alhasil dia memilih diam.


"Yang ini?" tanya Farhan, tangannya sudah tidak kuat menahan besi panjang itu.


"Iya," jawab Icha senang.


Bugh


Buah mangga yang Icha minta jatuh bersamaan dengan besi panjang yang di pegang Farhan. Untung saja tak mengenai salah satu diatara mereka.


"Yahh, kok di jatuhin sih Kak, yang tadi aja bisa di tangkep sama Mamang, kalo jatuh gini jadi gak enak dong," protes Icha, bukannya berterimakasih dia justru protes, itu membuat Farhan tambah kesal.


"Udahlah sayang, kasian Kak Farhan, kalo itu gak enak dimakan, masih ada tiga kan yang utuh?" Al mencoba menenagkan istrinya, dia tak enak hati dengan Kakak Iparnya.


"Yaudah deh, makasih Kak," ucapnya dengan sedikit cemberut.


Farhan turun dari tangga, dia mengambil kemeja dan sepatu yang dia letakkan di kursi yang ada disana, "Nay, kamar mandi mana?" tanyanya pada Nayla. Dia tak menggubris dua sejoli yang tak lain adiknya itu.


"Ayo aku antar Kak," Nayla jalan lebih dulu diikuti oleh Farhan.


"Tau begini tadi gak usah kesini," gumam Farhan, dia tidak tahu jika akan disurun memetik mangga.


"Kenapa Kak?" Nayla tak mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Farhan.


"Eh, enggak apa-apa Nay, gue bicara sendiri." Farhan nyengir, dia menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.


Sedangkan Nayla mengerutkan dahinya, tapi setelah itu dia memilih tak peduli dengan ucapan Farhan yang tidak dia dengar jelas tadi.


Al membawa tiga mangga yang sudah dipetik oleh Farhan dengan kantong plastik yang diberikan oleh pembantu Nayla.


Sedangkan Icha, masih menggerutu tak jelas karena mangga yang dia inginkan justru terjatuh, dan jadi pecah karena tertimpa besi.


"Udah sayang, apa kamu gak kasian sama Kak Farhan? Lihat, dia udah metik mangga banyak gini, harusnya kamu bersyukur Kak Farhan mau metikin buat kamu, jangan cemberut gitu dong," Al mensejajarkan jalannya dengan sang istri yang tadi tertinggal dibelakang.


Icha menghela nafas berat, "Iya, iya," hanya itu yang keluar dari bibir Icha.


"Sebagai gantinya, aku turutin apa kemauan kamu deh," Al mencoba membuat Icha melupakan mangga keinginannya tadi.


Icha mendongakkan wajahnya, menatap sang suami yang berjalan di sampingnya, "Beneran!" senyum hadir di bibirnya.


Al membalas senyuman itu, lalu mengangguk.


Icha berfikir, dia mencari sesuatu yang dia inginkan, "Kita harus ikut ke puncak, kalau Papa sama Mama enggak ngijinin, kamu harua bantu aku buat bujuk. Itu permintaanku, gimana?" Icha tersenyum menatap wajah Al.


Mereka berjalan masuk ke dalam rumah Nayla. Hanya ada Nayla dan sang Mama, Farhan sudah tak terlihat lagi.


"Udah dapet mangganya Cha?" tanya Mamanya Nayla, dia tadi mengantar Farhan keluar rumah.


"Udah Tan, makasih ya, kami pamit pulang dulu," Icha berpamitan, "Kak Farhan udah pulang ya?" tambahnya.


"Baru saja keluar, kalian hati-hati ya," Nayla dan Mamanya mengantar Icha dan Al samapi ke depan pintu. Icha menyalami keduanya.


"Jangan seperti itu lagi Cha, kasian Kak Farhan, aku enggak tega liatnya," ucap Nayla saat Icha menyalaminya.


"Iya bawel, kamu itu udah kaya pacarnya aja," Icha cemberut, entah kenapa moodnya menjadi tidak baik karena masalah mangga tadi.


"Pengennya sih gitu," timpal Nayla.


"Maunya, udahlah aku pulang," ucap Icha, dia beralih menyalami Mama Nayla lalu berpamitan dan pulang ke rumahnya.


Al melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Senja segera berganti dengan malam, keduanya masih berseragam SMA, jika saja mereka mampir ke kafe atau restoran sudah dipastikan akan jadi pusat perhatian karena seragam yang mereka kenakan. Tetapi mereka tak melakukan itu, lebih memilih pulang dan beristirahat.


"Badanku rasanya capek banget, aku tidur ya sayang, nanti kalau udah nyampe bangunin," celetuk Icha, rasa lelah yang menyerang membuatnya jadi mengantuk dan ingin segera rebahan di rumah.


"Eits, gak boleh tidur sayang, ini hampir maghrib. Gak baik buat tidur, nanti setelah isya' baru boleh tidur," tutur Al, seperti Mamanya saja saat mengucapkan itu.


Icha tidak jadi memejamkan matanya, dia memilih bermain ponsel dan tak menyauiti ucapan Al.


Al menoleh kearah sang istri, dia tersenyum melihat Icha menuruti perkataannya, meskipun tak menimpali ucapannya.


Beberapa saat berlalu, mereka pun sampai di rumah. Hari sudah sedikit gelap, karena waktu maghrib telah tiba. Mereka masuk kedalam rumah secara bersamaan, dengan Al merangkul pundak istrinya. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih.


Mengucapkan salam, lalu mereka naik ke atas, karena tak menemukan keluarganya di bawah, hanya ada pembantunya saja.


Sebelumnya, Al memberikan mangga muda yang mereka dapat dari rumah Nayla pada pembantunya supaya disimpan di kulkas, karena sepertinya Icha belum ingin memakannya.


Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim, Icha yang merasa lelah dia memilih untuk merebahkan diri di atas ranjang, mendengarkan sang suami melantunkan ayat-ayat suci. Menyejukkan sekali rasanya, dia semakin bersyukur karena Al yang dijodohkan dengannya, bukan orang lain.


Al telah menyelesaikan membaca ayat-ayat suci, dia meletakkan mushaf di tempatnya, lalu melepas semua peralatan sholat dan menyimpannya. Mendekati sang istri yang masih berbaring diatas kasur.


"Sayang pijitin ya, capek banget, biasanya gak pernah seperti ini, apa karena hamil itu ya?" ucap Icha menerka-nerka.


"Mungkin juga. Mana yang mau dipijit?" tanya Al, dia sudah duduk di sisi Icha.


Icha menunjuk punggung bawahnya, "Dari sini sampe sini ya, di sini pegel banget," menunjuk mana yang harus Al pijit.


Al mulai memijit tempat yang tadi di tunjuk Icha, memijit dengan gerakan lembut. Sebenarnya dia juga lelah, tapi melihat Icha seperti itu tak tega jika tidak manuruti keinginan istrinya.


Lama Al memijit, dia bertanya berulang-ulang tapi tak ada respon dari sang istri. Lalu Al melihat wajah istrinya, ternyata matanya sudah terpejam.


"Pantes aja ditanya sejak tadi diem aja, ternyata udah molor," gumam Al, dia pun menghentikan pijatannya dan memilih merebahkan diri di samping sang istri.


Bersambung....


Jangan lupa like dan komen yah