
Selama pelajaran Icha terlihat tidak fokus, dia masih memikirkan masalahnya dengan Al. Dia tidak habis pikir Al sampai semarah itu, padahal kejadiannya tidak seperti yang Al pikirnkan.
Saat istirahat kedua, dia berniat ingin bertemu dengan Al di mushola nanti saat sholat dhuhur. Tetapi kenyataan yang ada Al tak datang ke mushola seperti biasanya, dia juga tak melihat Al dimana pun, mau ke kelasnya rasanya masih malu dengan anak-anak kelas Al. Akhirnya Icha memutuskan untuk tidak bertemu dengan Al dulu, seperti yang Al minta.
Sepulang sekolah dia juga tidak melihat mobil Al diparkiran, Icha yakin Al sudah berangkat ke kantor lebih dulu.
"Ayo Cha, kenapa melamun? Cari Al? Sudah gak usah dicari, dia butuh ketenangan Cha, ayo kita pulang," Nayla mengajak Icha pulang.
Mereka menaiki mobil Nayla. Selama perjalanan Icha terlihat murung tidak bersemangat. Nayla membelokkan mobilnya kesebuah mall, dia akan mengajak Icha untuk makan dahulu disana dan mengajaknya berbelanja supaya Icha tidak larut dalam kesedihannya.
"Kenapa kesini Nay?" tanya Icha saat mobil Nayla berhenti didepan sebuah mall.
"Kamu kan belum makan, jadi kita makan siang dulu disini ya, setelah itu belanja, biar kamu gak sedih terus," jawab Nayla, lalu dia membuka pintu mobil diikuti oleh Icha.
Keduanya masuk kedalam mall, lalu menuju restoran yang ada di mall tersebut.
Icha terlihat tidak semangat, dia terlihat lesu sekali.
Mereka duduk disebuah meja yang masih kosong lalu memesan makanan dan minuman. Tak lama makanan pun datang.
"Ayo makan dulu Cha, nanti kamu sakit kalau gak makan," ucap Nayla saat mendapati Icha hanya melihat makanannya tanpa disentuh.
"Iya Nay," jawab Icha singkat. Lalu dia memakan makanannya tetapi tidak dia habiskan, hanya setengahnya saja yang Icha makan.
"Gak dihabisin Cha?" tanya Nayla.
"Males Nay, aku dah kenyang,"
Nayla ikut bersedih melihat sahabatnya seperti itu, tetapi dia tidak menampakkannya supaya Icha tidak bertambah kesedihannya. Nayla melanjutkan makannya yang belum habis. Setelah habis dia membayar makanan itu dan mengajak Icha untuk berbelanja.
Seperti biasa mereka membeli baju yang sama modelnya, hanya berbeda warna. Nayla terus saja memaksa Icha untuk berbelnja ini itu padahal dia rasanya malas sekali, tetapi dia tidak enak jika menolak keinginan sahabatnya itu.
Setelah berbelanja, mereka pun ingin segera pulang, karena waktu sudah sore. Saat perjalanan pulang, Icha melihat seseorang yang sangat ia kenali, dia sedang berada disebuah toko perhiasan bersama seorang perempuan. Icha mencoba meyakinkan apakah benar apa yang dia lihat, mereka tampak akrab sekali, bahkan bisa dibilang mesra, sepertinya tidak ada beban diwajah pria itu.
"Kenapa Cha?" Nayla menepuk pundak sahabatnya saat Icha malah dia dan tidak melanjutkan langkahnya.
"Aku tadi liat Al sama seorang perempuan, aku mau samperian dia, kenapa dia disini, sama perempuan lain lagi," jawab Icha lalu pandangannya mengarah pada objek semuala, yaitu Al dan seorang gadis tadi.
"Mana Cha? aku gak lihat deh," Nayla melihat kearah pandangan mata Icha.
"Kok gak ada sih," ucap Icha lalu dia berlari kearah toko perhiasan itu. Nayla mengekorinya.
"Mana gak ada Cha? Kamu salah lihat mungkin," keduanya sudah sampai di depan toko perhiasan tetapi orang yang dicari tidak ada.
"Aku gak salah lihat, aku beneran lihat Al, bajunya aja yang aku siapin tadi pagi untuk kekantor, masak aku gak kenal sama suamiku sendiri," jawab Icha, dia melihat sekeliling tapi tak menemukan Al.
Wajah perempuan yang bersama Al tadi tidak terlihat jelas, jadi Icha tidak tahu dia siapa.
Icha ingin memastikan, siapa si pembeli perhiasan itu pada penjaga toko.
"Ada yang bisa saya bantu Kak?" sapa si penjaga toko.
"Cuma mau tanya aja boleh?" ucap Icha
"Tadi ada seorang cowok pake kemeja warna maroon dengan seorang gadis pakain dress warna peach itu mereka beli apa ya?" tanya Icha menyelidiki.
Penjaga toko itu berfikir dia mengingat-ingat seseorang yang dikatakan oleh Icha.
"Oh mereka sepasang kekasih, mereka membeli sepasang cincin pertunangan," jawab penjaga toko tersebut.
Deg
Hati Icha seakan mau keluar, dia tidak percaya, pikirannya kacau, tanpa terasa air matanya menetes tanpa permisi. Dia tidak bisa berfikir jernih saat ini, pikirannya buruk pada Al.
"Kak kok nangis? Apa ucapan saya ada yang salah?" berbagai pertanyaan muncul di pikiran sang penjaga toko.
"Enggak mbak, terimakasih infonya, saya permisi," ucap Icha lalu dia berbali mendekati Nayla yang justru asik melihat-lihat perhiasan.
"Ayo kita pulang Nay," ajak Icha, air matanya masih saja menetes.
"Lho kok nangis lagi Cha? Ada apa lagi sih?" Nayla heran melihat Icha yang menangis kembali, dia penasaran apa sebenarnya yang terjadi?
"Ayo pulang, nanti aku critain," jawab Icha lalu dia berbalik dan berjalan mendahului Nayla.
"Kenapa nangis Cha? Cerita sama aku," mereka sudah berada didalam mobil saat ini.
Icha menoleh kearah sahabatnya, tangisnya bertambah deras, "Al selingkuh Nay, ternyata sifatnya tidak berubah, dia masih suka berganti perempuan," jelas Icha dengan sedikit terbata karena menangis.
Nayla terkejut mendengar perkataan Icha, dia seakan tidak percaya, "Kenapa kamu ngomong seperti itu? Apa kamu punya buktinya Cha? Mungkin tadi kamu salah lihat," ucap Nayla.
"Aku gak salah lihat Nay!" seru Icha, dia emosi kenapa sahabatnya tidak mempercayainya? "Aku tadi juga tanya sama penjaga toko, katanya Al dan perempuan itu beli cincin tunangan, seperti itu apa namanya kalau tidak selingkuh?" Icha geram.
"Sabar Cha, nanti kamu tanyakan langsung sama Al, oke. Sekarang tenangkan dirimu, coba hubungi Al tanyakan dimana dia sekarang?" Nayla memberi saran.
Kenapa Icha lupa sejak tadi tidak menghubungi Al? Apa karena terlalu emosi memikirkan Al yang dia lihat di mall tadi. Icha pun membodohkan dirinya sendiri. Lalu dia mengambil ponselnya, dan menghubungi Al.
Sampai panggilan ke tiga dia menghubungi Al tetapi tak ada jawaban dari sebrang sana, Icha bertambah frustasi, dia berkali-kali mengucap istighfar mengontrol emosinya.
"Gak diangkat Nay, berarti beneran tadi Al," ucapnya dengan sendu, "sekarang kita datangi Al ke kantornya ya? Aku mau mastiin," tambahnya.
"Mungkin Al sibuk Cha, coba kamu kirim pesan aja. Kalau kita kesana takutnya Al tambah marah karena masalah yang tadi pagi," Nayla menolak untuk diajak ke kantor Al.
Icha menghela nafas, air matanya masih saja menetes, "Baiklah, aku akan bersabar sampai besok untuk bertanya masalah ini," Icha mengerti apa yang di hawatirkan oleh Nayla, dia pun menerima usulan Nayla.
Sebelum Icha mengirim pesan, ternyata ada pesan dari Al, yang mengatakan kalau dia lagi sibuk meatting dengan karyawannya.
Icha menghela nafas berat, dia meletakkan ponselnya kedalam tas tanpa mau membalas pesan dari Al, lalau dia menyenderkan kepalanya. Lelah hatinya dengan semua kejadian hari ini, tetapi dia sadar dia harus bersabar dulu, supaya tidak timbul masalah baru.
*Bersambung............
Jangan lupa like dan komennya yah, Makasih😘*
Yang tadi itu beneran Al apa bukan yah? Authornya aja bingung nich, penasaran juga🤭