
Istirahat kedua sesuai janji, Al dan Icha makan di kantin yang sebelumnya Al sholat dhuhur terlebih dahulu.
"Makanan yang ada sisa ini, gak apa-apa kan sayang? Semua makanan sudah habis," ucap Al ketika dia kembali dari memesan makanan.
Al membawa dua piring mie instan goreng dan dua gelas jus jeruk diatas nampan.
"Aku sih tidak masalah, memang kalo istirahat siang makanan sudah habis, paling hanya beberapa yang sisa," ucap Icha.
Di dalam kantin tidak begitu ramai, mereka berbisik-bisik tentang Anggun yang di keluarkan dari sekolah dan ketiga temannya yang di skors. Perbincangan mereka masuk kedalam telinga Al dan Icha, tetapi mereka tidak mengindahkan, mereka lebih asyik memakan makanan mereka.
Dan penyekapan Icha didalam gudang juga sudah diketahui oleh seantero sekolah, entah siapa yang menyebarkan itu, tetapi lagi-lagi Icha tak ambil pusing, karena sama sekali tidak mengganggunya.
Setelah menyelesaikan makanannya, merekapun bergegas kembali ke kelas, dengan Icha yang diantar Al terlebih dahulu.
Pulang sekolah kali ini Icha mau tidak mau harus ikut Al ke kantor, karena dia tidak mau Icha kenapa-napa seperti kemarin. Al juga menyarankan pada Icha supaya dia mengunci ponselnya, biar tidak di sabotase oleh orang yang tidak bertanggung jawab seperti kemarin.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Disisi lain, seorang gadis yang tak lain adalah Anggun, dia memasuki apartemen seseorang tanpa permisi, karena dia sudah hafal dengan password apartemen tersebut.
Dia menghempaskan tubuhnya di sofa, lelah sekali hari ini, dia harus di gunjing satu sekolah karena kesalahan yang dibuat, dia juga harua mendapat amukan dari Papanya sendiri. Menyesal? Sebenarnya dia sedikit menyesal, tapi mau bagaimana lagi, dia harus melakukan itu untuk menyelamatkan perusahaan Papanya yang hampir diambang kehancuran.
"Gue udah lakuin apa yang lo mau, sekarang sesuai janji lo kemarin, lo harus menyuntikkan dana buat perusahaan Papa gue," ucap Anggun pada seseorang yang baru saja datang.
"Satu lagi, lo juga harus masukin gue ke sekolah yang lo janjikan kemarin, pendidikan gue akan hancur kalo gue gak nerusin sekolah," tambahnya lagi.
"Iya, tapi lo belom berhasil, kenapa gak lo buang aja tas cewek itu? Coba lo buang, pasti gak ada yang nemuin dia disana, ck," dia berdecak, orang itu belum puas dengan apa yang dilakukan Anggun.
"Lo gak mikir apa? Kalau tu cwek kenapa-napa gue yang bakal masuk penjara, lo mah enak tinggal nyuruh," Anggun sedikit kesal karena usahanya tidak dihargai, padahal dia sudah mengorbankan sekolahnya.
"Iya iya, lo terima beres aja, semua janji gue akan gue tepatin, asal lo gak bocorin ini semua,"
"Hm," hanya deheman yang Anggun berikan sebagai jawaban.
"Lo kenapa bisa setega itu sama tu cewek? Kalau sampai Al tahu dia bakalan benci sama Lo, secara dia sayang banget sama pacarnya itu," Anggun penasaran.
"Gue kesel aja sama tu cewek, Al memperlakukan dia dengan penuh kasih sayangnya, gue beberapa kali liat mereka sangat mesra, itu buat gue sakit hati, saat inget Al memperlakukan gue gimana," sorot mata orang itu terlihat penuh amarah.
"Bukan Lo aja kali, semua yang pernah jadi pacarnya si playboy itu diperlakukan sama bukan, cuma dia aja yang berbeda, mungkin tu cewek udah pernah ditiduri sama dia," Anggun menerka-nerka.
"Entahlah, yang gue tahu Al itu orangnya gak gitu, gak mau nyentuh cewek,"
"Udah gue pusing, mau pulang," Anggun berdiri dan meninggalkan apartemen orang tersebut. Dia kembali kerumahnya, entah seperti apa Mamanya nanti, saat tahu anaknya dikeluarkan dari sekolah.
Benar saja saat dia sampai dirumahnya, Mamanya langsung menghampirinya.
"Anggun, Mama sudah denger semuanya dari Papa, kamu keterlaluan, buat keluarga kita malu!" seru Mamanya Anggun, dia menghampiri putrinya yang masih mematung didepan pintu utama.
"Maafin Anggun Mah, Anggun lakuin itu semua demi perusahaan Papa. Ada seseorang yang mau membantu perusahaan Papa yang hampir bangkrut itu, tapi dia mengajukan syarat seperti itu Mah, dia juga janji mau bantu Anggun masuk ke sekolah lain, Mama jangan khawatirkan Anggun ya," jelas Anggun panjang lebar.
"Seharusnya kamu gak usah lakukan itu Nggun, pendidikan kamu bakalan hancur kalau begini," Mamanya sudah terlihat melunak.
"Mama mau, kamu nerusin sekolah sama nenek kamu di Kalimantan, Mama gak mau ambil resiko kalau kamu melakukan hal yang serupa. Dengan menjauhkan kamu sama orang yang menyuruhmu itu akan lebih aman," tambah Mamanya lagi.
"Tapi Mah,"
Memang sebelum Anggun pulang, Mamanya lebih dulu menghubungi nenek Anggun, supaya Anggun sekolah disana.
"Tiga hari lagi kamu berangkat, Mama yang akan antar," putus Mama Anggun.
Anggun hanya bisa pasrah, dia tidak berani melawan Mamanya. Berbeda dengan Papanya, dia lebih berani melawan Papanya.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Icha masih berada di ruangan Al, dia menunggu suaminya itu sedang meeting, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan kalau ada telfon masuk. Dia pun mengambil ponselnya yang berada di depannya diantara buku-bukunya yang berserakan. Icha menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.
"Assalamu'alaikum Ma," ucap salam Icha dengan orang diseberang sana.
"Wa'alaikumsalam sayang, gimana kabar kamu dan Al? Mama kangen nih,"
"Alhamdulillah baik Ma, Mama sendiri gimana?"
"Alhamdulillah Mama juga baik, kami baik semua. Cha nanti pulang ke rumah ya, Mama mau bicara sama kalian, selain itu juga Mama kangen pengen ketemu kalian, makan malam juga disini oke,"
"Insyaallah Ma, nanti aku ajak Al pulang ke rumah Mama,"
"Nginep disini ya, jadi bawa beberapa buku pelajaran kalian,"
"Iya Ma, aku sebenarnya juga berencana nginep disana minggu ini,"
"Yaudah Mama cuma mau ngomong gitu aja, nanti lanjut di rumah ya, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam Ma,"
Icha meletakkan ponselnya, dia berfikir tumben sekali Mamanya itu menelfon, seperti ada sesuatu yang ingin dibicarakan, tapi entah apa Icha juga tidak tahu.
Dia pun melanjutkan belajarnya lagi, sambil menunggu Al yang sudah keluar ruangan sejam yang lalu. Entah apa yang dibicarakan Al dan anak buahnya di ruangan meeting samapi selama itu, pikir Icha.
Tapi tak berapa lama Al pun masuk kedalam ruangannya kembali, dia langsung mendatangi Icha yang ada dikamar yang ada dalam ruangan itu. Memastikan Icha masih berada disana.
"Udah selesai ya meetignya?" tanya Icha saat tahu Al masuk kamar.
"Alhamdulillah sudah, sebentar lagi maghrib, ayo kita pulang sekarang," titah Al.
"Baiklah, aku beresin ini dulu." Icha membereskan buku-bukunya.
"Oh iya, Mamaku tadi telfon, kita disuruh nginep disana, makan malam juga," Icha memberitahu.
"Baiklah, kita pulang dulu, ambil beberapa buku dan seragam kita, setelah itu langsung ke rumah Mama,"
"Iya, pikiranku juga seperti itu,"
Setelah Icha membereskan buku-bukunya, dia juga membantu Al membereskan mejanya. Setelah selesai mereka pun pulang ke rumah lebih dulu, sebelum berangkat ke rumah orang tua Icha.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komennya yah. Makasih,