Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 110


Tiga hari berlalu, pagi ini Icha sedang sarapan bersama keluarganya. Setelah pulang dari rumah sakit, ia memang menginap di rumah Mamanya, meski Al tidak ikut menginap disana karena kasihan jika harus meninggalkan sang Papa di rumah sendiri. Icha pun tidak keberatan, ia selalu tidur di temani sang Mama.


Di tengah-tengah sarapan mereka, tiba-tiba ponsel sang Papa berbunyi. Atensi mereka berpindah pada ponsel yang berbunyi tersebut. Papa Bayu melihat siapa si penelfon, merasa telfon tersebut penting, ia menerima panggilan itu agak sedikit manjauh dari ruang makan.


Tak lama Papa Bayu kembali, istri dan anak-anaknya telah menyelesaikan sarapan mereka, Papa Bayu pun tak berniat melanjutkan sarapannya lagi.


"Papa harus ke kantor polisi sekarang, kamu ke kantor dulu Han, setelah selesai Papa nyusul, meetingnya kamu yang pimpin ya," pinta Papa Bayu pada putra sulungnya.


Farhan mengangguk, "Iya Pa," jawabnya.


Sebelum Farhan berucap kembali, Mama lebih dulu bertanya, "Pelakunya sudah ke tangkep Pa?" tanyanya.


"Polisi tadi bilang seperti itu Ma, makanya Papa penasaran sama pelakunya, dan apa motifnya, sampai dengan sengaja mencelakai Icha," ucapnya.


"Pa, aku ikut ya," tiba-tiba Al datang, saat mendengar penjelasan Papa mertuanya tadi ia juga penasaran dengan pelakunya.


Al melangkah, menyalami kedua mertuanya lalu kakak iparnya. Kemudian giliran Icha yang menyalami suaminya.


"Boleh, memang lebih baik kamu ikut," ucap sang Papa.


Icha sebenarnya ingin sekali ikut, tapi ia tahu jika Mamanya pasti akan melarang, karena kondisinya yang masih lemah. Meski sudah mengikhlaskan janinya, tapi tubuhnya masih belum bisa lama-lama di luar rumah.


Keduanya ke luar rumah, mereka berpamitan pada orang yang ada di dalam terlebih dahulu sebelum keluar. Memakai satu mobil, karena biasanya sang Papa akan pulang dan pergi bersama Farhan. Setelah dari kantor polisi, Al akan mengantar Papa mertuanya menuju perusahaan sang Papa.


Satu jam berlalu, mereka baru sampai di kantor polisi, setelah menerjang kemacetan yang membuat hati tak karuan, akhirnya mereka pun sampai. Keluar dari mobil secara bersamaan, lalu masuk kedalam kantor polisi. Mereka sudah di tunggu oleh keluarga pelaku, karena polisi juga menghubungi keluarga pelaku.


Ternyata Papa Bayu mengenal orang tua pelaku, karena salah satu dari rekan bisnisnya. Sedangkan Al, ia tak mengenal, cuman pernah sesekali melihat orang tersebut.


"Selamat datang Pa, silahkan duduk," seorang polisi mempersilahkan Al dan Papa Bayu duduk.


"Maaf Pak Bayu atas kelakuan putri Saya karena telah melukai putri Bapak, Saya benar-benar tidak tahu apa maunya, kenapa dia biasa melakukan hal sekeji itu. Untung saja keponakan saya yang berada di London mau membantu Saya untuk menahan putri saya disana, sebelum saya sampai ke London dan berkat dia pula putri saya mau menyerahkan diri ke kantor polisi," jelas panjang lebar orang tersebut.


Papa Bayu tidak menjawab apa pun, sejatinya ia kecewa dan pastinya sulit untuk memaafkan kejahatan yang telah di lakukan oleh putri rekan bisnisnya tersebut.


"Tunggu, pelaku sedang di bawa ke sini, bersama Bapak Paijo juga, karena dia masih kami tahan sampai pelaku sebenarnya tertangkap," jelas polisi.


Tak lama pintu terbuka, menampakkan dua orang yang mengenakan baju tahanan, dan juga dua orang yang mengenakan seragam khusus polisi.


Gadis yang di kenal oleh Al tersebut berlutut di hadapan Papa Bayu dan Al, "Maafkan aku Om, Al, aku khilaf, sekarang aku menyesal telah mencelakai istri Al hingga keguguran. Waktu itu aku tidak tahu jika istri Al sedang mengandung, niatku hanya ingin memberi pelajaran padanya. Tapi saat Martha menceritakan kalau Icha keguguran gara-gara aku, aku jadi merasa bersalah bahkan aku membawa Pak Paijo masuk ke dalam masalahku, padahal beliau tidak tahu apa-apa," jelas gadis itu, ia masih bersujud di depan Papa Bayu dan Al dengan tangan di borgol.


Al mengepalkan tangannya, ia mencoba merendam kemarahan, karena saat ini mereka berada di kantor polisi, tidak etis jika ia meluapkan kemarahannya saat ini.


"Maafmu sudah terlambat, anak gue enggak mungkin kembali, jadi nikmati aja masa-masa di tahanan, karena gue enggak akan cabut tuntutan itu," timpal Al, ia sudah geram dengan kelakuan gadis tersebut.


Gadis itu pun mengangguk, "Iya gue akan tanggung akibatnya, tapi tolong bebaskan Pak Paijo, beliau tidak bersalah," pinta gadis tersebut.


Papa Bayu mengangguk, "Sudah pasti kami akan membenaskan Pak Paijo, karena beliau tidak bersalah. Dan untuk kamu saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena semua saya serahkan sama Al," ucap Papa Bayu, "Jadi kalian saling mengenal? Lalu motif apa yang membuat kamu mencelakai anak saya?" tanya Papa Bayu, penasaran.


"Iya kami saling mengenal Om, saya punya dendam sama Al, tapi saya tidak berani mencelakinya, jadi saya berniat mencelakai istrinya saja, karena saya pikir akan sama saja," jawab gadis itu.


Papa Bayu geleng-geleng kepala, ia tidak habis pikir dengan kelakuan remaja jaman sekarang, hanya karena dendam mereka rela masuk penjara demi dendamnya terbalaskan.


"Lalu apa kamu mengenal Pak Paijo?" tanya Papa Bayu, ia belum yakin dengan ucapan Pak Paijo waktu itu.


Gadis itu menggeleng, "Tidak Pak, saya hanya mengenal anaknya yang bekerja di perusahaan Papa saya. Saya sengaja meminjam mobilnya, karena saya pikir tidak akan ada yang mengetahuinya," jelas gadis itu.


"Sekali lagi saya minta maaf, kedepannya saya tidak akan melakukan perbuatan seperti ini lagi, saya menyesal," tambahnya.


Gadis itu pun berdiri, ia menghampiri orang tuanya yang terlihat bersedih, terutama sang Mama sampai menitikan air mata. Seorang ibu pasti akan memaafkan kesalahan anaknya, sebesar apa pun keslahan itu.


"Maafkan Sita Ma, Pa, Sita siap menjalakan hukuman yang akan diberikan, karena Sita bersalah. Mama jangan nangis ya, suatu hari nanti Sita akan kembali ke rumah, Mama tunggu Sita pulang ya," air mata gadis itu sudah turun tanpa bisa di cegah. Ya, gadis itu adalah Nasita, sepupununya Martha.


Saat tahu pelakunya adalah Nasita, Martha marah pada gadis itu, ia tidak habis pikir, sepupunya sampai senekat itu. Mencelakai seseorang, bahkan nyawa orang tersebut jadi taruhan. Selama dua hari ia mengurung Nasita dalam kamarnya, sesuai perintah Papa Nasita yang menyuruhnya untuk menahan Nasita sampai Omnya iti datang. Benar saja Martha melakukan apa yang di instruksikan oleh Omnya.


Sang Mama berdiri, ia melangkah mendekati putrinya lalu memeluk putrinya dengan erat, mereka berlomba-lomba menguras air mata masing-masing. Mamanya memang belum sempat bertemu sang anak, karena sepulang dari London ia langsung di bawa ke kantor polisi oleh sang Papa.


Bersambung.....


Jangan lupa like dan komennya yah❤


Beberpa part lagi akan tamat.