Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 74


Pagi kembali menjelang, menggantikan sinar rembulan dengan sinar terang sang surya. Jagad raya yang tadinya gelap berubah jadi terang. Kedua insan yang sudah bersiap dengan kegiatan sehari-harinya itu terhenti ketika sang wanita merasakan mual yang kemarin hadir kini hadir kembali.


Berlari memasuki kamar mandi, mengeluarkan isi perutnya yang baru saja terisi oleh makanan pagi ini. Wajahnya terlihat pucat, seperti sedang mengidap penyakit parah.


"Sayang, kamu muntah lagi? Gak usah sekolah aja ya." Memijit tengkuk sang Istri, berharap semua lekas keluar.


"Aku harus tetap sekolah, minggu depan ujian, aku enggak mau ketinggalan latihan kali ini," dia sudah menegakkan kepalanya, mualnya sudah sedikit berkurang.


"Tapi wajahmu pucat sekali sayang, beneran tidak apa-apa?" khawatir dengan keadaan istrinya.


"Aku sudah baca di internet, ini biasa terjadi pada wanita yang hamil muda, jadi tidak masalah," tak ingin membuat suaminya khawatir, Icha memang sudah mencari tahu banyak tentang kehamilan, sejak dia tahu kemarin kalau dia hamil.


"Baiklah, kalau tidak masalah," mengalah saja dari pada urusannya bertambah panjang, "Oh iya, Kak Hanny bilang kemarin kita harus nebus vitamin dan obat saat mual, supaya mualnya berkurang, kenapa sampai lupa, sih?" mengomel sendiri, dia lupa akan resep obat yang diberikan oleh dokter kemarin.


"Nanti kita tebus resepnya, sekarang harus berangkat karena kita bisa terlambat," Icha mengingatkan, memang waktunya sudah cukup siang, "Naik motor ya sayang, seperti janjimu semalam," tambahnya.


"Iya, ayo. Pakai jaket mu sayang, aku gak mau kamu kedinginan," pinta Al, Icha menganggukinya.


Keduanya berjalan menuruni anak tangga, Al dengan setia memeluk pinggang istrinya. Keduanya terlihat seperti remaja yang tengah dimabuk cinta. Nyatanya memang benar, mereka masih remaja tetapi harus menjalani biduk rumah tangga yang seharusnya belum saatnya mereka rasakan.


"Apa tidak sebaiknya bawa bekal aja sayang, perutmu harua diisi makanan lagi," Al masih menghawatirkan keadaan pujaan hatinya.


"Enggak usah sayang, rasanya enggak ingin makan," tolaknya, dia memang tak bernafsu makan.


"Baiklah, nanti bisa beli di kantin kalau lapar,"


Mereka keluar dari rumah mewahnya. Al mengambil motor di garasi, menghampiri sang istri yang masih berdiri di teras rumah.


Icha mendekat kearah suaminya, saat akan mengambil helm ditangan sang suami ia urungkan karena Al lebih dulu menjauhkan helmnya.


"Biar aku pakein," ucap Al tanpa mau di bantah.


Sebelum memakaikan helm dia lebih dulu mengecup kening istrinya, "Nanti disekolah tidak mungkin seperti ini," ucapnya setelah mengecup kening Icha. Karena biasanya mereka melakukan itu di dalam mobil.


Icha tersenyum, suaminya itu kepikiran saja dengan hal seperti itu, padahal dirinya tidak terfikirkan sama sekali.


Icha menuruti saja saat suaminya memakaikan helm dikepalanya, dia tersenyum dan berterimakasih saat Al telah selesai memasangkan helm di keplanya. Naik keatas jok motor, tangan kanannya ia lingkarkan di pinggang sang suami.


Menikmati udara pagi yang sudah dipenuhi oleh polusi, meski matahari belum terik, karena perkotan memang seperti itu, jarang sekali bisa merasakan yang namanya udara segar.


"Sayang, apa kamu pernah naik motor sebelumnya?" suara Al masih terdengar meski kurang jelas.


"Pernah, sama Nayla, waktu awal-awal SMA," sedikit meninggikan suaranya, supaya sang suami mendengar jawabannya.


"Aku kira pernah naik motor sama cowok," padaha Al tahu istrinya itu tak pernah dekat dengan laki-laki selain Kakak dan Adiknya.


Icha mendengus, "Kamu tu yang pernah boncengin cewek, mesra lagi," dia mengingat saat suaminya memboncengkan mantan kekasihnya dulu, waktu itu dia cemburu, tetapi tak berani mengatakannya.


"Maafkan aku sayang." Al menyentuh tangan istrinya yang setia melingkar di perutnya.


"Sudah lupakan, itu masa lalu, aku tak mau mengingat masa lalu yang seperti itu," Icha memang tak ingin mengingat masa awal-awal mereka menjadi suami istri.


Al mengambil tangan Icha lalu mengecupnya berkali-kali. Jika sedang di rumah atau didalam mobil dia pasti akan mengecup selain tangan. Mereka kini berada di lampu merah, banyak yang iri dengan kemesraan dua remaja itu. Ada juga yang berfikiran tidak baik, mengingat Icha mengenakan hijab.


Tak lama mereka pun sampai di parkiran sekolah, seperti biasa Al akan mengantar Icha sampai kedepan kelasnya.


"Sayang, kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya," keduanya masih berjalan di koridor sekolah, dengan Al yang setia menggandeng tangan istrinya.


"Iya sayang, kamu gak usah khawatir, aku akan baik-baik saja. Percayalah," Icha meyakinkan suaminya supaya tak khawatir berlebihan.


Tak lama mereka sampai di depan kelas Icha, Al menunggu Icha sampai masuk kedlam kelas. Setelah Icha masuk dia melanjutkan langkahnya menuju kelasnya sendiri.


"Selamat pagi Cha," sapa Nayla yang datang lebih dulu ketimbang Icha.


"Pagi Nay, pagi bener datangnya," Icha merasa heran karena ini masih terlalu pagi buat Nayla datang kesekolah.


"Pengen aja, sebentar lagi kita gak bisa datang pagi-pagi kesekolah, kita akan disibukkan dengan kegiatan kuliah yang jadwalnya berbeda-beda, sekali-kali buat momen yang berbeda disekolah," jawabnya panjang lebar.


"Mau buat momen mengesankan di sekolah ya? Jadian sama gue ntar mengesankan banget," entah sejak kapan mahluk yang bernama Doni itu sudah duduk di bangku kosong depan mereka.


"Nah bener itu," Icha membenarkan, dia mengatakan itu dengan tertawa.


"Kamu malah belain Doni ketimbang sahabat sendiri," Nayla cemberut, dia tak terima sahabatnya justru membela orang lain.


"Becanda Nayla," Icha tak mau sahabatnya itu merajuk.


"Ayo dong Nay jadi pacar gue, apa sih kurangnya gue coba?" Doni memohon seperti anak kecil meminta dibelikan balon.


"Nembak cewek itu yang romantis gitu kek, kalo nembaknya kaya gitu cewek juga ogah mau nerima," selalu saja hari Icha dihiasi dengan celotehan tidak jelas Doni dan Nayla.


Icha lebih baik diam dan menyimak saja, karena dia sudah tahu akan berakhir seperti apa nantinya.


"Kalo gue romantisin lo beneran mau jadi pacar gue?" tanya Doni meyakinkan.


"Ogah, lo bukan tipe gue. Lagian gue gak mau pacaran, maunya langsung di halalin," mereka masih saja berceloteh, akan seperti itu sebelum guru datang.


"Cha, gue ini titipan dari Al, katanya buat lo," ucapan seseorang yang baru datang menjeda celotehan Doni dan Nayla.


"Terimakasih ya," ucap Icha berterimakasih pada teman sekelasnya itu.


"Enak banget jadi Icha, di perhatiin sama Al, pengen deh," celetuk Nayla.


"Lo mau juga gue gituin Nay? Gue mau banget, apalagi kalau lo mau jadi pacar gue, eh pendamping hidup gue maksudnya, karena lo gak mau pacaran jadi gue siap nunggu sampai lo siap gue halalin Nay," ucapan Doni sebenarnya selalu dari hati, tetapi Nayla justru menganggap itu sebagai guyonan semata.


"Udah Don, balik ke bangku mu, ini sudah bel masuk," titah Icha, Doni pun tak mau membantah ucapan Icha, karena memang benar bel masuk sudah berbunyi.


Icha mengambil ponselnya, karena ada pesan masuk. Ternyata dari sang suami, yang mengatakan kalau Icha harus makan pesanan yang dia titipkan tadi. Icha tersenyum bahagia, karena Al sangat perhatian sekali.


"Udah dimakan aja, gak usah senyum-senyum gitu Cha," ucapan Nayla menyadarkan Icha dari lamunanya.


"Ah iya Nay," Icha pun memakan makanan yang tadi dibelikan oleh Al.


Bersambung.....


Jangan lupa like dan komennya yah.