Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 96


Adzan subuh berkumandang dari ponsel Al yang sengaja dia atur supaya membangunkan keduanya. Icha mengerjapkan mata berkali-kali menyesuaikan dengan sinar lampu yang memang tidak di matikan, dia meraih ponsel yang sejak tadi berbunyi. Lalu mematikan suara adzan yang berasal dari ponsel sang suami, meletakkan kembali ponsel tersebut.


Tangannya terulur menyentuh pipi sang suami yang masih nyaman dialam mimpi, menepuk-nepuk dengan lembut, bermaksud membangunkannya.


"Sayang, bangun udah subuh." Icha masih menepuk-nepuk pipi sang suami, "aku balik ke kamar sebelah ya," tambahnya.


Dia pun beranjak dari duduknya, bermaksud turun dari ranjang, tetapi tarikan di tangannya membuat dia mengurungkan niat.


"Setelah ini siap-siap, kita pulang pagi ya," ucap Al dengan suara parau khas bangun tidur. Kelopak matanya saja masih belum terbuka sempurna.


"Iya, aku kembali ya, takut yang lain keburu bangun." Icha mengecup sekilas pipi sang suami, "bangun lalu sholat ya," tambahnya, lalu berjalan menuju pintu.


Icha keluar kamar dengan mengendap-endap seperti maling, kepalanya pun terus bergerak melihat kanan kiri, dirasa tak ada orang yang disekitanya dia pun memutar handle pintu sebelah dan membukanya.


Dia terkejut saat pintu sebelah yang tak lain pintu kamar Dea terbuka. Sebelum dia masuk kedalam kamar Dea sudah lebih dulu keluar. Sama-sama terkejut saat mereka saling tatap.


"Icha! Aku kaget, kamu dari mana?" tanya Dea, wajahnya terlihat baru saja bangun.


"Em ... Itu aku dari dapur, minum," kilahnya, untung saja stimulus kerja otaknya berjalan dengan baik dan alasan yang diberikan pun sangat masuk akal. "Kamu sendiri mau kemana?" tanya Icha balik.


"Mau ke dapur juga, aku terbiasa bangun tidur langsung minum," jelasnya, lalu Dea melangkah meninggalkan Icha yang masih sedikit gugup.


Hampir saja ketahuan, jika telat dua menit saja. Akhirnya Icha bisa bernafas lega, setelah dia masuk kedalam kamar. Terlihat Nayla masih tertidur pulas, hanya posisi tidurnya yang sudah berubah.


Icha menggelengkan kepala melihat tingkah Nayla saat tidur, "Dia tidur apa perang sih, untung saja aku enggak tidur sama dia," gumam Icha, lalu dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelah melaksanakan sholat, ternyata Nayla belum juga bangun, Icha pun membangunkan sahabatnya itu.


"Nay, bangun ini sudah siang." Icha mengguncang tubuh Nayla, tidak halus seperti membangunkan suaminya tadi, karena dia tahu Nayla paling sulit untuk bangun subuh seperti ini, apalagi hawa yang terasa dingin.


"Masih ngantuk Ma, lima menit lagi ya," kan, jawabannya pasti seperti itu. Apalagi itu, dia bilangnya Ma, emang dia kira Icha itu Mamanya.


"Nayla! Aku Icha bukan Mama kamu!" teriak Icha.


Sontak Nayla membuka matanya, "Ya ampun Cha, kenapa pagi-pagi teriak-teriak sih?" protes Nayla.


"Sholat subuh Nay, lihat udah jam berapa?" Icha menunjuk jam dinding dengan ekor matanya.


Nayla pun melihat kearah jam dinding, dengan terpaksa dia turun dari ranjang dan masuk kedalan kamar mandi.


Icha membereskan bekas tidur Nayla yang begitu berantakan, bahkan seprai yang menempel di kasur pun sampai terlepas karena ulah lasak Nayla saat tidur.


"Tidur aja masih kaya anak kecil, gimana kalau punya suami? Bakalan geleng-geleng kepala suaminya," gumam Icha, tapi Nayla mendengarnya, karena dia sudah keluar kamar mandi.


"Kalau udah punya suami ya beda dong, jaga imej lah," celetuk Nayla, dia mengambil alat sholat lalu mengenakannya.


Icha tak menimpali ucapan sahabatnya, karena Nayla sudah lebih dulu melaksanakan sholatnya.


Setelah selesai membereskan tempat tidur, dia mulai mengemasi barang-barang yang dia bawa, sesuai permintaan Al pagi ini mereka akan pulang.


"Beneran pulang Cha?" tanya Nayla, dia telah menyelesaikan sholatnya.


"Iya, Al bilang setelah ini kita pulang," jawab Icha tak menghentikan aktifitasnya.


"Yah, enggak ada kamu enggak seru Cha, apalagi kalau aku di ganggu sama Doni enggak ada yang belain," wajah Nayla dia buat sesedih mungkin.


"Ya maaf Nay, tapi masih ada Dea sama Rara, kan? Ntar kamu jalan aja sama Alvian, biar enggak di godain Doni," celetuk Icha santai, seakan-akan ucapannya tak bermasalah buat Nayla.


"Yaudah, entar hati-hati dijalan ya," akhirnya itu yang bisa Nayla ucapkan, dia tak mau membahas lebih jauh lagi tentang Doni maupun Alvian.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Pukul 06.00 pagi, Al dan Icha sudah siap di samping mobil, menunggu yang lain keluar karrna mereka akan berkeliling kebun teh di sekitar sana, sedangkan Al dan Icha akan pulang kerumah, dan berniat berpamitan dengan semuanya.


"All gue sama Icha pulang dulu ya, sepertinya Icha masih enggak enak badan, jadi lebih baik gue anter pulang, takut kenapa-napa," pamit Al panjang lebar pada semuanya setelah mereka berkumpul di depan villa.


Memang wajah Icha masih terlihat pucat, sebenarnya itu karena dia sedang mengandung, dan tadi pagi setelah membereskan pakaiannya dia sempat mual lagi, meski hanya sebentar saja.


"Iya, kalian hati-hati ya," jawab semuanya hampir bersamaan.


"Kita berdua minta maaf banget, gak bisa ikut kalian sampai selesai, terutama kamu Don, aku yang usulin buat acara ini justru aku bolos duluan," ucap Icha tak enak hati.


"Tidak masalah Cha, kesehatan lo yang paling utama," timpal Doni.


"Makasih ya, kita pulang duluan," ucap Icha lalu dia masuk kedalam mobil, diikuti oleh Al.


"Hati-hati di jalan,"


Al melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia melihat kearah sang istri yang sepertinya sedikit kecewa.


"Sayang," Al memanggil Icha yang sedang melamunkan entah apa, dan terlihat jelas wajahnya ada sedikit guratan kekecewaan.


Icha menoleh kearah Al, "Ya?" ucapnya.


"Kamu pasti kecewa, kan? Kita pulang lebih awal?" tanya Al, dia menoleh kearah sang istri yang masih menatapnya.


"Enggak kok," jawab Icha dengan tersenyum sedikit terpaksa.


"Maaf ya, aku enggak mau kamu terlalu capek," Al meminta maaf, lalu dia meraih tangan Icha, mengecupnya berulang kali dan terus menggenggamnya.


"Enggak apa-apa sayang, aku tahu kamu khawatir. Aku juga sadar, kemarin aku berambisi banget, tapi saat sampai disana aku sadar, kalau bertahan sampai besok pasti merepotkan yang lainnya," tutur Icha, dia mengucapkan itu sambil menatap wajah suaminya dari samping.


"Alhamdulillah kalau kamu sadar seperti itu," Al tersenyum, "Nanti saat perpisahan sekolah, sepertinya kita enggak usah ikut aja, aku khawatir sama kamu," ucap Al.


Di sekolah mereka setelah menerima hasil ujian, maka akan diadakan perpisahan dengan camping selama tiga hari dua malam, dan itu akan dilakukan di luar kota. Semua siswa menunggu waktu itu, karena itu kegiatan terahir di masa putih abu-abu.


"Iya sayang, aku juga tidak ingin ikut acara itu, kita ikut perpisahan di sekolah saja," timpal Icha.


Al tersenyum, ternyata Icha tak ingin mengikuti acara tersebut, takut-takut kalau Icha ngotot mau ikut.


"Kita mampir sarapan dulu ya, kamu mau sarapan dimana?" tanya Al, dia khawatir dengan Icha karena semalam istrinya itu tidak makan.


"Nanti akan aku tunjukkan tempat makan yang enak daerah sini, menunya lengkap," tutur Icha.


Al pun menganggukinya, dia menyetujui permintaan istrinya.


Bersambung....


**Jangan lupa like dan komen yah. Terimakasih


Siapkan hati untuk episode selanjutnya**,