Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 38


Saat diperjalanan Icha menanyakan kenpa Al tidak mau diajak makan malam bersama teman-temannya, karena tadi Icha memberi alasan Al banyak kerjaan, sebenarnya ide Icha sendiri karena Al tidak mengatakan alasannya.


"Sayang kenapa kamu gak mau diajak makan bersama teman-temanku? Apa kamu malu?" tanyanya setelah beberapa saat hening.


"Nggak juga, aku cuman pengen makan berdua sama kamu di rumah, dan aku yang akan masak kali ini buat kamu, gimana ideku bagus kan?" tutur Al, dia menoleh sebentar kearah Icha lalu kembali fokus kedepan.


"Emang kamu bisa masak?" tanya Icha dengan nada seperti mengejek.


"Bisa dong, masak air, hahaha," Al tertawa karena sebenarnya dia memang tidak bisa memasak.


"Kalo itu anak TK aja bisa,"


"Nanti kita masak bareng, aku bantuin gimana?" Al memberi usul.


"Boleh deh," Icha tersenyum menatap wajah Al dari samping.


Sebenarnya Al tidak mau ikut makan bersama teman-teman Icha karena dia sungkan, dia ingin makan berdua dengan Icha saja. Al memberi alasan seperti itu supaya Icha tidak kecewa karena penolakannya. Al mengakui dia egois memang, tapi dia juga tidak salah bukan jika ingin berdua dengan istrinya?


Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di rumah, keduanya mandi lalu melaksanakan ibadah wajib mereka, karena memang ini sudah saatnya. Karena belum masak makan malam dan tadi Icha melarang Bik Um masak, mereka berdua turun kedapur sesuai rencana tadi saat dimobil.


"Mau masak apa sayang?" tanya Icha pada Al ketika keduanya sudah sampai dapur.


"Apa aja yang penting kamu yang masak aku pasti suka," jawab Al.


"Katanya kamu yang mau masak tadi," Icha mengingat ucapan Al tadi saat dimobil.


"Kalau gak enak emang kamu mau makan? Aku gak pernah masak kecuali masak mie instan sama telur ceplok aja,"


"Kamu masak telur ceplok juga gak apa-apa aku mau," Icha kekeh supaya Al mau masak seperti ucapannya tadi.


"Kalo kamu gak jadi masak aku juga gak jadi makan deh, mau belajar aja," tambah Icha, dia pura-pura merajuk.


"Kok gitu? Oke oke aku yang masak, kita makan malam sama telur ceplok aja gak apa-apa berarti?" Al akhirnya menyerah.


Icha mengangguk dan tersenyum, karena Al mau menuruti kemauannya.


Al mulai menggoreng telur utuk dua orang, sedangkan Icha menunggu di kursi yang ada di dapur, dia tersenyum karena berhasil mengerjai Al untuk masak, ya walaupun cuma telur ceplok aja.


"Udah mateng, ayo kita makan," ajak Al setelah dia menyelesaikan masaknya.


Icha mengikuti Al ke ruang makan, mereka duduk bersebelahan. Biasa mereka makan satu piring berdua, hanya pake telur ceplok saja.


"Enak masakanmu," Icha memuji Al.


Yang di puji justru cemberut, tidak senang. "Telur ceplok siapapu yang masak rasanya pasti sama, cuma modal telur sama garam. Kamu mengejek ku ya?"


Icha menggeleng "Enggak, ini beneran enak, apalagi makannya sepiring berdua sama kamu tambah disuapin lagi," Icha tersenyum saat mengatakan itu.


"Kamu udah pinter gombal ya sekarang,"


"Iya, diajarin kamu kan?"


"Iya iya, udah habisin dulu makannya,"


Keduanya pun memakan makanan mereka sampai habis. Setelah makan Icha memcuci piring bekas makan mereka, lalu naik ke kamar untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, dan selanjutnya mereka belajar bersama seperti biasa.


"Sayang kamu setelah ini mau kuliah dimana?" tanya Icha saat keduanya masih belajar.


"Disini aja, sambil ngurus perusahaan Papa. Emang kamu mau kuliah dimana? Kok tanya aku seperti itu?"


"Gak tau, aku ikut kamu aja lah, tadinya pengen kulian di Singapura ambil jurusan kedokteran, tapi karena sekarang sudah ada kamu ya aku terserah kamu aja," Icha menjelaskan keinginannya dulu.


"Kalau memungkinkan kita bisa kuliah di sana, biar Papa yang disini, tapi kita disana sambil jaga Mama," Al memberi solusi.


"Aku sih mau-mau aja, aku akan ikut kemanapun kamu pergi,"


Icha mengangguk dan tersenyum.


Mereka pun kembali belajar, mengerjakan tugas yang d berikan oleh guru.


"Sayang aku baru inget, besok ada ulangan Matematika, ajarin aku dong," pinta Al.


"Boleh, belajarku juga sudah selesai,"


Icha mengajari Al belajar Matematika, menerangkan yang belum dipahami oleh Al. Mereka larut dalam kesibukan belajar.


"Akhirnya, semoga besok aku bisa jawab soal yanh diberikan Bu Sherly," ucap Al setelah menyelesaikan belajarnya.


"Udah malam, kita tidur yuk sayang," Al mengajak Icha untuk tidur.


"Aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Icha lalu dia bergegas menuju kamar mandi.


Setelah sepuluh menit tapi Icha tak kunjung keluar dari kamar mandi, Al khawatir lalu dia mendekati pintu kamar mandi.


"Sayang kamu kok lama banget kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Al khawatir.


Icha yang berada di dalam kamar mandi bimbang, dia malu jika harus meminta tolong pada Al.


Karena tak kunjung ada jawaban Al kembali bersuara. "Sayang, kamu gak apa-apa kan? Ayo jawab, kalo nggak aku dobrak pintunya!" Seru Al


"Eh jangan!"


Icha membuka pintu kamar mandi dan menampakkan kepalanya saja.


"Al tolong ambilkan pembalut di laci palinga bawah ya, sama handuk," pinta Icha dengan malu-malu


"Kenapa gak bilang dari tadi? Aku kan jadi khawatir sayang," ucap Al lalu dia memutar badan untuk mengambilkan pembalut yang Icha minta.


Al mencari benda yang dimaksud oleh Icha tapi tidak menemukannya disana, dia sudah cari kesemua laci yang ada ternyata tidak ada juga.


"Gak ada sayang, sepertinya habis deh," ucap Al lalu dia berjalan mendekati keberadaan Icha.


"Yah gimana dong? Kamu beliin ya sayang please," Icha memohon.


"Biar aku suruh Bibik aja yang beliin," Al akan meninggalkan Icha tapi dia urungkan kala Icha berucap.


"Jangan sayang, Bibik tadi bilang lagi gak enak badan, ini juga sudah larut malam kan?" Ucap Icha sambil menunjuk jam dinding, supaya Al tahu ini sudah jam berapa.


"Harus aku berarti? Aku gak ngerti seperti itu Cha," keluh Al.


"Yaudah kalo kamu gak mau beliin, biar aku beli sendiri," ucap Icha kesal, dia melangkahkan kakinya keluar kamar mandi.


Al mengikuti Icha yang sedang mencari baju di lemari. Lalu dia memegang pundak Icha.


"Biar aku saja yang beli, ini sudah malam kamu tunggu disini, udah jangan ngambek lagi," ucap Al dengan tersenyum, Icha dengan terpaksa membalas senyuman Al.


Al dengan terpaksa membelikan apa yang dibutuhkan oleh Icha, meskipun dia tidak tau bentuknya seperti apa. Eh kenapa gak tanya dulu pikir Al ketika baru melangkah beberapa langkah. Dia pun berbalik menghampiri Icha.


"Bendanya seperti apa Cha?" tanya Al sebelum Icha bertanya dulu.


"Nanti kalo kamu sudah sampai sana telfon aku, biar aku kasih tau seperti apa," tutur Icha.


"Baiklah, aku pergi ya," pamit Al.


Icha mengangguk lalu berkata, "Makasih sayang,"


Bersambung..........