
"Al kita harus cari Icha, aku bantuin nyari," putus Nayla, dia juga khawatir dengan keadaan sahabatnya.
Pikiran Al kacau, dia teringat dengan ucapan Papa Martha tadi siang, sekarang tujuannya menemui Martha.
"Ayo ikut gue," titah Al.
Tanpa pikir panjang Nayla langsung masuk kedalam mobil Al. Dia lupa jika saat ini mengenakan piyama bergambar doraemon.
"Mau kemana cari kemana Al?" tanyanya pada Al.
"Kerumah Martha, gue yakin dia tahu," ucap Al penuh keyakinan.
Saat perjalanan menuju rumah Martha, Nayla melihat seseorang yang dikenalnya.
"Stop Al, itu." Nayla menunjuk sesorang yang berada di luar mobil mereka, setelah Al memberhentikan mobilnya.
"Kita minta bantuan dia buat cari Icha juga, gimana? Biar cepet ketemu, kesampingkan ego dan cemburumu dulu Al, kasian Icha kan?"
Benar apa kata Nayla, dia gak mungkin mencari Icha hanya berdua saja, dia butuh teman lagi supaya Icha cepat ditemukan.
Tanpa pikir panjang, Al pun menghampiri orang itu. Dia sedang berdiri bersandaran mobil didepan sebuah minimarket. Sudah dipastikan dia sedang mengantar Mamanya atau Adiknya.
"Yan, gue minta tolong," ucap Al ketika sudah berada didepan orang itu yang tak lain adalah Alvian.
Alvian mendongak saat mendengar seseorang berbicara dengannya, karena sedari tadi dia memainkan ponselnya.
"Al, minta tolong apa?" tanyanya penasaran.
"Tolong bantuin gue cari Icha, Icha hilang entah kemana? Lo mau kan bantu gue?"
"Hilang!" Alvian terkejut mendengar penuturan Al.
"Gue akan bantu lo cari dia, sebentar gue telfon adek gue dulu," Alvianpun menelfon adiknya, entah apa yang merka bicarakan.
Tak lama adik Alvian keluar dari mini market itu.
"Dek kamu mau pulang apa ikut Kakak cari teman Kakak?" tanya Alvian setelah adiknya berada didepannya.
"Pulang aja Kak,"
"Oke kalo gitu, pesen taksi aja, ini Kakak kasih buat ongkos." Alvian menyodorkan dua lembar uang ratusan ribu.
Setelah mendapatkan uang dari Alvian, dia pun pergi.
"Gue mau ke rumah Martha dulu, gue yakin dia tahu soal hilangnya Icha," ucap Al, dia mencurigai Martha.
"Gue ikut, kesana juga,"
Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah Martha. Karena Al curiga dengan gadis itu, kalau memang benar Martha tahu, Al tidak akan memaafkan gadis yang pernah jadi kekasihnya itu.
Setengah jam mereka baru sampai di rumah Martha. Ketiganya masuk setelah dibukakan pintu gerbang oleh satpam, lalu mereka memencet bel rumah Martha.
Pas sekali yang membukakan pintu orang yang mereka cari.
"Tha dimana Icha? Kamu pasti tau kan!?" ucap Al emosi.
Martha terkejut, saat Al langsung membentaknya.
"Apa maksud kamu? Aku gak tau dimana Icha, kenapa kamu menuduhku seperti itu Al? Apa aku seburuk itu dimatamu?" Martha tidak terima dituduh oleh Al.
"Terus siapa lagi? Kata Icha kamu bilang mau berteman dengannya, tapi setelah kejadian itu Icha hilang, siapa lagi kalau bukan kamu!" Al masih saja emosi.
"Tenang Al, aku yakin Martha tidak tahu apa-apa," Nayla menenangkan suami sahabatnya itu.
Al menghela nafas, dia sadar semuanya kalau di hadapi dengan emosi pasti akan tambah runyam. Dia gak bisa berfikir jernih, pikirannya sekarang dimana istrinya, dia khawatir terjadi sesuatu pada gadisnya itu.
"Al aku baru inget sesuatu, tadi kamu bilang Icha mengirim pesan ke kamu kalau dia mau ke rumahku kan? Tapi setelah sekolah tadi dia menyuruhku pulang dulu, karena dia di panggil Bu Melinda untuk membantu membersihkan gudang. Icha juga berpesan supaya bilang sama kamu kalo aku ketemh kamu, apa mungkin ...." Ucapan Nayla terjeda ketika teringat sesuatu.
"Astaga!" Seru Nayla setelah teringat kejadian tadi siang.
Mereka bertiga tampak bingung, dengan apa yanga di pikirkan oleh Nayla.
"Sekarang kita cari Icha di sekolahan, aku yakin pasti ada yang sengaja menjebak Icha," ucap Nayla, dia tak sabar dan segera berlari kedalam mobil Al.
Tiga orang itu malah masih terpaku ditempat.
"Ayo cepetan, kasian Icha!" teriak Nayla saat akan masuk mobil.
"Aku juga ikut," Martha menawarkan diri untuk ikut mencari Icha.
"Al sabar, pelan dikit napa? Aku belum mau mati!" Teriak Nayla.
Tapi Al tak menggubrisnya, dia tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Untung saja jalanan tidak begitu ramai, jadi Al lebih leluasa menguasai jalan.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di depan gerbang sekolah. Gerbang itu terlihat sudah di kunci, tapi mereka tahu didalam masih ada penjaga sekolah.
Al turun dari mobil dengan tergesa-gesa.
"Pak, Pak, Pak, tolong bukain gerbangnya!" Teriak Al sambil menggoyang-goyangkan pintu gerbang.
Dari arah dalam, terlihat seseorang lelaki paruh baya menghamipiri mereka dengan sedikit berlari.
"Ada apan Den? Ini sudah malam, mau ngapain masuk kedalam sekolahan?" tanyanya.
"Tolong buka dulu Pak!" Al masih saja berteriak, dia belum bisa mengendalikan emosinya. Pikirannya kacau, takut terjadi sesuatu dengan Icha.
"Pliss bukak Pak, teman saya masih di dalam sana," kini Nayla yang memohon.
"Kalian yakin?" tanya satpam itu.
"Yakin banget Pak,"
Pak satpam pun membukakan pintu gerbang, mereka berempat masuk kedalam sekolahan, diikuti oleh satpam itu.
"Coba kita lihat ke kelasku dulu apakah tas Icha masih disana atau tidak, kalau masih disana berarti benar dugaanku, kalau Icha di kunci di gudang," papar Nayla, mereka pun berjalan kearah kelas Icha.
Al sedikit berlari, dia sudah tak sabar ingin menemukan Icha.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di kelas Icha. Betapa terkejutnya mereka saat tahu bahwa tas Icha ada di dalam kelas. Al memeriksa tas Icha, ternyata ponselnya ada di dalam tas.
"Kurang ajar! Siapa yang berani melakukan ini!" Geram Al, dia langsung menyambar tas Icha lalu dia berlari menuju gudang sekolah. Diikuti oleh yang lainnya.
Samapai gudang, dia langsung menggedor-gedor pintu gudang itu, karena tidak ada kuncinya disana.
"Icha sayang, apa kamu didalam sana!" Teriak Al.
"Tolong aku Al!" Ternyata benar, Icha ada didalam gudang itu.
"Pak mana kunci gudangnya?" suara Al sedikit meninggi, dia sudah tidak perduli berhadapan dengan siapa sekarang, ucapannya tidak ada sopan-sopannya pada orang yang lebih tua, karena dia panik.
"Maaf Den, saya gak punya kunci gudang, karena biasanya kuncinya menggantung disini, kalo tidak berarti ada yanh bawa," jelas satpam tersebut.
"Dobrak aja Al," ucap Alvian yang tak kalah paniknya.
"Iya dobrak aja, kasian Icha," timpal Nayla, sedangkan Martha mengangguk mengiyakan.
"Iya dobrak aja Den, ini jalan satu-satunya, biar saya bantu," satpam itupun menyetujuinya.
"Sayang kamu menjauh dari dekat pintu, biar kami dobrak!" Teriak Al supaya Icha menjauh dari dekat pintu.
Mereka bertiga berusaha mendobrak pintu gudang tersebut.
Bruak
Bruak
Bruak
Dobrakan ketiga pintu pun terbuka,
.
.
.
Bersambung.......
Jangan lupa like dan komen ya.
Gimana kalau sehari saya up satu episod aja? Karena mau lanjutin Perjuangan Cinta, novel yang satunya lagi.
Aku juga punya dua novel lagi di aplikasi lain yang juga Hiatus🤭 Karena fokus sama novelku ini.
Gimana kalo aku update satu aja setiap hari, setuju nggak?
Padahal aku juga seringnya update satu epispde ya🤭🤫