Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 61


"Minta kado apa dari Papa dan Mama Cha?" Bayu bertanya pada putrinya, karena jujur dia belum terfikirkan untuk membeli kado buat putrinya.


"Gak usah Pa, yang penting Papa dan Mama doakan kami langgeng, sampai maut memisahkan kita," Icha memang tidak menginginkan apa-apa.


"Kalu itu pasti Papa sama Mama selalu mendoakan kalian. Beneran gak mau kado?" Bayu memastikan.


"Bener Pa,"


"Oke, Papa akan kasih kado buat kalian liburan di luar negeri, tapi nanti setelah lulus ujian, biar nggak ada beban saat liburan," Bayu berfikir akan lebih baik mereka diberi kado buat liburn berdua.


"Makasih Pa," jawab Al dan Icha secara bersamaan.


Mereka hanya tinggal berlima, sedangkan yang lain sudah lebih dulu pulang. Farhan mengantar kekasihnya pulang kerumah, sedangkan Alvian dan Nayla juga sudah pulang lebih dulu.


"Ayo pulang, ini sudah malam, kalian harus sekolah juga kan besok?" ajak Bayu pada mereka.


Mereka pun pulang kerumah masing-masing.


"Kamu nggak ngasih kado buat aku? Yang lain pada ngasih semua," ucap Icha dengan manja, dia bergelayut dilengan Al, sambil menyenderkan kepalanya dipundak suaminya itu.


Kini keduanya sedang berada didalam mobil berjalan menuju kediaman mereka.


"Nanti, aku kasih kadonya dirumah ya." Al menoleh sebentar kearah Icha yang masih setia menempel seperti prangko.


Icha tersenyum dan mengangguk, "Iya sayang," jawabnya.


"Kamu tumben banget manja gini?" Al heran dengan kelakuan Icha yang tidak seperti biasanya.


"Aku kangen sama kamu, seharian di cuekin. Kamu tega banget," jawabnya dengan manja.


"Maaf ya sayang, aku kan tadi udah bilang, kalu sebenarnya aku berat banget ngelakuin itu, tapu ya gimana lagi. Maaf sekali lagi ya, buat kamu nangis," Al meminta maaf, karena dia sudah keterlaluan tadi pagi.


"Iya sayang, tapi jangan gitu beneran ya? Aku gak akan kuat,"


"Iya sayang, aku janji gak akan seperti itu, aku cuma sayang sama kamu," Al menoleh sebentar, karena posisinya masih nyetir.


"Makasih sayang," Icha tersenyum saat Al menoleh kearahnya.


Tak lama keduanya pun sampai dirumah, mereka langsung naik ke atas, karena waktu memang sudah malam. Rumah juga sudah sepi, lampu-lampu utama juga sudah dimatikan.


"Mana kadonya sayang?" tanya Icha setelah mereka masuk kedalam kamar.


Icha duduk ditepi ranjang, disusul oleh Al. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Terlihat sebuah kota perhiasan berwarna biru.


Al membuka kotak itu dan mengambil isinya.


"Cincin pernikahan kita diganti ini ya, karena ini aku beli dari hasil keringatku sendiri, kalau yang itu kan dari Mama," ucap Al setelah memperlihatkan isi kotak itu. Terlihat cincin dengan permata berlian diatasnya.


Icha tersenyum bahagia, "Iya gak apa-apa," ucapnya.


Lalu Al meraih tangan Icha, melepas cincin yang dulu pernah dia pasang saat acara pernikahannya mengganti dengan yang baru.


"Pas banget dijariku. Kamu kok bisa tahu ukutan jariku sayang?"


"Aku kan suami kamu, ya mesti tau dong," jawab Al dia mengambil sebuah cincin lagi yang masih ada didalam kota itu, lalu menyerahkan pada Icha.


Icha pun melakukan hal yang sama, melepas cincin dari kari Al dan memakaikan cincin yang baru. Setelah selesai lalu dia memeluk erat suaminya.


"Makasih sayang," ucapnya.


Al mengangguk, lalu dia membisikkan sesuatu di telinga Icha, entah apa yang dia bisikkan sampai membuat Icha melepaskan pelukannya dan menatap Al penuh tanda tanya.


Seakan mengerti apa yang dimaksud Icha dengan tatapannya, "Sebentar lagi kita kan ujian, jika kamu hamil pun gak akan terlihat, kan?," Al memgang pundak Icha yang masih menatapnya. "please sekali ini aja ya, apa kamu gak kasihan sama aku sayang?" tambahnya, dia memohon sampai membuat Icha tak tega jika tidak mengiyakan keinginan suaminya.


Icha tersenyum, lalu dia mengangguk sebagai jawaban. Dia sadar ini adalah kewajibannya untuk memenuhi hak suaminya. Jika menolak dia juga akan berdosa.


Selama beberapa bulan ini Al telah bersabar untuk tidak meminta haknya, tapi entah mengapa malam ini dia ingin meminta haknya sebagai suami.


Tanpa aba-aba Al langsung membekap mulut Icha dengan bibirnya. Dia mengankat tubuh Icha dan membaringkan di atas ranjang, tanpa melepaskan pagutannya. Dan posisinya kini Al sudah berada diatas Icha. Dia bisa malihat jelas wajah istrinya, yang memejamkan mata saat bercumbu dengannya.


Tangannya terulur untuk melepaskan jibab yang instrinya kenakan, dia buang kesembarang arah saat berhasil melepaskannya. Tangannya beralih untuk melepaskan pakaian yang dipakai oleh Icha, hingga tak ada satu pun kain yang menepel ditubuh mungil itu. Al menelan salivanya saat melihat semua yang ada di depan matanya, dia segera melahap semua ada dipandangan matanya.


Icha hanya pasrah menerima semua yang dilakukan oleh Al, dia malu sebenarnya karena kini dirinya sudah polos. Lalu tangannya tanpa permisi membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan oleh suaminya.


Al yang menyadari itu, dia langsung membuka satu persatupakaian yamg dia kenakan dan membuangnya kesembarang arah, bernasip sama seperti pakaian Icha.


Al kembali melakukan aktifitasnya, dia menyusuri seluruh lekukan tubuh istrinya tanpa terkecuali, mengabsen satu persatu dengan bibirnya. Tangannya tak henti-henti memainkan buah kembar istrinya. Disekitar dada Icha terlihat banyak lukisan berwarna merah kebiruan yang diciptakan oleh Al.


Rintihan yang Icha keluarkan dari bibirnya, membuat Al lebih bersemangat untuk melakukan lebih. Keduanya semakin memanas dengan hasrat yang sudah tak terbendung, menimati setiap sentuhan yang diberikan.


"Sayang aku mulai ya, ini akan sedikit sakit kamu harus menahannya," ucap Al ditengah kegiatan panas mereka. Karena ini pertama kali bagi mereka jadi Icha pasti akan merasakan sakit dan Al tahu itu.


Icha hanya mengangguk pasrah, dia juga sudah dikuasai oleh hasrat yang memuncak.


Al mulai menerobos kedalam inti Icha dengan sangat pelan dan lembut.


"Akhhh sakitt....." Icha mencengkram kuat punggung suaminya, tetapi Al tidak merasakan cengkraman dari kuku-kuku Icha. Dia fakus dengan kegiatan yang dia lakukan. Mungkin nanti dia akan merasakan perih dipunggungnya karena cakaran yang diberikan oleh Icha.


Al berhasil membobol gawang Icha. Dia semakin menjadi setelah berhasil membobol pertahanan Icha, sedangkan Icha hanya pasrah, dia sudah tidak merasakan perih di bagian intinya. Hanya ada kenikmatan yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya.


Hingga akhirnya mereka sama-sama mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara. Peluh menetes, padahan di dalam kamar itu ada AC yang menyala, tetapi itu tak berpengaruh sama sekali.


Al menjatuhkan dirinya disamping istrinya, menarik tubuh polos istrinya kedalam dekapannya, dia mengecup seluruh wajah istrinya. "I Love you sayang, terimakasih." Ucapnya sambil memandang wajah istrinya yang memerah karena malu.


"I love you too sayang,"


"Mau tidur apa mau diulang lagi?" tanya Al, dia masih mendekap tubuh Icha erat.


Icha mendongakkan wajahnya menatap suaminya, dia tersenyum dan tidak mengucapkan sepatah katapun.


"Kenapa mau lagi?" tanya Al dengan tersenyum menggoda.


Wajah Icha kembali berubah memerah, karena godaan dari suaminya. "Terserah kamu," jawabnya dengan manja. "aku haus sayang, mau minum," keluh Icha.


"Kamu disini saja, biar aku yang ambil dibawah ya," ucap Al, lalu dia turun melepaskan pelukannya, menutup tubuh polos Icha dengan selimut, dia memungut celanannya lalu mengenakannya, kemudian dia berjalan keluar kamar menuju dapur.


Bersambung.........