Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 56


Seminggu berlalu, kedua orang tua Icha telah kembali dari Singapura. Selama seminggu itu Al dan Icha selalu tidur dirumah keluarga Icha, karena pesan dari Mamanya supaya mengawasi Raffa.


Selama seminggu ini juga Martha seakan menjauh dari Icha dan Al, entah apa yang dia pikirkan dan rencanakan. Itu membuat Al sedikit lega, karena sikap Martha itu.


Dan kini mereka sedang berada di bandara untuk menjemput Papa dan Mama Icha. Karena ini hari minggu jadi mereka bisa menjemput kedua orang tuanya. Farhan tidak pulang hari ini, karena dia masih ada urusan disana.


Icha dan Al menghampiri Papa dan Mamanya yang sudah menunggu di kursi tunggu.


"Udah lama nunggunya Pa, Ma?" tanya Icha setelah sampai didepan kedua orang tuanya.


"Belum, baru lima menit yang lalu kita sampai," jawab sang Mama.


Al dan Icha meraih tangan kedua orang tua mereka untuk dicium.


"Ayo kita pulang sekarang," ajak Papanya.


Mereka pun pulang kerumah Icha, dengan Al yang mengendarai mobilnya.


Beberapa saat berlalu, mereka pun sampai dirumah orang tua Icha, dan disambut oleh Raffa yang tadi sengaja tidak ikut serta ke bandara.


"Ma, kangen." Raffa menubruk Mamanya, dia memeluk Mamanya dengan erat.


"Dek kamu tuh anak cowok, udah besar pula, jangan manja gitu dong sama Mama," protes Icha saat melihat adiknya manja dengan Mamanya. Raffa mendelik, tapi dia tidak mengucapkan apa-apa, hanya mengibarkan bendera perang.


Bayu tahu jika seperti itu maka akan terus berlanjut. "Sudah, gak usah ribut, Papa sama Mama baru saja pulang malah kalian ribut," titahnya, yang mana membuat Icha dan Raffa bungkam.


Mereka menuju ruang keluarga, duduk disana untuk istirahat.


"Gimana kabar Mamaku Pa, Ma?" sejak tadi pertanyaan itu yang ingin Al lontarkan.


Kedua mertuanya saling pandang, "Doakan semoga Mamamu cepat diangkat penyakitnya. Karena kata dokter penyakit Mamamu cepat sekali menyebarnya, jadi kita harus banyak-banyak berdoa supaya Allah mengangkat penyakit itu, kamu yang sabar ya, dan jangan panik, untuk sekarang kamu harus belajar yang rajin supaya lulus dan setelah lulus kalian boleh kesana," ucap Papa Bayu.


Al menunduk, dia sedih mendengar penjelasan Papa mertuanya, karena selama ini Mamanya selalu bilang baik-baik saja, perkembangannya juga baik, seperti itu yang selalu diutarakan Mamanya. Tapi kenyataannya lain, justru sebaliknya.


Icha mengelus punggung suaminya, "Kamu yang sabat ya sayang, yakinlah Mama pasti sembuh, kita berdo'a sama-sama untuk kesembuhan Mama." Icha masih setia mengelus punggung suaminya.


Al mengangkat wajahnya, dia menatap wajah Icha. Lalu tersenyum dan mengangguk, "Iya makasih ya sayang," ucap Al lalu dia memeluk Icha, ingin menenagkan dirinya dalam dekapan istri tercintanya.


Kedua orang tua Icha tersenyum melihat interaksi antara anak dan menantunya. Meskipun mereka masih remaja, tetapi mereka bisa menenangkan satu sama lain. Dan mereka bisa melihat pancaran cinta yang begitu kental diantara keduanya.


Al melepaskan pelukannya, saat teringat disana tidak hanya ada dia dan Icha saja, tetapi ada mertuanya juga adik iparnya.


"Maaf Pa, Ma, aku terlarut dalam kesedihan," ucapnya menunduk.


"Tidak masalah Al, Mama ngerti perasaanmu seperti apa, Mama juga merasakan hal yang sama. Yang penting doakan Mamamu, kita semua akan mendoakan untuk kesembuhan Mamamu juga," tutur Sinta dia menatap menantunya dengan tatapan lembut.


"Makasih ya Ma, aku beruntung punya kalian semua, aku gak bisa bayangin kalau gak ada Icha , Mama dan Papa,"


"Ini semua sudah jalannya Al, berterimakasihlah sama yang Maha Kuasa," Mama Sinta memberi petuah.


"Iya Ma,"


Obrolah mereka berakhir, karena waktu sudah sore. Icha dan Al pun memutuskan untuk pulang kerumah Al, karena sudah ditinggal selama satu minggu. Al juga merasa tidak enak jika lama-lama tinggal bersama mertuanya, karena akan lebih nyaman jika tinggal hanya dengan istrinya saja, lebih leluasa akan melakukan hal apapun.


Menjelang maghrib mereka baru sampai rumah, mereka lebih dulu mandi lalu melaksanakan sholat maghrib berjamaah.


"Sayang, kita makan diluar aja ya malam ini, aku ingin makan berdua sama kamu diluar," ucap Al setelah Icha menyalami tangannya setelah sholat, mulutnya masih komat-kamit melantunkan dzikir.


Icha mengangguk, "Iya sayang, sepertinya bahan makanan juga habis, karena Bibik aku kasih uang belanja hanya untuk satu minggu." Ucap Icha sambil melepas mukena yang bertengger ditubuhnya.


Mereka berdua telah selesai bersiap, kini keduanya menuruni anak tangga. Mereka terlihay seperti sepasang kekasih yang akan berkencan, pasti tidak ada yang menyangka jika keduanya itu suami istri, karena mereka masih remaja.


Mereka memasuki mobil, menuju tempat yang mereka inginkan. Tak lama mereka pun sampai di tempat yang mereka tuju.


Al sengaja memesan ruangan private supaya kemesraan mereka tidak ada yang mengganggu. Mereka berdua memasuki ruangan tersebut, dan di ikuti oleh pelayan.


Setelah mencatat semua pesanan mereka pelayan itu pun keluar lagi.


Tak lama ada dua pelayan yang membawakan pesanan mereka, lalu menatanya didepan meja Al dan Icha. Setelah semua tertata dengan rapi dimeja, mereka berdua lantas menyantap makanan yang ada di atas meja tanpa sisa karena mereka benar-benar lapar.


Mereka makan saling menyuapi, karena Al yang memintanya, katanya supaya makannya lebih bersemangat.


"Sayang, apa kamu suka makan disini?" tanya Al setelah menyelesaikan makanan mereka.


Icha mengangguk, "Suka, makanannya enaklah, makanan khas negara kita semua,"


"Ini restoran langganan Mama waktu sebelum sakit, aku sering diajak kesini sama Mama dan Papa dulu. Makanya aku ajak kamu kesini juga," ucap Al.


"Makasih ya sayang,"


"Iya sama-sama. Setelah ini kita mau kemana lagi? Aku akan mengantar kamu kemanapun yang kamu mau sayang,"


"Sepertinya belanja kebutuhan dapur aja Al, gak ada yang lain sih," timpal Icha.


"Gak mau kemana dulu gitu? Kita habiskan malam ini dengan bersenang-senang misalnya," Al mwmberikan opsi.


"Gak usah." Jawab Icha sambil menggeleng.


Mereka pun keluar dari restoran itu, sebelumnya keluat Al lebih dulu membayar makanan mereka.


Jarak antara restoran dan supermarket tidak begitu jauh, jadi mereka dengan cepat sampai ke supermarket tersebut.


Al mengikuti Icha yang berbelanja lebutuhan dapurnya, Al yang membawakan troli berjalan sambil mengekori Icha.


Sedangkan Icha memilih-milih beberapa bahan makanan yang mereka butuhkan.


"Sayang mau buah apa?" tanya Icha saat keduanya berada didekat sekumpulan buah-buahan.


"Alpukat, yang lain terserah kamu sayang, aku suka semua," jawab Al. Al memang menyukai jus alpukat.


"Oke,"


Setelah selesai mereka membayar semua belanjaan dikasir dan membawa belanjaan itu pulang kerumah. Terlihat Al membawa beberapa kantong plastik ditangannya, tak luput Icha pun sama.


Saat akan kelaur supermarket, tanpa sengaja Al melihat seorang gadis dan seorang pemuda yang dikenalinya.


"Kenapa mereka bisa bersama?"


.


Bersambung.........


Hayo siapa itu?


Jangan lupa like dan komennya yah, makasih...