
Bel istirahat berbunyi, sesuai janji mereka saat tadi berkirim pesan, Al mengajak Icha istirahat ditaman belakang sekolah seperti waktu itu. Karena hari ini Icha membawa bekal dan itu sesuai permintaan Al juga.
Al menyuruh Icha kebelakang sekolah dulu, karena dia beralasan ada urusan sebentar, entah apa itu urusannya sampai meminta Icha untuk pergi sendirian.
Icha duduk di bangku yang biasa dia duduki bersama Al, dia menunggu Al datang.
Icha mengernyit saat yang datang bukan Al, malah orang lain. Dan tanpa permisi orang itu duduk disamping Icha yang biasanya ditempati oleh Al.
"Kamu kenapa sendirian disini Cha?" tanya orang tersebut.
"Aku nungguin Al, gak tau kenapa lama sekali. Kenapa kamu kesini? Jangan duduk disini, nanti Al salah paham sama kita, mana disini sepi sekali," Icha waspada takut-takut Al beneran datang. Lalu dia ingin beranjak pergi, tetapi tangannya lebih dulu ditarik oleh Alvian, ya orang tadi adalah Alvian.
Lalu Alvian berdiri menjajarkan dirinya dengan Icha tanpa melepas pegangannya.
Saat Icha akan melepaskan tangannya, tiba-tiba suara seseorang mengejutkan mereka.
"Apa yang kalian lakukan disini? Berdua lagi? Kamu mau coba-coba deketin Icha lagi iya!" seru Al, rahangnya mengeras terlihat jelasbraut kemarahan diwajahnya.
Lalu dia mendekat kearah keduanya. Al terlihat sangat marah, apalagi dia sempat melihat Alvian memegang tangan Icha, sebelum gadis itu menghempaskannya.
"Kamu juga kenapa mau seenaknya disentuh laki-laki lain, hah!" Al marah.
Deg
Icha tak pernah melihat Al semarah itu dan bicara kasar seperti itu padanya. Hatinya bergetar kala mendengar terikan Al, air matanya menetes tanpa permisi.
"Sayang, kamu salah paham," Icha mengiba, tangannya terulur untuk menyentuh tangan Al, tetapi dengan cepat Al menghindarinya.
"Apanya yang salah paham? Bahkan aku lihat sendiri kalian tadi berpegangan tangan, berdua disini? Jelaskan mana yang salah paham?" suaranya sudah sedikit merendah, tetapi emosi masih menguasai hatinya.
"Al bener kata Icha, gue gak sengaja tadi," Alvian mencoba membela dirinya.
"Sejak kapan kalian bohongi aku seperti ini? Cha bilang saja kalau kamu sebenarnya suka sama dia, gak usah sok pura-pura. Aku kecewa sama kamu Cha," setelah mengatakan itu Al pergi, Icha pun mengejarnya, dia belum sempat menjelaskan apa-apa, tetapi Al sudah terlanjur marah.
"Sayang, dengerin aku dulu, please," Icha mengiba, dia memohon pada Al supaya mau mendengarkannya. Tetapi Al tidak merespon sama sekali ucapan Icha.
Icha mencoba memeluk lengan Al, dia tidak malu meskipun banyak yang menyaksikan keduanya. Tetapi Al dengan kilat melepaskan pelukan tangan Icha dilengannya. Dia terlihat masih marah besar, atas kejadian barusan.
"Sayang, kenpa kamu gak mau denger penjelasanku?"
Al hanya menoleh sekilas dengan tatapan menakutkan, dia enggan untuk menjawab pertanyaan Icha.
"Kamu salah faham Al, tadi gak seperti yang kamu lihat sayang, ayolah dengarkan aku dulu." Air mata Icha sudah menetes sejak tadi, sejak dia dibentak oleh suaminya yang selalu menghangatkannya.
Al tetap tak menggubris, seakan kesalahan Icha amat fatal.
Icha tetap mengikuti kemana pun Al melangkah, bahkan Al sekarang melangkah kearah kelasnya, tetapi Icha tak peduli itu.
Al menduduki bangkunya, lalu tangannya dengan sengaja menghentakkan meja dengan kasar.
Icha yang melihat itu terkejut, dia tetap melengkah mendekat kearah Al.
"Sayanh dengerin aku dulu ya please," Icha memohon supaya Al mau mendengarnya. Entah sudah berapa kali dia memohon pada suaminya.
"Pergi," hanya itu yang keluar dari bibirnya.
"Aku gak mau pergi, sebelu kamu mau dengerin penjelasanku Al," Icha tetep kukuh dalam pendiriannya.
"Pergi!" kali ini Al mengusir Icha dengan suara yang lebih tinggi.
Icha menggeleng, "Gak mau," ucap Icha.
Icha keras kepala dia tetap tak mau pergi dari sana.
Braak
Al menggebrak mejenya, dia geram terhadap Icha karena tidak mau pergi dari kelasnya.
Icha terkejut melihat kelakuan Al yang seperti itu dengannya, tangisnya semakin deras karena mendapat perlakuan seperti itu dari Al.
"Aku akan pergi, kamu jangan menyesal," ucap Icha lalu dia melangkah keluar dari kelas Al.
Pertengkaran mereka banyak yang menyaksikan, termasuk Martha. Dia tersenyum ketika melihat kedunya yang biasanya mesra dan adem ayem, kini justru bertengkar hebat. Bahkan saat bersama Martha Al tak pernah semarah itu dengannya.
"Bagus kalau kalian seperti itu, ada kesempatan buat aku dekat dengan Al lagi," gumam Martha dalam hatinya, saat mendapati Icha keluar dari kelas Al dengan leleran air mata.
Icha melangkahkan kakinya dengan gontai menuju kelasnya, dia tidak bersemangat lagi untuk belajar. Hati dan pikirannya kacau, karena Al membentaknya tadi. Seakan separuh hidupnya lenyap dibawa arus sungai yang deras.
Icha menangis disaksikan banyak pasang mata yang dia lewati. Mereka berbisik-bisik tentang Icha yang tadi memohon-mohon pada Al. Ada yang bilang kasian sama Icha, ada yang justru bahagia karena Icha sepertinya sudah dilupakan oleh Al. Ada yang bilang Icha telah menjadi korban Al. Icha tak menggubris semua pembicaraan mereka tentang dirinya dan Al.
Dia masuk kedalam kelas dan langsung memeluk Nayla sahabatnya.
"Kenapa nangis Cha?" Tanya Nayla sambil mengelus rambut Icha yang tertutup kerudung.
"Al, Nay. Al," ucap Icha terbata karena dia masih menangis.
"Kenapa Al Cha?" tanya Nayla heran.
"Al salah paham, dia marah sama aku Nay, dia gak mau dengerin penjelasanku," jawab Icha dengan terbata-bata, karena tangisnya belum juga reda.
"Yang sabar Cha, mungkin saat ini Al masih emosi, jadi dia tidak mau dengerin penjelasanmu. Udah diem ya, ntar dilihat guru gimana?" tutur Nayla, karena bel masuk sudah berbunyi.
Tangis Icha sedikit terhenti, dia sadar ini disekolah tidak seharusnya dia seperti itu.
"Ayo aku antar ketoilet, basuh muka kamu," ajak Nayla, Icha pun mengangguk sebagai tanda setuju.
Mereka ketoilet bersama, Nayla tidak membiarkan Icha sendirian karena dia takut terjadi apa-apa dengan sahabatnya itu.
Setelah selesai mereka pun kembali ke kelas, ternyata guru belum masuk ke kelas mereka.
Terdengar getaran ponsel yang berasal dari saku rok Icha, lalu dia mengambilnya. Icha membuka pesan, dia tersenyum saat melihat Al yang mengirim pesan padanya, tetapi senyumnya hilang ketika membaca pesan itu.
"Kenapa lagi Cha?" Nayla penasaran melihat raut wajah sahabatnya berubah sedih lagi.
"Al ngirim pesan ke aku, dia bilang kalau aku gak boleh ikut ke kantor hari ini, dia masih marah sama aku Nay. Dia juga bilang kalau aku disuruh nginep dirumahmu malam ini," terlihat raut sendu diwajah Icha.
"Kasih Al waktu ya Cha, semoga dia berubah dan mai dengerin penjelasan kamu, yang sabar ya." Nayla mengelus-elus pundak Icha.
Icha mengangguk, dia tak kuasa berkata apa-apa. Rasanya sakit diperlakukan seperti ini oleh suaminya. Rasanya dia ingin mendatangi Mamanya menceritakan semua tetapi tidak mungkin, dia tidak mau Mamanya berperasangka buruk terhadap Al.
"Udah Cha, nginep dirumahku juga tidak masalah kan? Tenangkan dirimu, Al juga pasti butuh ketenangan Cha," tutur Nayla, dia tak tega juga melihat sahabatnya dirundung pilu.
"Iya Nay, makasih ya,"
Bersambung......
Jangan lupa like dan komennya yah.
Apa yang akan kalian katakan?
Kalian ikut marah juga dengan Al atau justru marah dengan Icha?