
Tok
Tok
Tok
Suara pintu di ketuk dari luar, samar-samar Al mendengar seseorang berteriak dari luar kamar.
"Kak, ayo turun makan malam, sudah di tunggu Mama Papa," Al hafal itu suara adiknya.
Dia turun dari ranjang dengan hati-hati, melangkah kearah pintu lalu membukanya.
Hoam
Menguap, menutup mulutnya dengan salah satu tangan, "Iya Fa, bentar ya, duluan aja sana," ucap Al.
"Ck ck ck, kalian berdua habis maghrib bukanya mengaji malah tidur," Raffa mengomel, dia membalikkan badannya sebelum Al menimpali ucapannya.
Al masuk kedalam kamar kembali, dia bermaksud membangunkan sang istri, tapi melihat Icha yang begitu nyenyak dia pun tak tega membangunkannya. Memilih ke kamar mandi sebelum turun untuk makan malam.
Saat akan turun untuk makan malam, Al kembali melihat Icha yang masih nyenyak dalam mimpinya, dia pun memutuskan untuk makan malam lebih dahulu, biarkan Icha makan saat nanti dia terbangun.
Sampai di ruang makan, menyapa kedua mertuanya juga Kakak dan adik Iparnya, lalu duduk.
"Icha enggak turun Al?" tanya sang Mama mertua.
"Tidur nyenyak banget Ma, aku enggak tega banguninnya," Mama mertuanya hanya mengangguk, dia tahu wanita hamil itu mudah lelah dan mudah mengantuk.
"Yaudah biarkan saja Icha, biar dia makan sendiri nanti, sekarang kita mulai makan aja," titah sang Papa mertua.
Mereka pun makan malam tanpa Icha. Makan dalam keheningan, hanya dentingan sendok yang berbunyi.
Selesai makan, Al tak kembali ke kamar, dia memilih dudu di ruang keluarga bersama kedua mertunya. Membicarakan bisnis dan lain sebagainya.
Icha terbangun dari tidurnya, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih, turun dari ranjang lalu ke kamar mandi, dia berwudhu dan akan melaksanakan sholat isya' karena dia kira Al sudah melaksanakannya.
Setelah sholat, perutnya terasa lapar, dia pun turun menuju meja makan. Menikmati makanan yang dibuatkan oleh sang Mama sendirian, karena semuanya sudah makan malam.
Farhan melintas, dia tak bertanya apa pun pada adiknya, mungkin karena masih kesal atau apalah. Dia membuka kulkas bermaksud mengambil air minum.
"Ya ampun, udah susah-susah metik malah gak dimakan, kamu sengaja ya Dek?" perhatian Icha yang tadinya pada makanan kini beralih pada Farhan yang menyebutnya.
"Apa Kak?" tak merasa berdosa sedikit pun, dia sudah lupa dengan mangga yang menjadi drama tadi sore.
"Apa? Kamu melupakan ini?" ucapnya sinis, dia menunjukkan mangga yang masih tergeletak di dalam kulkas.
Icha menyengir, "Maaf Kak, aku udah gak mau makan itu, seleraku udah hilang," jawabnya tanpa dosa.
Farhan hanya bisa menggelengkan kepala, keluar dari ruang makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Icha jadi merasa bersalah dengan sang Kakak, dia sudah sengaja mengerjai Kakaknya, ia tahu Farhan masih sedikit kesal dengannya. Buru-buru dia menyelesaikan makan malamnya, lalu menuju ruang keluarga, tentunya semuanya ada disana kecuali Raffa yang sedang belajar dikamarnya.
"Kalau mau meluk, peluk suamimu aja kenapa?" Farhan merasa tak nyaman dipeluk seperti itu, sedangkan di depan matanya ada Al suami Icha, dia merasa tak enak dengan Al, padahal seperti sudah biasa.
"Kak, aku minta maaf ya, aku salah, Kakak mau maafin aku, kan?" dia tak menanggapi ucapan Farhan, karena tujuannya ingin meminta maaf pada sang Kakak.
"Iya," jawabnya, justru jawaban itu membuat Icha semakin bersalah.
"Beneran aku minta maaf Kak, aku akan lakuian apa pun asalkan Kakak maafin aku," Icha masih berusaha meminta maaf, dia ingin mendapatkan maaf dari sang Kakak.
Ketiga orang yang duduk diatara keduanya hanya diam menyimak, karena mereka tahu apa kesalahan Icha yang membuat Farhan kesal.
"Iya, iya, udah Kakak maafin. Udah lepas dong tangannya." Berusaha melepas tangannya dari pelukan Icha, "Udan lepas Dek, Kakak udah maafin kamu, lain kali jangan diulangi lagi," tambahnya.
Icha tersenyum, "Iya Kak, aku janji," timpalnya bahagia. Lalu dia mendekati sang Mama duduk di sampingnya.
"Ma, besok aku sama Al mau liburan ke puncak yah, kita nginep di vila temen Ma, boleh ya Ma," tanpa basa-basi dia mengutarakan keinginannya.
"Tadi Al sudah cerita sama Mama, apa enggak ssbaiknya kamu di rumah saja, kalau terjadi apa- apa disana gimana? Kasian Al kerepon sendiri," sebenarnya sang Mama tak ingin membiarkan anaknya pergi dia menghawatirkan keadaan Icha.
"Please ya Ma, mungkin ini terahir kumpul bareng teman-teman Ma, lagian ada Al, aku gak sendirian, dari dulu Mama sering melarang karena aku cewek dan enggak ada yang jagain, sekarang kan beda Ma," Icha berusaha membujuk Mamanya suapaya mengijinkannya.
"Tapi kalau ada apa-apa kabari Mama atau Papa, kenapa enggak nginep di vila keluarga kita aja?" Papanya yang berucap.
"Kayaknya deket sama vila kita Pa, Papa sama Mama gak usah khawatir ya, aku akan baik-bail saja," ucap Icha meyakinkan.
"Al, jaga Icha ya, Mama sebenarnya khawatir dengan keadaan Icha yang sedang hamil. Kalian jangan ikut kegiatan yang berat-berat, kamu juga jangan membual Al susah, kasian," pesan sang Mama.
"Iya Ma, aku pasti akan jaga Icha," timpal Al.
"Makasih Ma, udah ijinin, sayang sama Mama deh." Icha mengecup pipi sang Mama.
Icha memang sejak dulu tidak di perbolehkan mengikuti kegiatan di luar sekolah, meskipun itu ada teman perempuannya, tetap saja kedua orang tuanya tidak mengijinkan. Karena dia perempuan, dan orang tuanya tidak mau mengambil resiko, apalagi dia sudah dijodohkan sejak kecil.
Sebab itu Icha ngotot ingin pergi bersama teman-temannya, karena ada suaminya. Jika tidak ada sudah dipastikan dilarang ikut, ya meskipun dengan berat hati sang Mama mengijinkannya.
"Kapan kalian berangkat?" tanya sang Papa.
"Besok habis dhuhur Pa, biar sampai sana sore," jawa Al. "Papa sama Mama enggak usah khawatir, nanti Al bawa mobil sendiri, kalau Icha kenapa-kenapa, kami bisa nginep di vila Papa aja," Al terfikirkan oleh ide itu, dia berencana ingin menginap di vila mertuanya saja, karena kata Icha tadi vilanya lumayan dekat.
"Iya, nanti Papa bilang sama yang jaga disana," sang Papa menyetujui ucapan menantunya.
"Kalau nginepnya di vila Papa gak seru dong, gak rame, cuma ada kita berdua," Icha cemberut, dia salah faham dengan apa yang dikatakan Al.
"Kamu tetep bisa bareng teman-temanmu, Al akan bawa kamu ke vila Papa kalau terjadi sesuatu sama kamu, Dek, bukan nginep disana dari awal," Farhan sewot, entah kenapa dia rasanya masih ingin bersikap seperti itu pada sang adik.
Icha nyengir, dia hanya ber 'oh' ria tanpa merasa bersalah.
Bersambung....
Maaf baru bisa up, aku sibuk di RL jadi bisanya up satu-satu kemarin. Semoga nanti bisa up lagi, makasih udah mau nunggu, sayang kalian semua😘