
Pagi ini Icha kembali ke sekolah seperti biasa, karena nyeri diperutnya sudah hilang. Ditambah lagi perhatian Al yang selalu mengalir saat dia sedang tidak enak badan kemarin, di tambah lagi Al yang memanjakannya. Makanya hari ini dia begitu bahagia saat masuk ke sekolah kembali.
Saat masuk kedalam kelas dia disambut riang oleh Nayla.
"Icha aku kangen, seharian gak ada kamu seperti setahun rasanya." Celetuk Nayla sambil memeluk Icha erat, seperti telah lama tak bertemu.
"Dasar lebay kamu Nay, mana ada sehari bagaikan setahun, hitungan macam apa itu?" protes Icha.
"Beneran aku kangen sama kamu Cha, malah di protes,"
"Iya aku emang ngangenin sih," timpal Icha dengan pedenya.
"Udah-udah peluknya, aku sesek nih Nay," protes Icha saat Nayla tak kunjung melepaskan pelukannya.
Nayla pun melepaskan pelukannya pada Icha.
"Ada tugas apa kemarin saat aku gak berangkat?" tanya Icha saat dirinya sudah duduk di bangku.
"Gak ada tugas sih, pelajaran biasa aja,"
"Baguslah kalo gitu,"
Tak berapa lama bel masuk pun berbunyi. Mereka belajar dengan saksama. Mereka banyak mengerjakan latihan-latihan soal ujian, karena sebentar lagi ujian dilaksanakan.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Bel istirahat berbunyi, semua siswa keluar kelas menuju kantin untuk mengisi perut, karena cacing-cacing dalam perut sudah berdemo minta diberi sumbangan.
Seorang gadis berjalan dengan terburu-buru seperti dikejar oleh maling saja. Dia memasuki kelas lain, bertujuan untuk menemui seseorang yang dia kenal. Setelah sampai di kelas itu ternyata orang yang ingin dia hampiri masih ada di dalam kelas, dia bernafas lega karena tergesa-gesanya membuahkan hasil.
"Cha, boleh kita bicara empat mata? Sebentar saja," pinta gadis itu, lalu dia mendekati kearah Icha.
Icha mengangguk, "Boleh, silahkan,"
Setelah di persilahkan gadis itu duduk di bangku depan Icha.
"Cha aku duluan ya, silahkan kalian ngobrol," pamit Nayla dia berlalu keluar dari kelas.
"Mau ngomong apa? Ngomong aja gak usah sungkah," tutur Icha dengan lembut.
"Iya Cha, maaf ya sejak kejadian waktu itu aku belum minta maaf sama kamu. Aku merasa bersalah banget, kalau pun aku tau sejak awal aku pasti sudah memutuskan Al saat itu juga. Sekali lagi aku minta maaf, mungkin ini terlambat," ungkapnya dengan sendu, sorot matanya menyiratkan penyesalan.
Icha menyentuh pundak gadis itu dengan lembut, lalu dia tersenyum semanis madu. "Aku sudah memaafkan mu sejak dulu, ini bukan salahmu Tha, sudah gak usah ungkit masa lalu, aku sudah melupakannya," tuturnya dengan lembut.
"Kamu baik sekali Cha, Al pantas mendapatkan gadis sepertimu, aku sudah bisa mengikhlaskan Al untukmu," dia terharu mendengar jawaban Icha tadi.
"Bolehkah kita berteman sekarang?" tanya gadis itu yang tak lain adalah Martha.
"Tentu dong, banyak teman banyak rejeki bukan? Sekarang kita berteman," Icha menyambut permintaan Martha dengan bahagia.
"Makasih ya Cha," Martha berdiri mendekati Icha lalu menarik gadis itu kedalam pelukannya.
Saat mereka berpelukan, tiba-tiba seseorang datang, dia berdiri mematung saat gadisnya berpelukan dengan gadis yang sangat dia kenal. Dia bersyukur karena mereka baikan seperti itu.
"Ehem," dia berdehem memberi kode supaya keduanya menyudahi pelukan mereka.
Mereka berdua pun sontak menoleh kearah sumber suara.
"Al?" ucap mereka berdua secara bersamaan. Menyadari itu, keduanya pun terkekeh karena ucapan yang keluar secara sepontan.
"Kalo gitu aku duluan ya, makasih Cha," pamitnya lalu pergi meninggalkan dua sejoli itu.
Setelah kepergian Martha, Al mendekati Icha yang kembali duduk di bangkunya.
"Ngapain dia kesini?" tanya Al setelah berada di dekat Icha.
"Dia minta maaf dan meminta aku jadi temannya," jawab Icha santai.
Icha mengangguk, "Iya, banyak teman kan lebih baik," Icha tersenyum saat mengatakan itu.
"Baik sekali sih kamu sayang, jadi makin cinta deh." Al mengusap-usap puncak kepala Icha. Al hasil jilbab yang dia kenakan sedikit berantakan.
"Jilbabku jadi menceng kan," ucapnya sambil mengerucutkan bibir.
"Jangan seperti itu, aku jadi pengen cium kamu," protes Al saat melihat Icha mengerucutkan bibirnya.
"Ayo kita makan, mau dimakan di kelas aja atau dimana?" tanya Icha mengalihkan pembicaraan.
Icha memang sengaja membawa bekal makanan untuk mereka berdua. Karena libur sholat jadi dia alihkan untuk memasak dan hasilnya di bawa ke sekolah saat ini.
"Gimana kalau di atas saja, di rooftop sepertinya lebih enak," jawab Al memberi usul.
"Kotor di sana, di taman belakang sekolah aja lah," protes Icha.
"Yaudah ayo,"
Keduanya pun berjalan menuju taman belakang sekolah. Icha yang membawa bekal makanan mereka.
Keduanya makan di bangku taman itu, di sana terlihat sepi, hanya ada beberapa siswa sedang membaca buku, itupun adik kelas mereka.
"Ternyata enak ya makan disini, sepi, bisa menikmati makanan tanpa mendengar ocehan-ocehan yang gak berfaedah," ungkap Al.
"Suasananya juga sedikit sejuk, karena banyak pepohonan. Dulu aku sering kesini sama Nayla, kalo lagi males makan di kantin, tapi sekarang udah jarang banget,"
"Semenjak ada aku?" tanya Al memastikan.
"Nggak juga sih, semenjak kelas tiga ini, karena letaknya di lantai bawah jadi males, jauh. Pernah coba di rooftop tapi gak senyaman disini, karena di sana kotor,"
"Iya juga sih, aku baru kali ini ngerasain duduk di taman sekolah,"
"Bagus dong, kita bisa buat momen baru disini kan?"
"Iya, momen yang tak terlupakan, pacaran disekolah sama istri sendiri," Al tersenyum mengatakan itu.
"Lebih baik seperti itu bukan? Kita pacaran tapi tidak menimbulkan dosa," timpal Icha.
"Iya bener apa kata kamu sayang,"
"Habisin makanannya, aku dah kenyang," celetuk Icha karena dia memang sudah kenyang.
Al pun menghabiskan makanan mereka yang hanya tinggal sedikit. Lalu menegak air mineral yang mereka bawa dari rumah juga.
Setelah makanan mereka habis, keduanya pun kembali kedalam kelas masing-masing, dengan Al yang setia mengantar Icha kedalam kelas.
Tak lama bel tanda masuk pun berbunyi. Mereka semua melanjutkan pelajaran kembali.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Bel tanda masuk kembali terdengar, Icha sedang mengemasi semua buku-buku sekolahnya. Dia hari ini berencana akan ikut Al ke kantor, menemani suaminya itu bekerja. Tiba-tiba ada adik kelasnya yang memanggil nama Icha.
"Kak Icha, di panggil Bu Melinda, katanya suruh bantu beresin gudang sekolah, sudah di tunggu di sana," celetuk adek kelas itu.
"Oke terimakasih ya, aku akan ke sana sebentar," ucap Icha lalu adik kelas itu keluar dari kelas Icha.
"Nay, aku temuin Bu Melinda dulu ya, nanti kalo ada Al bilang aja suruh duluan, aku pasti lama," ucap Icha memberi pesan pada Nayla.
"Oke lah, aku duluan," pamit Nayla lalu dia meninggalkan kelas.
Sedangkan Icha menuju gudang sekolah menemui Bu Melinda.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komen ya,