
Icha terkejut dengan pertanyaan itu, dia bingun cari jawaban apa. Memelankan kunyahannya sambil memikirkan jawaban yang tepat. Tak mungkin dia beralasan diet karena yang dia makan kue manis, pasti Dea tak akan percaya dengan jawaban yang diberikan.
"Dia udah biasa seperti itu, makanya Tate buatin puding khusus untuk Icha," lega rasanya, Mamanya Nayla membantu menjawab. "Katanya gak biasa makan nasi kalau siang, iya kan Cha? Alasan yang lucu bukan?" tambahnya.
Icha tersenyum lalu mengangguk, "Iya Tan, maaf ya aku emang jarang makan nasi," timpal Icha.
Dea percaya saja, apalagi yang menjawab justru Mamanya Nayla sudah pasti tidak mungkin berbohong, bukan?
Mereka melanjutkan makan siang itu hingga selesai. Setelah menyelesaikan makan siangnya mereka memilih duduk di samping rumah. Terdapat teras yang cukup luas dengan pemandangan taman mini didepan teras tersebut.
Cukup lama mereka disana, hingga akhirnya satu persatu dari mereka pun pulang, tertinggal Icha dan Al, Icha sengaja menunggu semuanya pulang, dia menginginkan sesuatu yang ada di belakang rumah Nayla.
"Beneran mangga belakang itu buah kan, Nay?" tanya Icha, pasalnya tadi dia sudah menanyakan itu, jawaban Nayla hanya mengangguk, karena semua temannya masih ada disana.
"Iya beneran, ayo aku tunjukin kalau enggak percaya, kalau mau biar tukang Mamang yang petikin," ucap Nayla dia mengajak Icha melihat pohin mangga di belakang rumahnya.
Al mengekori dibelakang mereka, dai juga mau memastikan benar berbuah apa tidak.
"Beneran buah ya, tapi kok tinggi banget yang buah," ucap Icha setelah melihat pohon mangga belakang rumah Nayla.
"Ntar biar Mamang ya metikin," Nayla ingin beranjak dari tempatnya berdiri tapi tangan Icha lebih dulu menariknya.
"Gak usah, aku maunya bukan Mamang yang metik," ucapan Icha itu membuat Al was-was, dia pasti akan jadi korban lagi. Melihat pohon mangganya saja sudah merinding, dia tak pernah naik pohon sebelumnya.
Tebakan Nayla juga sama dengan Al, dia mengira Al yang mau diminta Icha buat metik mangga itu.
Al mendekat, "Sayang jangan aneh-aneh deh, aku enggak bisa baik pohon, liat pohonnya tinggi banget," padahal Icha belum berbicara apa-apa tapi Al sudah melarangnya dulu.
"Aku enggak mau nyuruh kamu yang metikin," jawabnya santai.
Al mengerutkan dahinya menjadi berlipat-lipat, dia memandang Icha yang sedang menelfon seseorang dengan tatapan penuh tanya.
"Hallo Kak, belum pulang, kan?" bebicara di telfon, "Kerumah Nayla ya, aku tunggu. GE-PE-EL," setelah itu dia mematikan panggilan telfonnya tanpa mengucap salam.
"Jangan bilang kamu nyuruh Kak Farhan?" seakan tahu apa yang dimaksud Icha saat menelfon Farhan, Nayla pun memastikannya.
Icha mengangguk, kali ini dia sengaja ingin mengerjai Kakaknya karena ingin membalas dua malam kemarin saat dia dicuekin oleh suaminya.
"Tega banget kamu sama Babang tampan, aku enggak rela kalo dia yang harus metikin, mending kamu cari mangga di tempat orang lain aja kalau gitu," Nayla bersedekap didada sambil mengerucutkan bibirnya.
"Biarin, kamu enggak rela enggak apa-apa, aku mau minta ijin sama Tante," timpal Icha tak kalah sewot.
"Kasian Kak Farhan sayang, kalau suruh metik itu, tinggi banget juga, biar dipetikin Mamang aja ya," Al mencoba membujuk istrinya.
"Kalian ini, Kak Farhan aja belum bilang mau apa enggak, tapi kalian malah sewot duluan," Icha mengerucutkan bibirnya, lalu dia duduk dibawah pohon mangga itu dengan beralaskan rumput jepang yang memang sengaja di tanam.
"Yaudah kita tunggu Kak Farhan, kalu gak mau jangan dipaksa ya, sayang," Al masih membujuk, dia sendiri saja takut jika disuruh naik pohon mangga setinggi itu, bagaimana dengan Farhan? Pasti pikiranya sama dengan Al.
Mereka menunggu Farhan datang dengan duduk dibawah pohon itu. Al dan Nayla tak habis pikir dengan jalan pikiran Icha, bisa-bisanya dia jail sama Kakaknya sendiri. Apa lagi Nayla, dia pasti tak tega melihat orang yang dia kagumi selama ini harus naik pohon mangga miliknya.
Tak lama Farhan pun datang, dia diantar oleh pembatu di rumah Nayla ke belakang rumah, tempat merek bertiga menunggu.
"Kenapa Kakak disuruh kesini?" pertanyaan Farhan mengalihkan atensi mereka, yang tadinya menatap rumput dengan pikiran masing-masing, kini berlaih menatap Farhan yang baru datang.
"Kalau seperti ini pasti ada maunya," benar sekali tebakan Farhan.
Icha menatap wajah sang Kakak, "Kakakku pinter banget sih," ucapnya dengan manja.
"Mau apa? Cepetan ini sudah sore Dek," desak Farhan.
Icha menunjukkan telunjuknya keatas pohon, Farhan mengikuti arah telunjuk Icha, dia mengernyitkan dahinya, "Petikin mangga yang itu ya Kak, please," ucapnya penuh permohinn
"Kamu yang ngidam, yang buat kalian berdua, tapi kenapa harus gue yang jadi korbannya?" Farhan merasa heran dengan tingkah bumil itu, dia malah lebih nyusahin Farhan dari pda Al suaminya.
"Nay, ntar kalo lo hamil, jangan nyusahin orang lain kayak dia ya," ucapnya pada Nayla.
Nayla hanya tersenyum, dia tak menanggapi ucapan Farhan.
"Biar Al aja yang metik, Kakak gak mau ah," ucap Farhan, lalu dia akan keluar dari sana tapi Al mencegahnya.
"Please Kak, ini anak aku yang minta, bukan aku, please ya Kak. Kakak baik deh," bujuk Icha dengan mengedip-ngedipkan matanya, imut.
Farhan mendengus, "Iya," jawabnya ketus.
Dia melepas kemaja yang menempel di tubuhnya, hanya menyisakan kaos berwarna putih, melepas kedua sepatunya.
"Ada tangga Nay?" tanya Farhan pada Nayla.
"Ada Kak, bentar ya," jawab Nayla, lalu dia menuju taman yang tadi.
Icha tersenyum bahagia, karena Farhan menuruti permintaannya.
"Kasian Kak Farhan, sayang," ucap Al, dia mendekati sang istri yang sedang tersenyum bahagia.
"Gak apa-apa dia mau, kan?" Icha menoleh menatap suaminya.
"Tetep aja kasian, sayang," merasa tak tega dengan Kakak iparnya.
"Biarin. Apa kamu mau juga?" ucapnya sedikit ketus.
Al menghela nafas panjang, dia tak bisa berbuat apa-apa kalau sudah seperti ini, lebih baik dia mengalah dari pada terkena marah sang istri.
Tak lama Nayla datang dengan seseorang yang membawa tangga. Meletakkan tangga itu didekat pohon mangga.
"Maaf Kak, gue gak bisa bantu." Al menepuk pundak Kakak Iparnya.
"Gak masalah, suatu saat gantian lo kalo istri gue yang ngidam," timpal Farhan, memiringkan salah satu sudut bibirnya.
"Semoga aja enggak," gumam Al, masih dapat di dengar oleh Farhan.
"Semoga aja iya," timpak Farhan, lalu dia berjalan mendekati tangga yang sudah terpasang. Menaiki tangga itu dengan perlahan, untungnya ada besi panjang yang sengaja dibuat untuk memetik mangga, jadi Farhan tak harus memeluk pohon mangga untuk mendapatkan mangga sebiji.
Bersambung.....
** Adakah yang pas hamil seperti Icha yang menyusahkan saudaranya?ðŸ¤