Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 85


Al memarkirkan mobilnya setelah sampai di rumah sakit tempat kerja dokter Hanny, dia keluar dari mobil, kembali memasukan badannya kedalam mobil lewat pintu sebelah, dimana ada Icha disana. Wanita itu tertidur, mungkin karena rasa pusing yang menyerang.


Al tak berniat membangunkannya, justru dia memilih menggendong Icha masuk kedalam rumah sakit.


Saat baru melangkah Icha membuka matanya, dia mengalungkan kedua tangan di leher suaminya, "Sayang, turunin aku," ucapan yang keluar pertama kali dari bibirnya.


"Udah aku gendong aja, enggak masalah," padahal Al sudah terlihat ngos-ngosan, tubuh Icha memang kecil tapi ternyata berat juga.


"Turun aja, kasin kamu. Aku masih bisa jalan, ayo turunin aku," Icha meronta, dia ingin di turunkan dari gendongan Al. Karena malu dilihat banyak orang yang mereka lewati.


Al pun menurunkan isttinya, karena Icha terus saja meronta. Dia menuntun Icha menuju ruangan dokter Hanny.


"Masih pusing?" tanya Al.


"Masih sedikit," jawab Icha singkat.


"Sayang, kita jadi pusat perhatian, mungkin karena kita masih pake seragam," ucap Icha, dia melihat sekeliling mereka.


"Udah gak usah di urusin, cuekin aja," Al mencoba mengabaikan tatapan orang-orang, dia terlihat cuek, berbeda dengan Icha.


Tak lama mereka pun sampai di ruangan dokter Hanny. Kebetulan mereka bertemu dengan dokter Hanny didepan ruangannya, saat dia akan masuk kedalam.


"Kalian sudah datang rupanya, ayo masuk," Dokter Hanny mempersilahkan keduanya untuk masuk kedalam ruang kerjanya.


Al menuntun Icha masuk kedalam, mereka duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Baringkan istrimu di sini Al," titah dokter Hanny.


Al menuntun Icha ke tempat pemeriksaan, dia membaringkan tubuh istrinya disana.


Dokter memeriksa Icha, menanyakan semua keluhan yang dirasakan.


"Sekarang kita intip dedek bayinya ya," ucap dokter. Dia menyuruh suster yang membantunya untuk menaikkan baju yang Icha kenakan sampi diatas perut, memberi gel pada perut Icha.


Dokter terus menggerakkan krusor, mencari posisi yang pas dimana letak janin itu, menekan-nekan perut Icha dengan lembut. Sampai dia menemukan letaknya.


"Sehat ya bayinya, ni kalau mau tahu yang ini," di layar terlihat ada segumpalan kecil, yang di tunjukkan oleh dokter Hanny.


Rasa bahagia terlihat jelas dari wajah kedua remaja yang sebentar lagi menjadi orang tua itu, untuk pertama kalinya mereka bisa melihat langsung bentuk bayi yang ada di perut Icha.


"Subhanallah," Icha terharu, sampai tak terasa menitikan air mata. Dia lupa dengan pusing yang dirasakan, karena saking bahagianya.


Sama halnya dengan Al, tak terasa air matanya menetes karena haru, dia mengecupi tangan istrinya yang masing berbaring.


"Terimakasih Ya Allah," lirihnya.


Dokter Hanny tersenyum melihat pasangan remaja itu, dia juga ikut bahagia melihatnya.


Dokter Hanny menjelaskan berapa berat janinya dan lain-lain. Lalu dia meletakkan alat USG nya setelah dirsa cukup, sang perawat kembali menutup perut Icha, sebelumnya dia juga membersihkan perut Icha dari gel yang menempel.


Setelah selesai mereka kembali duduk di sofa, menunggu keterangan lebih lanjut dari sang dokter.


"Pusing yang dirasakn ternyata karena Icha darahnya rendah, tapi jangan khawatir nanti kalian bisa tebus obat penambah darah juga, biar aku resepkan," dia berbicara tidak begitu formal.


"Ini resepnya, nanti ditebus di apotek depan ya, perbanyak makan buah dan sayur, kalau enggak mau nasi makan sayurnya saja tak masalah, sama buah, karbonya bisa pake roti, yang penting harus diisi perutnya, supaya bayi dan Mamanya sehat semua, sama satu lagi jangan banyak pikiran yah," dokter Hanny memberi wejangan dengan panjang lebar.


"Makasih Dok," ucap Al dan Icha bersamaan.


"Makasih Dok, kami permisi kalau gitu," mereka berpamitan.


"Jaga istrimu dengan baik Al," tuturnya.


"Iya Kak, makasih ya," Al tersenyum.


Dokter Hanny mengangguk dan tersenyum.


Al dan Icha keluar ruangan sang dokter, lalu menuju ke apotik.


Memberikan resep obat, tak butuh waktu lama mereka di panggil untuk mengambil dan membayar obat itu.


Melangkahkan kakinya menuju parkiran. Al membukakan pintu mobil untuk Icha, setelah Icha masuk dia menutup pintu, lalu memutari mobilnya dan masuk dari pintu samping kemudi.


"Sayang, kamu menginginkam sesuatu?" Al bertanya menoleh kearah istrinya sekilas, dia tidak mau jika sudah sampaii rumah Icha justru menginginkan sesuatu.


"Enggak sayang, aku pengen tiramisu tapi Mama yang buat," jawabnya, dia membayangkan makanan manis itu, apalagi dengan taburan banyak coklat yang banyak.


"Baiklah kita pulang sekarang," Al kembali fokus kearah jalanan.


"Sayang, gimana ujianmu hari ini? Apa kamu mengerjakannya dengan baik?" tanya Al dia khawatir istrinya tidak konsen dalam mengerjakan soal ujian tadi pagi.


"Alhamdulillah, aku mengerjakannya dengan baik, gimana dengan kamu sayang?" Icha menoleh, menatap wajah Al dari samping.


"Alhamdulillah, aku bisa mengerjakan semuanya, berkat bantuanmu tadi malam," Al menoleh sekilas, "Kamu merasakan pusing sejak kapan?" sebenarnya itu yang akan di tanyakan oleh Al.


"Tadi pas udah mau selesai ngerjain soalnya, setelah jadi aku kumpulin dan gak sempet periksa ulang, karena kepalaku pusing banget, tapi enggak tau kenapa sekarang udah enggak pusing lagi, setelah melihat anak kita." Icha mengarahkan pandangannya ke perut, mengelus perutnya yang masih rata.


"Sayang, sehat-sehat ya di dalam perut Mama, Mama dan Papa menyayangimu," Icha bicara dengan calon bayinya.


Al mengarahkan tangan kirinya ke perut Icha, dia juga mengelus perut Icha, pandangannya tertuju pada perut rata Icha. Kebetulan mereka sedang berada di lampu merah.


"Jangan rewel lagi ya sayang, kasian Mama," ucap Al sambil terus mengelus perut Icha.


Entah seperti apa jadinya jika suatu saat anak itu tak bisa lahir kedunia, mereka pasti akan sangat kecewa dan sedih. Semoga saja bayi dalam kandungan Icha selalu sehat sampai dia bisa melihat dunia.


Al kembali melajukan mobilnya, karena lampu sudah berganti warna, suara klakson mobil di belakang mereka terus berbunyi, tak sabar meski hanya menunggu sebentar saja.


Tak lama mereka pun sampai di kediaman keluarga Icha. Memarkirkan mobilnya di depan teras, lalu keduanya keluar dari mobil secara bersamaan.


Masuk kedalam rumah mengucapkan salam, lalu menyalami sang Mama yang memang hanya Mamalah yang ada dirumah, sedangkan yang lain belum pulang.


"Ma, buatkan Icha tiramissu ya," Icha memohon dengan bergelayut manja di lengan sang Mama. Sedangkan Al dia lebih dulu masuk kedalam kamar.


"Iya nanti Mama buatkan, apa lagi? Nanti sekalian Mama buatkan," Mama menawari, siapa tahu Icha menginginkan sesuatu lagi.


"Itu aja Ma, makasih ya Ma, sayang banget sama Mama," dia memeluk sang Mama, lalu mencium pipi wanita baruh baya itu.


"Aku ke kamar dulu ya Ma," pamit Icha, lalu dia menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Bersambung....


Jangan lupa like dan komennya yah. Makasih udah baca.