Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 84


Hari ini adalah hari pertama Al dan Icha menjalankan ujian, mereka sudah bersiap sejak pagi tadi. Icha selalu berdo'a supaya hari ini sampai tiga hari kedepan keadaannya baik-baik saja. Karena jika mualnya masih bersarang, dia pasti akan kesulitan untuk mengerjakan soal ujian nantinya.


"Pagi semua," sapa Icha.


Kini mereka berada di ruang makan, sarapan bersama sebelum memulai aktifitas masing-masing.


"Pagi," jawab yang ada disana hampir bersamaan.


"Bentar nunggu Adikmu," celetuk sang Mama.


"Cha kamu makan ini aja ya, gak usah makan nasi dulu, Mama takut kamu mual dan muntah lagi. Tadi malam sudah Mama buatkan puding alpukat ini." Mama meletakkan satu cup puding yang baru saja dia ambil dari dalam kulkas.


"Mama tau aja, kalau akhir-akhir ini aku suka alpukat, makasih ya Ma," bahagia sekali dia, diperhatikan sebegitunya sama sang Mama.


"Al yang bilang sama Mama," melirik kearah Al sekilas, "Tadi malam pas Mama mau buat ini pas Al kedapur, dia bilang kamu menyukai alpukat akhir-akhir ini," tambahnya.


"Ini susunya, Mama buatkan rasa coklat," meletakkan segelas susu dihadapan Icha.


"Makasih Ma," tersenyum manis kearah sang Mama.


"Yaudah ayo makan," ucap sang Papa, karena Raffa sudah duduk diantara mereka.


Icha terlihat lahap memakan puding buatan sang Mama, setelah itu dia juga menghabiskan satu gelas susu ibu hamil rasa coklat, kebetulan juga dia menyuakai rasa itu saat ini.


Selesai makan, mereka hampir bersamaan meninggalkan kediaman mewah milik kelaurga Icha. Berpamitan pada sang Mama yang ditinggal sendiri di rumah hanya dengan pekerja yang ada disana.


Al melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, memutar musik yang sedang hits dikalangan anak muda, membuat perasaan was-was dan gugup keduanya berkurang.


"Sepertinya benar kata Mama, kalau aku gak usah makan nasi dulu, buktinya tadi enggak makan nasi sekarang baik-baik aja. Tiap makan nasi pasti muntah," celetuk Icha, perutnya bisa di kondisikan saat ini.


"Iya bener, semalem kamu juga enggak makan nasi kan?" Al mengingat saat makan malam, Icha hanya makan buah-buahan dan segelas susu.


"Iya sayang,"


Keduanya kembali mengobrol ringan, membicarakan pelajaran yang akan diujikan nanti.


Memasuki gerbang sekolah, terlihat sepi tak seperti biasanya, karena yang masuk hanya anak kelas tiga saja. Parkiran pun senggang, hanya ada beberapa kendaraan. Padahal biasanya penuh tanpa sela.


"Semangat ujiannya ya sayang, kita saling mendo'akan," ucap Icha sebelum mereka turun dari mobil.


"Kasih semangatnya disini dong." Al menunjuk kedua pipinya beralih ke bibir.


Icha tersenyum, dia tahu apa yang dimaksud oleh Al. Dia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Al. Mengecup sekilas kedua pipi dan bibir suaminya. Bergantian Al mengecup kening Icha.


"Kamu juga harus semangat ya," kedua tangannya masih memegang sisi kepala Icha. Lalu tatapannya turun ke perut sang Istri. Tangannya pun mengelus perut itu dengan lembut.


"Sayangnya Papa, jangan nakal ya, kasih semangat buat Mama dan jangan ganggu Mama oke," Al berbicara dengan janin di perut Icha yang masih rata.


"Siap Papa," Icha menirukan suara anak kecil.


Al tersenyum, Icha terlihat menggemaskan saat seperti itu.


"Ayo turun sayang, nanti kita terlambat," ajak Icha.


Keduanya pun turun dari mobil, menuju ruangan yang sudah ditentukan untuk mereka. Kebetulan Icha berada di lantai bawah, sedangkan Al berada di lantai dua. Karena sistem susunan tempat duduk sesuai jurusan dan kelas.


"Sayang, jangan kemana-mana kalu aku belum jemput ya, tunggu di depan kelas, oke," pesan Al saat dia akan naik ke lantai dua.


"Iya sayang, semangat ya," Icha melambaikan tangan saat suaminya menaiki anak tangga.


Dia bergegas menuju ruangannya. Mencari namanya di papan pengumuman depan kelas masing-masing.


"Nay kita satu kelas ternyata ya, meskipun duduknya jauh," ucap Icha setelah dia menemukan namanya di papan pengumuman, kebetulan Nayla juga disana.


"Gimana masih mabuk?" tanya Nayla was-was.


Icha mengerti apa yang dimaksud kata 'mabuk' oleh Nayla, "Alhamdulillah hari ini mendingan Nay, mungkin dia mengerti ya,"


"Alhamdulillah, ikut lega rasanya kalau baik-baik aja,"


Mereka tidak mengatakan dengan jelas topik pembicaraan, tetapi mereka memahaminya.


Tak lama bel masuk pun berbunyi, mereka semua memasuki kelas masing-masing dan duduk di kursi yang sudah bertulisan nama mereka.


Waktu mengerjakan ujian tinggal tiga puluh menit, guru penjaga mulai mengelilingi kelas, melihat muridnya yang sedang fokus mengerjakan soal-soal.


"Icha kamu sakit? Mukamu pucet sekali," ucap guru itu, dia memandang wajah Icha yang terlihat memucat.


"Enggak Pak, saya baik-baik saja," jawab Icha sedikit berbohong, padahal pusing menyerang kepalanya.


"Beneran tidak apa-apa?" sang guru meyakinkan.


"Iya Pak," jawab Icha meyakinkan.


Tak lama Icha lebih dulu mengumpulkan hasil pekerjaannya, selain pusing yang semakin menyerang dan rasa mual yang hadir, dia juga sudah menyelesaikan pekerjaannya, meski dia sudah malas untuk memeriksa dari awal kembali.


Icha keluar ruangan dengan gontai, dia harus menunggu suaminya terlebih dahulu, akan tetapu rasa pusingnya sudah tak tertahan. Dia ingin segera merebahkan diri.


"Nay antar aku ke mobil ya," pinta Icha saat Nayla baru keluar dari kelas.


Nayla menuntun Icha menuju parkiran, dia membawa Icha kedalam mobilnya, karena mobi Al terkunci.


Icha merebahkan dirinya di jok belakang mobil, dia mengirim pesan pada Al, memberi tahu suaminya kalau dia berada di mobil Nayla. Ternyata pesannya langsung dibaca oleh Al, tapi dia tak membalasnya.


Icha tak mempedulikan itu, dia tahu Al pasti akan segera datang kesana.


Pemikiran Icha benar, setelah membaca pesan dari Icha, Al yang waktu itu baru keluar dari ruangannya, dia langsung berlari menuju parkiran. Pikirannya tak karuan, dia khawatir terjadi sesuatu pada istrinya. Bahkan dia tak sengaja menabrak teman-temannya yang berjalan lebih dulu.


Al membuka mobil Nayla, terlihat Icha merebahkan kepalanya di pangkuan Nayla yang setia memijit-mijit kepala Icha.


"Apa yang terjadi sayang?" tanya Al saat melihat istrinya.


"Katanya pusing Al, Icha juga pucet banget," Nayla yang menjawab.


Icha mendudukkan dirinya, lalu dia bangun dari duduknya.


Al menuntun Icha keluar mobil Nayla, "Gendong aja ya sayang," pinta Al, dia tak tega membiarkan istrinya berjalan.


Icha menggeleng, "Enggak usah sayang, aku malu, ini juga masih disekolah," lirihnya.


Al menuruti permintaan Icha, dia memilih menuntun Icha menuju mobilnya.


"Makasih Nay," ucap Al tanpa menoleh kearah Nayla yang posisinya di belakang mereka.


Nayla menjawab 'iya' lalu dia memasuki mobil dan menjalankannya.


Al merebahkan tubuh Icha di jok depan, merendahkan joknya, supaya Icha tiduran dengan lebih nyaman.


"Kerumah sakit ya sayang," ucap Al, tapi Icha tak menjawab.


Al melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dia lebih dulu menghubungi Dokter Hanny, karena dia yakin Icha seperti itu ada hubungannya dengan kehamilannya saat ini.


Bersambung....


Jangan lupa, like dan komennya yah.