Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 57


"Kamu ngomong apa sayang?" tanya Icha, dia mendengar ucapan Al tapi samar-samar.


Al menoleh kearah Icha, "Ah itu." Al menunjuk dua orang yang dia lihat barusan.


Pandangan Icha mengarah pada telunjuk Al, dia mengernyit melihat dua orang yang dia kenali, "Tumben banget Nayla bareng Alvian? Ayo kita samperin mereka." Icha melangkah mendekati kedua orang yang sangat dia kenal.


Terlihat Alvian yang mendorong troli, sedangkan Nayla berjalan disampingnya. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang beberbelanja, tepatnya yang cowok mengantar gadisnya berbelanja.


"Nay!" Seru Icha dia menghampiri Nayla.


Nayla yang merasa terpanggil pun menoleh, mencari sumber suara. Dia sedikit terkejut saat mendapati Icha yang memanggilnya.


"Ah Icha, Al, kalian disini juga?" tanya Nayla saat mendapati Icha dan Al yang mengekor dibelakangnya.


"Kok kalian bisa bareng?" bukannya menjawab, Icha justru malah kepo.


Nayla menoleh kearah Alvian, lalu tersenyum, "Kebetulan tadi aku mau belanja ketemu sama dia," jawab Nayla.


"Benarkah? Tapi ..." Icha menunjuk troli yang hajya satu dan Alvian yang mendorongnya.


Nayla melihat kearah telunjuk Icha, dia mengerti apa yang ada dalam pikiran sahabatnya.


"Gue sengaja bantu Nayla buat dorongin troli, kebetulan gue gak belanja banyak, jadi sekalian aja nemenin dia belanja kasian kan sendirian," bukan Nayla yang menjawab tetapi Alvian, karena dia juga paham apa yang dimaksud Icha tadi.


"Oh gitu, aku kira ada sesutu diantara kalian," Icha tersenyum canggung.


"Ada sesuatu juga gak apa-apa sayang, biar si Alvian lupain cinta lamanya," timpal Al, dia seperti mengejek sahabatnya.


"Apaan sih, ngaco kalo ngomong. Aku bukan tipenya Alvian, dia tu tipenya cewek kaya Icha, ups." Nayla menutup mulutnya saat sadar apa yang dia ucapkan, dan hal itu mendapat tatapan tajam dari Al dan juga Alvian.


"Gak usah tatap Nayla begitu, kasian dia takut." Icha menepuk sekilas lengan Al lalu Al pun mengalihkan tatapannya kearah Icha, dia tersenyum.


"Ayo pulang sayang, biarkan mereka berdua, kita jangan ganggu," Al mengajak Icha untuk pulang.


Icha mengangguk, "Iya," jawabnya, lalu menoleh kearah Alvian dan Nayla, "kita duluan ya, kabari kalau sudah jadian," tambahnya, lalu dia tersenyum dan meninggalkan keduanya.


"Ck, suami istri sama aja," Nayla berdecak mendengar ucapan Icha, yang saat sudah melesat meninggalkan keduanya.


"Kenapa harua ketemu mereka sih, jadi pada mikir yang enggak-enggak kan?" ucap Nayla.


"Udah gak usah dipirkan, kalo sudah selesai ayo kita bayar belanjaannya," Alvian mendorong troli menuju kasir, karena mereka sudah selesai berbelanja.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Al dan Icha berjalan keluar menuju parkiran. Setelah sampai, Al meletakkan semua belanjaannya di jok belakang, lalu dia dan Icha masuk kedalam mobil dan pulang kerumah. Karena waktu sudah malam.


"Kok mereka bisa bareng gitu ya? Aku gak percaya kalo mereka nggak janjian?" ucap Icha ketika mobil sudah melaju.


"Mereka mau janjian juga gak masalah bukan? Malah kalau sampai jadian itu akan lebih baik," komentar Al.


"Iya juga sih, tapi selama ini Nayla itu gak pernah mau dideketin sama cowok, dia selalu saja menghindar, contohnya Doni yang gencar deketin Nayla tapi dianya selalu tidak merespon," Icha mengingat-ingat, jika Nayla bukan tipe cewek yang mudah didekati, "tapi kenapa sama Alvian bisa semudah itu?" tambahnya.


"Sudah gak usah pikirkan mereka, itu urusan mereka berdua, kita gak usah ikut campur," Al mencoba mengalihkan pembicaraan supaya Icha tidak membahas Alvian dan Nayla kembali.


"Iya, bener juga yang kamu ucapkan,"


Setelah itu mereka tidak membahas lagi tentang Nayla dan Alvian. Icha lebih memilih memejamkan matanya, karena dia memang sudah mengantuk, padahal waktu baru menunjukkan pukul 21.00.


Tak lama mereka pun sampai dirumah, membawa belanjaan masuk kedalam dan meletakkan diatas meja meja ruang makan. Icha yang akan menata semua bahan makanan kedalam kulkas dihentikan oleh Al.


"Biarkan Bibik saja, ini sudah malam, kita kekamar aja," pintanya.


Icha pun mengangguk, dia meninggalkan pembantunya yang tadi membukakan pintu untuk mereka, menata semua bahan makanan kedalam kulkas dan lemari.


Setelah sampai kamar, mereka memilih berganti pakain tidur dulu sebelum menaiki ranjang. Setelah berganti pakain bukannya tidur, Icha justru membuka buku pelajarannya.


Icha menoleh kearah Al, "Nggak, aku cuma mau ngecek besok ada tugas apa nggak," jawabnya, setelah mendapat anggukan kepala dari Al, dia kembali membuka beberapa bukunya, memeriksa apakah ada tugas apa tidak.


Setelah memastikan tidak ada tugas, Icha pun menyusul Al yang sudah berada di atas ranjang. Dia masih sibuk dengan laptopnya.


"Sayang, kamu belum mau tidur?" tanyanya setelah berada disaping suaminya.


"Sebentar lagi, kalau kamu udah ngantuk tidur dulu aja, nanti aku nyusul," jawab Al tanpa mengalihkan pandangannya kearah Icha.


"Baiklah aku tidur dulu ya, jangan sampai larut malam, besok juga harus sekolah," ucap Icha, lalu dia mengecup singkap pipi kanan suaminya, yang mana membuat Al menghentikan pekerjaannya.


Al menoleh kearah Icha, dia tersenyum mendapati Icha sudah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Al tahu jika Icha sengaja melakukan itu, untuk menggodanya.


"Sudah kalau mau tidur-tidur aja sayang, jangan senyum-senyum gitu, aku liat lho kamu tersenyum," ucap Al masih fokus memandang Icha yang tertutup selimut.


Icha pun membuka selimutnya setelah mendengar ucapan Al dia menyengir, "Iya, aku tidur ya sayang, selamat malam," ucapnya kemudian.


"Selamat malam juga sayang, mimpi indah ya," timpal Al, lalu mengecup singkat kening istrinya.


Icha memejamkan matanya, sedangkan Al meneruskan pekerjaannya yang tadi teralihkan oleh perbuatan Icha. Setelah selesai diapun menyusul Icha kedalam alam mimpi.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Paginya seperti biasa, mereka berangkat kesekolah. Icha sudah tidak sabar ingin mengepoin Nayla sahabatnya, soal kejadian semalam. Icha langsung masuk kedalam kelas setelah Al pergi dari depan kelasnya.


"Pagi Nay, Don," sapa Icha ketika sudah didekat kedua orang yang mereka sapa.


"Pagi Cha," jawab Nayla dan Doni bersamaan.


"Tadi malam sama Alvian, kenapa sekarang kembali ke Doni?" tanya Icha, dia sengaja menggoda sahabatnya.


"Apa? Jadi kamu diajak jalan sama Alvian mau? Tapi kenapa aku ajak jalan selalu nolak Nay? Apa kurangku coba?" Doni menampakkan wajah sedihnya.


"Apaan sih kamu Cha, semalam aku sama Alvian kebetulan ketemu," ucap Nayal menyangkal.


"Kamu punya saingan Don, hati-hati, ketikung ntar patah hati," Icha mendrama yang mana membuat Doni dan Nayla cemberut bersamaan.


"Icha! Tau ah, terserah kamu mau ngomong apa," Nayla cemberut, karena sahabatnya malah menggodanya sejak tadi.


"Cup cup cup, jangan nangis ya Nay, aku gak punya balon." Icha mengusap-usap rambut Nayla seperti anak kecil.


"Sudah mau bel, kamu kembali ke mejamu sana Don, ketua kelas tu haruanya jadi panutan," usir Nayla, Doni pun meninggalkan meja Nayla dan Icha.


"Beneran kamu gak ada apa-apa sama Alvian, Nay?" tanya Icha setelah kepergian Doni.


"Yaelah Icha! Ya bener lah," jawab Nayla mantap.


Icha hanya mengangguk, kali ini dia percaya dengan omongan sahabatnya.


.


Bersambung.....


Jangan lupa like dan komen.


Siapa yang tebakannya benar?☝️


Karena kalau Alvian sama Martha, Al pasti akan langsung menghajar Alvian ditempat🤭


Bocoran ya, disini aku tidak akan menjodohkan Alvian sama Nayla, karena nanti Nayla justru sama Farhan. Karena suatu kejadian jadi mereka menikah. Tunggu aja cerita mereka🤭


Akan ada kejutan setelah ini😁


Author : Maaf jika beberapa hari kedepan aku bisa up mungkin satu episode, akan aku usahakan dua. Karena kesibukan di RL. Terimakasih semua yang sudah mau membaca.