Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 78


Al merebahkan dirinya disamping istrinya, dia berusaha merubah posisi Icha supaya menghadap kearahnya, beberapa kali mencoba akhirnya dia bisa melakukannya. Al memeluk tubuh istrinya yang masih sembab karena menangis.


"Maafkan aku sayang," ucapnya, lalu dia mengecup setiap inci wajah istrinya tanpa terlewatkan. "Udah ya, jangan ngambek lagi, aku bener-bener minta maaf," wanita biasanya akan luluh jika diperlakukan dengan manis.


Icha mengangguk, dia tidak tega melihat suaminya terus meminta maaf. Akhirnya dia luluh juga dengan perlakuan Al.


Al tersenyum, ternyata Icha sudah mau memaafkannya. "Sekarang kita keluar cari sesuatu yang kamu mau, oke," ucap Al lembut, kali ini dia akan menuruti permintaan istrinya.


Icha memeluk tubuh suaminya dengan erat, "Aku mau nasi goreng tapi kamu yang buat, teru makannya disuapin," ucapnya dengan manja seperti anak balita.


Al mengernyitkan dahinya menjadi berlipat-lipat. Padahal tadi Icha mau makan seblak, kenapa sekarang jadi nasi goreng? Tapi Al tak mau menanyakan itu, takut istrinya merajuk lagi, kali ini dia akan menuruti permintaan istrinya.


"Baiklah sayang, aku buatkan nasi goreng, tapi kalau nggak enak nggak apa-apa ya, aku gak pernah buat soalnya," Al tampak ragu, karena dia memang tidak pernah membuat nasi goreng.


"Iya sayang, tapi jangan pakai bawang putih, aku enggak suka, baunya bikin aku mual," Icha sudah mencari tahu apa yang membuatnya mual saat didapur, yaitu bawang putih, bau bawang putih yang biasanya banyak disukai orang dia justru tidak suka saat sedang mengandung.


"Bilang sama Bibik juga, kalau masak jangan pakai itu, buang aja bawang putih yang masih ada di dapur, aku enggak suka," titahnya dengan manja.


"Iya sayang, ntar aku akan bilang ke Bibik. Sekarang kamu mau ikut ke dapur apa tunggu disini?" Al menawari Icha, dia berharap Icha menunggu di kamar saja, karena dia mau minta bantuan sama pembantunya.


"Disini aja, tapi kamu harus masak sendiri, jangan minta bantuan Bibik, aku ngambek lagi kalau kamu minta bantuan Bibik," seakan tahu dengan pemikiran suaminya, Icha pun mengancam seperti itu.


"Iya sayang, aku turun dulu ya, nanti kalo udah mateng aku bawa kesini," Al lebih baik mengalah, dari pada urusannya akan bertambah panjang.


Turun dari ranjang, berjalan keluar kamar, dia akan berusahan masak nasi goreng untuk pertama kalinya, biasanya kalau masak dia hanya masak mie instan saja.


"Sebenarnya aku enggak ingin makan nasi goreng, tapi mau lihat usaha dia seperti apa saat aku meminta itu," gumam Icha setelah kepergian Al. Dia sengaja menyuruh Al membuat nasi goreng, padahal dia tidak sedang ingin makan itu, yang dia inginkan makanan yang berkuah, panas serta pedas. Mengingat ucapan Al tadi dia mengurungkan niatnya, karena dia juga sadar seharian belum memakan nasi sedikit pun.


Icha meraih ponselnya, dia berselancar didunia maya sambil menunggu sang suami memasak makanan yang dia minta.


Sedangkan Al di dapur tampak bingun, dia harus berbuat apa dulu. Dia juga sedikit bingung, bahan untuk nasi goreng apa? Mau minta bantuan pembantunya dia takut Icha ngambek lagi, mengingat dia tadi sudah memperingati.


"Mas mau buat apa? Biar Bibi bantu," tawaran pembantunya itu membuat Al menoleh kesumber suara, dia tersenyum.


"Bik bahan buat nasi goreng apa aja ya? Bibik kasih tau aku, biar aku yang masak sendiri, oke," Al mengultimatum, dia tahu pembantunya itu pasti akan memaksa membantunya.


"Tapi Mas,"


"Sudah Bibik diam disitu, lihatin aku aja, nanti kalo aku salah motong atau salah bumbu Bibik kasih tahu yang bener,"


Pembantunya menurut saja, dia tidak bertanya alasan Al masak sendiri. Lalu sang pembantu memberi tahu bahan serta bumbunya apa saja.


"Eh Bik, untuk beberapa hari kedepan tolong kalau masak jangan pakai bawang putih ya, terutama makanan aku sama Icha, dan bawang putih di dapur tolong disingkirkan," titah Al, setelahpembantu itu mengucapkan kata bawang putih di daftar bumbu yang dia beri tahu.


"Baik Mas," pembantu itu pasti sudah tahu alasannya, karena dia kemarin melihat Icha merasakan mual saat di dapur.


Al mulai meracik semua bahan yang tadi sudah diberi tahu oleh pembantunya, lalu membuat bumbu yang juga sudah diberitahu tadi. Dengan susah payah Al tetap berusaha membuatkan nasi goreng untuk istri tercintanya.


Dapur terlihat berantakan, Al meletakkan barang yang telah dia pakai disembarang tempat, bahkan sampah yang dia hasilkan berserakan di lantai.


"Bik, kenapa disini?" suara Icha mengagetkan kedua insan, majikan dan pembantunya.


"Liat Mas Al masak nasi goreng, mau Bibik bantuin gak boleh sama sekali," jawabnya jujur.


"Beneran Bibik enggak bantu?" Icha belum begitu yakin.


"Beneran Non, bahkan Bibik suruh jadi mandor saja, yaudah Bibik ikutin aja kemauan Mas Al," menjawab jujur, Icha bisa melihat dari bicaranya yang tegas tanpa ada sedikit keraguan.


"Bagus deh, emang aku yang nyuruh Bik," Icha menyengir, lalu dia melangkah lebih dekat kearah Al.


"Harus enak ya, kalau enggak enak aku enggak mau makan, mau ngambek lagi," Icha mengancam seperti tadi, dia sebenarnya hanya bercanda.


"Semoga aja ini enak sayang, aku sudah berusahan. Ini juga masakan pertamaku," ucap Al , dia tersenyum dan menoleh sebentar kearah istrinya.


"Sip, aku tunggu disana ya, cepetan aku dah laper," seperti bos saja dia, seenaknya menyuruh suaminya.


Al tersenyum dan mengangguk, dia melanjutkan kembali acara memasaknya.


Beberapa saat berlalu, nasi goreng pun jadi. Al membawa sepiring nasi goreng kehadapan istrinya, dia yakin rasanya sudah enak saat tadi dia mencicipi, tapi entah kenapa dia malah takut jika Icha mengatakan masakannya tidak enak. Saat ini dirinya seperti berhadapan dengan juri lomba memasak yang seperti di tivi-tivi itu, terlihat seram saat menilai masakan kontestannya.


"Sayang, kamu terlihat lebih tampa dengan penampilan seperti itu," Icha menyengir.


Apa-apaan, kok malah penampilannya yang di komentari bukan hasil masakannya, batin Al.


Al melihat dirinya berpenampilan biasa saja, hanya dia memakai apron yang tidak pernah dia pakai sebelumnya, "Bukan kah aku selalu terlihat tampan?" Al menaik turunkan alisnya, pede sekali dia.


"Iya, suamiku memang selalu tampan disaat apapun," Icha membanggakan ketampanan suaminya itu.


"Ayo suapi aku, katanya tadi mau nyuapin, aku sudah enggak sabar pengen nyicipin masakan kamu," tambah Icha, dia tak mau menyentuk sendok yang sudah stay dipiring bersama nasi goreng itu.


Al menyendok nasi dengan sedikit gerogi, dia benar-benar seperti sedang berhadapan dengan juri memasak. Dia menyuapkan satu sendok kedalam mulut Icha, was-was dengan apa yang akan Icha perbuat setelah ini.


Icha sengaja mengunyah dengan pelan, dia seperti meneliti setiap kunyahannya, seperti juri dalam kompetisi memasak. Mengangguk saat rasanya pas, dan menggeleng samar saat rasanya ada yang kurang.


"Enak sayang, aku mau lagi," akhirnya lega sekali Al, karena istrinya menyukai masakan pertamanya.


Al dengan telaten menyuapi Icha bergantian dengan dirinya, memang masakannya terasa enak menurut dia juga. Merka menikmati makan malam nasi goreng hanya sepiring berdua.


"Besok buatin lagi yang sayang," pinta Icha.


Al sudah tak bisa menjawab apapun karena jika menjawab Icha justru akan marah.


Bersambung......


Jangan lupa like dan komennya yah Kakak..