Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 70


"Assalamu'alaikum, selamat pagi Om," ucap salam Al pada tuan rumah, mereka saat ini sedang berada di kediaman seorang dokter. Dokter itu masih saudara dengan Papa Al.


"Wa'alikumussalam, Al? Sudah lama sekali tidak berkunjung kerumah Om," ucap orang yang disapa Om oleh Al. "Apa kabar kalian berdua?" tanyanya.


"Alhamdulillah kami baik Om, Om sekeluarga gimana?" tanya Al basa basi.


"Alhamdulillah baik juga,"


"Begini Om, kami kemari ingin bertemu Kak Hanny, dia ada dirumah kan?" tanya Al.


Dokter Hanny yang waktu itu memeriksa Icha dia adalah seorang dokter kandungan, sedangkan ayahnya adalah dokter umum di sebuah rumah sakit. Mereka juga membuka praktek dirumah.


"Ada, sepertinya dia mau pergi, tapi biar menemui kalian lebih dulu. Sebentar Om panggilkan ya,"


"Iya Om, tadi aku juga sudah telfon dia, dia tahu aku mau kemari," ucap Al.


Dokter Hanny muncul dari dalam rumah, dia tersenyum melihat Al dan Icha.


"Ayo Al, ajak istrimu ke ruang praktek ku," ajak Dokter Hanny, lalu dia lebih dulu berjalan kearah ruang prakteknya. Ruang praktek yang terlihat seperti klinik itu nampak sepi, karena ini hari minggu jadi tidak membuka praktek kecuali terdesak.


Al dan Icha berpamita pada Ayah dokter Hanny, lalu mereka mengikuti kemana dokter Hanny melangkah.


"Kalian ini mengganggu waktu liburku saja, jika bukan kalian yang menghubungi pasti akan aku tolak," ucap Dokter Hanny bercanda.


Al dan Icha hanya tersenyum menanggapi.


"Apa yang terjadi? Apa istrimu hamil?" benar sekali tebakan dokter cantik itu.


"Belum tau Kak, makanya aku mau periksakan dulu, aku minta Kak Hanny saja yang memeriksanya," ucap Al.


"Belum di tes?"


Mereka berdua menggeleng.


Dokter Hanny tersenyum melihat tingkah kedua remaja yang harusnya masih bisa menikmati masa mudanya dengan bebas itu, tetapi mereka harus menjalani hubungan rumah tangga yang sepertinya sulit. Karena Dokter Hanny sendiri belum berkeluarga di usianya yang hampir menginjak kepala tiga.


Dokter Hanny menyuruh Icha mengambil sedikit urinnya, lalu mengetes dengan tespeck. Dokter Hanny tersenyum saat melihat ada dua garis di dalam tespek itu.


"Kamu itu keterlaluan Al, Al, kenapa membuat istrimu hamil di saat masih remaja?" Dokter Hanny geleng-geleng kepala, "Aku bercanda, jangan masukkan ke hati ya," tambahnya kala mendapati wajah Icha terlihat murung.


"Jadi Icha beneran hamil?" tanya Al memastikan.


Dokter Hanny mengangguk, "Iya, selamat ya buat kalian, meskipun kalian masih sekolah tapi sebentar lagi lulu, kan? Jadi jaga anak kalian dengam baik, dia titipan dari Tuhan," tutur Dokter Hanny.


Al terlihat bahagia, dia memeluk Icha yang duduk disebelahnya.


Berbeda dengan Al, Icha justru terlihat lebih murung, dia seakan tak suka mendengar kehamilannya. Sejak tadi dia hanya diam mendengar penuturan Dokter Hanny.


Al merasakan jika Icha terlihat tidak bahagia, tetapi dia lebih memilih diam dulu, dia akan bertanya nanti setelah sampai rumah.


Dokter Hanny kembali bertanya perihal kapan terahir Icha menstruasi, lalu apa yang dirasakannya. Icha menjawab semua dengan jujur tanpa terlewatkan, tetapi raut wajahnya masih sama.


"Istrimu sudah hamil terhitung lima minggu, karena perhitungan dokter itu dimuali saat menstruasi terahir, bisa dipastikan nanti saat kalian cek USG, ini hanya patokan sementara. Kalian bisa periksa lagi di rumah sakit. Untuk vitamin dan yang lainnya aku resepkan, kalian bisa tebus di apotik ya," terang panjang lebar Dokter Hanny.


"Terimakasih Kak, kalau gitu kami pamit dulu ya,"


Keduanya pun pamit pulang, dengan perasaan yang berbeda. Al terlihat sangat bahagia, berbeda dengan istrinya yang terlihat murung sejak tadi.


"Sayang, kenapa menangis?" tanyanya.


Icha bungkam, dia enggan menjawab pertanyaan suaminya.


"Sayang, apa kamu kecewa atas kehamilanmu ini? Harusnya bahagia dong," ucap Al lagi.


Tapi Icha masih bungkam, suara tangisnya bertmabah kuat.


"Udah ya sayang, kita jalani ini bersma, aku akan jaga kamu dan anak kita," Al masih setia membujuk istrinya. Tetapi Icha masih tak bergeming.


Hingga kesabaran Al mengikis, dia mengerem mobilnya dan perlakuannya itu membuat Icha terkejut.


"Cha apa sih maumu? Kenapa diam? Apa kamu menyesal mengandung anak ku!" Al emosi, dia meninggikan suaranya. Dia tidak suka Icha bungkam seperti itu, padahal dirinya sudah sabar tapi kesabarannya hampir habis karena sikap Icha.


"Jawab Cha!" seru Al.


Bukannya menjawab, Icha justru melepas seatbeltnya, lalu dia membuka pintu mobil dan


Bruk!


Icha menutup pintu mobil dengan keras, lalu dia berlari menjauhi mobil suaminya.


Al tak tinggal diam, dia menhawatirkan istrinya, meskipun dia emosi tetapi rasa cintanya tak luntur sedikit pun. Al mengejar Icha yang sudah berlari menjauh. Saat sudah dekat dia langsung menarik Icha kedalam drkapannya.


"Maafkan aku sayang, aku emosi karena kamu diam saja sejak tadi, maaf," ucap Al dia mengelus puncak kepala Icha.


Icha memberontak ingin melepaskan diri dari dekapaj suaminya, tetapi tak kuasa karena tenaga Al lebih kuat.


"Aku minta maaf ya sayang, sekarang kita kerumah Mama, minta solusi sama Mama tentang hal ini, kamu mau kan?" ucap Al dengan lembut.


Icha mengangguk, dia rasa kalau curhat dengan Mamanya akan lebih baik. Begitu juga dengan Al, karena selama ini ketika dia ada masalah Mamanya lah yang jadi tumpuan, tetapi kini Mamnya jauh darinya.


Al menuntun Icha kedalam mobil, dia menyesal telah membentak istrinya. Dia tahu Icha kecewa tetapi dia rasanya kesal jika Icha bersikap seperti itu, seakan semua itu salahnya. Padahal mereka melakukan itu juga tidak terpaksa.


Tak berapa lama mereka pun sampai di kediaman orang tua Icha. Mereka turun dari mobil. Icha langsung masuk kedalam rumah dengan menangis, dia berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Mamanya yang kebetulan melihat itu pun merasa heran dengan keadaan anaknya. Tak biasanya Icha seperti itu. Saat akan menyusul kekamar Icha, dia melihat Al yang berjalan mendekatinya. Al mencium punggung tangan mertuanya.


Sinta mengajak Al duduk di ruang keluarga, dia ingin bertanya lebih dulu pada Al.


"Al kenapa Icha menangis seperti itu? Apa ada masalah?" tanyanya penasaran.


"Maafkan aku Ma, Icha menangis karena ...." Al menjeda ucapanya, dia tidak yakin karena takut Mama mertuanya akan marah jika tahu Icha hamil. Tetapi dia harus menerima resikonya, kareba memang sudah terjadi.


"Karena apa Al? Jangan buat Mama penasaran," desak Sinta.


"Maafkan aku yah Ma, Icha menangis karena dia tahu kalau dia hamil, sepertinya dia tidak terima hamil diusia muda seperti sekarang ini," ucap Al lalu dia menunduk, dia akan menerima resikonya.


Bersambung.....


Menurut kalian Mama Sinta akan marah apa tidak saat tahu putrinya hamil?


Jangan lupa like dan komennya yah. Makasih😉