
"Ternyata perjuangan almarhumah Mama berat banget ya untuk sampai di titik nyaman," tutur Icha.
Setelah mendengarkan kisah perjuangan panjang Mama Dina masa muda dulu, mereka memutuskan untuk beristirahat di kamar. Kini keduanya sedang berada di atas ranjang, Al meletakkan kepalanya di pangkuan Icha, sedangkan Icha, tangannya bermain-main di kepala sang suami. Memainkan rambut yang tadinya tertata rapi kini jadi berantakan.
Telihat Al menganggukan kepala, "Iya, Mama pernah bercerita sama aku dulu, tapi cuma sebagian saja. Bercerita tentang sahabat baik yang selalu membantunya, tanpa aku tahu ternyata sahabatnya adalah orang yang jafi mertuaku saat ini," timpal Al.
Al mengecup beberapa kali perut istrinya yang masih rata, lalu ia mendongak menatap wajah Icha yang juga menatapnya. Tangannya menyentuh kedua pipi sang istri.
"Sayang, maafkan kesalahan-kesalahanku dulu ya, jika saja aku tahu cerita itu sebelum menikah, aku pasti tidak akan melakukan kesalahan itu. Aku sungguh menyesal sekali," tutur Al, ia bemar-benar menyesali perbuatannya dahulu.
Icha tersenyum, tangannya mengelus rambut Al, "Semua itu sudah jalannya, aku ikhlas menerimanya. Itu semua jadikan pelajaran buat kita untuk lebih baik di masa depan," menjeda kalimatnya sebentar, "Aku sudah memaafkanmu sejak dulu, aku juga mengerti alasan kamu melakukan itu, jadi jangan terlalu menyalahkan diri sendiri seperti itu," tambahnya.
Al tersenyum mendengar penuturan lembut sang istri, ia mengangkat kepalanya, lalu mengecup sekilas bibir yang menjadi candunya itu, "Terimakasih sayang," ucapnya.
Icha mengangguk, "Sekarang istirahatlah, aku juga mau istrirahat," ucap Icha, lalu ia merebahkan diri.
Al pun ikut merebahkan diri di sisi Icha.
¤¤¤
"Pa aku nginep di rumah Mama ya," ucap Al, tangannya memegang gawai yang ia letakkan di telinga, sepertinya calon Papa muda itu sedang menelfon seseorang.
"Iya Pa, terimakasih, aku tutup dulu ya, assalamu'alaikum," Al mengahiri panggilan telfonnya. Meletakkan gawai di atas nakas, lalu ia melangkah keluar kamar, mengahampiri keluarga besar istrinya yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Kamu mau melemar Sherena kapan Kak?" tanya Mama, saat ini mereka berada di ruang keluarga setelah menyelesaikan makan malam mereka.
"Sherena siapnya satu bulan lagi Ma, katanya saat ini masih sibuk," jawab Farhan.
"Lebih cepat lebih baik Kak," celetuk Icha yang sejak tadi hanya menyimak obrolan kedua orang tuanya dan sang Kakak.
Icha menoleh ke arah sang suami yang baru saja duduk di sampingnya. "Papa mengijinkan?" tanyanya.
Al mengangguk, "Iya," jawabnya.
"Al makanlah ini, Mama baru saja pesan," Mama Sinta meletakkan sekotak kue di atas meja yang baru saja di bawa masuk oleh pembantunya.
Karena makan malam ini, lagi-lagi Al tidak mau makan, dia kembali mual saat melihat beberapa hidangan makanan bahkan bau dari masakan saja ia sudah mual, padahal tadi siang ia hanya tidak bisa mebcium bau amis. Alhasil mama mertuanya memesan kue untuk Al.
"Makasih Ma, jadi ngerepotin Mama," ucap Al,
"Ah tidak merepotkan, ini sudah kewajiban Mama," ucapnya tersenyum.
Icha mengambil kotak itu, lalu membukanya, matanya berbinar ketika melihat donat dengan berbagai variant itu, "Nyummy, donat," ia mengambil satu donat lalu di serahkan pada Al, "Kamu satu aja yang sayang, sisanya aku semua," tambahnya sambil tersenyum riang.
Al menerima donat itu, baru saja akan ia masukkan ke dalam mulut, tapi perutnya sudah menolak lebih dulu. Ia mengembalikan donat itu pada Icha lalu melangkah ke arah kamar mandi.
Icha mengikuti Al yang berlari ke kamar mandi.
Hoek hoek hoek
Icha memijit tengkuk Al dengan perlahan, "Kenapa bisa? Semua makanan di tolak oleh perutmu, sayang. Terus kamu mau makan apa?"
"Kamu mau makan apa, katakan saja, aku akan buatkan," Icha menawari.
Al berfikir sejenak, "Buatkan aku puding alpukat aja ya, mungkin itu akan di terima oleh perutku," ucapnya.
Icha mengangguk dengan semangat, kenapa ia lupa jika sang suami menyukai buah yang satu itu.
"Tunggu saja di kamar ya, nantu aku bawa ke atas kalau sudah jadi," Icha menuntun Al keluar kamar mandi, lalu ia mengantar suaminya sampau pertengahan tangga.
Icha melangkah ke dapur, ia mencari bahan-bahan yang akan dia buat puding. Lalu ia mulai membuatnya
Beberapa waktu berlalu, puding pun sudah jadi, Icha membawa satu piring berisi puding alpukat tersebut ke kamar.
Ternyata di dalan kamar Al sedang merebahkan diri di atas ranjang sambil memainkan ponsel.
"Sayang, makan pudingnya ya," Icha duduk di sisi ranjang, tangannya masih membawa satu piring puding buatannya.
Al menggeleng, "Rasanya aku mau makan mie instan aja sayang, enggak mau puding," tolak Al, ia baru saja melihat iklan mie instan yang sedang viral yang katanya bisa di makan setiap hari.
Icha mendengus, ia susah-susah membuatkan puding tapi malah suaminya itu menolaknya mentah-mentah, bahkan belum melihat seperti apa puding buatannya.
"Buat aja sendiri," dengusnya. Wanita hamil yang berubah-ubah moodnya itu tampak kesal, ia tidak mau menuruti permintaan sang suami.
"Yaudah aku enggak mau makan aja kalau gitu, mau tidur," ucap Al, ia merajuk mendengar penuturan sang istri. Ia memunggungi Icha sambil memeluk guling.
Entah bagaimana jadinya, dua insan itu sama-sama labil emosinya. Siapa yang akan mengalah dalam keadaan seperti ini.
Icha menghentakkan kaki yang beralaskan sandal dengan boneka kelinci sebagai hiasan di atasnya itu beberapa kali.
"Oke aku buatkan, tapi kalau nanti kamu enggak mau makan lagi, aku enggak mau buatkan apa pun keinginanmu," putusnya, ia sebenarnya kasihan melihat suaminya tidak makan apa pun, tapi rasa kesalnya lebih dominan.
Al membalikkan tubuhnya menghadap Icha, "Makasih sayang, mie goreng ya di tambah cabe," titahnya.
Icha mengangguk, lalu ia keluar dari kamar kembali ke dapur membuatkan mie pesanan sang suami.
"Buat apa lagi Dek?" tanya Farhan, ia akan mengambil air minum.
"Kakak enggak liat aku lagi apa?" jawabnya sewot, kesalnya pada sang suami berimbas pada orang lain.
"Kasian gantian di kerjain sama Al ya? Dulu aja suka ngerjain Kakak, sekarang di balas oleh Al," Farhan terkekeh, ia senang melihat adiknya kesal karena tingkah sang suami. Ia tahu tadi Icha membuatkan puding untuk Al, dan ia bisa menebak jika adik iparnya itu menolak puding yang di buat oleh Icha dan meminta makanan lain.
"Kalau enggak ada kepentingan lagi mendingan Kakak pergi, jangan gangguin aku. Biki tambah kesel aja," Icha mengusir Farhan.
Farhan pun keluar dari dapur dengan tertawa, menertawakan wanita yang sedang hamil muda itu.
Selesai membuatkan mie, Icha membawa mie itu ke dalam kamar. Ia melihat ke arah ranjang, ternyata Al sudah tertidur, saat tidak sengaja melihat piring di atas nakas, ia kembali kesal karena piring itu sudah kosong.
"Bener-bener niat ngerjain aku, awas aja, enggak akan aku kasih jatah sebulan," dengusnya, lalu ia keluar membawa sepiring mie instan itu dengan kesal.