
Setelah meminum jahe yang baru saja diberikan oleh pembantunya, Icha terlihat lebih baik. Bahkan mual yang tadi dia rasakan juga sudah hilang, dia jadi bersemangat untuk melakukan aktifitas di hari minggu ini.
"Mau kemana sayang?" tanya Al, mereka masih berada diatas kasur tetapi Icha justru akan turun.
"Aku mau masak, mau buat brownis," jawabnya, yang mana membuat Al menahan pergelangan tangannya. "kenapa?" tanya Icha.
"Kamu masih sakit sayang, kalau mau brownis kita bisa beli apa biar Bibik yang buatkan aja," cegah Al, dia menghawatirkan istrinya.
"Aku sudah sembuh sayang, setelah minum jahe tadi badanku tambah seger, mungkin tadi cuma masuk angin aja,"
"Tapi wajahmu masih sedikit pucat," Al memperhatikan wajah Icha, "tidur lagi aja ya," tambahnya.
Icha menggeleng, dia melepaskan cekalan tangan Al, "Gak mau ah, aku mau buat bronis sendiri, mau aku kasih Mama," ucap Icha dengan ketus, lalu beranjak dari tempat tidur.
Al lagi-lagi dibuat heran dengan sikap Icha yang membantahnya, padahal gadis itu tak pernah membantahnya apa lagi dengan sikap yang seperti itu. Al memijat kepalanya yang tiba-tiba pusing dengan perubahan sikap istrinya.
Lalu dia memutuskan untuk mandi saja, dan melihat istrinya nanti setelah mandi.
Sedangkan Icha dia masuk kearah dapur, melihat pembantunya sedang membuat sarapan untuk mereka, dia merasakan mual saat mencium bau bumbu-bumbu dapur. Dia langsung lari kearah wastafel karena isi dalam perutnya memaksa keluar.
Hoek hoek hoek
"Non kenapa? Kalau masih sakit tidur aja Non, gak usah masuk dapur, biar Bibik yang masak," ucap pembantu itu panik.
"Aku sudah sembuh Bik, entah kenapa mencium bau bumbu-bumbu itu rasanya mual banget Bik, gak tahan," dia masih mengeluarkan isi dalam perutnya, tetapi hanya ada cairan berwarna kuning saja yang keluar.
Lalu Icha memutuskan untuk menjauh dari dapur, dia menuju ruang keluarga, yang jarang sekali mereka gunakan.
Pembantu itu mengekori Icha sampai ruang keluarga, dia khawatir dengan istri majikannya itu.
"Non mungkin hamil, dulu Bibik waktu hamil juga seperti itu, gak tahan dengan bau bumbu dapur Non,"
Ucapan pembantu itu membuat Icha terkejut, apakah benar yang dikatakan oleh pembantunya, jika benar gimana dengan ujiannya yang akan dia lakukan seminggu lagi?
"Apa Bibik yakin?" tanya Icha meyakinkan.
"Bibik kira memang seperti itu Non, coba non inget kapan terahir menstruasi?"
"Aku lupa Bik, coba aku cek dulu ya, biasanya aku tulis di buku kalau nggak aku kasih tanda di kalender," ucap Icha lalu dia melangkah menuju kamar.
Sampai di kamar dia membuka buku agendanya, dia melihat tanggal yang tertera disana saat dia menstruasi terahir, lalu melihat tanggal hari ini. Dia terkejut, karena dia terahir menstruasi itu sebelum dia ulang tahun, dan hari ini satu bulan setelah dia ulang tahun. Dia ingat banget, setelah malam ulang tahunnya, dia sering melakukan olah raga malam dengan Al, kenapa dia tidak menyadari hal itu.
"Apa benar aku hamil?" lirihnya, dia menunduk entah gimana perasaannya sedihkah atau bahagia, dia tidak tahu.
"Kamu kenapa sayang?" pertanyaan Al mengejutkan Icha, lalu dia menoleh kearah Al sekilas, tidak ada senyum yang dia perlihatkan, hanya wajah datar.
"Kok wajahmu seperti itu?" tanya Al lagi.
Tapi Icha tetap diam dia tak berniat menjawabnya, entah kenapa rasanya dia tak terima jika harus hamil sedini ini.
Icha mendengus, "Aku gak mau hamil sekarang," hanya itu yang keluar dari bibir Icha.
Al mengernyitkan dahinya, "Emang kamu hamil? Kata siapa? Udah kamu buktiin?" Al bertanya lagi.
Icha menggeleng, "Belum," ucapnya.
"Kenapa kamu bilang gak mau hamil? Kalau belum kamu buktikan?" tanya Al lagi.
Icha menceritakan kejadian tadi saat di dapur, lalu pembantunya mengatakan kalau itu seperti gejala orang hamil, dan Icha melihat tanggal kapan terahir dia menstruasi, ternyata sudah telat satu minggu.
"Kalau bener kamu hamil ya bagus dong, itu tandanya Allah memberikan kepercayaan pada kita," ucap Al setelah mendengarkan cerita Icha.
"Tapi aku belum siap punya anak, aku masih terlalu muda untuk punya anak," Icha menunduk, dia belum siap jika harus memiliki momongan semuda ini.
"Bukannya kamu setuju waktu itu? Kenapa sekarang berubah pikiran?" Al tak habis fikir, padahal waktu itu Icha mengatakan tidak masalah jika dia hamil saat ini, tapi nyatanya sekarang dia malah menolaknya.
"Gimana dengam sekolahku kalau aku hamil? Apa kata teman-teman kita?" Icha terbawa emosi hingga suaranya meninggi.
"Cha, kenapa kamu membentakku sih? Kamu jangan marah-marah gitu dong, coba kita periksa dulu kebenarannya, kalu benar kamu hamil kita pikirkan lagi, gimana kedepannya, kalau tidak yaudah, jangan marah-marah seperti itu," suara Al sedikit meninggi, dia kesal Al membentaknya.
"Lagian kamu hamil juga sama suami mu sendiri, mereka akan memahami itu, please jangan emosi, aku juga gak mau terpancing emosi," tambahnya, dia sudah menurunkan intonasi bicaranya.
Icha menunduk, dia merasa bersalah sudah membentak Al, tapi rasa kesal di dadanya masih sama, dia belum bisa menerima jika benar-benar hamil.
Al mendekat setelah Icha terlihat lebih tenang, dia memeluk istrinya lalu mengusap-usap punggung Icha.
"Sekarang kita periksa ke dokter, kalau benar kamu hamil kita harus merawatnya dengan baik, Allah sudah menitipkannya pada kita," tutur Al
Icha tetap diam, tanpa terasa air matanya mentes. Dia merasa bersalah sudah membentak suaminya tadi.
"Sudah ya, jangan nangis, kita jalani ini bersama-sama, aku yakin kita pasti bisa menjalaninya," tambah Al, lalu dia melepas pelukannya, menatap wajah Icha yang penuh dengan air mata. Dia menghapus air itu dengan buku-buku jarinya.
"Kamu kalau lagi nangis gini jelek tau nggak? Biar tetep cantik makanya diem ya," ucap Al dengan lembut seperti sedang menenangkan anak kecil.
"Sudah ya sayang, kita pastikan dulu ke dokter, jadi jangan bersedih seperti ini," tambanhya lalu menciumi seluruh wajah Icha dengan gemas.
Icha terdiam dari tangisnya, dia sedikit lega mendengar semua penuturan Al. Dia berfikir kenapa dia bisa sesedih ini? Jika memang benar dia hamil juga bukan hal yang memalukan, karena dia hamil ada suaminya. Orang tuanya pun pasti akan bahagia jika mendengar itu, pikir Icha.
Lalu dia memeluk Al dengan erat, "Maafkan aku sayang, tadi pikiranku kacau. Aku akan mencoba menerima semua ini, maafkan aku ya," lirihnya.
"Sudah-sudah, aku sudah memaafkanmu sayang, buang pikiran buruk di kepalamu, kita jalani ini bersama-sama ya." Al mengusap kepala Icha yang tertutup jilbab. "Sekarang kamu mandi, terus kita ke dokter setelah ini, karena ini hari minggu kita ketempat Kak Hanny saja," titah Al.
Icha pun mengangguk, dia melepaskan pelukannya lalu menuju kamar mandi.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komennya yah. Makasih