
Subuh menjelang, sayup-sayup Icha mendengar suara adzan, matanya masih mengantuk sebab semalam dia tidak tahu tidur jam berapa. Di cuekin oleh suaminya membuat dia kalang kabut sendiri, tak bisa tidur nyenyak dan memikirkan apa yang akan terjadi pagi ini.
Tiba-tiba rasa mual kembali menyerang, entah kenapa padahal beberapa hari ini di pagi hari dia akan baik-baik saja, hanya mual sedikit, minum air putih dan vitamin mualnya hilang. Tapi kali ini isi dalam perutnya seakan memaksa untuk keluar.
Dia tergesa-gesa turun dari ranjang, lari kedalam kamar mandi, memuntahkan isis dalam perutnya. Tapi hanya ada cairan kuning saja yang keluar.
Hoek Hoek Hoek
Terus memuntahkan isi dalam perutnya, padahal dia sudah terlihat lemas. Tanpa terduga dan tanpa dia sadari ada tangan yang memijit tengkuknya. Icha sudah tahu siapa pelakunya.
"Minum dulu," Al menyodorkan botol berisi air putih setelah Icha membasuh wajahnya. Sebelum masuk kamar mandi karena mendengar suara Icha, Al lebih dulu mengambil botol air minum yang berada diatas nakas.
Icha menerima botol tersebut, lalu menegak isinya, "Makasih sayang," ucapnya setelah meminum air itu.
"Sudah enakan apa belum?" Al kembali bertanya, dia tak menanggapi ucapan terimakasih sang istri.
Icha mengangguk, "Alhamdulillah udah," jawabnya.
"Yaudah kamu wudhu dulu ntar gantian, kita sholat bareng," ucapnya lalu keluar dari kamar mandi.
Icha tahu sikap Al yang seperti itu menandakan kalau dia masih sedikit kesal, tapi dia bahagia meskipun Al kesal padanya tapi tetep perhatiannya tak berkurang. Ia mengambil air wudhu, lalu keluar dari kamar mandi, bergantian dengan Al yang masuk kedalam kamar mandi.
Icha menunggu Al, dia duduk diatas sajadah, sudah mengenakan pakaian sholat lengkap, ia pun sudah mempersiapkan perlengkapan sholat untuk Al, menggelar sajadah di depan Icha duduk.
Tak lama Al keluar, dia mengenakan sarung, baju koko serta peci yang sudah disipkan oleh Icha, lalu dia berdiri di sajadah depanyang sudah dipasangkan juga oleh Icha, Icha pun ikut berdiri.
Mereka melaksanakan sholat seperti biasa, setelah selesai sholat biasanya Icha akan membaca beberapa lembar mushaf, akan tetapi kali ini dia lebih memilih mendekati Al, memeluk suaminya dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung sang suami.
"Sayang, maafkan aku atas kejadian semalam ya, aku bener-bener nyesel," ucapnya dengam sendu, dia tak mau Al mendiamkannya seperti saat ini. "Kamu boleh hukum aku apa aja, asalkan kamu mau maafin aku," tambahnya.
Al berbalik, dia mendekap istrinya dengan erat. "Beneran aku bolem menghukummu apa saja?" tanyanya dengan tersenyum nakal, tapi Icha ttak melihat itu.
Icha mengangguk dalam dekapan Al, "Iya, apapun aku siap menerimanya," ucap Icha.
Al kembali menyunggingkan senyum, "Aku mau memakanmu," bisiknya di telingan sang istri dengan tersenyum penuh arti.
Icha mendongak, dia menatap wajah sang suami, "Gimana kalau kita terlambat kesekolah?" Icha paham suaminya itu tidak akan puas jika hanya satu kali permainan.
"Gak akan, belum juga setengah lima, satu jam cukup," Al berharap sang istri mengiyakan keinginanya.
Icha menyerah, dia tahu jika menolak suaminya itu dosa. Lalu dia tersenyum dan mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Mendapat persetujuan dari istrinya, mereka melepaskan pakaian sholat dan membiatkan tergletak diatas sajadah. Al menggendong istrinya menuju ranjang, dan pagi yang dingin itu menjadi berubah jadi pagi yang panas untuk mereka berdua.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Sarapan pagi ini seperti kemarin, Icha tak makan nasi dia hanya makan puding buatan sang Mama, dengan toping berbeda dari kemarin. Icha terlihat kesal dengan sang Kakak, dia bahkan tak mau manatap wajah Farhan, karena permintaannya semalam tak di penuhi oleh Farhan menjadikan dia didiamkan oleh sang suami.
"Kamu kenapa sih Dek? Jutek gitu sama Kakak," heran Farhan, keduanya sedang berada di teras rumah, Icha menunggu Al mengambil mobil di garasi.
"Kesel," jawab Icha singkat padat dan tidak jelas, kesal kenapa dia tak menjeaskannya.
Farhan mengernyitkan dahinya, "Kesel sama Kakak? Kenapa?" tanya Farhan penasaran.
Farhan geleng-geleng kepala melihat tingkah adik perempuannya itu.
"Kenapa geleng-geleng kepala gitu Han?" pertanyaam dari sang Mama mengalihkan pandangannya.
"Icha itu Ma, katanya kesel sama aku, tapu aku enggak tahu kesel kenapa," jawab Farhan sejujurnya.
"Mungkin kamu melakukan kesalahan tanpa kamu sadari," Mama menerka-nerka.
"Gak tahu lah Ma, Farhan berangkat dulu ya," pamitnya lalu mencium punggung tangan mamanya, mengendarai mobilnya menuju kantor.
Sedangkan di tempat Al dan Icha. Al mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, danbteelihat santai. Senyum terus terpancar dibibirnya, karena dia mendapatkan jatah pagi ini, dan kesalnya pada sang istri pun telah lenyap berganti dengan senyuman indah.
"Kamu kenapa sayang? Senyam-senyum dari tadi?" pertanyaan itu lolos dari bibir Icha.
Al menoleh, dia melihat wajah istrinya masih dengan tersenyum, "Masih terbayang dengan kejadian tadi pagi," jawabnya.
Wajah Icha memerah seperti jambu, dia tersipu malu mendengar penururan Al, pasalnya tadi pagi dialah yang menjadi peran utama dalam permainan mereka tentunya karena permintaan sang suami.
"Kenapa sayang?" tanya Al saat melihat wajah Icha berubah, "Gak usah malu, sama suamimu sendiri juga," tambahya.
Icha justru bertambah malu, tapi tak urung dia pun menganggukkan kepalanya.
"Sesekali kan seperti itu," kenapa Al terus saja membahas masalah pagi tadi, padahal Icha sudah tak ingin membahasnya. Dia diam karena tak mau mengingat kejadian itu lagi.
Icha menanggapinya dengan tersenyum, "Udah ah sayang, gak usah dibahas lagi," protes Icha, "Nanti pas ngerjain soal malah gak fokus kalo di inget-inget terus," tambahnya.
Al tersenyum, dia tahu alasan Icha sebenarnya bukan itu tapi karena dia merasa malu, " Baiklah, biar aku yang mengingatnya sendiri kalau kamu masih malu," ucapnya.
Bugh
Icha memukul lengan Al, suaminya itu suka sekali menggodanya. "Sayang, udah ya aku malu jangan bahas itu lagi," pntanya dengan manja.
"Iya sayang, aku gak akan bahas lagi," Al membelokkan mobilnya masuk kedalam area sekolah. Karena mereka sudah sampai di sekolah.
Keadaan sekolah sama seperti kemarin, karena hanya kelas tiga saja yang masuk.
"Sayang, nanti kalau kenapa-kenapa langsung telfon aku ya, aku enggak mau kejadian kemarin terulang lagi, aku khawatir," pesan Al, dia tak mau kejadian yang menimpa Icha kemarin terulang, apalagi kemarin dia datang terlambat.
"Iya sayang, gak usah khawatir, sekarang pasti baik-baik aja," timpal Icha.
"Sayang, jaga Mama ya, jangan nakal di dalam perut Mama, kasian Mama sayang," Al mengelus perut istrinya, dia mendaratkan kecupan disana.
Icha bahagia melihat suaminya seperti itu, dia mengelus rabut Al yang masih setia mengecupi perutnya, "Terimakasih sayang," ucapnya, Al puj menganggukan kepala dan tersenyum kearag Icha.
"Ayo turun, sebentar lagi bel masuk," ajak Icha.
Al mengangguk, lalu dia membuka pintu, Icha melakukan hal yang sama. Mereka pun turun dari mobil masuk kedalam area sekolah dengan bergandengan tangan.
Bersambung......