Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
Extra Part 9


Seminggu berlalu setelah kelahiran si kembar. Kini mereka sudah berada di rumah, tetapi masih tinggal di rumah keluarga Icha, karena Mama muda itu belum bisa bergerak bebas, ia juga belum bisa mengurus bayinya sendiri. Mama Sintalah yang mengurus kedua bayi itu, mulai dari memandikan, mengganti pakaian, bahkan mengganti popok pun ia lakukan. Karena Icha masih takut-takut menyentuh bayi mungilnya. Takut terjatuh ungkapnya.


Hari ini keluarga Icha mengadakan syukuran aqiqoh kedua bayi kembar itu. Mereka mengundang anak yatim piatu dari panti asuhan. Mereka juga menyedekahkan sebagian harta pada orang yang membutuhkan.


Tidak begitu meriah memang, tapi penuh akan syarat makna, karena kehadiran anak-anak panti asuhan dan beberapa tetangga dekat saja.


"Assalamu'alaikum semuanya, terimakasih telah memenuhi undangan kami untuk menghadiri acara syukuran sekaligus aqiqah kedua cucu saya. Yang kami beri nama Aufa Adyan Al Ghifari dan Alisha Noureen Al Ghifari. Mohon doanya semoga kedua cucu saya menjadi anak yang shalih shalihah, berbakti pada kedua orang tua serta berguna bagi nusa, bangsa dan agama," sepenggal sambutan yang di sampaikan oleh Papa Bayu.


Beberapa rangkaian acara telah usai, kini acara terahir yaitu doa. Seorang pemuka agama di tempat itu memberikan beberapa doa pada kedua bayi kembar yang baru beberapa hari dilahirkan tersebut. Tamu yang hadir ikut mengamini doa yang di panjatkan oleh pemuka agama tersebut.


Bayi yang ada dalam gendongan Mama dan Neneknya itu tampak tenang, mungkin mereka merasa bahagia juga.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Malam hari Icha terbangun, sayup-sayup mendengar tangisan bayi, ia pun langsung turun dari ranjang, ketika sadar jika yang menangis itu salah satu bayinya. Saat membuka mata ternyata ia mendapati sang suami sedang menimang-nimang bayi tersebut.


"Sini sayang, mungkin dia haus," Icha meminta bayi itu dari gendongan Al.


Al pun memberikan bayi tersebut. Setelah menerima bayi perempuannya itu, Icha pun langsung menimang bayi Alisha.


"Cup, cup, cup, sayang." Icha menenangkan bayinya, sambil menepuk-nepuk ****** bayi itu dengan lembut. Sebelum bayi Alisha diberi ASI.


Akhirnya bayi Alisha pun diam, lalu Icha memberi ASI pada bayinya.


"Aku kira Mama masih tidur di sini," ucap Icha, karena setelah pulang dari rumah sakit, setiap malam yang tidur bersama Icha dan dua bayinya adalah Mama, sedangkan Al tidur sendiri di kamar tamu.


Icha berkata seperti itu, karena ia tadi tidur lebih dahulu, setelah kedua bayinya terlelap, jadi ia tidak tahu siapa yang menemaninya tidur.


"Tadinya Mama mau tidur di sini lagi, tapi aku larang, kasian Mama begadang terus, biar aku aja, lagian kamu juga udah lebih baik," timpal Al, ia memang tadi meminta supaya dirinya yang menemani Icha dan ke dua bayinya.


Icha mengangguk, ia masih berusaha menyusui bayi perempuannya, sedangkan bayi laki-laki, terlihat masih tenang di dalam box. Bayi laki-lakinya itu memang lebih tenang tidak seperti bayi perempuan, entah kenapa bisa seperti itu.


Setelah bayi Alisha terlelap, Icha pun meletakkan kembali bayinya ke dalam box.


"Sayang, sepertinya Aufa juga haus." Al memberikan bayi Aufa yang terlihat membuka matanya, bayi itu tidak menangis, karena Al langsung menggendongnya.


Icha pun kembali menyusui bayi yang satunya, ia terlihat telaten saat menyusui mereka. Setelah bayi Aufa terlelap, Icha meletakkannya di box bayi.


"Kapan kamu siap untuk pulang, sayang?" tanya Al, keduanya kini sudah berada di atas ranjang.


Al tampak berfikir, lalu ia menghembuskan nafas, "Baiklah, sebenarnya aku kasian sama Papa, di rumah cuma sama art dan satpam, kasian kesepian, tapi kalau keputusanmu seperti itu, tidak masalah, sesekali aku akan menginap di ruman, nemenin Papa," putus Al, ia memang merasa kasian dengan sang Papa, karena sendirian di rumah.


"Iya sayang, aku juga sebenarnya kasian sama Papa, tapi mau bagaimana lagi, pasti Papa memaklumi semuanya, dari pada Mamaku yang menginap di sana, kan rasanya tidak mungkin," timpal Icha.


Al mengangguk, ia membenarkan ucapan Icha.


"Yaudah, ayo tidur lagi, nanti kalau mereka kebangun kita enggak bakalan bisa tidur sampai subuh," ucap Al, lalu ia merebahkan diri di susul oleh Icha.


Benar sekali ucapan Al, karena baru beberapa menit mereka memejamkan mata, terdengar suara bayi menangis.


Oek Oek Oek


Icha pun langsung menghampiri bayinya, ia mengambil bayinya, dahinya mengernyit saat merasakan basah di tangan yang menopang tubuh mungil bayi itu.


"Ternyata pup ya Dek, ganti dulu ya," Icha berbicara dengan bayi itu.


Al mendekati Icha, ia juga terbangun saat mendengar tangisan bayi. "Alisha ngompol ya?" tanya Al.


"Enggak, tapi dia pup. Kamu tidur lagi aja, besok kan kerja, kalau ngantuk gimana, ini biar urusanku sayang," ucap Icha tanpa menoleh ke arah Al, karena ia fokus mengganti popok Alisha.


"Kasian kamu kalau begadang sendirian, biar aku temani," Al menolak, sebenarnya ia mengantuk sekali, terlihat menguap beberapa kali, bahkan kelopak matanya tidak terbuka sempurna.


"Sayang, tidurlah, aku tidak masalah. Lihat! Kamu terlihat sangat mengantuk, jangan paksakan, kata Mama ini udah resiko jadi seorang Ibu dan aku menjalaninya pun dengan ikhlas," tutur Icha, kali ini ia menatap wajah sang suami yang terlihat mengantuk, karena sudah selesai mengganti popok. Bayinya pun sudah berada dalam gendongannya.


Al tersenyum, ia mendaratkan bibirnya di kening Icha, "Terimakasih sayang, kamu telah banyak berkorban. Baiklah aku tidur ya," ucap Al, ia menatap bayi Alisha yang belum memejamkan mata, "Papa bobok dulu ya sayang, jangan rewel kasian Mama," ucap Al bicara pada bayi Alisha, tentu saja si bayi tidak merespon apa-apa karena belum mengerti. Al mengecup pipi gembul bayi itu, lalu ia kembali ke ranjang.


Icha tersenyum melihat tingkah suaminya.


Icha menimang bayi Alisha, tetapi sudah cukup lama ia menimang bayi itu enggan menutup matanya. Bahkan terlihat tak ingin tidur, akhirnya Icha memutuskan untuk duduk sambil menyusui bayi itu supaya terlelap.


"Seberat ini ternyata jadi seorang ibu, Mama pasti dulu merasakan hal yang sama. Pantas saja ada pepatah yang mengatakan surga itu di telapak kaki ibu, mungkin karena hal inilah, setelah mengandung sembilan bulan tugasnya belum selesai bahkan akan lebih berat di banding membawa mereka dalam kandungan, semoga saja aku jadi ibu yang baik untuk anak-anakku kelak, bisa membimbing mereka ke jalan yang benar," Icha berbicara sendiri, ia mengingat semua momen di mana ia berjuang melahirkan ke dua bayinya meskipun dengan jalan yang tidak seharusnya.


》》**Maaf baru bisa Up, aku usahakan upnya sering-sering, karena aku fokus sama Nayla.


Ohya yang penasaran kisah Nayla, bisa baca di novel SINCERELY LOVE NAYLA, disana dijelaskan semuanya kenapa Nayla bisa menikah dengan Farhan**.