
Bel menadakan waktunya pulang, semua murid berbodong-bondong keluar dari kelas masing-masing menuju kediaman mereka.
Icha berjalan beriringan dengan Nayla menuju parkiran, seperti biasa dia akan menunggu suaminya atau sebaliknya. Kadang Al juga menjemput Icha kekelasnya, jika dia lebih dulu keluar dari kelas, jika tidak makan Icha keluar kelas bersama dengan Nayla.
"Aku main kerumah mu ya Cha, udah lama juga kita gak belajar bareng," celetuk Nayla, mereka sekarang memang jarang bertemu, karena setiap hari Icha mengikuti Al ke kantor.
"Tanya sama Al dulu ya Nay, dibolehin apa enggak?" Icha tidak berani memberi keputusan sendiri, dia harus meminta ijin dengan suaminya.
"Nah itu yang buat kita jarang bertemu, tapi aku maklumin sih, berbakti sama suami memang kewajiban," Nayla sebenarnya sedikit kesal, tetapi dia tahu Icha harus patuh pada sang suami.
Nayla masih menemani Icha menunggu hingga Ak datang. Orang yang di tunggu-tunggu pun datang, dia menghampiri istrinya, memeluk pinggangnya dengan erat, seperti rindu yang lama tak terbalas.
"Ayo pulang," ajaknya, dia membawa istrinya menuju motor kesayangannya.
Nayla mengikuti keduanya, "Al aku boleh kerumah kalian ya? Kangen pengen belajar bareng Icha, dah lama juga gak belajar bareng," tanpa basa-basi Nayla mengutarakan keinginannya.
"Boleh, silahkan saja, pintu rumah gue selalu gue bukak," Al memepersilahkan Nayla untuk berkunjung.
"Sip, kalo gitu aku duluan ya, setelah ini meluncur," pamit Nayla, dia berlalu menuju mobilnya yang masih terparkir indah.
"Kamu ke kantor sendirian gak apa-apa, kalau Nayla main kerumah?" pertanyaan itu yang lolos dari bibir Icha, karena biasanya suaminya akan meminta Icha menemaninya ke kantor.
"Aku ijin dua minggu sayang, buat persiapan ujian sama ujian nanti, semua sudah aku serahkan sama Pak Rio," jawab Al, dia memang sudah menyerahkan urusan kantor selama dua minggu ke orang kepercayaan Papanya, itu pun sesuai permintaan Sang Papa, supaya putranya lebih fokus ke ujian sekolah terlebih dahulu.
"Baguslah kalau seperti itu, kamu nanti juga ikut belajar bareng kita ya,"
"Iya, sekarang kita pulang, mampir apotik dulu, ingetin aku ya sayang, ntat malah lupa," Al mengambil helm, lalu memasangkan helem itu dikepala sang istri, dia pun memasang helm untuk dirinya. Mempersilahkan Icha naik keatas motor setelah dirinya naik, lalu melajukan kendaraan roda dua itu menuju kediaman mereka.
Mereka terlebih dahulu mampir ke apotik, untuk menebus vitamin yang diresepkan oleh dokter kemarin.
Al memberikan resep itu kepetugas apotek, tak lama dia mendapatkan vitamin yang di tebusnya, membayar obat itu lalu melajukan kembali lendaraan roda duanya menuju istana keluarganya.
"Sayang, mau makan sesuatu?" tanya Al, mereka berhenti di lampu merah.
"Enggak sayang, pulang aja sekarang, aku gerah banget pengen mandi," memang kalau wanita hamil kebanyakan merasa lebih gerah dari biasanya.
"Iya sayang, sebentar lagi juga sampai, tumben banget pengen cepet mandi, biasanya aja mandinya sore sebelum maghrib," komentar Al, dia menyadari banyak terjadi perubahan pada istrinya.
"Enggak tau sayang, mungkin efek hamil juga," Icha juga tidak tahu, kenapa suhunya terasa lebih panas.
"Bisa jadi sih," Al melajukan motornya setelah lampu berwarna hijau.
Keduanya sudah memasuki gerbang rumah mereka, turun dari motor, melepas helam lalu masuk kedalam rumah.
Sesuai perkataannya tadi, Icha menuju kamar langsung menyambar handuk, dia tak sabar ingin segera menyegarkan dirinya dengan air dingin.
Sedangkan Al memilih berganti pakaian, dia menunggu sang istri keluar dari kamar mandi sambil membuka ponselnya.
Tak lama Icha keluar dari kamar mandi dia hanya mengenakan handuk, karena tadi lupa mengambil baju ganti.
Al mengernyit melihat penampilan Icha, lagi-lagi tak seperti biasanya istrinya seperti itu, bisanya jika lupa mengambil baju, makan Al lah yang disuruh mengambilkan dilemari, tapi kali ini tidak. Dia tak ambil pusing dengan semua itu, terserah Icha saja mau seperti apa, asalkan masih dalam batasan wajar.
Al mendekati kearah Icha, dia mengambil handuk ditangan istrinya, "Biar ku bantu sayang," tuturnya, menggosok-gosok rambut panjang istrinya dengan telaten.
Icha tersenyum dengan perlakuan Al yang seperti itu, rasa bahagia pun tak pernah pudar dari benaknya, "Makasih sayang," ucapnya dengan senyum mengembang.
"Sayang, sejak kapan kamu memakai hijab?" pertanyaan itu belum pernah Al tanyakan selama ini.
"Sejak masuk SMA, dari dulu Mama selalu menyuruhku mengenakan hijab, tapi aku belum siap, saat SMA aku merasa wajib melakukan itu karena perintah agama, jadi aku paksain dan akhirnya terbiasa sampai sekarang," Icha menerawang masa lalu, menceritakan pada suaminya.
"Aku beruntung punya istri seperti kamu, dulu aku juga berharap istriku itu berpakaian tertutup dan berhijab, ternyata Allah mendengarkan doaku," Al tersenyum bahagia, "Karena hanya aku yang bolek menikmati kecantikan istriku luar dalam," masih setia menggosok rambut basah istrinya.
"Mama pernah cerita, katanya dulu saat pertama berhijab itu karena deskan dari Mamamu, ya seperti kamu, awalnya terpaksa tapi lama-lama jadi terbiasa," tambah Al, dia mengingat cerita Mamanya dulu.
Saat asyik bercerita tiba-tiba pintu kamar diketuk oleh seseorang.
Tok
Tok
Tok
Al menyerahkan handuk ditangannya pada Icha, dia melangkah membukakan pintu untuk orang diluar sana.
"Kalian ngapain aja sih, lama banget, aku nunggu udah dari tadi tau," Nayla mengomel-ngomel, dia kesal karena sejak tadi menunggu dibawah tapi Al dan Icha tak kunjung turun.
Saat Al akan menjawab, pertanyaan dari istrinya mengurungkan niatnya.
"Siapa sayang?" Icha melihat kearah depan Al, karena Al tak membuka pintunya dengan lebar, hanya menampakkan dirinya saja.
"Oh kamu sudah datang Nay? Maaf gak tahu kalau kamu dah datang, tunggu ya sebentar," Icha sempat dengar omelan Nayla tadi tapi tak begitu jelas, karena posisinya yang agak jauh.
"Ge-pe-el," Nayla cemberut, dia meninggalkan kamar Icha dan kembali keruang keluarga.
Saat sampai disana, dia mengernyitkan dahinya, karena ada orang yang duduk memunggunginya di sofa, mendekat dan melihat wajah orang tersebut, ternyata dia mengenalinya.
"Kak Farhan, kapan datang? Tadi aku pergi belum ada?" ternyata Farhan yang duduk di sofa itu.
"Eh Nayla, baru aja duduk Nay, kamu apa kabar? Lama gak ketemu ya," mereka memang sudah lama tidak bertemu, karena sebelum Icha tinggal dirumah Al, Nayla sering datang kerumah Icha dan sering pula bertemu dengan Farhan, saat Icha kerumahnya pun kadang Farhanlah yang menjemput Icha.
"Iya Kak, sejak ulang tahun Icha waktu itu, sebulanan lebih lah," duduk di sofa depan Farhan. "Sendirian Kak? Mana Kak Sherena?" dia juga hafal dengan kekasih Farhan.
"Ada kerjaan Nay, jadi gak bisa ikut," tersenyum kearah Nayla, "Eh yang punya rumah mana?"
Sebelum Nayla menjawab, Icha lebih dulu datang, "Eh ada Kakak juga, kapan datang?" pertanyaan pertama yang terlontat dari bibir Icha.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komenya yah...