
Setelah menceritakan semuanya Anggun kembali menunduk.
"Apa kamu yakin gak ada yang terlewatkan dari ceritamu?" selidik Kepala Sekolah.
"Iya Pak," jawab Anggun singkat.
"Apa alasan kamu melakukan itu pada Icha?" selidik Kepala Sekolah lagi.
"Karena saya tidak suka melihat Icha dekat dengan Al Pak,"
"Kamu yakin? Tidak ada alasan lain? Tapi kalau cuman gara-gara tidak suka melihat kedekatan mereka kenapa sampai setega itu? Bicara lah yang jujur, apa alasan kamu sebenarnya? Yang lainnya juga apa alasan kalian?"
"Kita bertiga di bujuk sama Anggun Pak, karena kami dulu pernah jadi kekasihnya Al, tapi Al mempermainkan kami, berbeda dengan Al memperlakukan Icha, jadi Anggun mengajak kami untuk balas dendam, tadinya kami menolak, tapi Anggun terus memaksa dan kami terpaksa mengiyakan?" Nita membeberkan alasannya mau mengerjai Icha.
"Apakah benar seperti iru Anggun?"
"Iya Pak, kalau Bapak mau ngeluarin saya dari sekolah ini saya terima, asal Bapak gak ngeluarain ketiga teman saya," pinta Anggun.
Orang tua Anggun tampak syok dengan pengakuan anaknya, dia tidak habis pikir dengan kelakuan Anggun diluar rumah.
"Apa-apaan kamu Nggun! Papa sudah didik kamu jadi anak yang baik, tapi kamu malah memalukan Pap dengan kelakuanmu yang seperti itu, Papa kecewa Nggun!" Seru Papa Anggun, dia tidak bisa menggendalikan emosinya.
"Maafin Anggun Pa," Anggun menunduk, dia merasa bersalah pada kedua orang tuanya.
"Maaf Pa, semua ini Anggun lakukan juga buat Papa," Batin Anggun.
"Sudah Pak, kesalahan anak Bapak memang sangat fatal, saya tahu Bapak kecewa, saya juga kecewa Pak. Saya minta maaf karena tidak bisa mendidik anak Bapak dengan baik, saya juga minta maaf dengan terpaksa Anggun akan kami keluarkan dari sekolah ini, dia dalang utamanya. Sedangkan kalain bertiga, karena kalian juga korbannya Anggun jadi kami beri keringanan, kalian diskors selama satu bulan, dan akan kami awasi, jika kalian melakukan kesalah lagi makan akan kami keluarkan dengan terpaksa," tutur Kepala Sekolah.
"Terimakasih Pak, masih memberi kesempatan pada anak kami untuk sekolah disini, Nita sudah kelas tiga, kalau dikeluarkan dia pasti harus ulang awal tahun lagi, mengingat sebentar lagi ujian," orang tua Nita berterimakasih sekali karena anaknya hanya diskors.
"Pak saya minta maaf atas kelakuan Anggun, saya akan terima konsekuansi yang diberikan oleh pihak sekolah," Papa Anggun beralih menatap Icha dan Al.
"Nak saya sebagai orang tua Anggun mohon maaf atas kejadian yang menimpamu, Anggun sudah mendapatkan balasan yang setimpal, sekali lagi mohon maaf ya Nak,"
Icha tersenyum, "Saya sudah memaafkan anak Bapak, saya sebenarnya kasian jika Anggun harus dikeluarkan dari sekolah ini, tapi saya tidak bisa menentang keputusan pihak sekolah Pak,"
"Iya, Anggun memang pantas mendapatkan itu, biarkan dia menyesali perbuatannya,"
Kepala sekolah menyuruh keempat siswanya untuk meminta maaf pada Icha, lalu merekapun meminta maaf, Icha menerima permintaan maaf mereka meskipun berat, tapi dia tetap memaafkannya.
Kini giliran Anggung yang mendekati Icha, "Gue minta maaf," hanya kata itu yang keluar dari mulut Anggun, sebenarnya dia enggan meminta maaf.
Anggun itu, siswi yang pernah membicarakan Icha waktu di kantin, dan Al mengetahuinya. Dia sebenarnya benar-benar takut dengan ancaman Al, akan tetapi karena faktor lain dia mencelakai Icha.
Setelah keputusan itu, semua orang pun meninggalkan ruang Kepala Sekolah. Orang tua Anggun terlihat begitu malu dengan kelakuan anaknya, dia meninggalkan Anggun lebih dulu tanpa mengajaknya pulang.
"Pak saya mohon kejadian ini jangan sampai diketahui oleh orang tua saya," pinta Icha pada kepala sekolah, setelah kepergian orang tua Anggun dan kawan-kawan.
"Emangnya kenapa Icha? Bukannya orang tua kamu harus tahu jika anaknya menjadi korban?"
"Iya Pak, saya mohon jangan diberi tahu kedua orang tua saya, karena sebagian dari mereka adalah rekan bisnis Papa saya, yang saya takutkan Papa saya akan melakukan hal yang tidak saya inginkan," jelas Icha panjang lebar.
"Iya saya mengerti, jadi sejak kemarin kamu merahasiakan ini dari kedua orang tuamu? Apa mereka tidak curiga?"
Mereka tidak akan curiga Pak, Icha saja tidak tinggal bersama kedua orang tuanya, pikir Al. Dia menyimak pembicaraan Icha dan kepala sekolah.
"Baiklah, saya akan merahasiakan ini, sekarang kamu juga bisa kembali ke dalam kelas lagi,"
Mereka berdua pamit, dan kembali kekelas mereka, karena waktu istirahat sudah selesai.
"Sayang, maafkan aku, lagi-lagi karena kesalahanku dimasa lalu kamu yang menjadi korbannya," ucap Al mereka sedang berjalan menujuk kelas Icha.
"Tidak masalah Al, aku menerima kamu apa adanya, jadi aku tanggung semua konsekuensi yang akan aku terima,"
Al berhenti sejenak, dia menatap Icha lekat. Jika saja sedang tidak disekolah sudah dipastikan Al akan mencium Icha, tapi dia sadar ini di kawasan sekolah. Yang bisa dia lakukan hanya mencium punggung tangan Icha.
"Makasih sayang, aku jadi makin sayang dan cinta sama kamu, kamu luar biasa," ucap Al setelah melepaskan kecupannya di punggung tangan Icha.
Icha tersenyum, wajahnya memerah karena malu dengan ucapan Al.
"Ayo jalan lagi, ini sudah mulai pelajaran nanti kita akan tertinggal," ucap Icha, karena Al malah berhenti cukup lama.
Keduanya melanjutkan perjalanan lagi, sampai ke kelas Icha. Al mengantar Icha sampai depan kelasnya, dia tidak mau terjadi sesuatu dengan Icha, setelah mengantar Icha dia pun kembali kedalam kelasnya.
"Sayang nanti setelah aku sholat dhuhur kita makan ya, aku lapar banget, kamu ikut aku ke mushola ya," pinta Al setelah berada didepan kelas Icha.
"Iya, nanti kamu jemput aku, yaudah aku mau masuk, kamu kembalilah kekelasmu, selamat belajar," ucap Icha lalu dia melihat Al pergi dari depan kelasnya.
Tok
Tok
Tok
Icha mengetuk pintu kelasnya, karena didalam sudah ada guru yang mengisi pelajaran. Setelah dipersilahkan masuk, Icha pun masuk kedalam kelas. Dia menghampiri guru tersebut sebelum duduk.
"Maaf Buk, saya terlambat. Tadi ada urusan diruang kepala sekolah, jadi saya terlambat masuk kelas," ucap Icha dengan sopan.
"Iya Icha, Ibu paham, sekarang kembalilah ke bangkumu, kita bahas kerja kelompok beberpa hari yang lalu, setelah ini giliran kelompok kalian," ucap guru itu.
Icha tersenyum dan mengangguk, dia pun kembali ke bangkunya dan duduk disana.
Nayla tampak penasaran dengan apa yang terjadi. Dia penasaran siapa pelaku yang sudah mengunci Icha di gudang belakang sekolah. Dia ingin bertanya, tapi niatnya dia urungkan karena ini masih pelajaran. Dia akan menunggu sampai istirahat tiba.
Setelah Icha duduk, benar saja guru itu membahas kerja kelompok tugas Biologi yang bebrapa hari yang lalu mereka kerjakan. Salah satu perwakilan dari kelompok Icha maju untuk menjelaskan, kali ini bukan Icha, tetapi Dea yang maju untuk menjelaskan, sesuai kesepakatan mereka.
.
.
.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komennya yah.
Gimana puas tidak? Anggun di keluarkan dari sekolah, padahal dia hanya diperalat lho🤠(bocoran)🤣