Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
Extra Part 2


"Alhamdulillah, aku bahagia dengernya Din, selamat ya," ucap Sinta lalu ia memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Ibu hamil keliatan bugar banget, emang enggak ngidam?" tanya Sinta setelah melepas pelukan mereka.


"Nah justru itu, aku yang hamil tapi Mas Davit yang ngidam, dia enggak suka ini lah enggak suka itu lah, bahkan tiap pagi muntah-muntah melulu beberapa hari ini," jelas Dina.


Mereka pun larut dalam obrolan.


Namun kebahagiaan Dina tidak berlangsung lama, saat kandungannya berumur empat bulan ia harus rela kehilangan bayi dalam kandungannya. Dokter mengatakan karena sang ibu terlalu kelelahan. Memang benar, Dina saat ini sedang bekerja di sebuah perusahaan, ia bekerja sebagai sekretaris dan belum mau meninggalkan pekerjaannya itu.


Beberapa bulan setelah keguguran, Dina pun hamil lagi. Ia masih keras kepala tidak mau berhenti bekerja, ia beralasan membantu sang suami mencari nafkah. Dan hamil yang kali ini pun sama, ia kembali kehilangan bayi dalam perutnya. Dan itu membuat Dina sadar, setelah keguguran untuk kedua kalinya ia baru mau keluar dari pekerjaannya. Bahkan ia merubah penampilannya dengan mengenakan hijab, sepertu sahabatnya Sinta. Ia juga banyak belajar tentang ilmu agama pada Sinta, mengingat kedua orang tua Sinta adalah ahli agama. Makanya sampai anak-anak Sinta pun pandai dalam ilmu agama.


Setelah hampir dua tahun menikah dan mengalami ke guguran dua kali, Dina pun di beri amanah lagi. Ia bahagia saat tahu dirinya kembali hamil, ia benar-benar menjaga kehamilannya, memperhatikan pola makan dan lain sebagainya. Bahkan hamil kali ini ia terlihat lebih tersiksa, karena tidak bisa makan sembarangan, satu lagi ia harus sering kontrol ke dokter kandungan karena kandungannya lemah.


Saat di usia kandungan Dina sudah membesar, tiba-tiba musibah datang, usaha yang baru saja dirintis oleh Davit harus bangkrut, untung saja rumah yang ia tinggali tidak sampai diambil oleh bank untuk membayar hutang-hutang Davit.


Satu-satunya orang yang bisa membantu adalah Bayu, Davit membangun usahanya setelah ia keluar dari perusahaan Bayu, ia mendirikan perusahaan yang berbeda jalur dari Bayu, tapi nyatanya usahanya tidak membuahkan hasil.


Saat akan melahirkan, Davit kembali bingung, ketika diberitahu oleh dokter jika sang istri harus segera di operasi, jika tidak maka nyawa bayi dalam kandungan sang istri akan terancam. Saat sedang gundah gulana Bayu dan Sinta datang.


"Tandatangani surat persetujuan itu Dav, aku akan tanggung semua biyaya persalinan istrimu," ucap Bayu kala itu.


Davit dengan ragu menandatangani surat persetujuan operasi untuk sang istri.


Setelah satu jam lebih sang istri berada di ruang operasi, akhirnya keluar juga. Ia telah melahirkan seorang bayi laki-laki.


"Sinta, Bayu terimakasih atas bantuan kalian, jika tidak ada kalian kita tidak tahu sekarang seperti apa, maaf juga dulu Mas Davit sempat egois, ia memilih membangun usaha sendiri dan meninggalkan perusahaanmu," ucap Dina, sudah dua hari ia di rumah sakit setelah melahirkan.


"Tidak masalah, itu kewajiban kita, harus menolong sesama muslim, lagian kalian juga sudah kami anggap sebagai saudara sendiri," timpal Sinta.


Dina tersenyum, "Jika nanti anak yang ada dalam kandunganmu itu perempuan, aku janji akan jodohkan mereka, sebagai tanda terimakasihku untuk kalian," tutur Dina.


Suami dan kedua sahabatnya saling memandang satu sama lain, lalu mereka tersenyum bersama-sama, "Aku setuju, karena anak ketiga ku ini juga perempuan, kami sudah memeriksanya kemarin," timpal Sinta. Memang saat ini dirinya telah mengandung anak ke tiga, usia kandungannya sudah memasuki enam bulan, padahal kedua anaknya masih balita, tapi entah kenapa ia sudah hamil lagi.


Davit kembali bekerja dengan Bayu, bahkan mereka membuat perusahaan sendiri karena selama ini Bayu hanya meneruskan perusahaan keluarga. Dan mereka sukses bersama sampai saat ini.


Flashback off


"Begitulah ceritanya," Mama Sinta menyelesaikan cerita panjangnya.


Tanpa terasa ketiga insan itu meneteskan air mata, terutama Mama karena ia harus mengingat beberapa tahun lalu saat masih dalam masa-masa sulit.


"Kenapa Mama sama Papa enggak pernah cerita sama aku ya?" Al bertanya, karena ia baru saja mengetahui cerita mengharukan itu. Ada rasa bersalah mengingat awal pernikahannya dengan Icha yang seperti itu. Jika saja ia sudah tahu sejak awal, pasti akan memperlakukan Icha dengan baik sejak awal juga.


"Mungkin Mamamu belum sempat menceritakan semuanya dan Allah lebih dulu mengambilnya," timpal Mama Sinta.


"Mungkin juga Ma," Al membenarkan, "Terus kemana saudara-saudara Mama dan Papaku saat mereka terpuruk seperti itu?" pertanyaan yang sejak tadi ia simpan, karena Sinta tidak menceritakan masalah keluarga besarnya.


"Mama kamu itu sejak masih SMA ia sudah merantau ke kota ini dan bertemu dengan Mama, keluarga Mamamu di kalimantan tidak bisa membantu karena mereka juga kurang mamapu Al, tapi berkat usaha Papamu yang melesat sukses, mereka jadi punya usaha masing-masing sekarang, kamu tahu kan, Mamamu itu anak pertama," Sinta menjeda kalimatnya, "Sedangkan keluarga Papamu, entahlah Mama juga enggak tahu kenapa mereka tidak ada saat itu, tapi sudahlah itu masa lalu, yang penting sekarang kita hidup dengan damai, jangan ada rasa dendam yang hadir dari masa lalu, Papamu juga enggak dendam dengan mereka bukan?" tambahnya, ia mencoba menasehati Al supaya menantunya itu tidak dendam dengan masa lalu Papa dan Mamanya.


"Iya bener Ma, buat apa juga dendam, aku sudah merasakan gimana seseorang yang dendam itu akan merugikan diri sendiri," Al jadi teringat dengan Nasita yang mendendam dengannya dan berahir masuk penjara.


"Aku pernah denger kalau almarhumah Mama dulu sekolah sering di bantu oleh sahabatnya, tapi almarhumah enggak pernah cerita siapa sahabatnya, ternyata Mama, mertuaku sendiri. Makasih untuk semuanya ya Ma, entah seperti apa Mamaku jika dulu tidak bertemu Mama," tutur Al.


"Itu sudah kehendak Tuhan Al, Mama juga bahagia bertemu dengan Mamamu, dia yang selalu membela Mama di saat teman-teman Mama mengucilkan Mama dengan penampilan yang seperti ini, kamu tahu sendiri kan, di kota besar seperti ini anak muda jarang yang mau mengenakan hijab waktu sekolah, Mama pun sebenarnya sama, tapi karena paksaan orang tua Mama akhirnya mau, lama kelamaan Mama nyaman dengan penampilan seperti ini," Sinta menjeda ucapannya, "Icha pun dulu Mama paksa, tapi dia akhirnya terbiasa juga," cerita mereka melebar sampai ke mana-mana, bahkan Mama dengan senang hati menceritakan semua itu.


"Yang terpenting sekarang doakan Mamamu, karena doa anak sholeh sangat di butuhkan di sana selain amal-amal yang sudah dia lakukan waktu masih di dunia," tambah Mama Sinta, ia kembali ke awal cerita.


Kedua insan itu mendengarkan dengan saksama, jarang-jarang mereka bercerita dengan sang Mama sampai selama ini.


.....


Aku akan up satu-satu episode ya, DMS sama Nayla, karena kemampuanku sehari cuma segitu. Makasih semuanya. Maaf jika banyak typo ya🤧