
Farhan menoleh kearah adiknya, "Baru aja, lima menit yang lalu," jawabnya, senyum diwajah tak pudar begitu saja.
"Kak, apa kabar?" tanya Al, dia menyalami Kakak iparnya.
"Alhamdulillah baik," jawabnya sambil tersenyum
Icha menghempaskan dirinya di samping sang Kakak, "Tumben Kaka jam segini udah pulang kerja, ini pasti dari kantor enggak pulang dulu," Icha menebak, karena Farhan masih mengenakan kemeja, hanya saja tidak berjas dan berdasi, mungkin sudah dia lepas di dalam mobil tadi.
"Iya, Kakak mau mastiin apa bener yang Mama bilang, makanya gak sabar mau kesini," mereka berdua mengobrol, mengabaikan Al dan Nayla yang setia mendengarkan obrolan mereka.
"Mastiin apa?" Icha penasaran, dia lupa jika Kakaknya belum tahu akan kehamilannya.
"Ternyata kado Kakak waktu itu berguna juga ya, tapi pesan Kakak gak ada gunanya ternyata, gak masalah deh," Farhan berbisik ditelinga adiknya.
Bugh
Icha memukul lengan kakaknya dengan kuat, "Kakak jail!" Bersedekap dada, dia kesal mengingat kado yang diberikan oleh Kakaknya, apalagi saat Al tahu dia dipaksa memakainya.
Hahahahaha
"Kalian kalau mau tertawa bagi-bagi dong, jangan buat sendiri," sewot Nayla, karena dia merasa di cuekin.
"Ayo Nay kita belajar diluar aja," ajak Icha, karena mereka memang berjanji akan belajar, bukan malah mengobrol seperti sekarang.
"Eits tunggu dulu, Kakak belum ucapin selamat buat kalian berdua," Farhan menahan tangan Icha yang masih bersedekap didada.
"Selamat ya, jaga dengan baik buah hati kalian, ini amanah dari Allah untuk kalian,"
Ucapan Farhan membuat Nayla berfikir keras, apa maksudnya buah hati, apa jangan-jangan, "Beneran kamu hamil Icha?" tanya Nayla heboh, dia mendekat kearah sahabatnya.
Memeluk erat sahahatnya itu, "Selamat ya, aku terharu," Nayla meneteskan air mata haru, entah kenapa dia bisa sampai seterharu itu.
"Makasih ya, maaf aku sengaja enggak jujur sama kamu," Icha memang sengaja tidak mengatakan kehamilannya pada Nayla, dia belum siap, sebenarnya akan mengatakan itu tapi nanti setelah ujian usai.
"Tidak masalah, aku ngerti Cha," masih setia berpelukan.
Melepaskan pelukannya, lalu Icha beralih menatap sang Kakak, "Makasih Kak, makanya Kakak cepet nikah juga, Kakak sudah terlalu lama pacaran sama Kak Sherena, padahal sudah cukup jika menikah sekarang," ucap Icha panjang lebar, dia justru menasehati sang Kakak.
"Insyaallah secepatnya, Sherena masih belum mau, doakan Kakak juga ya," Farhan memang sudah mengajak pacarnya untuk menikah, tapi sang kekasih mengatakan jika belum siap.
"Insyaallah selalu aku do'akan," Icha tersenyum, "Kak aku mau belajar sama Nayla, silahkan Kakak kalau mau ngobrol sama Al, atau mau makan siang juga boleh, sama Al juga," Icha melangkah bersama Nayla meninggalkan keduanya, mereka meilih lesehan di sebelah sofa yang tadi mereka duduki, karena disana ada karpet buat alas duduk.
"Sayang, kamu juga belum makan, ayo makan dulu," titah Al, dia khawatir pada istrinya.
"Aku belum lapar, kalian dulu aja, nanti aku makan kalau udah lapar," dia tidak menoleh saat bicara, karena fokus dengan benda-benda yang ia keluarkan dari dalam tasnya.
"Baiklah, kita berdua makan dulu ya," pamit Al, mereka melangkah menuju dapur.
"Bik buatkan minum ya, aku jus alpukat kasih susu coklat ya," titah Icha, saat melihat pembantunya melintas. "Kamu minum apa Nay?" tanyanya pada Nayla.
"Aku jus jeruk aja,"
Tak butuh waktu lama pembantu membawa dua minuman dan beberapa cemilan untuk keduanya.
Sedangkan Farhan dan Al dimenja makan menikmati makan siangnya dengan hening, tanpa ada yang mau berbicara terlebih dahulu, hingga menyelesaikan acara makan siang mereka.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Sore hari Nayla sudah pulang, sedangkan Farhan masih stay dirumah mereka, mengibrol dengan keduanya, entah apa yang mereka bicarakan mulai dari A samapi Z, semua mereka bicarakan.
"Kak sekalian makan malam sini aja ya, sebentar lagi juga maghrib," ucap Icha ditengah obrolan mereka.
"Kakak pulang sekarang aja," Farhan berdiri dari duduknya. Dia berpamitan terlebih dahulu sebelum pulang.
Sepeninggal Farhan keduanya masuk kedalam kamar.
"Kamu belum makan sayang, apa tidak lapar?" tanya Al ketika keduanya berada di dalam kamar.
"Nggak tahu rasanya malas sekali mau makan, nanti saja lah," jawab Icha, lalu dia masuk kedalam kamar mandi untuk wudhu sebelum melaksanakan sholat maghrib.
Setelah sholat maghrib, keduanya turun untuk makan malam. Icha melihat semua lauk yang ada di meja, dia rasanya tak ingin makan semua itu, lalu beralih melihat simpanan mie instan yang masih banyak, dia mengambil satu bungkus dan berniat memasaknya.
"Kenapa masak mie instan sayang? Ini lauknya banyak sekali," Al memperhatikan lauk yang tersaji ada berbagai macam.
"Aku enggak mau itu semua, mau makan mie saja," padahal sudah sejak tadi pagi perutnya tak diisi oleh nasi.
Al berdiri, dia mendekati Icha, "Jangan sering makan mie instan, enggak baik sayang. Kalau kamu mau makan mie kita bisa beli mie di restoran yang penting bukan mie instan," tutur Al lembut, dia takut Icha merajuk.
"Beneran boleh?" tanya Icha dengan riang, dia meletakkan mie istan ditangannya lalu beralih menghadap Al. "Aku mau seblak mie," tambahnya.
"Kok seblak sih, itu kan pedas, apa tidak ada yang lain?" Al tak mau Icha makan makanan pedas itu disaat dia tidak makan nasi sejak pagi.
Icha mengerucutkan bibirnya, sejak tadi kemauannya selalu di tentang oleh Al, dia jadi malas untuk makan. Dia berbalik pergi dari dapur. Al menyusul Icha, itu yang dia khawatirkan sejak tadi.
"Sayang, jangan marah dong." Al meraih tangan Icha, tapi sekuat tenaga dia menghempas tangan Al. "Oke sekarang kamu mau beli apa aku turuti, yang penting jangan marah seperti ini," Al masih berusaha meraih tangan istrinya, tapi tak bisa dia dapatkan karena Icha memilih lari menaiki tangga.
"Jangan lari sayang, hati-hati," Al khawatir jika Icha terjatuh.
Icha tak menghiraukan ucapan Al, dia masuk kedalam kamar, menutup pintu dengan kasar dan menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Dia menangis.
Al mendekati Icha, dia duduk disamping istrinya, "Sayang, aku minta maaf, bukan maksudku tak mau memenuhi permintaanmu, tapi kamu sejak tadi belum makan apa-apa hanya salad buah saja, kalau langsung makan pedas aku takut perutmu sakit, cuma itu, aku menghawatirkanmu," tuturnya lembut, dia mengelus punggung istrinya, karena Icha tidur dalam keadaan tengkurap.
"Sayang, udah ya jangan nangis, aku minta maaf sekali lagi. Sekarang kamu mau apa, akan aku turuti," putusnya, dia berfikir ini jalan satu-satunya supaya Icha tak merajuk lagi.
Tapi Icha bergeming, dia tidak merubah posisinya, tangisnya pun masih terdengar.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komen yah...