Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 63


Hampir saja Al terlambat, kalau saja dia tidak ngebut saat menaiki motor kesayangannya. Dia melangkahkan kaki menuju kelasnya. Dia menjatuhkan bokongnya di bangku yang biasa dia duduki.


"Tumben telat lo Al?" tanya Alvian, karena selama menikah dengan Icha, Al selalu berangkat lebih pagi.


"Telat bangun," jawabnya santai.


"Tumben?"


"Ketiduran setelah subuh," kilahnya.


Alvian mengangguk, dia tidak bertanya lagi setelah itu. Karena guru sudah masuk kedalam kelas mereka.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Setelah kepergian Al kesekolah, Icha ingin merebahkan dirinya diatas ranjang tapi dia urungkan karena melihat ada bercak darah cukup banyak di seprai. Dia tahu bercak darah itu yang membuatnya menahan sakit hingga kini. Dia mengambil seprai itu dan menggantinya dengan yang baru.


Tak lama setelah memasang seprai, pembantunya datang membawa makanan, karena diperintah oleh Al sebelum dia berangkat kesekolah. Icha memakan sarapannya dengan lahap, karena dia memang sangat lapar kegiatannya semalam cukup menguras tenaga. Setelah habis semua makanannya, dia memutuskan untuk membuka kado yang dia dapat semalam.


Kado yang pertama dia lihat dari Kakak tercintanya, dia terkejut mendapati ligeri berwarna merah dan hitam di dalam kotak kado itu.


"Kakak iseng banget sih, ngado pakaian kayak gini, siapa juga yang mau pake," gerutu Icha.


Lalu dia membuka kado selanjutnya, isinya adalah novel dan gak ada yang aneh lagi selain kado dari Farhan. Tunggu ada satu lagi yang belum dia buka, dia tahu itu dari Nayla. Icha kembali terkejut saat isinya hampir sama dengan kado yang diberikan oleh Kakaknya. Tetapi kado dari Nayla adalah baju tidur tipis dan transparan, yang panjangnya kisaran diatas lutut, atasnya dengan model bahu terbuka.


Icha hanya bergidik ngeri membayangkan dirinya memakai pakaian seperti itu, tetapi lihat saja jika Al mengetahui Icha mempunyai pakaian seperti itu pasti dia memaksa Icha untuk memakainya.


Setelah selesai, dia terlihat bingung mau melakukan apa ketika tak sekolah seperti sekarang, lalu dia memutuskan untuk merebahkan dirinya diatas ranjang. Menerawang jauh akan kejadian semalam, dia tersenyum saat mengingatnya.


Dia belum bisa move on dengan kejadian semalam, masih terbayang-bayang semua yang Al lakukan padanya. Karena baru pertama kali melakukan itu, jadi masih saja memikirkan itu.


Icha mengambil ponselnya, tiba-tiba rindu dengan suaminya, padahal baru ditinggal beberapa jam saja, tapi rasa rindunya sudah tak terbendung. Dia melihat jam, Al disana pasti sedang istirahat, pikirnya.


Tapi saat membuka ponselnya, dia mendapati ada pesan dari Kakak tercintanya.


'Gimana kado dari Kakak Dek? Suka nggak? Jangan dipakai sekarang ya, ntar dipakai pas kalian liburan di luar, dan hanya boleh dipakai didalam kamar. Hahaha'


Icha berdecak membaca pesan yang dikirim oleh Kakaknya, bisa-bisanya Farhan menyuruhnya memakai pakaian seperti itu. Malah pikiran Icha akan dia bakar saja pakaian yang tidak pantas dipakai tersebut.


Dia mengabaikan pesan dari Farhan, karena gak mau digoda oleh Kakaknya lagi, biarkan saja dia menunggu jawaban Icha.


Lalu Icha menghubungi suaminya, seperti niat awalnya tadi.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Ditempat lain, Al sedang duduk di kantin dengan Alvian, tiba-tiba seorang gadia yang tidak punya malau menurut Al, karena dia masih berani mendekati Al, dia duduk dihadapan keduanya.


Al berdecak malas, dia malas meladeni gadis itu. Gadis yang dulu dia kira baik, tapi nyatanya sama saja seperti sepupunya, dan itu membuat Al tambah muak ketika melihat gadis itu.


"Al, aku lihat kemarin kamu berantem sama Icha, terus tadi pagi kalian juga gak berangkat bareng, kenapa?" gadi itu kepo sekali, sampai-sampai dia ingin ikut campur urusan rumah tangga orang lain.


Saat akan menjawab pertanyaan Martha, ya gadis itu siapa lagi kalau bukan Martha. Ponsel Al berbunyi, dia langsung menekan tombol hijau saat tahu siapa si penelfon. Senyum dibibirnya tak memudar sedikit pun.


"Assalamu'alaikum sayang, aku rindu," orang disebrang sana tak lain Icha tidak sabar mengucapkan kata rindu pada suaminya.


"Wa'alaikumsalam, aku juga rindu sama kamu sayang," Al sengaja tak meninggalkan tempatnya duduk, karena dia mau melihat seperti apa ekspresi wajah Martha ketika tahu hubungannya dengan istrinya baik-baik saja.


"Iya, nanti aku jemput aja, kamu siap-siap dulu ya, jangan lupa makan siang. Minta Bibik untuk buatkan makan siang buat kamu,"


"Iya sayang, makasih. Aku ganggu kamu lagi istirahat ya? Maaf sayang, saking rindunya jadi ganggu gini,"


"Siapa bilang kamu ganggu, enggak sayang, aku udah selesai makan. Ini juga akan kembali ke kelas. Apa kamu rindu karena ingat kejadian semalam?"


Ucapan Al itu membuat kedua orang yang duduk diantanyanya terkejut, juga penasaran apa yang terjadi semalam. Tetapi Martha lebih memilih meninggalkan keduanya, karena muak dengan pembicaraan Al ditelfon.


Sedangkan Icha, dia malu sekali, karena Al bisa menebak apa yang dia pikirkan.


"Emmm, enggak siapa bilang?" ucapan Icha sedikit terbata, dan Al tahu jika wanitanya itu sedang berbohong.


"Apa mau lagi?" pertanyaan konyol itu lolos begitu saja.


"Ihhh, Al kamu itu lagi disekolah malah bahas kayak gitu, ntar bahasnya dirumah. Udah sana masuk kedalam kelas, ini sudah mau bel,"


Al tertawa, "Iya iya sayang, aku masuk kelas dulu ya, kamu baik-baik dirumah. Love you,"


"*Iya sayang, Love you too, Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam*"


Setelah itu Al langsung menekan tombol merah dilayar ponselnya, dia memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Menoleh kearah Alvian yang sedari tadi menatapnya penuh tanda tanya.


"Kenapa lo liatin gue gitu Yan?" tanyanya.


Alvian bediri, diikuti oleh Al, mereka akan masuk kedalam kelas.


"Gak apa-apa, gue penasaran aja sama pembicaraan kalian," jawabnya.


Al mengernyitkan dahinya, "Kenapa?" pertanyaan itu muncul.


"Intim banget, kalian udah ...." Alvian bingung mau meneruskan ucapannya dengan kata-kata seperti apa, karena pasti dia yang akan malu sendiri.


"Udah?" ulang Al dengan nada bertanya.


"Lupakan saja, gak penting lah, itu urusan kalian, gue gak berhak ikut campur," akhirnya Alvian lebih memilih tidak mau tahu saja, daripada malu sendiri.


"Hm, iya udah," seakan tahu arah peetanyaan Alvian, Al pun menjawabnya dengan santai.


Alvian menghentikan langkahnya, dia menoleh kearah Al yang juga ikut berhenti. Dia melihat sekeliling yang terlihat sepi, karena sudah kembali ke kelas masing-masing.


"Apa lo gak mikir, kita masih sekolah Al. Kalau dia hamil gimana?" pertanyaan itu lolos begitu saja, dia menghawatirkan istri orang.


"Gak masalah, dia hamil juga ada suaminya, kan? Lo kok sewot gitu?"


"Iya lah, terserah kalian, gue gak mau ikut campur," Alvian tidak mau lebih dalam lagi membahas itu, karena dia tahu Al pasti akan cemburu dan marah jika membahas istrinya.


Bersambung......


****Maaf semua, mungkin hari ini aku akan up satu episode saja, kalau bisa buat satu lagi akan aku up buat besok. Karena aku besok pasti akan sibuk sekali dan gak bisa nulis. Mohon pengertiannya yah. Terimakasih atas dukungan kalain.😘😘😘😘