Dipaksa Menikah SMA

Dipaksa Menikah SMA
DMS 65


"Eh, itu.... em," jawab Al terbata, salah tingkah. Keduanya telah duduk di sofa ruangan itu.


Al teringat beberapa hari yang lalu, sekeetaris yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri itu menanyakan sesuatu di luat pekerjaan, yaitu tentang rumah tangganya. Dan Al menceritakan sedikit tentang rumah tangganya dengan Icha.


"Jadi selama setengah tahun lebih ini kamu gak berani menyentuhnya, ck ck." Nabila yang biasa disapa Bila itu geleng-geleng kepala, "emang kamu tahan tinggal satu kamar sama istrimu, tapu gak berani menyentuhnya?" tanyanya.


"Mau gimana lagi Mbak, aku sebenarnya gak tahan, tapi sebisa mungkin aku menahannya, ya walaupuan kadang aku harus bermain sendiri," ucap Al.


"Hahahaha, kasian sekali sih kamu Al," Bila tertawa. Dia memang sudah mengenal Al sejak lama. Sejak tujuh tahun lalu, saat dia pertama berkerja disana sebagai sekretaris Davit, kala itu usia Al masih sebelas tahun.


Wanita yang umurnya lebih tua sepuluh tahun dari Al itu sudah menganggap Al sebagai keluarga mereka, karena pertolongan Papa Al yang menerimanya sebagai sekretaris disaat dirinya belum lulus kuliah. Gadis cerdas yang menyelesaikan kuliah S1 nya hanya dalam waktu tiga tahun itu bisa mengikuti wisuda karena bantuan Papa Al.


"Mbak kok malah ketawa, terus aku harus gimana dong Mbak?" Al cemberut melihat Nabila tertawa.


"Ya kamu rayu dia gitu lah, masak gak bisa. Gonta-ganti pacar tiap bulan aja bisa, minta hak pada istrinya gak bisa, kan lucu Al," Nabila sedikit meledek, "ujian kamu juga sebentar lagi, kan? Jika Icha hami sekarang, waktu kalian lulus nanti juga gak akan terlihat," tambahnya.


"Eits, tapi kalau kamu tahan samapai lulus juga lebih baik Al, kasian juga kalau istrimu hamil masih sekolah, dia juga masih muda." Dia beranjak dari duduknya, karena Al hanya diam, entah diamnya berfikir atau melamun dia tidak tahu.


"Jangan terlalu di fikirkan, ikuti kata hatimu saja," tambahnya lalu pergi dari ruangan Al.


Al berfikir, benar juga apa yang dikatakan Nabila, dia dan Icha sudah sah menjadi suami istri, kenapa juga dia gak berani menyentuh istrinya, hanya karena perintah Mamanya. Toh sebentar lagi mereka juga lulus sekolah, kan? Al berfikir dia akan merayu Icha saat hari ulang tahun gadis itu, biar ada kenangan yang mereka ingat di tahun berikutnya.


Al tersenyum, membuat Icha menepuk pundaknya. Lalu Al tersadar dari lakunannya.


"Di tanya gak dijawab malah melamun dan senyum-senyum gitu?"


"Eh, maaf sayang, aku teringat sesuatu," ucapnya.


Icha mengernyitkan dahinya menjadi beberapa lipatan, "inget apa?" tanyanya.


"Itu Mbak Bila yang ngasih saran, suapa kamu mau ...." Al bingung dia menjeda kalimatnya.


"Mau apa?" Icha makin penasaran.


"Mau yang seperti tadi malam," jawab Al didekat telinga Icha.


Icha yang mendengar itu terkejut, dia menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangannya.


"Jadi Mbak Bila tadi menanyakan itu?" masih dengan keadaan terkejut, dia lontarkan pertanyaan itu.


Al mengangguk, dia tersenyum karena melihat Icha berekspresi seperti itu.


"Astaghfirullah, aku malu ketemu dia," Icha merasa malu karena ada orang lain yang mengetahuinya.


"Sudah gak usah malu, itu kan wajar, kita sudah menikah dan gak ada salahnya kita melakukan itu, iya kan?"


Icha mengangguk, membenarkan perkataan Al. Mereka sudah menikah, jadi hal tersebut sudah wajar dilakukan suami istri.


"Lagian Mbak Bila sudah aku anggap seperti Kakak ku sendiri, dia dulu sering ngajakin aku jalan-jalan kalau aku libur sekolah dan dia libur, dia sudah bekerja disini sebelum menikah dan punya anak, jadi anggap saja dia seperti Kakak perempuan kita," tutur Al, dia sedikit menceritakan masa lalunya.


"Iya sayang, sepertinya dia juga orang baik," tambah Icha.


"Iya baik banget malahan," lalu Al melangkahkan kakinya menuju kursi kebesarannya.


"Iya sayang, kalau butuh bantuan aku siap bantu," ucap Icha.


Keduanya pun melkukan kegiatan masing-masing, hingga sore tiba. Dan saatnya kembali kerumah.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Malam harinya, saat akan mengganti baju tidur, Al melihat sesuatu didalam lemari, dia mengambil benda yang sepertinya pakaian, tetapi saat membukanya dia tersenyum, setelah tahu apa yang dia temukan.


"Sayang, ini jus yang kamu minta," ucap Icha, dia masuk kedalam kamar sambil membawa jus di tangannya. Lalu dia meletakkan jus itu diatas nakas.


Icha mendekati Al, yang sepertinya sedang sibuk melihat sesuatu, "kamu liat apa sih, sampai aku di cuekin?" tanyanya.


Al mengangkat benda yang dia temukan tadi, Icha terkejut kenapa Al bisa menemukan benda itu.


"Kamu sengaja beli ini ya? Apa kamu mau menggodaku?" Al menaik turunkan alisnya.


"Bukan begitu sayang, itu kado dari Kakak ku. Gak tau kenapa dia memberikan kado dalaman seperti itu, aku aja risih lihatnya," jawab Icha, dia jujur memang itu pemberian Kakaknya.


Al tersenyum menggoda, dia menyodorkan pakaian itu pada Icha, "coba pakai, aku mau lihat," titah Al.


"Ihh gak mau ah, masak aku disuruh pakai seperti itu, memalukan sekali. Sama saja seperti tidak memakai pakaian kalau seperti itu, malu ah," protes Icha.


"Gak usah malu, pakai ini saat dikamar bersamaku, apa kamu malu sama suami mu sendiri?" ucap Al dengan tersenyum menggoda.


Icha membalikkan tubuhnya, dia benar-benar malu memakai pakaian itu, meskipun dihadapan suaminya sendiri. Tetapi cekalan tangan Al menghentikan langkahnya.


"Harusnya di pakai semalam ya, tapi gak apa-apa sekarang juga gak masalah. Ayo pakai sayang, apa aku yang akan memakaikan, hm?" titah Al tak mau di bantah.


Icha mendengus, dia merebut pakaian yang dibawa oleh Al masuk kedalam kamar mandi.


Al tersenyum bahagia, malam ini pasti bisa mengulang kejadian malam kemarin.


Icha memakai ligerie itu, dia tampak ragu saat akan keluar kamar, dia malu sekali jika keluar hanya mengenakan seperti itu. Lalu dia melihat didalam kamar mandi ada kimono, dia memakai kimono saat keluar kamar mandi tanpa melepas ligerie itu.


Al yang melihat Icha keluar kamar mandi dia tersenyum, tapi saat menyadari Icha tidak memakai ligerie tadj senyumnya hilang.


"Kok gak jadi dipakai sih? Malah pakai seperti itu," ucap Al, dia merubah wajahnya menjadi cemberut.


"Siapa bilang? Ini udah ku pakai," jawab Icha, dia berhenti disisi ranjang, tak berniat melepaskan kimononya.


Al yang melihat itu, dia turun dari ranjang, tak sabar ingin melihat istrinya mengenakan pakaian yang minim bahan itu. Dengan gerakan cepat dia melepaskan dengan paksa kimono yang menempel di tubuh istrinya.


Icha melongo melihat kelakuan Al, padahal niatnya tadi tak ingin melepaskan kimono itu.


Terlihat tubuh Icha yang hanya mengenakan ligerie berwarna merah. Al memperhatikan dari atas sampai bawah, tubuh istrinya itu. Tetapi dia terkejut saat Icha justru bergerak cepat naik keatas ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Bersambung......


Jangan lupa like dan komen yah...


aku kembali🙏🙏